LOGINYara baru saja selesai meracik salad di atas meja dapur. Potongan selada hijau, tomat ceri, alpukat, dan irisan ayam rebus tersusun rapi, diberi saus ringan yang aromanya segar. Ia tersenyum kecil saat mendengar langkah kaki mendekat.“Mau salad juga?” tawarnya lembut, tanpa menoleh.“Mau,” jawab Arunika singkat.Yara mengambil mangkuk lain, lalu menyendokkan salad dengan porsi yang cukup. Ia sengaja tidak terlalu banyak, khawatir Arunika malah enggan menghabiskannya. Saat menyodorkan mangkuk itu, Yara akhirnya menatap wajah putri sambungnya. Dadanya menghangat sekaligus nyeri.Arunika terlihat rapi seperti biasa, blus polos, rambut terikat sederhana. Namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya tampak redup, senyumnya lebih sering tertahan, dan tubuhnya terasa makin kurus dari hari ke hari. Yara teringat Arunika yang dulu, cerewet, tertawa lepas, dan penuh energi. Jujur saja, ia merindukan versi itu.“Kamu kelihatan capek,” ucap Yara hati-hati, sambil duduk di kursi seberang.Arunika hany
Yara terbangun saat suara berisik dari luar kamar memecah keheningan malam. Ia mengerjap beberapa kali, lalu perlahan turun dari ranjang. Jam digital di nakas masih menyala redup, sementara dari arah lorong terdengar suara yang jelas—tegang, tertahan emosi.“Gak bisa gitu! Data yang kemarin gak valid! Pokoknya buat ulang!”Yara membuka pintu kamar. Di ambang lorong, Arunika berdiri sambil memeluk bantal sofanya, ponsel menempel di telinga. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah, tapi nada bicaranya tegas. Yara melirik jam dinding. Pukul satu malam.Ia menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat.“Runi.”“Ya sudah, saya gak mau tahu. Selesaikan dan besok kirim ke meja saya.” Arunika mematikan sambungan telepon itu, lalu menghembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya ikut keluar. Ia menoleh pada Yara dan tersenyum kecil. “Maaf, Yar. Pasti ngagetin kamu, ya?”Yara menggeleng pelan. Ia tahu betul kebiasaan itu sekarang. Sejak Kaivan sakit dan belum juga sadar, Arunika sepert
Arunika duduk kaku di kursi besi di sisi ranjang. Tubuhnya terbungkus baju steril yang terasa dingin, jauh lebih dingin dari dadanya yang sesak. Tangannya menggenggam tangan Kaivan—dingin, lemah, penuh selang infus dan alat yang tak pernah ia bayangkan akan menempel di tubuh lelaki yang selalu tampak kuat itu.Air matanya menetes satu per satu, jatuh di punggung tangan Kaivan.“Bangun ya,” bisiknya, suaranya pecah, hampir tak bersuara.“Aku capek sendirian.”Jarinya mengerat, seolah takut kalau genggaman itu terlepas, Kaivan akan pergi untuk selamanya. Dada Arunika naik turun tak beraturan. Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan itu.“Kamu janji,” lanjutnya lirih, ada getir yang menyayat di tiap kata.“Kamu bilang nggak bakal ninggalin aku. Kamu bilang aku nggak perlu kuat sendirian.”Isakannya tertahan, bahunya bergetar. Ia mengusap pipinya asal, tapi air mata terus jatuh, tak peduli.“Aku takut, Kaivan.” Arunika menyeka air matanya sebentar.“Aku beneran takut.”Matanya menata
Mereka membawa kantong-kantong makanan itu keluar dari restoran. Elvaro membuka bagasi, satu per satu memasukkan bungkusan dengan rapi, memastikan tidak ada yang tumpah. Yara ikut membantu sebisanya, meski Elvaro beberapa kali menahan pergelangan tangannya, menyuruhnya pelan-pelan saja. Setelah semuanya beres, Yara lebih dulu masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggung sambil menghela napas puas.Begitu mobil melaju, Yara meraih ponselnya. Jarum jam sudah bergeser cukup jauh dari siang, pikirannya langsung tertuju pada Arunika. Jempolnya menekan nama itu, menunggu nada sambung dengan perasaan sedikit cemas.“Runi,” sapa Yara begitu panggilan terangkat. “Kamu di mana? Kapan pulang? Mau makan apa? Aku sama Papa baru habis beli makanan.”Di seberang sana, suara Arunika terdengar pelan, jauh dari ceria yang biasanya. “Aku masih di kantor Kaivan, Ya. Kayaknya aku makan di luar aja. Nggak usah siapin apa-apa, ya.”Nada itu, lesu, datar, dan berusaha terdengar baik-baik saja, langsung membu
Mereka menunggu pesanan datang. Di antara suara piring beradu dan obrolan pengunjung lain, suasana meja mereka perlahan mengendap, tidak lagi riuh seperti beberapa menit lalu.Yara memainkan ujung sendoknya, lalu mengangkat wajah.“Mas,” panggil Yara, suaranya pelan, ragu. “Kaivan gimana?”Elvaro menarik napas panjang sebelum menjawab. Tatapannya teralihkan sejenak ke meja, lalu kembali pada Yara.“Belum sadar,” katanya jujur. “Masih di ICU.”Gerakan Yara terhenti. Tangannya yang tadi memegang ponsel perlahan turun. Ia menunduk, bahunya sedikit merosot.“Oh….” Hanya itu yang keluar, tapi nadanya penuh dengan rasa sesak.Elvaro segera meraih tangan Yara, menggenggamnya erat di atas meja. Hangat, menenangkan.Yara menautkan jari-jarinya dengan jari Elvaro, matanya mulai berkaca-kaca.“Aku kasihan sama Arunika, Mas,” ucapnya lirih. “Dia kelihatan kuat, tapi aku tahu, hatinya pasti hancur.”Elvaro mengangguk pelan. Matanya ikut memerah, meski ia berusaha tetap tenang.“Mas juga ngerasain
Yara memilih beberapa buah apel, pir, dan anggur, lalu meletakkannya ke dalam troli. Pikirannya tertuju pada Arunika dan Kaivan. Ia ingin memastikan asupan buah cukup untuk beberapa hari ke depan. Tangannya baru hendak meraih jeruk ketika sebuah suara memanggil namanya.“Yara?”Tubuh Yara menegang seketika. Ia menoleh sekilas, lalu refleks mengalihkan pandangan, berharap suara itu hanya salah dengar. Namun langkah kaki yang mendekat membuatnya mendesah kesal. Lionel—mantan pacarnya, berdiri tak jauh, menatapnya seolah waktu tak pernah benar-benar berlalu.“Yara,” ulang Lionel, lebih pelan.Yara menarik napas, lalu berbalik. Wajahnya dingin, datar. “Ada apa?”Lionel menelan ludah. “Kamu beneran nikah?”“Iya.” Jawaban Yara mantap, tanpa ragu, tanpa senyum. “Aku sudah menikah.”Nada suaranya jelas tidak memberi celah untuk percakapan panjang. Lionel menatapnya nanar, seolah berharap menemukan retakan kecil, tanda keraguan. Namun yang ia temui hanya ketegasan. Penyesalan terpancar jelas d







