LOGINDi sebuah desa kecil yang tertutup kabut tipis musim gugur, Mariana berdiri di depan para penduduk dengan gaun tebal berwarna lembut yang menutupi perutnya yang sedikit membesar. Angin dingin berembus pelan, membuat ujung kerudung dan rambutnya berkibar halus.
Di belakangnya, beberapa pelayan dan pengawal sibuk menurunkan karung-karung gandum, kentang, serta daging asin dari kereta. Suara kayu beradu dan derit roda bercampur dengan gumaman haru para warga yang mengantre dengan tertibAlianne memukuli dada Aldren berkali-kali. Pukulannya tidak keras, namun sarat emosi yang selama ini ia tahan rapat-rapat. Anehnya, meskipun tangannya terus mendorong dan memukul, tubuhnya justru tidak berusaha menjauh. Ia tetap berada dalam jarak yang terlalu dekat, seolah hatinya menolak untuk melepaskan.Air mata semakin membasahi pipinya, jatuh tanpa bisa ia kendalikan. "Bodoh! Kau itu seharusnya menanyakan hal yang sama pada dirimu sendiri! Kau terlalu berusaha menyesuaikan diri pada orang lain. Tapi apakah kau... Peduli pada dirimu sendiri?" Suaranya bergetar. Napasnya tidak teratur. Setiap kata terdengar seperti pecahan yang dipaksa keluar dari dada yang sesak.Aldren hanya diam. Ia membiarkan pukulan-pukulan kecil itu mengenai dadanya. Tidak menahan. Tidak menghindar. Tidak pula membalas. Seolah-olah ia menerima semua itu sebagai sesuatu yang pantas ia terima.Aldren menunduk. Ekspresinya terlihat bingung. Bukan bingung karena tidak mengerti maksud
Matahari pagi mulai sedikit menunjukkan dirinya di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menembus tirai langit, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Kabut tipis yang menggantung di jalanan desa mulai memudar, seolah dunia baru saja menarik napas panjang setelah bertahan dalam gelap.Roda kereta kencana berderit pelan, bergerak stabil di atas jalan tanah yang masih lembap oleh embun. Di dalamnya, suasana jauh lebih sunyi dibanding suara roda di luar."Bagaimana? Apa rencana ini benar-benar sesuai harapanmu?" tanya Aldren, menatap lurus ke arah Alianne yang duduk di dalam kereta kencana di seberangnya dengan ekspresi datar.Cahaya pagi menyentuh separuh wajahnya, menciptakan bayangan tegas di sisi lainnya. Tatapannya tajam, namun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam, kekhawatiran yang terpendam rapi."Sangat sesuai!" Alianne tersenyum lebar, campuran senang dan bangga. Senyuman itu seketika berubah menjadi senyuman licik. "Bay
"Sedang apa lagi, kakak?" Caelum tersenyum nakal, senyum yang terlihat sangat natural meskipun dia hanya akting. "Jika kami berdua ada di satu tempat yang sama, maka yang akan kami bahas adalah..." Jeda sepersekian detik terasa begitu panjang. Jantungnya masih berdetak keras akibat pembicaraan barusan. Namun wajahnya sempurna. Tidak ada retakan sedikit pun dalam topeng itu."Ship Papa Hery dan Mama Serin!" Alianne tersenyum nakal, senyuman yang sangat natural, menutupi ketegangan di wajahnya dengan sempurna.Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang beberapa menit lalu membahas surat wasiat dan kematian. Bahkan pupil cokelatnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang sempat bergetar di sana.Udara pagi yang membeku seolah ikut menahan napas."Baiklah." Aldren hanya mengangguk mengerti, tidak mau melarang ataupun ikut-ikutan dalam permainan mereka.Kemudian, Aldren berbalik, berjalan meninggalkan mereka, membuat
Pagi sebelumnya, matahari bahkan belum menunjukkan dirinya. Langit masih gelap pekat, hanya dihiasi garis tipis kebiruan di ufuk timur yang belum cukup untuk disebut fajar. Dari pada pagi, saat itu lebih mendekati tengah malam yang hening, dingin, dan seolah menahan napas.Embun membeku di ujung dedaunan. Uap tipis keluar setiap kali seseorang bernapas.Alianne keluar dari kediaman Marquess Redmond dengan langkah pelan namun mantap. Ia mengenakan hoodie tebal dan celana panjang, setelan pakaian modern yang dipesannya dari Lysa. Pakaian itu terasa asing di dunia yang masih dipenuhi gaun dan korset, tetapi justru itulah yang ia butuhkan. Praktis. Ringkas. Tidak mencolok.Angin dini hari menyapu wajahnya, menusuk kulit seperti jarum halus. "Dingin!" Suara Aldren terdengar tegas tapi lembut dari belakangnya. Sebuah jubah kebesaran berwarna hitam tiba-tiba menyelimuti bahu Alianne. Kain tebal itu jatuh sempurna, berat namun hangat, jelas jubah milik Aldren send
Di sebuah desa kecil yang tertutup kabut tipis musim gugur, Mariana berdiri di depan para penduduk dengan gaun tebal berwarna lembut yang menutupi perutnya yang sedikit membesar. Angin dingin berembus pelan, membuat ujung kerudung dan rambutnya berkibar halus.Di belakangnya, beberapa pelayan dan pengawal sibuk menurunkan karung-karung gandum, kentang, serta daging asin dari kereta. Suara kayu beradu dan derit roda bercampur dengan gumaman haru para warga yang mengantre dengan tertib.Wajah-wajah yang semula muram kini memancarkan secercah harapan."Terima kasih, Yang Mulia. Berkat dirimu, kami semua tidak perlu takut lagi mengalami kelaparan untuk musim dingin kali ini," ucap salah seorang nenek tua di desa itu.Tangannya yang keriput menggenggam tangan Mariana dengan penuh rasa syukur.Mariana hanya tersenyum riang. Senyumnya tampak cerah, hangat, seolah benar-benar menjadi cahaya di tengah udara dingin yang menggigit. Matanya melengkun
Pupil hijau gelap Aldren menatap pupil biru cerah Caelum dengan tatapan datar. Tidak ada emosi yang terlihat di wajahnya, tidak marah, tidak tersinggung, tidak juga terkejut. Terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, ingatan lama menyusup tanpa permisi. Ia masih mengingatnya. Hari eksekusi itu. Kedua matanya ditutup kain hitam yang kasar, membuat dunia hanya tersisa suara dan bau darah yang samar. Lututnya dipaksa menyentuh tanah dingin. Angin membawa teriakan rakyat yang memekakkan telinga. "Bunuh dia!" "Bunuh raja tiran!" "Bunuh!" Ia tidak bisa melihat siapa pun. Namun ia bisa mendengar. Dan di antara teriakan itu, Suara Caelum. Berpidato dengan gagah berani. Tegas. Lantang. Tanpa ragu. Seolah dirinya adalah pahlawan yang akan membunuh iblis. Dan iblis itu adalah dirinya sendiri. "Rakyat-rakyatku sekalian... Aku sangat mengerti







