Chapter: BAHAGIA SEMPURNA (AKHIR)"Udah sana keluar! Ngapain tetap di sini? Kelamaan malah menyesal nanti!" Damian sudah setengah geram dengan lamanya Renan bergerak keluar mobil. Beberapa jam yang lalu, Damian baru saja sampai di rumah setelah beberapa hari berada di luar kota. Malam begitu syahdu. Aroma khas hujan masih menyeruak dari alam sekitar. Bahkan uap jalanan masih terasa. Sore tadi kota diguyur hujan lebat. Beruntung langsung berhenti saat menjelang malam. Namun, dinginnya cuaca sangat terasa di kulit. Damian menghembuskan napasnya lelah. Jika saja statusnya dengan Renan bukanlah hubungan keluarga, tentu ia tidak akan bersedia menyetir sendiri hingga 3 jam hanya demi menggagalkan kencan Maurin. Sesampainya mereka di restoran tempat Maurin dinner, Renan hanya duduk tanpa suara di samping Damian. Menyebalkan. "Keluar atau—""Menurut kamu saya sudah cukup pantas untuk bersama Maurin? Terutama di hadapan keluarga kamu." Renan mengatakan itu dengan tenang. "Yang tahu jawabannya kamu sendiri, Bro! Gimana b
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: PROVOKASI RENAN"Kenapa nggak jujur aja? Aku nggak sebodoh itu loh sampai gak tahu perasaan Mas yang sebenarnya." Jasmine duduk dengan meletakkan segelas orange jus di meja, tidak jauh dari Renan sedang bermain ponsel. Malam ini Jasmine memutuskan menginap di tempat sang ayah. Tentunya setelah Alan terus membujuk sebab sangat merindukan cucunya. Jasmine pun tidak punya alasan karena Damian juga sedang berada di luar kota sekarang. "Jangan sok tau!" tukas Renan tidak suka. Suasana malam terasa lebih syahdu. Cuaca cenderung kurang baik. Namun, menikmati semilir angin yang menerpa kulit membuat Jasmine ingin bergabung dengan kakaknya di teras samping. "Minum dulu. Tadi jeruknya titipan dari Kak Maurin. Katanya sebagai permintaan maaf karena dinnernya batal." Jasmine melipat bibir menahan tawanya teringat dengan wajah bersalah Maurin yang berujung dengan wajah Renan yang ditekuk dalam. Pria itu bahkan memilih untuk menghabiskan waktu malamnya dengan bermain game dari ponsel. Sesuatu yang sudah lama
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: KITA, PACARAN!"Kenapa diam? Tuh kan, kamu memang gak mau." Maurin tersenyum miring, lalu membuang muka. Dugaannya benar. Renan memang hanya menggertak Damian dengan mengajaknya pacaran. Jangankan dicium, memegang tangan Maurin saja Renan tidak pernah mau. Apa yang terjadi semalam pengecualian. Itu kepepet. "Kenapa masih di sini? Sana pergi! Terima kasih atas bantuannya semalam." Masih dalam mode ketus, Maurin sengaja melepaskan perhatiannya dari Renan. Namun, tidak dalam bertahan lama. Sebab hanya dalam hitungan detik setelah Maurin bersikap ketus, tiba-tiba saja seseorang menarik dagu Maurin. Pupil Maurin membulat. Tiba-tiba saja rasa gugup sekaligus menegangkan menyergap dirinya. "Ka... kamu mau ngapain?" tanya Maurin menatap Renan gugup sekaligus panik.Beberapa saat yang lalu ia memang meminta Renan menciumnya. Tapi jujur, tujuannya hanya untuk menguji Renan saja. Maurin mana berani benar-benar mengatakan itu pada Renan. Malu! "Melakukan apa yang kamu minta." Renan merangkum kedua sisi
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: CIUM AKU!"Renan tidak benar-benar mencintai Maurin. Saya tidak bisa mentolerir itu. Bagaimana pun Maurin adalah adik saya." Jasmine menatap Damian tidak mengerti. Dia sendiri tidak bisa menebak isi hati kakaknya. Namun, kini sang suami malah memberikan jawaban yang Jasmine sendiri tidak sangka sebelumnya. Renan hanya pura-pura menyukai Maurin? Atau Renan hanya sekedar menjadikan Maurin tameng agar tidak dipaksa ayah mereka untuk kencan buat dengan wanita-wanita random putri dari kenalan ayah mereka. Sejauh ini Jasmine memang kurang bisa memahami isi pikiran sang kakak yang sering menunjukkan senyum itu. "Jangan terlalu dipikirkan. Itu masalah saya dengan kakak kamu." Damian mengusap puncak kepala Jasmime dengan lembut. Seperti biasa, senyum pria itu selalu terbit dengan sangat sempurna saat di hadapan Jasmine. "Mas Renan tahu sesuatu, ya?" cicit Jasmine, menatap Damian penuh rasa khawatir. Damian terdiam. Senyumnya masih tersemat manis. Sejenak ia menunduk, menyamakan tingginya dengan s
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: KONSPIRASI?"Kalian...?" Damian menatap Renan dan Maurin bergantian. "Enggak!" sangkal Maurin. Tanpa Damian melanjutkan kalimatnya, Maurin jelas tahu apa yang ada di pikiran Damian setelah menemukannya tertidur di sofa yang sama dengan Renan. Dalam kondisi berpelukan pula. Sementara itu, Jasmine yang duduk di samping Damian hanya diam. Membiarkan suaminya menginterogasi langsung sang kakak dengan Maurin. Tidak hanya Jasmine, Damian pun ikut terkejut saat melihat Maurin dan Renan begitu mesra di sofa ruang tengah satu jam yang lalu. Keduanya sama-sama tidak mengira kedekatan orang terdekat mereka itu ternyata sudah sejauh itu. "Lalu tadi apa? Kalian tidak mungkin tidur berdua seperti itu jika tidak punya hubungan apapun, kan?" tanya Damian curiga. Nada bicara Damian memang tidak meninggi sama sekali. Terkesan tenang. Namun, Jasmine sangat memahami bahwa saat ini Damian sedang dikuasi amarah. Ruang tengah tempat mereka duduk sekarang menjadi menegangkan. Jasmine jelas tidak menyukai hal sepe
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: GAGAL MOVE ON"Jangan pergi!" Maurin segera memeluk Renan dari belakang. Langkah Renan terhenti. Napasnya tertahan sejenak. Apalagi saat ia merasakan tidak hanya pinggangnya yang ditahan Maurin, melainkan punggung pun dijadikan gadis itu sebagai tempat bersandar. Apartemen Damian yang sering mereka jadikan tempat singgah itu mendadak panas. Layaknya Renan yang merasakan jantungnya berdebar lebih cepat, suara gerak jarum jam pun terasa cepat. Kedua tangan Renan terkepal di sisi tubuh. Ia hanya bisa melihat sosok Maurin dari bayang-bayang yang tercetak di lantai sebab lampu utama yang tidak dihidupkan. Kamar yang dikhususkan untuk Maurin itu memang lebih sering diterangi dengan lampu dinding yang memberikan efek warm di ruangan. "Aku mohon jangan pergi. Temani aku." Renan menggerutu dalam hati. Suara lirih Maurin membuat Renan lemah. Apalagi tangan gadis itu semakin mendekap Renan kencang. Renan sadar, Maurin pasti masih trauma dengan kejadian beberapa jam di bar tadi. Pria tidak bertanggung
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: ANTARA HATI DAN LOGIKA"Kita diminta ayah ke ruangannya, Kak. Kamu perginya bareng aku bukan sama Gyana, jadi jangan membuatku malu.” Tania bergerak cepat menahan Sean yang hendak menyusul Gyana. Tanpa Sean ketahui, senyum tipis di bibir merah mudanya perlahan muncul. Keluarnya Gyana dari ruangan sang ayah menandakan bahwa ayahnya sudah melakukan apa yang ia minta. Dan, Tania yakin Gyana tidak akan berani menentang apapun keputusan sang ayah. Kekalutan di hati Tania pun berkurang. Sebentar lagi, dirinya akan kembali menjadi topik hangat di media. Beberapa hari yang lalu, ia sempat menjalani proses pemotretan dan wawancara untuk kepentingan nominasi 100 wanita paling cantik di dunia. Dan, dirinya adalah satu-satunya kandidat dari Jinan. Bukankah itu membanggakan? Tania yakin setelah ini karirnya akan lebih melejit. Ayah dan kakak-kakaknya akan sangat bangga padanya lalu benar-benar melupakan Gyana sebagai putri kandung keluarga mereka. “Tunggu, Tania!” Tiba-tiba saja Sean menginterupsi Tania. Mereka s
Last Updated: 2026-10-13
Chapter: KEMBALI DIUSIK"Jadi ada urusan apa Ayah memanggilku ke sini?” tanya Gyana tanpa basa-basi. Setelah sekian lama tidak memijakkan kakinya di ruangan ini, sekarang Gyana berdiri tanpa wajah tertunduk tepat di ruangan yang sempat membuatnya merasa kecil. Logo Arta Group terpampang tegas dan tampak berkilau karena cahaya dari atas. Dulu logo itulah yang sempat membuat Gyana kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di ruangan kerja sang ayah. Haris Danuarta menatap tanpa kedip Gyana beberapa saat. Wanita muda yang berdiri di hadapannya tampak berbeda dengan sosok yang datang lima tahun silam. Ah bahkan jauh berbeda dengan Gyana yang hanya menghabiskan waktunya di rumah beberapa bulan yang lalu. Garis wajahnya lembut, sorot matanya penuh percaya diri dan dingin dan kata-kata yang keluar dari bibir yang dipoles warna alami dengan sedikit hint merah itu bukan lagi kalimat protes seperti yang dulu sering Haris dengar. “Kalau Ayah tetap diam, aku akan pergi.” Gyana menatap Haris tanpa takut. Nada bica
Last Updated: 2026-10-13
Chapter: TEKANAN"Mereka sudah bertemu Nenek. Dan kamu tahu, Nenek sangat senang dengan hadirnya mereka. Bahkan Nenek langsung memeluk putranya dengan sangat erat.” Perlahan wajah Sean berubah. Punggungnya langsung bersandar di sandaran kursi. Kepalanya semakin terasa berat dan mengikat. Tekanan lebih terasa. Kabar yang diberikan sang mama membuatnya lemas seketika. “Sean kamu dengar Mama tidak?” Nada gusar Dania terdengar jelas dari seberang. “Pokoknya program hamil kamu dan Gyana harus berhasil. Posisi kamu akan tetap aman kalau kamu mempunyai anak!” Lidah Sean mendadak kelu, sedangkan pikirannya sangat berisik dan penuh. Kepala Sean tertunduk dengan satu tangan yang menopang pelipis sembari memijitnya perlahan. Sementara tangannya yang lain masih menahan ponsel di telinga. Ocehan dan tuntutan mamanya terus menggema. Suara lembut sarat dengan penekanan itu semakin membuat ruang kepala dan dada Sean sesak. “Pokoknya kamu harus berhasil menghamili Gyana. Jangan biarkan Gyana semakin dekat dengan
Last Updated: 2026-10-12
Chapter: MEREKA DATANG“Selamat pagi, Nyonya Gyana.” Mike buru-buru membukakan pintu mobil seraya tersenyum hormat pada Gyana. Satu alis Gyana terangkat. Asisten pribadi suaminya ini seharusnya sudah berada di kantor jam segini. Tapi mengapa ia justru berada di rumah? Apakah Sean tidak ke kantor? “Saya diperintahkan Tuan Sean untuk mengantarkan Nyonya hari ini. Tapi, yang pertama Tuan ingin anda ke rumah sakit dulu.” Kaki Gyana tidak kunjung berpindah dari tempat berpijak. “Rumah sakit? Sean sakit?” Mike menggeleng cepat. “Tuan sudah di kantor, Nyonya. Kondisinya baik-baik saja.” “Lalu ngapain kamu bawa saya ke rumah sakit?” tanya Gyana bingung. Pintu mobil masih terbuka dengan Mike yang setia berdiri di samping. “Tuan Sean bilang tangan Nyonya perlu diperiksa. Takutnya ada yang parah.” Bibir Gyana hanya membulat membentuk huruf O dengan singkat. Kemudian dengan santainya ia melangkah untuk masuk ke mobil. Namun, sebelum pintu tertutup sempurna, Gyana berhenti dan membuat Mike sempat terkejut. “Lang
Last Updated: 2026-10-12
Chapter: KILASAN MASA LALU"Gyana dengar dulu penjelaskanku!” Langkah Gyana tidak berhenti. Telinganya seakan tuli. Bibirnya masih terkatup enggan untuk sekedar menjawab. Gyana sengaja tidak berbalik meski hanya sebentar. “Nael itu tidak sebaik yang kamu kira."Saat menyebut nama Nael, barulah Gyana berhenti. Satu tangannya masih menopang tangan yang terluka. Kemudian Gyana berbalik, menatap dingin Sean. “Kamu nggak berhak menilai Nael."Sean tercekat. Kemarahan Gyana tidak main-main. Hanya mendengar wanita itu bicara, Sean bisa menebak bahwa Gyana keberatan dengan pendapat Sean tentang Nael. Fakta yang menyakitkan untuk Sean. Selama ini Gyana hanya memusatkan perhatian kepada Sean. Meski kerap Sean nomorduakan, Gyana tidak pernah memasang wajah kecewa meski hanya satu kali. Dan malam ini Sean melihat sendiri Gyana rela terluka hanya demi membela pria lain di depannya. “Gya aku nggak sengaja. Kamu juga nggak seharusnya berada di situ tadi. Bagaimana jika Nenek tahu kalau kamu pulang malam dengan pria lain
Last Updated: 2026-10-10
Chapter: PERTEMUAN YANG TAK BAIK“Jangan tegang, Gyana. Aku pernah menjadi pembalap kok, jadi jangan khawatir dengan keahlian mengemudiku,” gurau Nael sengaja mencairkan ketegangan yang tercipta di antaranya dan Gyana. Gyana menoleh dan berusaha bersikap biasa. “Maaf merepotkan kamu.” Nael tertawa pelan, seakan-akan mengantar Valerie dan Gyana bukanlah hal berat. Padahal Gyana sudah hampir mati kutu duduk di samping pria itu. “Jangan lupa pasang sabuk pengamannya.” Gyana merutuki kealpaannya. Akibat rasa gugup yang menyergap dirinya, ia bahkan lupa dengan hal sepenting itu. Gyana meletakkan tas di pangkuannya lalu menarik seatbelt dengan tenang. Namun, ketenangannya tiba-tiba berubah panik. Seatbelt tersebut sulit sekali dijangkau. Gyana berusaha menariknya, tetapi semesta seperti sedang mempermainkannya karena tali benda itu malah tersangkut di sela sandaran. “Maaf, biar aku bantu, ya.” Nael tiba-tiba saja sudah memiringkan tubuh dan mendekat pada Gyana. Gyana spontan membeku. Napasnya tertahan, meski hidungn
Last Updated: 2026-10-09