Share

77. Sidang Pertama

last update Last Updated: 2026-01-05 16:02:01

Adnan tidak langsung menjawab. Ia menoleh, menimbang kata-katanya seolah setiap suku kata memiliki konsekuensi hukum yang berat.

"Ketidakhadirannya bisa mempercepat proses secara verstek, Bu Mita. Tapi..." Adnan menggantung kalimatnya. Matanya yang tajam menatap pintu masuk lobi dengan dahi berkerut dalam.

"Pria seperti Pram biasanya tidak membiarkan mangsanya pergi semudah itu. Diamnya dia saat ini bukan berarti menyerah. Bisa jadi ini adalah rencana yang sudah dia siapkan untuk sidang berikutnya."

Mita merapatkan pelukannya pada bundel berkas di dadanya. Kertas-kertas itu terasa seperti perisai rapuh melawan bayangan Pram yang dominan.

Di tengah keraguan yang menghimpit, ibu satu anak itu tiba-tiba teringat tatapan nekat Gara pagi tadi. Keberanian liar pemuda itu entah bagaimana menyusup ke dalam nadinya, memberinya sedikit tenaga untuk tetap berdiri tegak.

Mita merasakan dingin merambat di tengkuknya. "Maksud Anda, dia sengaja membiarkan saya merasa menang hari ini?"

"Predator pali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
ternyata ketidak hadiran si penjahat kela*** karena ketiduran? bagus baiknya begitu setiap sidang kamu Pram berhalangan datang...karma menantimu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   79. Memaksa Bertemu Mita

    Pram merasakan seolah oksigen di ruangan itu mendadak menguap.Dunia yang selama ini ia kendalikan mendadak goyah, miring, dan siap menimpanya. Jantungnya berdegup liar, menghantam rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.Jadi, anak Amara tahu.Pikiran itu menyengatnya seperti bisa ular. Selama ini ia merasa paling cerdik, merasa telah menidurkan lawan-lawannya dalam kenyamanan palsu.Namun sekarang, kenyataan pahit menghantamnya, dialah yang selama ini sedang ditidurkan, dibiarkan terbuai dalam rasa aman yang semu, hanya untuk diseret ke meja eksekusi pada saat yang paling tidak terduga.Pram menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pecahan kaca. Ia berusaha keras mengatur napas, membusungkan dada untuk menutupi gemetar halus di tangannya.“Kau lancang,” desis Pram. Suaranya serak, mencoba memungut sisa-sisa kuasa yang sudah remuk. “Di mana Mita?”Gara tidak berkedip. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang dingin, hampa, dan sama sekali tidak menyentuh matanya y

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   78. Gara vs Pram

    Gemericik air dari shower menghantam bahu Pram dengan ritme yang menyakitkan.Setiap tetesnya seolah menekan luka memar di dadanya yang belum pulih benar sisa dari pukulan gara yang nyaris merenggut nyawanya minggu lalu. Namun, rasa perih di kulitnya tak sebanding dengan kekosongan yang menganga di ulu hati.Pram menyandarkan dahi pada dinding keramik yang dingin. Napasnya berat, berasap tipis di udara kamar mandi yang lembap.Perceraian ini bukan sekadar akhir dari janji suci. Ini adalah eksekusi mati bagi masa depannya. Mita tidak hanya ingin pergi, dia ingin membumihanguskan seluruh dunia Pram sebelum melangkah keluar pintu."Sialan..." desis Pram, suaranya parau.Mita telah menguras segalanya. Brankas di ruang kerja kini melompong. Namun, yang membuat jantung Pram seolah diremas adalah hilangnya map biru berisi rancangan Proyek Amara.Itu bukan sekadar tumpukan kertas, itu adalah detak jantung kariernya, hasil begadang berbulan-bulan yang ia susun bersama Amara, rekan kerja sekali

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   77. Sidang Pertama

    Adnan tidak langsung menjawab. Ia menoleh, menimbang kata-katanya seolah setiap suku kata memiliki konsekuensi hukum yang berat."Ketidakhadirannya bisa mempercepat proses secara verstek, Bu Mita. Tapi..." Adnan menggantung kalimatnya. Matanya yang tajam menatap pintu masuk lobi dengan dahi berkerut dalam."Pria seperti Pram biasanya tidak membiarkan mangsanya pergi semudah itu. Diamnya dia saat ini bukan berarti menyerah. Bisa jadi ini adalah rencana yang sudah dia siapkan untuk sidang berikutnya."Mita merapatkan pelukannya pada bundel berkas di dadanya. Kertas-kertas itu terasa seperti perisai rapuh melawan bayangan Pram yang dominan.Di tengah keraguan yang menghimpit, ibu satu anak itu tiba-tiba teringat tatapan nekat Gara pagi tadi. Keberanian liar pemuda itu entah bagaimana menyusup ke dalam nadinya, memberinya sedikit tenaga untuk tetap berdiri tegak.Mita merasakan dingin merambat di tengkuknya. "Maksud Anda, dia sengaja membiarkan saya merasa menang hari ini?""Predator pali

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   76. Darah Muda Gara

    Udara di ruang kerja Mita pagi itu terasa seperti oksigen yang menipis di puncak gunung, dingin, mencekik, dan membuat setiap tarikan napas terasa berat.Di atas meja jati yang biasanya rapi, sebuah kalender duduk dengan lingkaran merah yang tampak seperti luka terbuka. Hari ini adalah sidang perdana perceraiannya dengan Pram.Pikirannya melayang pada tatapan Samudra pagi tadi. Putranya itu berdiri di depan pintu dengan mata yang merah karena kurang tidur."Ma, aku bolos hari ini, ya? Aku mau di samping Mama," pintanya. Namun, Mita tetaplah Mita.Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia mengantar putranya ke depan gerbang sekolah.Ia tak ingin racun dari hubungan orang dewasa mengontaminasi masa muda Samudra. Tugas anak itu adalah belajar, bukan menyaksikan keruntuhan rumah tangga orang tuanya di depan hakim.Namun, mengusir Samudra ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi sosok yang kini berdiri di ambang pintu kantornya.Gara.Pemuda itu tidak bergerak. Punggungnya bersandar pad

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   75. Salah Pengacara

    Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan belati bagi Pram. Tulang rusuknya yang retak seolah memprotes setiap gerakan, namun ia tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang asing.Kafe itu tersembunyi, Amara sengaja memilih meja di sudut paling remang. Meja itu strategis, memberi mereka jarak pandang ke pintu masuk tanpa harus menjadi pusat perhatian.Tak lama, denting lonceng di pintu memecah keheningan. Seorang pria berusia lima puluhan masuk dengan langkah yang terlalu stabil untuk seseorang seusianya.Jas abu-abu gelapnya tampak sederhana, namun jenis kainnya memantulkan cahaya lampu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh barang mahal. Senyumnya terpasang rapi, presisi seperti kartu nama yang baru dicetak."Amara," sapa pria itu dengan suara baritonnya, hangat namun memiliki resonansi otoritas yang tak terbantahkan. "Lama tidak bertemu.""Pak Adnan." Amara berdiri, menjabat tangan pria itu dengan formalitas yang kaku. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di j

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   74. Sendiri

    Langkah Amara terasa berat, seolah setiap inci lantai marmer itu berusaha mengisap sisa tenaga yang ia miliki.Fisik perempuan yang sedang hamil terlihat lelah, namun psikisnya jauh lebih hancur, tercabik antara rasa bersalah dan rahasia yang kian menghimpit. Dalam kegelapan ruang tamu, ia hanya ingin merebahkan diri dan menghilang.Klik.Cahaya lampu ruang tengah menyala tiba-tiba, menusuk matanya yang sembap. Amara tersentak, jantungnya berpacu liar saat menangkap siluet pria yang duduk tegak di sofa tunggal. Gara. Putranya itu duduk di sana layaknya seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis."Dari mana Mama jam segini?"Suara Gara datar, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan. Ia tidak beranjak, hanya tatapannya yang mengunci Amara, dingin dan penuh penghakiman yang tak terucap."Mama... hanya mencari udara segar, Gar," jawab Amara terbata, jemarinya tanpa sadar meremas ujung blusnya yang kusut.Gara berdiri, langkah kakinya mendekat dengan ritme yang mengintimid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status