author-banner
Layli Dinata
Layli Dinata
Author

Novels by Layli Dinata

Terjerat Pesona Papa Temanku

Terjerat Pesona Papa Temanku

Blurb: Kabur dari rumah, Yara justru menemukan tempat paling berbahaya—di pelukan ayah sahabatnya sendiri. Dewasa, tampan, penuh wibawa… Elvaro adalah godaan yang tak seharusnya ia sentuh, tapi justru paling ia inginkan. Sanggupkah Yara menahan diri, atau ia akan tenggelam dalam cinta terlarang yang membuatnya candu?
Read
Chapter: Bab. 178
Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab. 177
Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab.176
Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab. 175
Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: Bab. 174
Hari itu cuaca cerah, tapi Arunika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggenggam undangan berwarna krem dengan emboss sederhana di sudutnya. Nama dirinya dan Kaivan tercetak rapi di sana—sebuah kenyataan yang masih terasa seperti mimpi, meski tanggal pernikahan telah ditetapkan secara resmi.Di sampingnya, Kaivan melangkah tenang. Setelan kasual yang ia kenakan tak mengurangi wibawa alami yang selalu melekat padanya. Namun Arunika tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan. Pria itu telah melalui terlalu banyak badai untuk sekadar gugup menghadapi satu kunjungan.Rumah Dokter Aksa berdiri teduh di ujung jalan, dikelilingi pohon mangga yang daunnya rimbun. Aroma tanah basah masih tersisa sejak hujan semalam. Arunika berhenti sejenak di depan pagar, menarik napas dalam-dalam.“Kamu yakin?” tanyanya pelan, menoleh pada Kaivan.Kaivan menatapnya lembut. “Yakin. Kita ke sini bukan cuma bawa undangan. Kita bawa rasa terima kasih.”Kalimat itu membuat dada Arunika
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab. 173
Kaivan menatap Mila tanpa emosi. Bukan marah, bukan benci—lebih kepada selesai. Tatapan orang yang sudah tidak ingin terlibat lebih jauh.Ibunda Mila berdiri, wajahnya memerah karena campuran marah dan malu. “Kaivan, kamu tidak bisa bicara sembarangan! Putri saya—”“Bu,” potong Kaivan dengan sopan, tetapi tegas. “Saya bertanggung jawab penuh atas hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan nama perempuan lain saya bawa hanya karena tekanan.”Ayah Mila mengepalkan tangan. “Jadi maksud kamu, anak ini bukan tanggung jawab kamu?”Kaivan mengangguk mantap. “Bukan.”Ruangan kembali senyap. Kali ini lebih berat.Ayah Kaivan melangkah maju. Nada suaranya dingin, berwibawa. “Jika memang ada klaim seperti ini, keluarga kami berhak meminta bukti. Tes medis, tes DNA, apa pun yang sah. Tanpa itu, pembicaraan ini selesai.”Mila membelalak. “Om—”“Kamu yang memulai semuanya, Mila,” potong Pak Agam. “Sekarang kamu tidak bisa memaksa kami menerima sesuatu tanpa dasar.”Mila menoleh ke Kaivan, matanya b
Last Updated: 2026-02-15
Babysitter Manis Kesayangan Hot Duda

Babysitter Manis Kesayangan Hot Duda

Qiara tidak pernah menyangka pilihannya untuk menjadi babysitter akan mengubah hidupnya. Hubungannya dengan Richard, sang Bos Duda, yang awalnya tidak terlalu baik, berubah akibat satu malam tak terduga. Lantas, bagaimana kisah Qiara? Apakah ia akan bertahan di dekat Richard atau memilih untuk resign saja?
Read
Chapter: Bab. 98
Suara tangis bayi membuat air mata Richard mengalir. pun dengan Qiara. Qiara terengah, usai melewati rasa sakitnya. Bayi laki-laki lahir dengan sehat. "Anaknya sehat, Pak, Bu," ujar sister yang kini menggendong bayi Richard dan Qiara, yang kini akan dibersihkan. Richard mwnghujani ciuman di kening Qiara, air matanya menetes. Ia takut, kejadian seperti dulu akan terulang kembali. Istrinya meninggal, saat melahirkan Alista. "Sayang, anak kita ...." Qiara tak sanggup berkata-kata, kepalanya sudah terasa berat dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Mas ... syukurlah." Perlahan, Qiara menutup mata. Tubuhnya terasa lemah. melihat Qiara memejamkan mata, Richard langsung mendelik, rasa sesak menjalar ke dada. Ia takut, Qiara akan seperti Yasmin. Tidak, ia tidak mau kalau hal itu akan terjadi lagi. "Qiara, Sayang! Bangun!" Richard terus mengguncang tubuh Qiara yang terbaring lemah di atas ranjang persalinan. "Qiara! Sayang... buka matamu!" suaranya bergetar hebat. Tang
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 97 Akan Indah Pada Waktunya
Oma Hesty menangis dengan memeluk Inara. Ia sudah sangat takut atas apa yang telah menimpa Qiara. Diculik, dipaksa berlari dalam keadaan hamil pula. Air matanya menetes dengan tangan mengusap perut buncit Qiara. “Oma benar-benar takuy, Qiara,” rintih Oma Hesty. “Bersyukur sekali cicit oma dan kamu baik-baik saja.” Qiara mengulum senyuman. Ia terharu akan perhatian Oma Hesty. Kepalanua menggeleng dengan lemah dengan mata berkaca-kaca. “Semuanya sudah lewat, Oma. Qiara baik-baik saja, kok.” Oma Hesty menyeka air matanya sendiri. Ia tak menyangka, jika hati Qiara sebesar ini. Bahkan ia tak mau menuntut Hana lebih kejam lagi. “Mulai sekarang, kamu harus tinggal sama Oma. Oma seriusan takut kalau ada apa-apa sama kamu lagi, Qiara.” Belum sempat Oma membalas, pintu kamar terbuka perlahan. Richard masuk sambil menggendong Alista—bayi mungil berusia sembilan bulan dengan pipi tembam dan mata bulat besar yang langsung membesar begitu melihat Qiara. “Ma…” Alista mengoceh sambil me
Last Updated: 2025-05-28
Chapter: Bab. 96
Mobil Richard berhenti dengan kasar di depan IGD rumah sakit. Richard langsung menggendong Qiara dan berlari menuju pintu masuk. Para petugas medis langsung menyambut mereka dan membawa Qiara ke dalam ruangan.Richard menjelaskan kepada dokter tentang apa yang terjadi pada Qiara, tentang penculikan dan pelarian yang menegangkan yang baru saja mereka alami. Dokter mendengarkan dengan saksama, lalu meminta Richard untuk menunggu di luar. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu Qiara," ujar dokter dengan tenang.Richard terdiam di kursi tunggu, tangannya mengepal erat. Dia merasa panik, takut, dan tidak berdaya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada Qiara dan calon bayinya.Richard terduduk lemas, matanya terpejam. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon agar Tuhan melindungi Qiara dan calon bayinya. "Ya Tuhan, tolong lindungi Qiara dan calon bayi kami. Berikan kami kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini," bisik Richard dalam h
Last Updated: 2024-10-17
Chapter: Bab. 95
Dor Richard terperanjat. Bunyi ledakan membuatnya ternganga, tak percaya. Haidar tertembak di bagian lengan kiri. Namun, nampaknya pria itu tak menyerah, ia membalas dengan satu tembakan yang berhasil tepat sasaran. Buru-buru Richard menghampirinya. “Haidar, kamu enggak apa-apa?” Richard sangat panik. Suara sirene mobil aparat mulai terdengar, beberapa petugas turun dari mobil, mengejar para pelaku, termasuk Denis. Richard berjongkok di samping Haidar, tubuh sahabatnya itu terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari luka tembak di lengannya. Detak jantung Haidar terdengar lemah, dan napasnya tersengal-sengal. Richard berusaha menenangkan Haidar, "Tenang, Haidar. Ambulans sudah dalam perjalanan."Polisi yang membantu mengevakuasi Haidar, segera mengamankan lokasi kejadian. Penjahat yang menembaki Haidar berhasil ditangkap. Richard merasa lega, tetapi keprihatinannya terhadap Haidar tetap tak tergoyahkan.Richard mengambil ponselnya dan menghubungi ambulans. "Halo, saya
Last Updated: 2024-10-17
Chapter: Bab. 94
“Keluar kalian!” teriak ketiga pria yang mengejar Qiara, Richard dan Haidar. “Mas, aku sudah gak kuat lagi,” rintih Qiara sambil memegangi perutnya sendiri. “Stt, kamu harus bersabar sayang. Kita akan segera pergi dari sini.” Richard berbisik, seraya mengusap lengan sang istri. Menenggelamkan wajah Qiara di ceruk leher. Berharap, hal seperti ini bisa membuat Qiara lebih tenang. “Tuan, Anda bisa di sini. Biar saya yang maju. Setelah saya bisa mengalihkan. Anda bisa membawa Bu Qiara,” ucap Haidar pada akhirnya. Ia tidak berani mengambil tindakan sebelumnya, karena keadaan Qiara yang tidak memungkinkan. Wanita itu hamil besar. “Berhati-hatilah,” titah Richard. Haidar mengangguk. Ia mengambil posisi, mengintip berlebih dahulu. Dirasa aman, ia berguling untuk berpindah tempat. berguling lagi, hingga sampai pada tumpukan drum berisikan oli. Brak! Sengaja Haidar menjatuhkan sesuatu, untuk mengundang atensi ketiga pria yang mengejarnya. Ia memberikan anggukan pada Richard, untuk mengam
Last Updated: 2024-09-25
Chapter: Bab. 93
Mobil Richard berhenti dengan bunyi decitan ban yang mengeras di atas aspal. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Richard melangkah keluar, tubuhnya tegap dan tangannya menggenggam erat pistol di pinggang. Di sampingnya, Hana, dengan wajah pucat pasi, mengikuti dengan langkah gontai."Kau yakin ini tempatnya, Haidar?" tanya Richard, suaranya berat dan berbisik.Haidar, dengan seragam polisi yang kusut, mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Ini markas Denis. Aku pernah mengintai tempat ini beberapa kali. Dia sering keluar masuk dengan Hana."Richard mengerutkan kening. "Jadi, Hana memang terlibat?""Sepertinya begitu, Tuan. Aku tidak tahu pasti apa motifnya, tapi dia selalu terlihat bersama Denis kemarin."Richard menarik napas dalam-dalam. "Baiklah. Kita harus bergerak cepat. Qiara... Qiara mungkin dalam bahaya."Mereka bertiga memasuki halaman rumah yang gelap dan sunyi. Daun-daun kering berderit di bawah sepatu mereka. Richard menunjuk sebua
Last Updated: 2024-09-19
Bukan Pernikahan Kontrak Biasa

Bukan Pernikahan Kontrak Biasa

Demi melunasi hutang keluarga, papa dan mama tirinya memaksa Kinara untuk menikahi seorang pria paruh baya mesum. Kinara pun memilih kabur. Sayangnya, dia ditabrak sebuah mobil. Saat Kinara pikir akan mati, dia justru terkejut ketika menemukan dirinya terbangun di kamar Keny–seorang salesman yang juga mantan kekasih Kinara. Waktu itu, Kinara terpaksa memutuskan Keny karena ancaman sang mama tiri yang ingin membunuh pria tersebut. Namun, pria di hadapannya ini mengaku bahwa dirinya bukanlah Keny, melainkan Kenzo–CEO Wirawan Company. Belum sempat memproses semuanya, Kinara kembali dikejutkan pada penawaran Kenzo. Pria itu tiba-tiba menawarkan bantuan untuk membalaskan dendam Kinara pada mama tirinya. Di sisi lain, Kenzo meminta meminta bantuan Kinara untuk menjadi “istri kontraknya” demi keberhasilan bisnis yang sedang pria itu jalankan. Kinara–yang tak punya pilihan–pun menerimanya. Sayangnya, Kinara tak tahu bahwa Kenzo sebenarnya Keny–pria yang mencintai dan juga membencinya. Bagaimana kisah keduanya? Apakah kesalahpahaman di antara keduanya dapat berakhir? Atau, justru kisah mereka berdua yang berakhir selamanya?
Read
Chapter: Bab. 43 Tidak Tenang
Sinar mentari menerobos masuk, mengusik tidur nyenyak seorang Kenzo Wirawan. Mata lebar pria tampan itu mengerjab, sembari meraba sisi ranjang yang kosong.Menyadari itu, Kenzo lantas bangun dan mengedarkan pandangan. Mencari sosok Kinara.“Sayang!” panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.Tak ada siapapun di toilet, Kenzo memutuskan untuk turun. Ia menebak, jika Kinara berada di dapur seperti biasa untuk menyiapkan sarapan.“Ana, di mana Kinara?” tanya Kenzo saat melihat ART-nya membawa gagang pel menuju ke ruang kerja.“Tadi ada di taman, Tuan. Menyiram tanaman. Tapi, tadi ada kurir yang nganter paket. Non—“ Ana menggangtung kalimatnya, karena Kenzo sudah berlari dengan menuruni anak tangga.Kenzo berlari menuju ke teras rumah, mencari keberadaan Kinara, lantas ke pos satpam, karena di depan tidak ada sosok istrinya itu.Rasa takut menghantui Kenzo. Mengingat Dirga kini sudah mulai berani.“Di mana Kinara?” tanya kenzo kepada satpam dengan napas ngos-ngosan.“Tadi ke s
Last Updated: 2024-07-01
Chapter: Bab. 43 Rencana Bulan Madu
“Ternyata Dirga tidak bisa dianggap remeh. Dia terus mengungkit itu. Padahal dia sudah gue kasih posisi yang baik menjadi asisten, tetapi masih melunjak.”Kenzo membuang paket berisikan foto-foto beberapa tahun yang diambil Dirga, saat Kenzo menjadi Keny.Kenzo melirik benda itu di tempat sampah. Ia takut Kinara akan menemukannya. Sehingga, ia memilih untuk membakarnya di halaman belakang, mumpung Kinara masih mandi.“Tuan, apa itu?” tanya Anna yang baru saja pulang dari supermarket.“Bukan apa-apa.Sampah yang tidak berguna.”Mendengar jawaban bosnya yang datar, Anna tahu, mood Kenzo sedang tidak baik-baik saja. Ia memilih pergi dari pada menjdi sasaran amukan dari bosnya itu.Merasa semua sudah melebur menjadi debu, Kenzo memilih untuk masuk, tetapi matanya melebar dengan perasaan was was saat melihat Kinara yang berdiri di ambang pintu.“Na-nara? Sejak kapan kamu di situ?”“Kamu kenapa tegang gitu, Mas? Paketnya isinya apaan?” Kinara mengerutkan dahi.Kini Kenzo yang kelabakan. Bahk
Last Updated: 2024-06-30
Chapter: Bab. 42 Mengulur Waktu
“Ada apa? Kenapa kamu nangis? Apa aku buat salah?”Kinara menggelengkan kepala. Tersenyum tipis untuk tidak membuat suaminya semakin panik. “Aku baik-baik saja.”Kinara memeluk Kenzo, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenzo. Seolah pria itu adalah Keny. Meski ini salah, setidaknya dengan ini ia bisa mengucapkan kata maaf. Begitu banyak penderitaan yang suah ia berikan kepada mantan kekasihnya itu. Meski itu tidak akan mudah bagi Keny bisa memberikan maaf kepadanya yang begitu jahat.Kinara berpikir, jika ia adalah wanita terjahat di dunia ini. Meski menahan air matanya untuk tidak luruh, bulir bening it uterus menetes.Hal ini membuat Kenzo semakin panik.“Nara, ada apa ini?”“Aku kangen banget sama kamu, Mas. Aku hanya ingin seperti ini.” Kinara mengeratkan pelukannya. Seakan takut ini akan berakhir.“I-iya, ta-taoi kenapa harus nangis? Aku jadi takut, Nara.”Kinara justru menggelengkan kepalanya. Mulutnya terkunci, namun hatinya bergemuruh. Entah mengapa ia hanya ingin menumpah
Last Updated: 2024-06-29
Chapter: Bab. 41 De Javu
Kinara berencana untuk membuatkan kue untuk Kenzo. Selama ini, ia melihat suaminya begitu lahap memakan makanan yang ia buat.Cheese cake caramel menjadi pilihat Kinara saat ini. Ia tak tahu banyak mengenai makanan kesukaan Kenzo.Tidak, kue itu adalah kesukaan Keny. Kinara memejamkan mata, karena terlalu ceroboh.“Nona, daging ayam ini apa akan dimasak nanti?”“Tolong masukkan itu ke dalam freezer saja, Mbak Ana. Mbak Ana bisa langsung beli dagingnya di super market. Biar saya sendiri yang melanjutkan ini.” Kinara kembali mengaduk adonan kuenya.“Baik, Nona. Saya akan mencari iga sapinya sekarang juga.” Ana mengulas senyuman. Ia meraih tas belanjaannya, lantas pergi dari dapur.Hanya Kinara seorang yang di sana dengan bahan-bahan untuk membuat cheese cake untuk suaminya.Kinara berlonjak, saat ada yang memeluknya dari belakang. Ia lantas menoleh ke belakang, rasa takutnya menghilang saat melihat senyuman Kenzo.“Aku pikir siapa? Tiba-tiba meluk begitu. Kamu bikin aku horor.”Kenzo me
Last Updated: 2024-06-28
Chapter: Bab. 40 Jangan Tinggalkan Aku
“Kamu adalah yang terbaik.” Kinara memeluk Kenzo dengan erat, sesekali wanita cantik itu menghidu wangi mawar pemberian suaminya. Bahkan wanginya saja mampu menggetarkan hati.“Kamu yang tersayang. Bahkan kamu lebih indahh dari mawar itu, Kinara.” Kenzo memejamkan mata, menikmati kesempatan seperti ini. Di mana ia bisa libur dan menghabiskan waktu bersama seharian bersama Kinara.“Bagus, Pak Keny!”Buru-buru Kinara melerai pelukannya. Ia menoleh pada Dirga yang baru saja datang dengan senyuman sinis dan tepuk tangannya.“Apa maksud Anda?” Kinara merasa bingung dengan sebutan itu.Dirga tengah menyeringai. “Suamimu itu penipu, Kinara! Harusnya kamu bersamaku. Dia adalah Keny. Mantan kekasihmu yang kamu buang dulu. Tujuannya menikahimu adalah demi untuk balas dendam. Setelah kamu menyerahkan semuanya, dia akan menyampakkanya seperti sampah. Kamu lihat ini.” Dirga menunjukkan selembar kertas.Sebuah gambar lukisan Kinara dan Keny. Gambar itu diambil setahun setelah mereka pacaran dulu. Sa
Last Updated: 2024-06-26
Chapter: Bab. 39 Kamu yang Terpenting
Kinara tidak habis pikir dengan Kenzo. Suaminya itu benar-benar diluar dugaannya. Ia hanya menitip beberapa benag wol dengan warna putih dan hitam. Namun, suaminya itu membeli satu kardus dengan berbagai warna.“Mas, kamu berlebihan gak sih?” Kinara sampai geleng-geleng kepala.“Ya dari pada salah, kan? Saya juga lupa kamu minta warna apa. Lagian, dengan berbagai warna ini, kamu bisa membuat kreasi yang berbeda-beda, bukan?”“Tapi ini pemborosan, Mas. Pasti kamu—““Ini enggak seberapa, Sayang.” Kenzo duduk di sebelah istrinya itu, lalu mengeluarkan isi dalam tas kartonnya. “Ini buat kamu. Sudah saya isi dengan nomor baru.”Kinara mengeryitkan dahi. “Untuk apa kamu beliin aku ponsel lagi, Mas?”Kenzo tengah memilih kalimat yang tepat, ia menggaruk pelipisnya, masih terlihat bingung, hal itu membuat Kinara semakin penasaran dan meletakkan rajutannya di atas meja.“Ini aku beli karena model terbaru. Banyak diskon juga. Aku dapat vocernya langsung soalnya. Sayang kan kalau enggak diambil.
Last Updated: 2024-06-25
Menjadi Tawanan Pangeran Rubah

Menjadi Tawanan Pangeran Rubah

Sisa hidup Emma tinggal sebulan lagi. Ia yang begitu sial justru bertemu dengan Raynard, pangeran rubah yang mendominasi. Karena telah menelan esensi kehidupan sang pangeran, selamanya ia terjebak pada pria itu. Ia memanfaatkan momen itu untuk berbalas dendam pada Iris, saudari tiri yang berulang kali ingin melenyapkannya. Lalu, fakta tentang kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya kembali terkuak, pun tentang tujuan Raynard menyelamatkannya. Lalu, langkah apa yang akan Emma ambil? Tetap menerima hidupnya, atau menyerah pada takdir?
Read
Chapter: Bab. 44 Panggilan Hati
Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab. 43 Serangan
Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab. 42 Apa Sungguhan?
Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab. 41 Mencoba Terbiasa
Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab. 40 Incaran
Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: 34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut
Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent
Last Updated: 2026-07-01
You may also like
Jeratan Panas Tuan Pavel
Jeratan Panas Tuan Pavel
Romansa · Osaka ois
1.0K views
Dendam Sang Primadona
Dendam Sang Primadona
Romansa · Eclipse Draven
1.0K views
Kerana Aku Istrinya
Kerana Aku Istrinya
Romansa · PenTekan
1.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status