เข้าสู่ระบบ"Apa kau... Masih mau mendengarkannya?" tanya Serin, meminta izin sebelum melanjutkan.
Alianne mengangguk tegas, tatapannya mantap tanpa ragu. "Tentu. Lanjutkanlah..."Serin hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, bahunya sedikit turun, seolah beban lama kembali diletakkan di atas tubuhnya. Ia menunduk, menatap lantai, mencoba menarik ingatan yang selama ini terkubur rapat. Ingatan sepuluh tahun lalu, ingatan yang selalu ia hindari."Saat itu, aku masih berusAldren mengangguk pelan, gerakannya nyaris tak terlihat. “Benar, tubuh asli istriku.” Nada suaranya rendah, namun mengandung kepastian yang tidak bisa digoyahkan. Tangannya bergerak perlahan, mengusap rambut hitam Alia dengan kelembutan yang kontras dengan ketegangan yang memenuhi ruangan.“Dari tadi dia tertidur? Kenapa belum sadar juga?” Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menekan, seolah sesuatu yang tidak terlihat tengah menunggu untuk terungkap.Aldren mencubit pipi Alianne pelan. “Alia, bangunlah!”Tubuh itu tidak bergerak. Tidak ada reaksi. Bahkan hembusan napas pun tidak terdengar jelas tanpa diperhatikan dengan saksama.Aldren terdiam. Waktu seolah melambat di sekelilingnya. Perasaan tidak nyaman mulai merayap naik, perlahan namun pasti, mengisi setiap celah dalam pikirannya.“Yang Mulia... I- itu...” Suara Magnus terdengar gemetar dari belakang. Ada sesuatu dalam nada itu yang langsung membuat suasana berubah. Tegan
Mata Hery membulat, keterkejutan yang selama ini ia tahan akhirnya muncul ke permukaan. Penjelasan yang baru saja ia dengar terasa terlalu tidak masuk akal, bahkan untuk situasi yang sudah jelas tidak biasa sejak awal.“Ja- jadi... Alianne di kamarmu adalah pemilik tubuh asli dari Alianne, sementara jiwa Alianne yang kita kenal, menghilang entah kemana?”Kata-katanya terucap terbata, seolah ia sendiri belum sepenuhnya percaya pada apa yang baru saja ia rangkai dalam pikirannya.Aldren hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar menunjukkan ketenangan, melainkan penerimaan terhadap kenyataan yang tidak bisa ia ubah. “Begitulah.”Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada pembenaran. Hanya kepastian yang dingin dan sederhana.Hery menarik napas dalam, lalu mengangguk tegas. Ekspresinya berubah, dari terkejut menjadi fokus. Ia adalah seorang komandan. Seaneh apa pun situasinya, tugas tetaplah tugas. “Yang Mulia tenang saja! Aku akan mengarahkan pasukan untuk mencarinya tanpa perlu
Di halaman depan Istana Obsidian, suara denting logam dan teriakan komando bergema tanpa henti. Debu tipis beterbangan di udara, terinjak oleh derap kaki para prajurit yang sedang menjalani latihan. Matahari belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah cukup untuk membuat suasana terasa berat dan tegang.Di tengah barisan itu, Hery berdiri tegap, mengawasi setiap gerakan dengan ketelitian seorang komandan berpengalaman. Tidak ada yang berani lengah di bawah pengawasannya.Namun ketertiban itu pecah dalam sekejap.Derap langkah cepat terdengar dari kejauhan, semakin mendekat dengan ritme yang tidak teratur. Beberapa prajurit menoleh, kebingungan mulai terlihat di wajah mereka. Sosok yang muncul berikutnya membuat suasana langsung berubah.Aldren.Napasknya terdengar berat, langkahnya tergesa, jauh dari sikap tenang yang biasa ia tunjukkan. “Hery! Bawa semua pasukan! Aku ada misi darurat untuk semua!” serunya tanpa menahan suara.Tanpa menunggu respons, Aldren langsung melompat naik ke at
“Alia, waktunya bangun!” Aldren menepuk pipi Alianne dengan lembut, namun cukup untuk menariknya keluar dari alam tidur yang pekat.Bulu mata Alianne bergetar pelan sebelum akhirnya kedua pupil cokelatnya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram, seolah dunia di sekitarnya belum sepenuhnya terbentuk. Namun, begitu fokusnya kembali, napasnya tertahan.Seorang pria berdiri sangat dekat di hadapannya. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam, dan keberadaannya terlalu... nyata untuk diabaikan.Jantung Alianne berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, ia langsung mendorong tubuhnya bangkit hingga duduk tegak. Jarak di antara mereka mendadak terasa terlalu sempit, terlalu menyesakkan. “Maaf, kau siapa?!” tanyanya dengan suara yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kepanikan.Aldren terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap Alianne, seolah mencoba memahami apakah ini lelucon, atau sesuatu yang jauh lebih serius. Alisnya sedikit berkerut, kebingungan mulai merayap di wajahnya. “Apa maksudmu? Aku adala
Roda kereta kuda yang melaju di jalan berbatu tiba-tiba menghantam sebuah batu besar yang tidak terlihat di bawah bayangan malam. Benturan itu cukup keras hingga membuat seluruh badan kereta terguncang tajam, suara kayu berderit terdengar jelas di dalam ruang sempit tersebut.Alianne yang tidak siap langsung terhempas dari posisi duduknya. Tubuhnya terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Jantungnya seakan terhenti sesaat saat ia merasa tubuhnya akan jatuh tanpa penopang.Namun sebelum itu terjadi, sebuah lengan dengan sigap menahannya.Aldren.Tanpa ragu, ia menarik tubuh Alianne ke arahnya, menjadikan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Satu tangannya menahan bahu Alianne, sementara yang lain menjaga agar tubuhnya tidak kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Gerakannya cepat, refleks, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang terlatih.Alianne terdiam.Jarak di antara mereka kini terlalu dekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aldren, bahkan detak jantungnya sendiri
"Baik, Yang Mulia!" Para pengawal di sekitar gerbang langsung mengangguk serempak. Tanpa ragu, mereka bergerak maju, tangan-tangan kuat mereka mencengkeram lengan dan bahu Leon. Tidak ada lagi penghormatan yang tersisa dalam gerakan itu. Tidak ada lagi jarak antara seorang bangsawan dan bawahan. Mereka menarik tubuh Leon dengan kasar, menyeretnya menjauh dari tempat yang selama ini ia kuasai. "Tunggu! Ini tidak benar! Aku adalah pemilik kediaman yang asli! Aku adalah duke yang asli!" Suara Leon menggema, penuh amarah dan keputusasaan yang mulai bercampur menjadi satu. Ia berusaha memberontak, tubuhnya menegang, namun kekuatannya tidak sebanding dengan para pengawal yang menahannya. Namun pengawal tidak peduli. Wajah mereka datar, langkah mereka tidak terhenti. Mereka terus menyeret Leon, membawanya keluar dari kediamannya sendiri, melewati gerbang yang kini terasa seperti batas antara kekuasaan dan kehinaan. Kerumunan rakyat yang menyaksikan pemandangan itu langsung meledak
Pagi hari di ruang tengah kediaman Count Arcelmont terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Aldren duduk di tengah ruangan, menjadi pusat dari semua tatapan yang tertuju padanya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan beban yang tidak ringan. "Baiklah, sepertinya semua orang yang bersangkut
"Oh... Jadi kau mengakuinya, ya?" Caelum menoleh ke arah Hery. Tatapannya tajam, penuh kemenangan seolah baru saja menangkap sesuatu yang penting. "Hery! Bawa kakak ke sini!""Baik, Yang Mulia!" Hery menunduk cepat, hampir refleks. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan berlari.
Malam merambat turun dengan tenang. Cahaya lampu minyak di kamar Elyana berpendar hangat, memantul di dinding dan tirai tipis yang bergoyang perlahan tertiup angin malam. Suasana yang biasanya kaku dan penuh etika kini terasa jauh lebih santai.Empat gadis berkumpul di dalam satu ruangan. Sesuatu y
"Jadi... Yang Mulia!" Magnus menoleh ke arah Aldren yang duduk di kursi di dalam kamar tamu yang saat itu sedang ditempatinya. Sorot matanya tampak santai, tetapi ada kilatan rasa penasaran di sana. Ia menyandarkan bahu pada sandaran kursi, seolah topik yang hendak ia lontarkan hanyalah percakapa







