Share

Bab 2

Penulis: Moore
Arven memelukku dari belakang, suaranya bahkan sedikit bergetar. Aku diam-diam menutup telepon, lalu berusaha berkata padanya dengan suara setenang mungkin, "Telepon dari biro perjalanan. Bulan madu setelah pernikahan perlu dijadwalkan ulang."

Arven langsung menghela napas lega.

"Benar juga. Kamu 'kan bilang akan selalu bersamaku. Kamu nggak mungkin meninggalkanku!" Lalu dengan rasa bersalah, dia kembali memelukku lebih erat. "Tenang saja. Setelah urusan ibu Nyra selesai, aku akan memberimu pernikahan yang jauh lebih megah."

Aku menatap tenang berkas-berkas di tangannya. Dia tiba-tiba kembali masuk hanya untuk mengambil kartu identitas. Menyadari tatapanku, Arven menarik kembali tangannya dengan canggung.

"Ibu Nyra nggak akan tenang kalau nggak melihat akta nikahku dengan Nyra .... Aeris, jangan mikir macam-macam. Begitu waktunya tiba, aku akan langsung bercerai dengannya."

Napas dadaku seketika tersendat, rasa sakit menjalar di ujung hatiku. Dia jelas pernah berjanji, seumur hidup ini hanya akan menikah denganku. Namun baru berpaling sedikit saja, dia sudah hendak mendaftarkan pernikahan dengan wanita lain.

Meski aku sudah bertekad untuk meninggalkannya, hatiku tetap tidak bisa menahan rasa perih.

Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun, Nyra sudah tergesa-gesa menerobos masuk dan menyelip di antara kami. Gerakannya terlalu kasar. Tangannya diam-diam mendorongku ke samping dengan kuat.

Aku terhuyung lalu jatuh, sementara dia memanfaatkan kesempatan itu untuk bersandar ke dalam pelukan Arven, menampilkan wajah yang dipenuhi air mata.

"Arven, kondisi ibuku memburuk. Tapi dia bilang, kalau belum melihat akta nikahmu denganku, dia mati-matian menolak operasi!"

Mendengar hal itu, raut wajah Arven langsung dipenuhi kecemasan. "Kondisi Bibi sudah separah itu, mana mungkin nggak dioperasi?" Dia menarik tangan Nyra dan bersiap pergi. Baru ketika sampai di pintu, dia berhenti, lalu menoleh ke arahku dengan wajah penuh rasa sungkan.

"Aeris, kamu juga sudah lihat sendiri. Kondisi ibu Nyra sangat mendesak. Kami hanya bisa mendaftarkan pernikahan dulu untuk menenangkannya. Kamu bisa mengerti, 'kan?"

Nyra terhuyung-huyung berlari mendekat dan berkata dengan suara pilu, "Kak Aeris, kumohon penuhi baktiku sebagai anak. Biarkan ibuku melihat pernikahanku sebelum dia pergi."

Sambil menangis, dia tampak lemah dan hendak berlutut di hadapanku.

Arven segera memeluknya ke dalam pelukan. Tatapannya ke arahku samar-samar dipenuhi amarah. "Aeris, kenapa kamu bisa sedingin ini? Bukankah sebelumnya kamu sudah setuju? Kenapa sampai Nyra harus berlutut memohon padamu?"

Nyra menarik lengan baju Arven, memaksakan senyum sambil berkata, "Kak Arven, Kak Aeris sudah setuju menyerahkan pernikahan padaku. Wajar kalau hatinya masih mengganjal. Aku nggak menyalahkannya ...."

Melihat raut wajah Arven yang semakin muram, aku menahan perih di dada dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Pergilah. Aku nggak keberatan."

Melihat ketulusan di wajahku, Arven tampak canggung. Dia lalu menjelaskan, "Aku nggak benar-benar akan mendaftarkan pernikahan dengan Nyra. Ini hanya formalitas saja. Jangan berpikir macam-macam."

Usai berkata demikian, dia menarik Nyra dan pergi. Nyra menoleh ke belakang dan tersenyum padaku dengan penuh kemenangan.

Aku duduk sendirian cukup lama, barulah menyeka air mata dan bersiap pergi ke butik pengantin untuk mengambil gaun pengantin. Gaun itu kupesan khusus dari pengrajin papan atas Italia, demi menikah dengan Arven.

Gaun yang kucurahkan begitu banyak usaha dan perasaan ini, meski aku tidak menikah dengan Arven, tetap akan kupakai di pernikahanku sendiri.

Namun ketika aku tiba di butik, sang pemilik berkata dengan heran, "Bu Aeris, gaun pengantin itu sudah diambil oleh tunangan Anda. Apa Anda nggak tahu?"

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Seketika, tangan dan kakiku terasa dingin. Sang pemilik pun menyadari ada yang tidak beres, lalu meminta maaf dengan canggung, "Maaf, ini kelalaian kami. Saya akan segera menelepon dan menanyakannya."

Dengan gugup, dia menghubungi Arven. Di seberang sana, Arven berkata dengan nada tenang, "Benar, aku yang mengambilnya. Aku akan memakainya dulu untuk pernikahan lusa. Kalau Aeris datang bertanya, katakan saja, setelah dipakai akan dikembalikan. Apa yang menjadi miliknya, nggak akan direbut siapa pun."

Ucapan Arven membuatku benar-benar menyerah. Aku menggelengkan kepala pada pemilik butik, lalu berjalan tertatih keluar.

Gaun pengantin yang sudah dipakai Nyra, aku tidak menginginkannya lagi. Sama seperti Arven, aku juga tidak menginginkannya lagi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 10

    Dia diseret oleh para pengawal hingga dipaksa berlutut di hadapanku. Entah dari mana dia mencari tahu alamat tempat tinggalku, dia langsung menerobos masuk.Saat kami bertemu lagi, Arven menatap lekat-lekat lenganku yang terluka, bahkan suaranya sedikit bergetar."Lukamu ... kenapa separah ini? Aeris, maafkan aku. Dulu aku nggak seharusnya meragukanmu ...."Dia jatuh terduduk di lantai. Wajahnya penuh penderitaan, suaranya tersendat-sendat."Aku sudah menyelidiki semuanya. Ibu Nyra sama sekali nggak menderita penyakit mematikan. Semua itu tipuan Nyra .... Dia mengadu domba hubungan kita, bahkan merusak gaun pengantinmu. Semua perbuatannya itu sama sekali nggak bisa dimaafkan!""Aku sudah mengurus surat cerai dengannya dan memberinya hukuman .... Ibunya bahkan kukirim sendiri ke penjara.""Aku tahu aku telah melakukan kesalahan yang tak terampuni. Aku nggak memintamu memaafkanku, tapi bisakah kamu memberiku satu kesempatan? Biarkan aku menebusnya dengan sisa hidupku."Aku samar-samar te

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 9

    Sesampainya di hotel, aku dibawa ke ruang rias. Sambil merias wajahku, penata rias itu berbincang santai, "Bu Aeris benar-benar pengantin yang berbahagia. Pernikahan Keluarga Marlboro ini sampai menggemparkan seluruh Napoli."Aku menatap gaun pengantin yang kupakai. Dibanding rancangan gaun yang dulu kubuat sendiri, gaun ini bahkan jauh lebih sempurna. Ditambah satu set perhiasan safir biru yang mahal, aku pun tahu betapa megahnya pernikahan ini.Pernikahan antara Keluarga Edren dan Keluarga Marlboro memang cukup untuk menimbulkan kehebohan besar di kalangan bangsawan Napoli. Saat aku masih tenggelam dalam pikiran, pintu ruang rias diketuk.Francis menyembulkan tubuhnya, lalu menyerahkan sepasang sarung tangan pengantin. "Aeris, nanti pakai sarung tangan ini. Dengan begitu orang tuamu nggak akan menyadarinya."Perhatiannya yang begitu teliti membuat hatiku menghangat.Lukaku memang tidak ingin diketahui orang tua. Kondisi tubuh ibu tidak terlalu baik. Jika dia tahu aku ditinggalkan ole

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 8

    Aku menutupi lengan kiriku yang terluka sambil turun dari pesawat. Saat hendak menelepon kakak, tiba-tiba puluhan mobil Maybach datang dari arah depan dan berhenti rapi tepat di hadapanku. Kakakku turun dari Rolls-Royce paling belakang, membuka kedua lengannya ke arahku."Aeris Sayang, akhirnya kamu pulang juga. Kalau kamu nggak kembali sekarang, anak bungsu Keluarga Marlboro, Francis, sudah naik jet pribadi ke Roma buat merebut pengantin!"Pikiranku sempat kosong sesaat. Di benakku terbayang sosok bocah tampan berambut pirang dan bermata biru, berkulit putih. Waktu kecil, dia sering datang ke rumahku untuk bermain dan berkata ingin menikah denganku dengan penuh keyakinan.Kemudian, aku pergi ke Roma untuk kuliah, bertemu Arven, saling mengenal dan jatuh cinta. Perlahan-lahan, aku pun melupakan teman masa kecil itu.Saat itu juga, seorang pemuda tinggi dan tampan melangkah keluar dari belakang kakakku. Dia mengambil tasku dan berkata sambil tersenyum, "Aeris, aku datang menjemput penga

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 7

    Mereka berdua membelakangi pintu, sedang menyantap makan siang mewah. Ibu Nyra mengusap minyak di mulutnya, lalu berkata pada putrinya, "Sekarang kamu sudah berhasil menikah dengan Arven, apa aku masih harus kembali ke rumah sakit pura-pura sakit? Siapa tahu betapa sengsaranya hidup di rumah sakit, bahkan merokok saja nggak boleh!"Nyra menyesap anggur merah di gelasnya, lalu menenangkan, "Jangan terburu-buru. Beberapa hari lagi aku akan mengatur kematianmu. Sialan, Aeris entah pergi ke mana. Padahal aku sudah menyiapkan sebuah provokasi, lalu menimpakan penyebab 'kematianmu' padanya, supaya Arven benar-benar membencinya."Wajah ibu Nyra memperlihatkan ekspresi kejam."Sayang sekali waktu itu dia berhasil kabur. Aku sebenarnya ingin menggores wajahnya, lihat gimana dia masih bisa menggoda menantuku. Siapa sangka dia malah meloncat dari balkon lantai dua untuk melarikan diri. Kenapa dia nggak mati saja jatuhnya!"Di dalam hati Arven, badai besar bergemuruh. Setiap kata dari kedua orang

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 6

    Kamar Nyra berada di lantai satu, tepat menghadap pintu belakang vila. Biasanya para pelayan tidak pernah ke area itu, sehingga satu-satunya pelaku yang terpikir oleh Arven hanyalah aku."Kalau memang mau pergi, kenapa masih diam-diam kembali?""Kak Arven, jangan salahkan Kak Aeris. Pasti dia nggak suka aku mengenakan gaun pengantinnya, makanya melakukan hal seperti ini. Semua salahku ... aku nggak seharusnya iri pada gaun pengantin Kak Aeris yang cantik, apalagi memakainya untuk menghadiri pernikahan."Arven sangat tidak puas dengan apa yang dia anggap sebagai perbuatanku. Dengan wajah dingin dia berkata, "Nggak apa-apa. Nanti kalau aku menikah dengannya, tinggal sewa gaun di butik pengantin saja. Kalau dia memang nggak suka memakainya, ya sudah, nggak usah dipakai!"Ucapannya terdengar tegas dan kejam. Namun setelah mengusir Nyra, Arven tetap membawa gaun pengantin yang rusak itu ke butik pengantin."Berapa pun biayanya, gaun ini harus dipulihkan!"Itu permintaan Arven pada pemilik b

  • Terlahir Kembali: Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Bab 5

    Di ranjang rumah sakit, ibu Nyra terbaring lemah sambil menatap mereka berdua, lalu berkata dengan wajah penuh kebahagiaan, "Syukurlah ... Nyra bisa menikah denganmu. Sekarang aku bisa meninggal dengan tenang."Dengan tangan gemetar, dia meraih tangan mereka dan menangkupkannya menjadi satu."Arven, kamu adalah anak yang kulihat tumbuh sejak kecil. Tolong janjikan padaku, rawat Nyra dengan baik, ya?" Dia terbatuk keras beberapa kali, lalu berkata dengan susah payah, "Sejak pulang ke negara ini, dia bahkan nggak punya tempat tinggal. Setiap hari hanya menemaniku di rumah sakit. Sekarang kalian sudah menikah, aku pun bisa tenang menyerahkan Nyra padamu."Awalnya Arven berniat segera membicarakan soal perceraian dengan Nyra. Namun melihat kondisi ibu Nyra yang terbaring lemah di ranjang, dia akhirnya ragu dan tetap menyetujui permintaannya, "Tenang saja. Aku akan menjaga Nyra dengan baik. Bagaimanapun juga, dia adalah ... istriku."Meski sangat tidak rela, Arven tetap setuju membawa Nyra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status