ANMELDENSepuluh tahun lalu, keluarga Mahendra dimusnahkan dan dicap sebagai pengkhianat. Kini, pewaris terakhirnya hidup sebagai siswa gagal di Akademi Tempur Garuda. Raka Mahendra terbiasa dihina, dicemooh, dan dianggap tak punya masa depan. Sampai sebuah warisan kuno bangkit di dalam darahnya. Dalam semalam, hidup Raka berubah total. Akademi mulai mengawasinya, musuh mulai memburunya, dan rahasia tentang keluarganya perlahan terkuak. Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Raka hanya punya satu pilihan—menjadi cukup kuat untuk bertahan hidup dan membalas semuanya!
Mehr anzeigenLangit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.
Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor, drone pengawas, dan kristal pengukur Etherion berjejer seperti altar masa depan.
Di tempat itu, nasib ditentukan.
Siapa yang lulus akan memperoleh kekuasaan, uang, status, dan jalan menjadi kultivator militer. Dan bagi mereka yang gagal, akan kembali menjadi rakyat biasa, hidup di bawah kaki mereka yang kuat.
Di tengah lautan manusia itu, seorang pemuda berdiri tenang dengan seragam lusuh yang warnanya mulai pudar.
Raka Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra. Dua puluh tahun yang lalu, nama Mahendra membuat banyak orang menunduk. Sekarang, nama itu hanya mengundang tawa. Nama besar yang pernah mengguncang dunia bisnis dan militer, sebelum hancur dalam satu malam dan dicap sebagai keluarga pengkhianat.
Kini, pewaris terakhir keluarga itu hanya berdiri sendirian di antara ribuan orang yang menertawakannya.
Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya datar. Namun sepasang mata amber miliknya menatap panggung dengan ketajaman dingin.
“Peserta nomor 317, Reyhan Aditya!”
Sorak-sorai meledak.
Seorang pemuda tinggi melangkah maju dengan dagu terangkat. Rambutnya tertata rapi, jas akademi khusus menempel sempurna di tubuh atletisnya. Beberapa pengawal keluarga berdiri tak jauh di belakang.
Reyhan meletakkan telapak tangan di atas kristal ujian.
Nggg~
Cahaya biru meledak ke udara, diikuti tulisan besar muncul di layar hologram.
[Bakat Etherion : Grade A]
[Jalur Nadi : Stabil][Potensi Tempur : Sangat Tinggi]“Gila!”
“Grade A!”
“Seperti dugaan, keluarga Aditya memang monster!”
Suara kagum itu muncul dari tengah kerumunan, lalu segera disusul bisik-bisik lain yang bernada sama.
“Reyhan luar biasa!”
“Bakat kelas atas.”
“Sudah pasti masuk divisi elit.”
Reyhan menampilkan senyum tipis yang santai dan percaya diri. Ia menikmati sorotan yang mengarah padanya seperti seseorang yang sudah terbiasa dipuja. Ketika pandangannya menyapu barisan peserta dan berhenti pada Raka, senyum itu perlahan berubah menjadi seringai tipis merendahkan.
Namun Raka tak memberi reaksi sedikit pun. Wajahnya tetap datar, sorot matanya tenang. Seolah Reyhan hanyalah angin lalu.
Satu per satu peserta kembali dipanggil.
Grade B.
Grade C.
Sesekali Grade A muncul dan memancing sorak kagum.
Plaza semakin panas. Udara dipenuhi ambisi, iri hati, gengsi, dan tekanan tak kasatmata. Setiap orang ingin naik, tak ada yang rela jadi sampah.
Lalu suara petugas kembali menggema.
“Peserta nomor 401, Raka Mahendra!”
Seketika kerumunan bergejolak.
“Mahendra? Si Sampah itu?”
“Bukannya itu keluarga pengkhianat?”
“Anak pengkhianat mau masuk akademi?”
Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sisi.
Raka berjalan maju tanpa menoleh sedikit pun. Setiap langkahnya stabil, seolah suara-suara itu tak pernah sampai ke telinganya. Ia berhenti tepat di depan kristal uji.
Seorang instruktur berjubah hitam memindai data di tablet, lalu mendecak pelan dengan wajah jijik. “Tidak ada sponsor, tidak ada rekomendasi. Riwayat pelatihan nihil.”
Dagunya terangkat, nada suaranya dingin. “Sentuh kristal itu.”
Raka tak menjawab, dengan ekspresi tenang, ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak ke permukaan kristal.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu kristal bergetar pelan.
Grrr~
Cahaya redup yang kecil muncul, seperti api lilin yang hampir padam diterpa angin. Hologram di atasnya berkedip sesaat, mati sepersekian detik, lalu menyala kembali.
[Bakat Etherion : Grade E]
[Jalur Nadi : Rusak][Potensi Tempur : Hampir Nol]Sunyi menggantung sepersekian detik.
Lalu—
“HAHAHAHA!”
Ledakan tawa mengguncang plaza.
“Grade E?!”
“Sampah total!”
“Potensi hampir nol?!”
“Ngapain datang ke sini?”
“Balik kerja serabutan sana!”
Suasana berubah jadi arena penghinaan.
Instruktur berjubah hitam melirik Raka dengan muak. Ia menekan tablet dengan kasar. “Memalukan.” jeda singkat. “Lulus bersyarat, masuk Kelas Nol.”
Suara tawa semakin keras.
Kelas Nol, tempat pembuangan bagi peserta gagal yang masih dipertahankan demi kuota kasar, kerja kotor, atau sekadar jadi samsak hidup.
Raka menatap hasil uji beberapa detik. ‘Grade E… Lagi.’
Sejak kecil hasilnya selalu sama, tubuh gagal, jalur nadi rusak dan tidak punya masa depan. Namun ekspresinya tetap datar.
Ia berbalik hendak pergi, namun suara langkah mendekat lebih dulu.
Reyhan Aditya berhenti tepat di depannya, cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia sengaja menghalangi jalan. “Kau benar-benar datang.”
Nada suaranya santai, tetapi penuh ejekan. “Kalau aku jadi kau, aku akan mengubur nama Mahendra dan hidup diam-diam.”
Beberapa peserta langsung merapat, menunggu tontonan.
Reyhan menatap seragam lusuh Raka dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Dulu keluargamu membuat banyak orang menunduk.”
Ia mendekat sedikit. “Sekarang, pewarisnya bahkan tak layak menatap panggung yang sama denganku.”
Tawa kecil terdengar dari sekitar.
Raka tak menjawab. Ia hanya menatap Reyhan satu detik dengan mata datar, lalu berjalan melewatinya.
Reyhan menyipitkan mata. “Bagus,” katanya pelan. “Pewaris sampah memang tahu kapan harus diam.”
“Semua bersiap!”Suara berat itu kembali menggema melalui pengeras suara, menghantam seluruh area hingga telinga para siswa berdengung.“Lari lintas medan bersenjata sejauh lima kilometer… Mulai sekarang!”Begitu perintah dijatuhkan, para instruktur di barisan depan langsung bergerak tanpa memberi waktu sedikit pun untuk bersiap. Langkah mereka cepat dan stabil, memimpin jalur lari seperti kawanan predator.Para siswa sempat terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berlari dalam kekacauan.“Cepat bergerak! Kalian belum makan, hah?!”“Sepuluh persen terakhir langsung tereliminasi! Tidak ada makan malam untuk sampah yang tertinggal!”Teriakan para instruktur terus mengguncang lapangan, membuat para siswa yang baru memasuki Akademi Tempur Garuda itu akhirnya memahami seperti apa kerasnya kehidupan militer di Republik Nusantara Raya. Lari baru dimulai beberapa menit, tetapi penderitaan sudah terasa jelas.Ransel berat di punggung mereka terus menghantam tubuh setiap kali langkah di
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.BRAK!Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”Hening.Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Ra
Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”TING!00:42Suara logam bergesek terdengar dari luar.KRRRK~Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.