LOGINMaria seorang mualaf. Menerima perjodohan dengan lelaki yang diam-diam dicintainya. Rangga yang saleh, tampan, dan mapan. Meski tidak mencintainya, tapi Rangga memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami. Memperlakukannya dengan baik. Hingga Maria merasa nyaman dan yakin kalau suatu hari nanti akan memenangkan hati suaminya. Namun siapa menyangka, kehadiran Tamara merenggut semuanya. Dia rela berbagi, mungkin ini bagian dari ujian imannya. Tamara pun rela juga awalnya. Namun ketika wanita itu hamil lebih dulu, Tamara ingin menjadi satu-satunya. "Aku yang akan mundur, Mas. Kamu bisa bersamanya. Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu indah ini. Aku nggak menyesal menikah denganmu, meski harus berakhir begini," ucap Maria dengan senyum tapi matanya berkaca-kaca. Pernikahan itu tidak berakhir dengan pertengkaran hebat. Tapi berakhir dalam keheningan yang penuh luka. Maria pergi dengan senyuman yang menyimpan sejuta kenangan bagi Rangga yang baru menyadari betapa mulia seorang Maria. Namun Maria sudah pergi menjauh. Di mana Rangga bisa menemukannya kembali?
View MoreDi koper itu ada buah stroberi berukuran lebih kecil dari yang dimakan Ibrahim waktu itu, buah aprikot, peach, ceri hitam, blueberry, hingga plum ungu yang menggugah selera. Semua jenis buah yang tergolong langka atau berharga mahal jika dicari di Indonesia, sengaja diborong oleh Rangga dari supermarket Nagoya."Stlobeli!" pekik Ibrahim girang.Rangga tersenyum puas melihat binar bahagia anak dan istrinya. Mereka akhirnya menikmati buah-buahan segar itu bersama-sama di ruang tengah setelah Siti mencuci bersih sebagian buah. Tentu saja mereka tidak menghabiskannya sendiri. Maria membagi buah-buahan itu ke dalam beberapa wadah terpisah. Untuk pengurus panti, sebagian lagi disisihkan untuk dibawa saat mudik ke Kediri minggu depan.Untuk bos dan rekan kerja di kantor, Rangga membeli beberapa cindera mata khas Jepang, kipas lipat sutra, dan pajangan dinding tradisional.Sejak kedatangannya di bandara pagi tadi, Rangga sebenarnya memendam rasa gemas yang luar biasa. Ia belum bisa 'menyenggo
"Eh, A'im, sebentar, Sayang. Jangan ke sana dulu," potong Maria dengan sigap menahan pinggang putranya. "Papa masih di dalam, A'im nggak boleh masuk ke sana. Tunggu di sini ya, sebentar lagi Papa keluar."Ibrahim melonjak-lonjak tidak sabar, tatapan matanya terus mengikuti pergerakan Rangga yang kini sedang mengantre di pintu sensor terakhir. Begitu Rangga melangkah melewati pintu kaca otomatis dan resmi menginjakkan kaki di area penjemputan, Maria langsung melepaskan dekapannya.Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Ibrahim langsung melesat berlari kencang membelah kerumunan orang, mengabaikan Siti yang sempat memekik saat mengikuti Ibrahim dari belakang. "Papaaa!"Melihat anak yang amat dirindukannya, Rangga spontan melepaskan pegangan kopernya. Ia langsung berjongkok, membuka lebar kedua lengannya untuk menyambut tubuh Ibrahim yang langsung menubruk dada bidangnya. Rangga mengangkat tubuh putranya, memeluknya teramat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rindu yang menyiksa
MARIA - 53 KangenJarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi dan azan Subuh belum berkumandang. Suasana di Malang masih diselimuti kabut yang dingin, membawa hawa sejuk khas pegunungan yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang hening, Maria bergerak pelan-pelan mengganti popok Ibrahim yang sudah penuh, lalu memakaikan celana panjang yang hangat untuk perjalanan jauh.Siti juga sudah terbangun. Ia dengan sigap menyiapkan sebotol susu hangat, dan beberapa perlengkapan untuk dibawa ke Surabaya.Namun gerakan Maria rupanya mengusik kenyamanan tidur Ibrahim. Merasa tidurnya terganggu, bocah itu mulai merengek. Maria segera merengkuh tubuh anaknya, menepuk-nepuk punggungnya lembut untuk menenangkan. "Anak pintar jangan menangis. Pagi ini kita mau pergi naik mobil, lho. A'im, ikut nggak?""Naik mobil?" Ibrahim tertarik lalu memandang bundanya. "Iya.""Mau jalan-jalan?" tanyanya antusias dan tangan kecilnya mengucek mata."Iya.""Ke mana, Bunda?" "Kita mau menjemput Papa di bandara. Hari
"Mas, hati-hati," pesan Maria dengan mata yang mulai berembun. Dia begitu sedih setelah tahu siapa Zein. Pria itu mengangguk, lalu melaju dengan motornya meninggalkan panti.🖤LS🖤"Pak Pradipta nggak bisa ngasih nomernya Aisyah, Tam. Aku dah nyoba minta kemarin." Susi memberitahu Aisyah saat mereka ketemuan sepulang kerja. Janjian di kafe seperti biasanya. "Alasannya apa nggak mau ngasih?" tanya Tamara terlihat sangat kecewa."Aku nggak tahu. Pak Pradipta cuman bilang nggak bisa ngasih nomer orang sembarangan. Ya, mungkin saja Aisyah ini orangnya tertutup. Lihat saja cara berpakaiannya. Dia pakai cadar juga. Mungkin membatasi pergaulan.""Masa sih?" Tamara tidak percaya. "Padahal Aisyah ramah banget.""Kalau untuk urusan pekerjaan pasti ramah. Sebab dia dituntut profesional. Aisyah ini dah nikah belum, sih?" tanya Susi sambil mengaduk jusnya.Tamara mengedikkan bahunya. "Aku juga belum tahu. Makanya aku pengen temenan sama dia.""Kamu samperin aja ke kantornya pas pulang kerja. Mun
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore