Mag-log in"Yang Mulia Duke telah menyerang barak militer, menyerang pasukan kami, bahkan menyerangku dan ayahku juga. Kemudian, barulah dia menculik para tabib."Suara itu keluar dengan tegas, meski masih tersisa getaran emosi yang belum sepenuhnya stabil. Orang-orang yang dibawa oleh Thalira berdiri dengan canggung, namun keberanian mereka perlahan tumbuh di bawah sorotan semua mata yang kini tertuju pada mereka."Itu benar!" ucap salah seorang tabib, suaranya gemetar ketakutan. "Kami semua diikat dan diseret paksa. Kami tidak bisa melawan sama sekali."Ia menunduk, tangannya saling menggenggam erat seolah mencoba menahan ingatan yang masih segar di benaknya."Kami sangat ketakutan... Saat itu hanya sedikit pasukan yang berjaga di barak militer. Kami sama sekali tidak bisa membela diri."Setiap kata yang mereka ucapkan menambah beban yang menekan Leon. Tuduhan demi tuduhan kini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan rangkaian kesaksian yang saling m
"Jawabannya sudah jelas!"Suara itu memotong ketegangan yang menggantung, tajam namun tetap terkontrol. Elyana melangkah maju dari barisan belakang dengan gerakan anggun yang kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Setiap langkahnya terukur, seolah ia telah menunggu momen ini sejak awal.Di tangannya, selembar surat terangkat jelas untuk dilihat semua orang.Dia menunjukkan surat yang bertuliskan pemberhentian anggaran untuk Count Arcelmont."Yang Mulia Duke memang menghentikan anggaran untuk Count Arcelmont."Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa. Beberapa bangsawan saling bertukar pandang, sementara rakyat mulai mengangkat kepala mereka sedikit lebih tinggi, mencoba melihat bukti yang ditunjukkan.Leon yang masih berada di tanah menggerakkan tubuhnya dengan susah payah. Wajahnya kotor, napasnya tidak teratur, namun sorot matanya tetap menyala. Ia tidak berniat menyerah begitu saja."Kalau mau menyalah
Alianne melangkah maju tanpa ragu, posisinya kini sejajar dengan Aldren. Tatapannya tajam, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan meski berada di tengah para bangsawan dan rakyat yang menyaksikan. Dengan gerakan yang jelas dan tegas, ia mengangkat tangannya lalu menunjuk Leon dengan sangat tidak hormat."Aku, Alianne, ratu kerajaan Valtarian, memberi saran untuk mencabut Leon dari jabatannya sebagai duke."Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong.Semua orang terdiam. Tidak ada bisikan, tidak ada gerakan. Bahkan udara terasa berat, seolah menekan dada setiap orang yang hadir. Beberapa bangsawan menahan napas, sementara rakyat hanya bisa saling berpandangan dengan mata melebar, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.Leon tetap berlutut, namun bahunya sedikit bergetar. Lalu, perlahan, suara tawa kecil keluar dari bibirnya.Leon terkekeh pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri."Mencabut jabatan? Apa-apaan ini?"Nada suaranya terdengar meremehkan, tetapi ada retakan
"Biarkan kami masuk!""Kami menderita menghadapi musim dingin andai jika Yang Mulia Raja tidak membantu kami!""Biarkan kami bertemu Yang Mulia Duke!"Teriakan itu bergema tanpa henti, saling bertumpuk hingga menciptakan riuh yang memekakkan telinga. Halaman depan kediaman. Wajah-wajah pucat, pakaian lusuh, serta mata penuh keputusasaan memenuhi setiap sudut gerbang besi yang tertutup rapat.Di kejauhan, Alianne berdiri dengan sikap santai, seolah semua kekacauan itu hanyalah pertunjukan yang telah lama ia nantikan. Tatapannya menyapu kerumunan, memperhatikan setiap detail dengan cermat, sebelum senyum tipis terukir di bibirnya. "Sudah dimulai ternyata. Silakan, para aktor!"Dari dalam halaman, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Leon muncul lebih dulu, wajahnya tegang dan napasnya sedikit memburu. Ia berjalan cepat menuju gerbang, matanya membesar melihat kerumunan yang nyaris tak terkendali."Apa-apaan ini?!" bentaknya, suaranya meninggi, berusaha menutupi kegelisahan yang mula
Sementara itu di kumpulan pria...Suasana di sisi ini tampak lebih tenang di permukaan, namun percakapan yang terjadi memiliki bobot yang berbeda. Tidak ada tawa berlebihan atau sikap mencolok, hanya tatapan-tatapan tajam dan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati.Aldren berdiri dengan postur tegap, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada percakapan di sekitarnya. Matanya justru mengarah pada seorang pria di depannya yang tampak tidak fokus, seolah pikirannya berada di tempat lain.Aldren mempersempit pandangannya.Dengan rasa penasaran, Aldren mengikuti arah pandangan pria itu. Tatapannya menembus kerumunan tamu, melewati gaun-gaun mewah dan jas formal, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.Di sana, Alianne dan Magnolia terlihat berdiri berdekatan.Keduanya tampak akrab, berbicara dengan santai seolah sudah saling mengenal cukup lama. Gestur mereka terbuka, tidak ada jarak, tidak ada kecanggungan.Aldren mengangkat alisnya tipis."Erylus, istrimu dan istriku cepat ber
Leon berdiri tegap di altar, tangannya bergerak perlahan namun pasti saat mengambil cincin itu. Cahaya lilin memantul pada permukaan logamnya, menciptakan kilau kecil yang terasa hampir menyilaukan di tengah suasana yang hening.Mariana mengulurkan tangannya.Untuk sesaat, waktu seolah melambat.Leon memakaikan cincin pada Mariana, bagian yang sangat sakral dalam sebuah pernikahan. Tidak ada suara yang benar-benar hilang, namun semua terasa teredam, seolah seluruh dunia memberi ruang bagi momen itu untuk terjadi tanpa gangguan.Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menjangkau setiap sudut ruangan.Sementara itu di bagian para tamu...Bisikan mulai muncul lagi, kali ini lebih tajam, lebih terbuka, dan tidak lagi berusaha disembunyikan."Lihatlah mereka! Mereka sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan!""Benar-benar menjijikkan! Apa lagi wanita di sana adalah seorang ratu. Aku tidak sudi memanggilnya dengan panggilan Yang Mulia Ratu."Nada suara itu dipenuhi rasa muak yang terang-t
"Kalian cocok, deh! Kapan menikah?" tanya Alianne yang otaknya langsung membentuk ship baru.Ucapan itu meluncur begitu saja dengan ringan, nyaris tidak selaras dengan suasana mencekam yang masih menyelimuti hutan. "Sekarang bukan waktunya untuk itu!" ucap Aldren. Suaranya tega
“Thalira! Hery! Sudah aman! Kalian boleh keluar sekarang!” teriak Caelum lagi, suaranya menggema di antara sisa-sisa hutan yang porak-poranda.Angin berembus pelan, menggeser daun-daun kering dan serpihan kayu yang berserakan di tanah. Suasana sempat hening. Seolah dunia menahan napas.
Sebuah benda padat berbentuk bulat melesat tajam ke udara, memecah keheningan dengan desingan yang mengiris telinga. Lintasan geraknya terlalu cepat untuk dihindari. Sebelum akhirnya menghantam salah satu batang pohon besar di atas sana. Detik berikutnya, ledakan dahsyat mengguncang udara. Pecahan
Di ruang tengah, pintu kembali terbuka. Aldren melangkah masuk.Suasana yang sebelumnya sudah berat kini terasa semakin padat, seolah udara di ruangan itu mengeras. Semua mata langsung tertuju padanya, bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan tekanan yang tidak diucapkan.







