로그인Blurb: Kabur dari rumah, Yara justru menemukan tempat paling berbahaya—di pelukan ayah sahabatnya sendiri. Dewasa, tampan, penuh wibawa… Elvaro adalah godaan yang tak seharusnya ia sentuh, tapi justru paling ia inginkan. Sanggupkah Yara menahan diri, atau ia akan tenggelam dalam cinta terlarang yang membuatnya candu?
더 보기Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기