Mencari Jejak Maria

Mencari Jejak Maria

last updateLast Updated : 2026-05-28
By:  Lis SusanawatiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
11 ratings. 11 reviews
5Chapters
675views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Maria seorang mualaf. Menerima perjodohan dengan lelaki yang diam-diam dicintainya. Rangga yang saleh, tampan, dan mapan. Meski tidak mencintainya, tapi Rangga memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami. Memperlakukannya dengan baik. Hingga Maria merasa nyaman dan yakin kalau suatu hari nanti akan memenangkan hati suaminya. Namun siapa menyangka, kehadiran Tamara merenggut semuanya. Dia rela berbagi, mungkin ini bagian dari ujian imannya. Tamara pun rela juga awalnya. Namun ketika wanita itu hamil lebih dulu, Tamara ingin menjadi satu-satunya. "Aku yang akan mundur, Mas. Kamu bisa bersamanya. Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu indah ini. Aku nggak menyesal menikah denganmu, meski harus berakhir begini," ucap Maria dengan senyum tapi matanya berkaca-kaca. Pernikahan itu tidak berakhir dengan pertengkaran hebat. Tapi berakhir dalam keheningan yang penuh luka. Maria pergi dengan senyuman yang menyimpan sejuta kenangan bagi Rangga yang baru menyadari betapa mulia seorang Maria. Namun Maria sudah pergi menjauh. Di mana Rangga bisa menemukannya kembali?

View More

Chapter 1

MJM 1

MARIA

- 1 Delapan Minggu

"8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.

Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya.

Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya.

Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam.

"Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah padanya.

🖤LS🖤

"Mas, kamu dengar kan apa yang aku ceritakan tadi? Anak-anak itu begitu lucu."

Suara Maria terdengar renyah. Matanya menatap penuh harap pada lelaki yang duduk tepat di sampingnya. Ia mencoba mengabaikan tentang apa yang ditemukan di mobil tadi.

Rangga bergeming. Ibu jarinya mengetik di atas layar ponsel yang berpendar terang, menyinari wajahnya yang tegas dan datar. Alisnya sesekali bertaut, seolah apa yang ada di dalam ponselnya sangat penting.

"Iya, dengar," jawab Rangga menoleh sebentar untuk memandangnya.

Maria menghela napas pendek, mencoba menelan kekecewaan yang mulai mengganjal di dada. Baru saja ia bersemangat menceritakan keriuhan pengajian rutin di aula kompleks sore tadi untuk menyembunyikan luka yang baru saja di dapatnya.

Maria bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak kecil yang ikut ibu mereka. Ada yang berebut kue kotak hingga menangis, ada yang salah memakai sandal, dan ada seorang balita yang duduk saja di depan ibunya dan berakhir dengan tertidur pulas di pangkuan ibunya. Maria ingin membagikan kehangatan itu pada Rangga, berharap lelaki itu merespon. Ia cerita untuk membangun komunikasi di antara mereka. Mungkin bagi Rangga, ini bukan cerita yang penting dan harus ia dengar. Bukankah pria itu sedang berbahagia?

Karena sikap suaminya yang tak seberapa menanggapi, Maria akhirnya memilih diam. Ia memalingkan wajah kembali ke arah televisi.

Tiba-tiba ponsel di tangan Rangga berdering. Sebuah melodi standar yang terdengar nyaring di ruang yang sunyi itu.

Rangga segera bangkit tanpa berkata sepatah kata pun dan melangkah cepat menuju teras.

Maria menoleh, menatap punggung suaminya dari balik kaca. Wajahnya yang tadi mencoba tegar langsung berubah. Sorot matanya meredup, menyimpan luka yang sudah lama ia simpan dalam diam. Hatinya terasa perih. Tapi Maria segera membuang muka. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Inilah takdir yang harus ia terima.

Hubungan mereka memang unik atau mungkin lebih tepatnya rumit. Maria bukanlah orang asing bagi keluarga Rangga. Ia merupakan anak dari saudara angkat kerabat bapaknya Rangga, yang bernasib malang. Saat usianya baru menginjak 13 tahun, sebuah kecelakaan merenggut kedua orang tuanya, meninggalkan Maria sebatang kara.

Orang tua Rangga membawanya pulang ke rumah mereka. Merawat Maria seperti anak sendiri. Di rumah itulah, Maria menemukan kembali arti sebuah keluarga.

"Maria, kamu dari mana?" tanya Bu Hasna, mamanya Rangga pada Maria yang baru kembali ke rumah menjelang Maghrib beberapa tahun yang lalu.

"Dari TPQ, Tante. Lihat anak-anak mengaji," jawabnya sambil tersenyum.

Hampir setiap sore, gadis berusia tiga belas tahun itu selalu pergi ke TPQ untuk melihat remaja dan anak-anak mengaji di sana. Ia selalu berangkat ikut Tantri, si teman dekatnya. Maria akan menunggu di bangku yang ada di halaman gedung itu. Dia tidak mungkin masuk karena seorang kristian.

Akhirnya Maria yang saat itu berusia tujuh belas tahun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ia menjadi mualaf bukan karena paksaan, melainkan karena ia jatuh cinta pada ketenangan yang ia lihat dari cara Pak Haji Ali dan Bu Hajah Hasna menjalani hidup. Pada rutinitas anak-anak yang mengaji dan berkegiatan di masjid yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah Pak Ali.

Ia juga kagum pada Rangga. Meski kakak angkat sekaligus sepupu jauhnya itu memang pendiam. Maria mengagumi Rangga dalam diam. Kecerdasannya, ketegasannya, dan caranya menjaga kehormatan keluarga. Lelaki itu hanya bicara seperlunya.

"Kamu nikah saja sama Rangga, Maria," kata Bu Hasna saat Maria membantunya memasak di dapur. Maria tersipu dan menganggap itu hanya gurauan.

Saat Maria menginjak usia 23 tahun dan baru saja menyandang gelar sarjana, sebuah permintaan datang dari Pak Ali. Sebuah perjodohan.

"Maria, Bapak dan Ibu ingin kau menjadi bagian dari keluarga ini selamanya. Kamu bersedia menjadi istrinya Rangga, kan?" tanya Pak Ali malam itu.

Bagi Maria, itu adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia menerima dengan ikhlas, bahkan dengan rasa bahagia yang sulit disembunyikan. Namun bagi Rangga itu merupakan beban. Rangga sempat menolak keras. Maria tahu itu. Ia mendengar perdebatan di ruang kerja Pak Ali, suara Rangga yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Maria selain rasa kasihan sebagai adik.

"Pak, aku nggak bisa. Aku akan menikah dengan Tamara. Orang tuanya sudah mendesakku supaya segera melamar putrinya."

Namun Pak Ali tak memberikan restunya. Dan Rangga tak memiliki pilihan. Akhirnya ia menerima. Pernikahan pun digelar dengan megah. Tapi Maria tahu, di balik pengantin lelaki yang gagah itu, hati Rangga tertinggal di tempat lain dan memang tidak pernah ada untuknya. Walaupun pria itu tetap menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab padanya.

Maria pun sempat menolak karena Rangga tidak mau. Namun Pak Ali memaksanya. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Maria."

Maria menghela napas panjang. Remang cahaya lampu ruang tamu membuatnya merasa semakin kesepian. Ia merasa tak berguna menunggu di sana. Niatnya tadi ingin mengajak suaminya berbincang. Tapi Rangga memang sedang berbahagia dengan yang di 'sana'. Surat pemeriksaan tadi menjelaskan semuanya.

Dengan gerakan lunglai, ia mematikan televisi. Lalu beranjak ke kamar utama, tanpa menoleh ke arah teras tempat Rangga masih sibuk berbicara di telepon. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, berbaring miring, dan menarik selimut hingga ke dada.

Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Rangga duduk begitu dekat dengan punggungnya, lalu menyentuh pundaknya. "Kamu sudah tidur?"

Next ....

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Marlina Sari
Marlina Sari
di awal cerita sudah sangat berbeda... Maria..
2026-05-28 22:31:40
0
0
Barra
Barra
mbk Lis ceritanya selalu bikin nano nano rasanya
2026-05-28 21:38:29
0
0
Faidhotur Rosyadi
Faidhotur Rosyadi
mbak Lis maria ini sambungan dari cerita novel yg mana
2026-05-28 20:10:54
1
1
Roza
Roza
Author yang selalu terbaik
2026-05-28 17:47:22
2
1
Attar Muntaz
Attar Muntaz
salam kenal Maria.... pasti cerita mu akan sehebat dan menginspirasi seperti cerita2 pendahulumu, makasih banyak Mba Lis karya mu amat sangat banyak akan pelajaran hidup, sukses terus yaa
2026-05-28 17:42:12
1
1
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status