Se connecterSelamat membaca dan semoga suka, MyRe.
Elma yang gugup tak melakukan apa-apa. Dia bingung dan tak tahu harus berbuat seperti apa, dia juga terkejut karena Rain menciumnya. Sedangkan Rain, hasratnya semakin membara. Tangannya yang sejak tadi diam, mulai meraba tubuh Elma."Akan aku buktikan bahwa pria yang aku sebut anak kecil ini bahkan bisa membuatmu menghasilkan anak, Elma Moris," ucap Rain dengan nada berat, penuh kesungguh-sunguhan dan tegas. Tatapannya tajam, tetapi maniknya memancarkan hasrat yang besar. Elma hanya diam, mengamati Rain yang terasa berbeda. Pria yang ia anggap bocah ini mendominasinya!Rain mulai melepas piyama yang Elma kenakan. Setelah itu sejenak dia diam sambil menatap tubuh indah Elma. Sialnya, setelah melihat tubuh Elma, dia mendadak gugup campur bingung. Semuanya indah! Dia bingung harus menyentuh yang mana lebih dulu. Dia juga gugup karena ini pengalaman pertamanya. "Hah." Elma menghela napas pelan. Segera mendorong tubuh Rain dari atas tubuhnya. Lalu setelah itu, dia mengambil posisi dudu
"Astaga!" ucap Elma spontan, panik dan terkejut melihat sesuatu yang berada tepat di depannya. Namun, sekalipun sangga terkejut dan ingin pingsan karena benda pusaka itu, Elma tetap menjaga diri untuk tenang. Dia memejamkan mata lalu memalingkan wajah secara pelan. "Argk!" Di sisi lain, Rain berteriak horor, segera menaikkan handuk miliknya yang sempat melorot. Setelah itu, dia segera pergi dari sana—buru-buru mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi. Sial! Dia sangat malu. Elma membuka mata, segara mengambil kipas portabel untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas dan terbakar. Elma kemudian menatap ke arah laptop-nya, senyum tipis ketika mengingat kejadian tadi. Sejujurnya itu konyol dan memalukan. Akan tetapi …-"Tubuhnya sudah sangat dewasa, akan tetapi sikapnya … seperti Anaya. Bocah," gumam Elma pelan, masih senyum karena merasa geli dengan kejadian tadi. Tak lama Rain keluar dari kamar, pria berusia 25 tahun itu sama sekali tak menatap ke arah Elma. Dia buru-bur
"Gilayah?" gumam Anaya sambil menatap tak habis pikir pada Larisa. Elma tiba-tiba datang, langsung menarik Anaya supaya menjauh dari hadapan Larisa yang sedang memohon. Dia mengambil tempat dengan berdiri di depan adiknya lalu menatap tajam pada Larisa. "Tolong berhentilah mengganggu adikku, Nona Larisa," tegas Elma, setelah itu menarik Anaya supaya pergi dari sana. Larisa segera berdiri, berniat mengejar Elma dan Anaya. Akan tetapi dia tidak bisa karena tiba-tiba perutnya cukup nyeri. Pada akhirnya dia membiarkan mobil itu pergi, tak mengejar karena dia tak sanggup. "Aku sudah memohon tapi kamu begitu angkuh, Anaya. Baiklah, terpaksa aku meminta sendiri pada Dominic supaya dia menikahiku," ucap Larisa dengan raut muka penuh dendam. Tetapi matanya terus menjatuhkan bulir kristal, ada ketakutan yang sedang ia sembunyikan. ***"Kenapa kamu tidak mendengarkanku, Anaya?!" marah Elma setelah mereka di dalam mobil. Ekspresi Elma terlihat serius, tatapannya tajam pada jalan. Namun, di
"Kakak ipar baik, kan, ke Kakak?" tanya Anaya dengan pelan dan kikuk, efek canggung pada kakaknya. Raut muka Elma terlihat kaget, langsung menatap tak percaya pada Anaya. "Kak-Kakak ipar?" gumannya sudah payah karena terlalu tak percaya kalau Anaya akan menyebut Rain dengan istilah kakak ipar. "Iya, Kak. Rain—kakak iparku." Anaya senyum tipis sambil menganggukkan kepala singkat pada kakaknya. "Oh-oh, dia baik padaku." Elma berkata gugup. "Jangan memanggilnya Kakak ipar, nanti dia marah padamu, Anaya." "Mana mungkin Rain marah, Kak. Malah dia yang menyuruhku untuk memanggilnya 'kakak ipar," jawab Anaya, "sebenarnya Rain … eh, Kakak ipar itu sudah lama suka pada Kakak." "Tidak perlu menghibur." Elma langsung berdiri, semakin gugup dan tak nyaman saat Anaya mengatakan hal demikian. Dia tahu Anaya hanya menghibur. Rain tak mungkin suka padanya. "Kakak keluar dulu. Kamu tunggulah di sini. Tuan Dominic akan segera kembali," ucapnya lalu segera beranjak dari sana. Sebenarnya Elma
"Ck, aku jadi malas di rumahmu, Kek," tambah Darren, duduk di kursi kosong dengan ekspresi kesal. Brak' William langsung memukul meja, membuat Anaya dan para perempuan tersentak kaget. Berbeda dengan para pria yang tampak tenang, sama sekali tak terganggu dengan gebrakan meja. William langsung menatap tajam pada Bianca, wajahnya tampak marah dan menakutkan. "Apa-apaan kau, Bianca?! Tidakkah seseorang mengajarimu sopan santun, Hah?!"Bianca tak menjawab, malah menatap ke arah mamanya untuk meminta bantuan. "A-Ayah, su-sudah menceritakannya padaku. Di-dia bilang ada suara aneh di dalam kamarnya dan dia ketakutan," ucap Baby dengan gugup. Dalam hati, dia mengumpati putrinya yang gila dan bodoh. Baru hari pertama, akan tetapi putrinya sudah berulah. Posisi mereka terancam! "Apapun alasannya tidak seharusnya Bianca bersikap demi kian," geram William. "Ma-maafkan aku, Kakek," ucap Bianca dengan nada muram. "A-aku hanya terlalu takut dan tak tahu harus ke mana. Ka-kamar Mama jauh.""B
"Apa?" Anaya menatap cengang pada Bianca. Ekspresinya tak bisa ia kendalikan, terlalu shock pada permohonan Bianca. "Kamu ingin tidur di sini, di kamar ini?" ulang Anaya, masih menunjukkan ekspresi konyol. Bianca menganggukkan kepala. "Aku juga terpaksa. Soalnya aku takut, Kak Anaya," ucap Bianca, mendadak memanggil Kak pada Anaya supaya Anaya tersentuh dan memperbolehkannya menginap di kamar ini. "Tunggu." Anaya menggaruk daun telinga, menatap semakin tak habis pikir pada Bianca, "sebelum kamu datang ke sini, kamu sudah pastiin nggak kalau otakmu terpasang dengan baik dan benar?" Wajah Bianca seketika muram, juga kesal karena merasa dikatain oleh Anaya. "A-aku minta tolong dengan baik-baik tapi kamu seperti merendahkan yah.""Lah kamu o'on." Anaya melayangkan tatapan sinis, "dari banyaknya kamar di rumah ini, tetapi kamu memilih ingin numpang di kamar yang ditempati oleh pasangan suami istri?""Masalahnya apa? Kak Dominic kan sepupuku," ucap Bianca setengah memekik, "dan karena







