Bukan Pasangan Pilihan

Bukan Pasangan Pilihan

last updateLast Updated : 2025-12-20
By:  RenkoOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dasha cuma berniat menggantikan temannya di aplikasi kencan. Tapi satu pertemuan dengan Kent membuat semuanya berubah. Saat orang-orang dari masa lalu ikut masuk ke cerita mereka, godaan mulai menggerogoti. Bisakah hubungan yang lahir dari 'iseng sehari' menang melawan rasa yang datang dari semua arah?

View More

Chapter 1

001. Sebuah Awal yang Menggoda

    Dasha menatap jam di ponsel. Sore itu seharusnya cepat berlalu, tapi waktu berjalan lambat, dan dia tak tahu bahwa satu pertemuan sederhana akan mengubah ritme harinya. Kalau saja Ellen tak bersikeras, mungkin dia sudah pergi, jauh sebelum alunan musik klasik lembut di bar ini sempat menenangkan pikirannya.

    Dari ekor matanya, Dasha menangkap sosok seseorang yang duduk di sampingnya. Dia tak memutar kepala lebih jauh, hanya meneguk minuman sambil menghitung waktu. Lima menit lagi. Jika pasangan kencan Ellen masih belum muncul, dia akan benar-benar pergi.

    Tiba-tiba, sebuah gelas digeser ke arahnya. Gelas itu masih penuh, aroma kopi bercampur dengan sedikit rasa cokelat menyelimuti udara di sekitarnya. Sebelum dia menyadari keberadaan seseorang di sampingnya, dia sempat mendengarnya memesan minuman. Kalau tak salah ... mocha.

    Dasha menoleh, dan pandangannya bertemu dengan seorang pria. Senyumnya tipis, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Dasha menahan napas.

    “Aku lihat gelasmu hampir kosong. Boleh aku isi?” pria itu menatapnya ramah.

    “Terima kasih, tapi tak perlu. Aku sebentar lagi pergi,” Dasha menjawab, suaranya tetap tenang meski hatinya sedikit waswas.

    “Sayang sekali. Kalau begitu aku akan kehilangan teman minum."

    “Teman minum?” Dasha menahan tawa kecil, geli bercampur heran.

    “Aku menunggu seseorang di sini, tapi sepertinya dia tak datang,” kata pria itu, menoleh sebentar ke pintu bar.

    “Oh? Aku juga menunggu seseorang,” Dasha mengangkat alis, penasaran.

    “Benarkah?”

    “Ya. Seharusnya dia datang sejak tadi.” Dasha menghela napas pendek, sedikit frustrasi.

    Pria itu menahan senyum. “Kelihatan jelas kau kesal.”

    “Memang. Banyak pekerjaan tertunda karena harus menunggu,” jawab Dasha, memijat pangkal hidung.

    Pria itu tertawa ringan. “Sepertinya kau orang yang pekerja keras.”

    “Pekerja keras?" Dasha tersenyum pahit. "Lebih tepatnya, aku bekerja demi menyambung hidup."

    “Aku menyambung hidup sebagai patissier,” pria itu menambahkan.

    “Patissier? Menarik.” Dasha menatapnya, terkesan tapi tetap menjaga jarak.

    “Kenapa? Tak terlihat seperti itu?” Pria itu menyipitkan mata, menantang.

    Dasha memandangi pria itu dari atas sampai bawah. Rambutnya tertata rapi, jas gelapnya pas di badan, sepatu mengilap, dan setiap geraknya seolah terukur secara profesional, tapi tidak kaku. Ada aura percaya diri yang terpancar darinya.

    “Tadinya aku kira kau pemilik perusahaan yang merasa bosan, datang ke sini sekadar mengisi waktu,” Dasha menimpali, nada bercampur main-main dan serius.

    “Apa aku mengecewakanmu?” Pria itu mencondongkan tubuh sedikit, seolah mencari jawaban lebih dari sekadar kata-kata.

    “Apa aku harus kecewa?” Dasha menatap balik, senyum tipis menghiasi wajahnya.

    Udara di antara mereka terasa berat sekaligus hangat. Jantung Dasha berdetak sedikit lebih cepat, dan dia sadar, pria di hadapannya juga memandang dengan fokus yang sama tajamnya.

    Pria itu terdiam sebentar, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan gerakan tenang tapi penuh arti, dia mengulurkan tangan. “Aku Kent. Bolehkah aku tahu namamu?”

    “Kent?” Dasha sedikit terkejut, meskipun tetap menjabat tangan pria itu.

    “Kita belum saling mengenalkan diri,” jawab Kent, senyum tipis tetap tersungging.

    “Aku … Dasha,” katanya, suaranya pelan tapi jelas.

    Kent menyapu dagunya dengan jari. “Dasha.”

    Entah kenapa, cara Kent menyebut namanya membuat jantung Dasha makin berdetak tak karuan. Dia tak menyangka pertemuan pertama bisa terasa ... seperti ini.

    Dasha menggeleng cepat, mencoba menenangkan diri. “Kent … ternyata kau orangnya!” ujarnya, nada setengah tertawa.

    Kent mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

    “Ellen memintaku menemuimu,” jelasnya, setengah tersenyum.

    “Oh ....” Kent terdengar ragu, matanya menelusuri ekspresi Dasha.

    “Dia sudah berbaikan dengan pasangannya dan memutuskan tak datang. Aku minta maaf mewakili Ellen. Seharusnya dia yang menjelaskan, bukan menyerahkan pada orang lain,” nada suara Dasha ringan tapi tegas, sedikit menenangkan ketidakpastian di suasana itu.

    Dasha tahu situasinya jauh dari ideal. Dia bisa membayangkan kekecewaan Kent, siapa pun pasti kesal mengetahui pasangan kencannya hanya ingin menjadikannya sebagai tempat pelampiasan.

    “Aku tahu kau pasti kecewa,” katanya pelan.

    Kent menggeleng pelan. “Tidak.”

    “Tidak?” Dasha memiringkan kepala, tak yakin dia mendengar dengan benar.

    “Maksudku,” Kent tersenyum kecil, “hal seperti ini cukup umum bagi orang yang pakai aplikasi kencan.”

    “Oh,” Dasha mengerjap. “Jadi kalian kenal lewat aplikasi?”

    “Ya. Temanku yang menyarankan. Katanya, kita bisa dapat pasangan kencan yang lumayan di situ.”

    “Maafkan aku,” ucap Dasha spontan.

    Kent mengangkat alis, bingung. “Kenapa kau minta maaf? Ini bukan masalah besar. Kita bisa lanjutkan kencan.”

    “Kita?” Dasha menunjuk dirinya sendiri, setengah tak percaya.

    “Sudah jauh-jauh datang,” Kent berkata santai, tapi matanya tak bisa menyembunyikan keseriusan halus di baliknya, “dan aku dapat kabar buruk soal kencanku.”

    “Tadi kau bilang tak kecewa,” Dasha mengingatkan.

    “Benar.” Kent menatapnya, tak mundur sedetik pun. “Tapi kalau kau pergi, aku akan kecewa.”

    Dasha terdiam sejenak. Perlahan, dia menyadari pikirannya sudah berubah. Tak ada salahnya tinggal sebentar—Kent tampan, dan menyenangkan untuk diajak bicara.

    “Baiklah,” katanya akhirnya.

    Kent tersenyum puas, matanya berkilau seperti anak anjing yang baru mendapat perhatian. “Ingin pindah tempat?”

    Dasha menatap sekeliling. Dia tak suka keramaian, tapi tempat ini terasa pas. Hangat, tenang, cukup nyaman untuk mengobrol.

    “Tetap di sini tak masalah,” jawabnya.

    Percakapan mereka mengalir dengan mudah. Pikiran Dasha tentang pergi lenyap begitu saja. Kent sudah mencuri perhatiannya. Mungkin, dia membayangkan, Kent pun merasakan hal yang sama.

    “Jadi, kau seorang veterinarian?” Kent menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

    Dasha mengangguk. “Ya, satu tempat dengan Ellen.”

    “Pekerjaan yang mengejutkan,” ujarnya, nada bercampur kagum.

    “Apa aku mengecewakanmu?”

    Kent tertawa ringan, karena Dasha meniru kata-katanya, membuat pria itu tersenyum lebih lebar.

    “Aku punya hewan peliharaan di rumah,” katanya, nada santai tapi hangat.

    “Benarkah?” Dasha menatapnya, penasaran.

    “Kucing, namanya Molly. Mau lihat dia? Pasti Molly senang bertemu denganmu.”

    Dasha menatap Kent, sedikit ragu. Pertemuan pertama, dan diajak ke rumah seorang pria, apakah itu ide yang baik?

    Kent cepat-cepat menambahkan, “Maksudku ... Molly agak lesu, dan aku pikir lebih baik diperiksa. Kebetulan kau veterinarian, mungkin bisa membantu. Tentu saja aku bisa bawa ke klinik, tapi .…”

    Dasha tersenyum tipis, menatapnya dengan pandangan penuh pertimbangan. “Begitu. Tentu masalah biaya jadi pertimbangan. Membawa hewan ke klinik memang tak mudah, bahkan bisa lebih mahal dari kebutuhan hidup pemiliknya.”

    Kent menyadari fokus Dasha padanya tampak lebih besar daripada apa pun di sekitarnya. Dia ingin menjelaskan bahwa biaya bukan masalah, tapi wanita ini sudah mencuri seluruh perhatiannya.

    Dasha menggeleng ringan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau Molly sakit ringan, kadang cukup periksa di rumah saja. Aku sering menyarankan pemilik hewan peliharaan memperhatikan pola makan dan aktivitas, jadi banyak kasus ringan bisa diatasi tanpa harus ke klinik langsung.”

    Dasha tiba-tiba tersadar, tatapan Kent yang tak lepas darinya membuat dia gugup.

    “Ke-kenapa menatapku begitu?” suaranya tercekat, setengah malu, setengah penasaran.

    Kent menggeleng pelan. "Kita pergi lihat Molly sekarang?"

    Apa aku siap? pikir Dasha.

    Tapi … dia tak ingin menolak. Entah kenapa, ada rasa ingin tahu yang kuat, dia ingin tahu lebih banyak tentang pria ini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status