LOGIN"Peluk-peluk?" gumam Damian bingung.Jasmine mengangguk. Kemudian mendengus kesal. Tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya dialihkan ke depan, bibirnya cemberut, matanya menatap dengan sengit. "Kenapa Mas larang-larang aku buat ketemu Sean? Kan itu cuma pertemuan biasa. Sementara Mas bebas aja tuh ketemu sama wanita lain. Pake peluk-peluk lagi!" sungut Jasmine, kesal. Damian menajamkan penglihatannya. Ia pun menelisik lebih dekat ekspresi Jasmine yang semakin tidak ramah untuk dilihat itu. "Maksudnya gimana? Saya sama wanita lain?" Jasmine mendesah gusar. Kemudian menoleh pada Damian. "Iya. Kayak tadi. Di depan aku aja Mas Damian akrab dan pelukan sama wanita lain. Gimana kalau di belakang aku?!" Bibir Damian menyunggingkan senyum miring. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Damian. Manik gelapnya masih menyorot Jasmine yang masih terlihat kesal. "Aku tau sih, hubungan kita memang terikat cuma karena perjanjian. Nggak ada tuh, harus saling menjaga per
"Masuk!" Jasmine tetap berdiri di samping mobil. Tidak ada sedikit pun niatnya untuk segera masuk ke kendaraan mewah milik Damian. Khusus malam ini, Jasmine benar-benar enggan untuk pulang bersama. Malam merayap semakin larut. Desah anginnya pun membelai lembut kulit. Entah karena memang malam yang semakin menuju akhir atau disebabkan oleh prakiraan akan turunnya hujan, dinginnya malam menusuk hingga ke tulang. Jasmine menghalau dingin yang menyentuh kulitnya dengan usapan lembut di lengan. Setidaknya sentuhan tersebut bisa memberikan kehangatan untuknya yang hanya memakai atasan tanpa lengan itu. "Ayo masuk, Jasmine. Sebentar lagi akan hujan. Dinginnya juga semakin menusuk!" ujar Damian, berusaha menahan diri agar tidak kelepasan membentak Jasmine. "Biarin aja. Mas Damian pulang sana!" sahut Jasmine ketus. Damian menghela napasnya. Sorotnya sedikit melunak. Kemudian tanpa suara melepaskan jas hitam miliknya lalu memakaikannya pada Jasmine.Jasmine terbelalak. Ia segera menolak.
"Hmmh... rekomendasi kamu memang nggak salah. Ini sih enak banget. Padahal harganya juga nggak semahal makanan di cafe mahal."Maurin kembali menikmati chocolate lava cake miliknya. Ekspresinya sama sekali tidak berbohong soal itu. Jasmine terkekeh. Ia sengaja tidak memesan apapun lagi. Perutnya sudah cukup terisi dengan segelas cornlatte dingin saat dengan Sean dan sepotong chocolate cake. Padahal sebelum mereka ke kafe, mereka sudah mengisi perut dengan makanan yang diorder online saat di studio. "Kamu yakin nggak mau makan?" tanya Maurin, menatap lurus Jasmine. Jasmine menggeleng. "Aku udah kenyang, Kak. Udah makan banyak tadi." "Jadi kamu sudah bersama Sean sejak tadi siang?" Damian yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Jemarinya kanannya mengetuk permukaan meja perlahan. Sementara tangan kirinya terkepal di atas pangkuan. Sekilas terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan kemarahan yang masih mengendap semakin dalam di hati.Jasmine hendak menggeleng. Namun, akhirny
"Pulangnya sendirian? Mau aku antar, nggak? Bawa motor loh aku." Sean tanpa ragu menawarkan tumpangan pada Jasmine. Mereka berdua baru saja keluar dari sebuah cafe. Sementara Anya sudah pulang beberapa menit yang lalu karena ada telepon dari ibunya. Sean dengan santai menunjuk sebuah vespa yang terparkir manis di parkiran. Namun, vespa tersebut paling menonjol di antara yang lain sebab warnanya yang unik. Motor tersebut terdiri dari kombinasi empat warna. Warna kuning, merah, hijau telur asin hingga cokelat muda. Sungguh cerah dan menggambarkan sosok Sean yang sebenarnya. "Gimana? Mau nggak?" tanya Sean lagi. Matanya menatap Jasmine antusias. Jasmine menggeleng pelan. Agak sungkan sebenarnya menolak Sean, tapi ia tidak mungkin pulang dengan Sean. Bisa-bisa ia akan diintrogasi Renan. "Aku bisa sendiri, Sean. Kamu duluan aja. Aku bisa naik taksi online," tolak Jasmine lembut. Sean menghela napasnya. Tiba-tiba saja ia jadi bersedih. "Yaah ditolak. Sedih banget ya rasanya...."K
"Ma... maaf, Mas. Tapi aku buru-buru." Jasmine dengan cepat mengambil dompetnya dari tangan Damian. Damian tak kalah cepat. Saat Jasmine hendak menarik handel pintu, Damian segera meraih tangan Jasmine. Tangan besarnya berusaha menahan Jasmine yang terus memberontak tanpa suara."Jasmine... hei!" Suara Damian lebih meninggi. "Coba lihat saya dulu!" Jasmine tersentak. Gadis berambut panjang itu terdiam. Namun, demi bisa segera pergi dari hadapan Damian ia pun menurut. Manik pekat Jasmine menatap Damian. Bibirnya masih terkatup rapat. Degup jantungnya terus menggila karena rasa aneh saat ditatap Damian. Sekuat apapun Jasmine mengelak, tetap saja ia tidak bisa berbohong bahwa ia sudah lama terjebak dalam pesona sahabat kakaknya ini. Itulah yang membuat Jasmine hendak menghindar dari Damian. Semakin sering bertemu Damian, ia semakin sulit mengendalikan perasaannya sendiri. Peringatan dari Renan ibaratkan hanyalah angin lalu. Nyatanya Jasmine malah terpikat oleh pesona playboy kelas
"Jadi benar menurunnya saham Horizon Group itu karena ulah kamu?" Deg!Jasmine yang berada di depan pintu masuk rumahnya pun berhenti. Tangannya yang tadi hendak menarik handel pintu pun tertahan di sana. Telinganya mendengar dengan seksama obrolan Renan dan Damian yang berada di dalam rumah tersebut. Siang ini seharusnya ia sudah berada di studio. Hanya saja karena dompetnya yang tertinggal, ia pun kembali lagi ke rumah. Untungnya tadi belum terlalu jauh dari kediamannya."Hmmh... Erick harus diberikan efek jera, Nan. Yang dia takutkan bukan saya, melainkan Tuan Andreas. Jadi biarkan Tuan Andreas yang menghukumnya." Suara Damian terdengar santai. Tiba-tiba Jasmine jadi teringat dengan pesan Clara yang mengatakan bahwa Erick sudah dua hari ini tidak berkabar. Ia juga tidak datang ke kantor. "Gila! Kalau kayak gitu kayaknya Erick beneran bakalan jera. Tuan Andreas itu terlihat hangat di luar, tapi sangat tegas jika menyangkut perusahaannya." Renan ikut berkomentar. Jasmine membula







