Mag-log inDikhianati oleh tunangan dan sahabatnya, membuat Jasmine Dominic tidak bisa berpikir jernih. Ia mendekati sahabat kakaknya yang tampan dan mempesona. Jasmine tidak menyadari bahwa Damian Smith bahkan memiliki kemungkinan untuk menyakitinya lebih dalam daripada mantan tunangannya. Satu kalimat yang ia tawarkan pada pria tersebut nyatanya mampu menyeretnya ke dalam bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
view morePagutan bibir Damian dan Jasmine semakin dalam satu sama lain. Tangan Jasmine terus meremas rambut Damian. Sentuhan lembut tangan Damian saat mulai turun ke area perut membuat Jasmine belingsatan karena menahan rasa geli tapi nikmat itu. Ranjang king size dengan balutan sprei lembut itu menjadi saksi keintiman dua anak manusia yang sedang meniti kenikmatan. Pendingin ruangan di kamar itu pun tak bisa mengubah suhu panas tubuh mereka yang dilingkupi gairah penuh hasrat. Kancing atasan Jasmine sudah terbuka. Tubuh atasnya sudah terpampang dengan bra berwarna nude. Bibir Damian mulai turun ke rahang lalu lama hinggap di leher Jasmine. Hisapan penuh gairah membuat Jasmine refleks menekan kepala Damian. "Aargh... Mas!" desah Jasmine dengan mata terpejam. Rasanya begitu nikmat. Sama seperti yang sudah mereka lalui, sentuhan Damian memang membuat Jasmine mabuk. Dengan mudahnya kemarahan yang sempat memenuhi rongga dadanya menguap. "Aaakh... Enak, Mas. Terus, Mas!" racau Jasmine. Sedan
Damian mengangkat wajahnya. Jasmine terhenyak saat melihat Damian dalam mode seperti ini. Matanya tidak setajam biasa, cenderung sayu. Terlihat sekali Damian sedang tidak baik-baik saja. Menyadari kehadiran Jasmine, Damian pun menurunkan kakinya.Jasmine semakin mendekat dengan lututnya. Saat Jasmine sudah berada di depan Damian, tepatnya di antara kedua kaki panjang Damian, gadis itu terdiam sebentar. Tak perlu menunggu Damian menjawab, Jasmine langsung menegakkan tubuhnya. Lalu meraih Damian untuk ia sandarkan di dadanya. "Mas Damian bisa peluk aku kalau memang mau." Jasmine menepuk pelan bahu Damian. Damian tidak banyak protes. Ia tetap menuruti Jasmine. "Aku akan nemenin Mas Damian malam ini," ucap Jasmine memeluk Damian yang masih diam itu.Tanpa adanya pemaksaan, Jasmine mengusap lembut rambut Damian lalu memeluk pria itu agar tidak merasa sendirian. Tangan Damian perlahan terangkat. Lalu melingkar di pinggang ramping Jasmine. Matanya terpejam, mencari kenyamanan di dalam
"Tumben banget Mas Pierre nggak ada di bawah. Mas Damian juga kenapa malah tiba-tiba minta aku ke Amartha, ya? Katanya ke apart." Jasmine melangkah menaiki tangga menuju ruangan Damian dengan santai. Ia yang sudah dikenal baik oleh dua penjaga di bawah, membuatnya lebih mudah saat ingin ke ruangan Damian atau pun Renan. Ruangan yang dipenuhi dengan cahaya hangat dengan nuansa keemasan itu membuat wajah Jasmine ikut bersinar. Jika dulu ia menapaki tangga dengan gugup, malam ini tidak lagi.Langkahnya lebih tenang dan terukur. Tak terasa, beberapa saat Jasmine pun sampai di ruang atas-tepatnya di depan ruang pribadi Damian. Pintu besar dengan warna hitam mengkilap itu masih sama dengan yang ia lihat beberapa bulan yang lalu. Hanya saja sekarang ia tidak lagi merasa terintimidasi dengan benda kokoh itu. Tangan Jasmine baru saja menyentuh gagang pintu. Saat dorongan perlahan pintu tersebut ia lakukan, gerakannya tertahan. Suara penuh amarah seorang wanita lebih dulu menginterupsi di
"Aku nggak nyangka bakalan kerja di sini lagi! Bahagia banget, Kaak!" Anya langsung memeluk Jasmine begitu melihat Jasmine datang. Jasmine ikut senang. Bahkan rasanya seperti mimpi saat Damian mengatakan hal ini beberapa hari yang lalu. Yang lebih membuat Jasmine terkejut adalah kondisi galeri sama persis dengan saat ia kelola dulu.Mata Jasmine menatap Flo Art dengan takjub. Siapa yang sudah memindahkan beberapa lukisannya ke tempat ini? Rasanya ia seperti melihat sosok ibunya juga berdiri di tempat ini. Menatap galeri dengan penuh bangga dan kebahagiaan.Lukisan adalah salah satunya hal yang paling mengingatkan dirinya dengan sang ibu. Wanita yang sudah mengorbankan nyawa demi melahirkan dirinya itu seakan sedang tersenyum menawan pada Jasmine. "Jadi mirip dengan yang lama ya, Kak? Padahal pas sama Nyonya Stella, nuansa galerinya sangat berbeda." Anya pun ikut berkomentar. "Iya. Kamu benar." Jasmine mengangguk setuju. "Jasmine!" Damian muncul dengan membawakan buket bunga besar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore