Chapter: Bab. 178Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab. 177Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab.176Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab. 175Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: Bab. 174Hari itu cuaca cerah, tapi Arunika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggenggam undangan berwarna krem dengan emboss sederhana di sudutnya. Nama dirinya dan Kaivan tercetak rapi di sana—sebuah kenyataan yang masih terasa seperti mimpi, meski tanggal pernikahan telah ditetapkan secara resmi.Di sampingnya, Kaivan melangkah tenang. Setelan kasual yang ia kenakan tak mengurangi wibawa alami yang selalu melekat padanya. Namun Arunika tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan. Pria itu telah melalui terlalu banyak badai untuk sekadar gugup menghadapi satu kunjungan.Rumah Dokter Aksa berdiri teduh di ujung jalan, dikelilingi pohon mangga yang daunnya rimbun. Aroma tanah basah masih tersisa sejak hujan semalam. Arunika berhenti sejenak di depan pagar, menarik napas dalam-dalam.“Kamu yakin?” tanyanya pelan, menoleh pada Kaivan.Kaivan menatapnya lembut. “Yakin. Kita ke sini bukan cuma bawa undangan. Kita bawa rasa terima kasih.”Kalimat itu membuat dada Arunika
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab. 173Kaivan menatap Mila tanpa emosi. Bukan marah, bukan benci—lebih kepada selesai. Tatapan orang yang sudah tidak ingin terlibat lebih jauh.Ibunda Mila berdiri, wajahnya memerah karena campuran marah dan malu. “Kaivan, kamu tidak bisa bicara sembarangan! Putri saya—”“Bu,” potong Kaivan dengan sopan, tetapi tegas. “Saya bertanggung jawab penuh atas hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan nama perempuan lain saya bawa hanya karena tekanan.”Ayah Mila mengepalkan tangan. “Jadi maksud kamu, anak ini bukan tanggung jawab kamu?”Kaivan mengangguk mantap. “Bukan.”Ruangan kembali senyap. Kali ini lebih berat.Ayah Kaivan melangkah maju. Nada suaranya dingin, berwibawa. “Jika memang ada klaim seperti ini, keluarga kami berhak meminta bukti. Tes medis, tes DNA, apa pun yang sah. Tanpa itu, pembicaraan ini selesai.”Mila membelalak. “Om—”“Kamu yang memulai semuanya, Mila,” potong Pak Agam. “Sekarang kamu tidak bisa memaksa kami menerima sesuatu tanpa dasar.”Mila menoleh ke Kaivan, matanya b
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 97 Akan Indah Pada WaktunyaOma Hesty menangis dengan memeluk Inara. Ia sudah sangat takut atas apa yang telah menimpa Qiara. Diculik, dipaksa berlari dalam keadaan hamil pula. Air matanya menetes dengan tangan mengusap perut buncit Qiara. “Oma benar-benar takuy, Qiara,” rintih Oma Hesty. “Bersyukur sekali cicit oma dan kamu baik-baik saja.” Qiara mengulum senyuman. Ia terharu akan perhatian Oma Hesty. Kepalanua menggeleng dengan lemah dengan mata berkaca-kaca. “Semuanya sudah lewat, Oma. Qiara baik-baik saja, kok.” Oma Hesty menyeka air matanya sendiri. Ia tak menyangka, jika hati Qiara sebesar ini. Bahkan ia tak mau menuntut Hana lebih kejam lagi. “Mulai sekarang, kamu harus tinggal sama Oma. Oma seriusan takut kalau ada apa-apa sama kamu lagi, Qiara.” Belum sempat Oma membalas, pintu kamar terbuka perlahan. Richard masuk sambil menggendong Alista—bayi mungil berusia sembilan bulan dengan pipi tembam dan mata bulat besar yang langsung membesar begitu melihat Qiara. “Ma…” Alista mengoceh sambil me
Last Updated: 2025-05-28
Chapter: Bab. 96Mobil Richard berhenti dengan kasar di depan IGD rumah sakit. Richard langsung menggendong Qiara dan berlari menuju pintu masuk. Para petugas medis langsung menyambut mereka dan membawa Qiara ke dalam ruangan.Richard menjelaskan kepada dokter tentang apa yang terjadi pada Qiara, tentang penculikan dan pelarian yang menegangkan yang baru saja mereka alami. Dokter mendengarkan dengan saksama, lalu meminta Richard untuk menunggu di luar. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu Qiara," ujar dokter dengan tenang.Richard terdiam di kursi tunggu, tangannya mengepal erat. Dia merasa panik, takut, dan tidak berdaya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada Qiara dan calon bayinya.Richard terduduk lemas, matanya terpejam. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon agar Tuhan melindungi Qiara dan calon bayinya. "Ya Tuhan, tolong lindungi Qiara dan calon bayi kami. Berikan kami kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini," bisik Richard dalam h
Last Updated: 2024-10-17
Chapter: Bab. 95Dor Richard terperanjat. Bunyi ledakan membuatnya ternganga, tak percaya. Haidar tertembak di bagian lengan kiri. Namun, nampaknya pria itu tak menyerah, ia membalas dengan satu tembakan yang berhasil tepat sasaran. Buru-buru Richard menghampirinya. “Haidar, kamu enggak apa-apa?” Richard sangat panik. Suara sirene mobil aparat mulai terdengar, beberapa petugas turun dari mobil, mengejar para pelaku, termasuk Denis. Richard berjongkok di samping Haidar, tubuh sahabatnya itu terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari luka tembak di lengannya. Detak jantung Haidar terdengar lemah, dan napasnya tersengal-sengal. Richard berusaha menenangkan Haidar, "Tenang, Haidar. Ambulans sudah dalam perjalanan."Polisi yang membantu mengevakuasi Haidar, segera mengamankan lokasi kejadian. Penjahat yang menembaki Haidar berhasil ditangkap. Richard merasa lega, tetapi keprihatinannya terhadap Haidar tetap tak tergoyahkan.Richard mengambil ponselnya dan menghubungi ambulans. "Halo, saya
Last Updated: 2024-10-17
Chapter: Bab. 94“Keluar kalian!” teriak ketiga pria yang mengejar Qiara, Richard dan Haidar. “Mas, aku sudah gak kuat lagi,” rintih Qiara sambil memegangi perutnya sendiri. “Stt, kamu harus bersabar sayang. Kita akan segera pergi dari sini.” Richard berbisik, seraya mengusap lengan sang istri. Menenggelamkan wajah Qiara di ceruk leher. Berharap, hal seperti ini bisa membuat Qiara lebih tenang. “Tuan, Anda bisa di sini. Biar saya yang maju. Setelah saya bisa mengalihkan. Anda bisa membawa Bu Qiara,” ucap Haidar pada akhirnya. Ia tidak berani mengambil tindakan sebelumnya, karena keadaan Qiara yang tidak memungkinkan. Wanita itu hamil besar. “Berhati-hatilah,” titah Richard. Haidar mengangguk. Ia mengambil posisi, mengintip berlebih dahulu. Dirasa aman, ia berguling untuk berpindah tempat. berguling lagi, hingga sampai pada tumpukan drum berisikan oli. Brak! Sengaja Haidar menjatuhkan sesuatu, untuk mengundang atensi ketiga pria yang mengejarnya. Ia memberikan anggukan pada Richard, untuk mengam
Last Updated: 2024-09-25
Chapter: Bab. 93Mobil Richard berhenti dengan bunyi decitan ban yang mengeras di atas aspal. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Richard melangkah keluar, tubuhnya tegap dan tangannya menggenggam erat pistol di pinggang. Di sampingnya, Hana, dengan wajah pucat pasi, mengikuti dengan langkah gontai."Kau yakin ini tempatnya, Haidar?" tanya Richard, suaranya berat dan berbisik.Haidar, dengan seragam polisi yang kusut, mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Ini markas Denis. Aku pernah mengintai tempat ini beberapa kali. Dia sering keluar masuk dengan Hana."Richard mengerutkan kening. "Jadi, Hana memang terlibat?""Sepertinya begitu, Tuan. Aku tidak tahu pasti apa motifnya, tapi dia selalu terlihat bersama Denis kemarin."Richard menarik napas dalam-dalam. "Baiklah. Kita harus bergerak cepat. Qiara... Qiara mungkin dalam bahaya."Mereka bertiga memasuki halaman rumah yang gelap dan sunyi. Daun-daun kering berderit di bawah sepatu mereka. Richard menunjuk sebua
Last Updated: 2024-09-19
Chapter: Bab. 92“Hana,” desis Richard dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Pria bermata lebar itu melangkah dengan pasti, menghampiri wanita yang sedang berbincang dengan teman-temannya. menyadari keberadaan Richard, teman Hana menyikut wanita itu, menunjuk Richard dengan dagunya. “Richard, kamu datang lagi?” Hana melebarkan senyuman, seolah senang akan kehadiran pria itu. “Di mana Qiara?” tanya Richard dengan rahang mengeras. Andai Hana laki-laki, mungkin ia sudah menghajarnya habis-habisan. “Qiara? Kenapa bertanya kepadaku? Aku--” “Tidak usah berkelit, Hana! Kamu satu-satunya orang yang sama sekali tidak menyukai dia. Sebuah mobil membawa istriku pergi, aku yakin, ini ada hubungannya dengan kamu. Mengaku, atau kamu akan mendapatkan akibatnya dariku ” Hana menggelengkan kepalanya, bahkan wajahnya tampak terlihat bingung. “Aku memang berencana untuk menjauhkan dia dari kamu. Tapi, mengenai hilangnya dia sekarang, sih, aku sama sekali tidak tahu.” “Bohong! Katakan, atau kau akan merasakan aki
Last Updated: 2024-09-13

Bukan Pernikahan Kontrak Biasa
Demi melunasi hutang keluarga, papa dan mama tirinya memaksa Kinara untuk menikahi seorang pria paruh baya mesum. Kinara pun memilih kabur. Sayangnya, dia ditabrak sebuah mobil. Saat Kinara pikir akan mati, dia justru terkejut ketika menemukan dirinya terbangun di kamar Keny–seorang salesman yang juga mantan kekasih Kinara. Waktu itu, Kinara terpaksa memutuskan Keny karena ancaman sang mama tiri yang ingin membunuh pria tersebut. Namun, pria di hadapannya ini mengaku bahwa dirinya bukanlah Keny, melainkan Kenzo–CEO Wirawan Company.
Belum sempat memproses semuanya, Kinara kembali dikejutkan pada penawaran Kenzo. Pria itu tiba-tiba menawarkan bantuan untuk membalaskan dendam Kinara pada mama tirinya. Di sisi lain, Kenzo meminta meminta bantuan Kinara untuk menjadi “istri kontraknya” demi keberhasilan bisnis yang sedang pria itu jalankan. Kinara–yang tak punya pilihan–pun menerimanya.
Sayangnya, Kinara tak tahu bahwa Kenzo sebenarnya Keny–pria yang mencintai dan juga membencinya.
Bagaimana kisah keduanya? Apakah kesalahpahaman di antara keduanya dapat berakhir? Atau, justru kisah mereka berdua yang berakhir selamanya?
Read
Chapter: Bab. 43 Tidak TenangSinar mentari menerobos masuk, mengusik tidur nyenyak seorang Kenzo Wirawan. Mata lebar pria tampan itu mengerjab, sembari meraba sisi ranjang yang kosong.Menyadari itu, Kenzo lantas bangun dan mengedarkan pandangan. Mencari sosok Kinara.“Sayang!” panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.Tak ada siapapun di toilet, Kenzo memutuskan untuk turun. Ia menebak, jika Kinara berada di dapur seperti biasa untuk menyiapkan sarapan.“Ana, di mana Kinara?” tanya Kenzo saat melihat ART-nya membawa gagang pel menuju ke ruang kerja.“Tadi ada di taman, Tuan. Menyiram tanaman. Tapi, tadi ada kurir yang nganter paket. Non—“ Ana menggangtung kalimatnya, karena Kenzo sudah berlari dengan menuruni anak tangga.Kenzo berlari menuju ke teras rumah, mencari keberadaan Kinara, lantas ke pos satpam, karena di depan tidak ada sosok istrinya itu.Rasa takut menghantui Kenzo. Mengingat Dirga kini sudah mulai berani.“Di mana Kinara?” tanya kenzo kepada satpam dengan napas ngos-ngosan.“Tadi ke s
Last Updated: 2024-07-01
Chapter: Bab. 43 Rencana Bulan Madu“Ternyata Dirga tidak bisa dianggap remeh. Dia terus mengungkit itu. Padahal dia sudah gue kasih posisi yang baik menjadi asisten, tetapi masih melunjak.”Kenzo membuang paket berisikan foto-foto beberapa tahun yang diambil Dirga, saat Kenzo menjadi Keny.Kenzo melirik benda itu di tempat sampah. Ia takut Kinara akan menemukannya. Sehingga, ia memilih untuk membakarnya di halaman belakang, mumpung Kinara masih mandi.“Tuan, apa itu?” tanya Anna yang baru saja pulang dari supermarket.“Bukan apa-apa.Sampah yang tidak berguna.”Mendengar jawaban bosnya yang datar, Anna tahu, mood Kenzo sedang tidak baik-baik saja. Ia memilih pergi dari pada menjdi sasaran amukan dari bosnya itu.Merasa semua sudah melebur menjadi debu, Kenzo memilih untuk masuk, tetapi matanya melebar dengan perasaan was was saat melihat Kinara yang berdiri di ambang pintu.“Na-nara? Sejak kapan kamu di situ?”“Kamu kenapa tegang gitu, Mas? Paketnya isinya apaan?” Kinara mengerutkan dahi.Kini Kenzo yang kelabakan. Bahk
Last Updated: 2024-06-30
Chapter: Bab. 42 Mengulur Waktu“Ada apa? Kenapa kamu nangis? Apa aku buat salah?”Kinara menggelengkan kepala. Tersenyum tipis untuk tidak membuat suaminya semakin panik. “Aku baik-baik saja.”Kinara memeluk Kenzo, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenzo. Seolah pria itu adalah Keny. Meski ini salah, setidaknya dengan ini ia bisa mengucapkan kata maaf. Begitu banyak penderitaan yang suah ia berikan kepada mantan kekasihnya itu. Meski itu tidak akan mudah bagi Keny bisa memberikan maaf kepadanya yang begitu jahat.Kinara berpikir, jika ia adalah wanita terjahat di dunia ini. Meski menahan air matanya untuk tidak luruh, bulir bening it uterus menetes.Hal ini membuat Kenzo semakin panik.“Nara, ada apa ini?”“Aku kangen banget sama kamu, Mas. Aku hanya ingin seperti ini.” Kinara mengeratkan pelukannya. Seakan takut ini akan berakhir.“I-iya, ta-taoi kenapa harus nangis? Aku jadi takut, Nara.”Kinara justru menggelengkan kepalanya. Mulutnya terkunci, namun hatinya bergemuruh. Entah mengapa ia hanya ingin menumpah
Last Updated: 2024-06-29
Chapter: Bab. 41 De JavuKinara berencana untuk membuatkan kue untuk Kenzo. Selama ini, ia melihat suaminya begitu lahap memakan makanan yang ia buat.Cheese cake caramel menjadi pilihat Kinara saat ini. Ia tak tahu banyak mengenai makanan kesukaan Kenzo.Tidak, kue itu adalah kesukaan Keny. Kinara memejamkan mata, karena terlalu ceroboh.“Nona, daging ayam ini apa akan dimasak nanti?”“Tolong masukkan itu ke dalam freezer saja, Mbak Ana. Mbak Ana bisa langsung beli dagingnya di super market. Biar saya sendiri yang melanjutkan ini.” Kinara kembali mengaduk adonan kuenya.“Baik, Nona. Saya akan mencari iga sapinya sekarang juga.” Ana mengulas senyuman. Ia meraih tas belanjaannya, lantas pergi dari dapur.Hanya Kinara seorang yang di sana dengan bahan-bahan untuk membuat cheese cake untuk suaminya.Kinara berlonjak, saat ada yang memeluknya dari belakang. Ia lantas menoleh ke belakang, rasa takutnya menghilang saat melihat senyuman Kenzo.“Aku pikir siapa? Tiba-tiba meluk begitu. Kamu bikin aku horor.”Kenzo me
Last Updated: 2024-06-28
Chapter: Bab. 40 Jangan Tinggalkan Aku“Kamu adalah yang terbaik.” Kinara memeluk Kenzo dengan erat, sesekali wanita cantik itu menghidu wangi mawar pemberian suaminya. Bahkan wanginya saja mampu menggetarkan hati.“Kamu yang tersayang. Bahkan kamu lebih indahh dari mawar itu, Kinara.” Kenzo memejamkan mata, menikmati kesempatan seperti ini. Di mana ia bisa libur dan menghabiskan waktu bersama seharian bersama Kinara.“Bagus, Pak Keny!”Buru-buru Kinara melerai pelukannya. Ia menoleh pada Dirga yang baru saja datang dengan senyuman sinis dan tepuk tangannya.“Apa maksud Anda?” Kinara merasa bingung dengan sebutan itu.Dirga tengah menyeringai. “Suamimu itu penipu, Kinara! Harusnya kamu bersamaku. Dia adalah Keny. Mantan kekasihmu yang kamu buang dulu. Tujuannya menikahimu adalah demi untuk balas dendam. Setelah kamu menyerahkan semuanya, dia akan menyampakkanya seperti sampah. Kamu lihat ini.” Dirga menunjukkan selembar kertas.Sebuah gambar lukisan Kinara dan Keny. Gambar itu diambil setahun setelah mereka pacaran dulu. Sa
Last Updated: 2024-06-26
Chapter: Bab. 39 Kamu yang TerpentingKinara tidak habis pikir dengan Kenzo. Suaminya itu benar-benar diluar dugaannya. Ia hanya menitip beberapa benag wol dengan warna putih dan hitam. Namun, suaminya itu membeli satu kardus dengan berbagai warna.“Mas, kamu berlebihan gak sih?” Kinara sampai geleng-geleng kepala.“Ya dari pada salah, kan? Saya juga lupa kamu minta warna apa. Lagian, dengan berbagai warna ini, kamu bisa membuat kreasi yang berbeda-beda, bukan?”“Tapi ini pemborosan, Mas. Pasti kamu—““Ini enggak seberapa, Sayang.” Kenzo duduk di sebelah istrinya itu, lalu mengeluarkan isi dalam tas kartonnya. “Ini buat kamu. Sudah saya isi dengan nomor baru.”Kinara mengeryitkan dahi. “Untuk apa kamu beliin aku ponsel lagi, Mas?”Kenzo tengah memilih kalimat yang tepat, ia menggaruk pelipisnya, masih terlihat bingung, hal itu membuat Kinara semakin penasaran dan meletakkan rajutannya di atas meja.“Ini aku beli karena model terbaru. Banyak diskon juga. Aku dapat vocernya langsung soalnya. Sayang kan kalau enggak diambil.
Last Updated: 2024-06-25