로그인Alesha Shaqia, gadis yang selalu mengidam-idamkan pernikahan dengan seseorang yang dicintainya. Namun pada akhirnya ia harus menerima pernikahan paksa dengan seorang pria yang tidak pernah ia temui sekalipun. Pernikahan yang tanpa dasar cinta dan kemauannya sendiri. Kehidupan rumah tangganya dengan seorang pria bernama Alvino Rafanial Vidiansah Malik, tidak berjalan dengan bahagia. Kehidupan rumah tangga yang dirasakannya seperti berada di Neraka. "Bisa nggak sih, sehari saja jangan bersikap kayak Setan?!" "Tidak!" "Ya sudah, ceraikan aku!" Skuyy, ikutin kisah Alesha dan Alvino.
더 보기Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti.
Kedua orang tua Alesha bersedekap dada seraya menatap Alesha tanpa iba. Mereka bosan mendengar anaknya yang memohon-mohon sedari pagi meminta supaya tidak jadi dinikahkan. "Yah, Bun, Alesha mohon sama kalian. Alesha masih mau kuliah, Alesha baru aja lulus SMA masa Alesha udah mau dinikahin, sih?" "Kuliah katamu? Kamu pikir kuliah tidak membutuhkan uang? Biaya kuliah itu mahal, Alesha, sadarlah kalau kita bukan lagi orang kaya seperti dulu. Perusahaan Ayah sudah bangkrut sejak dulu. Jadi untuk mengurangi beban di rumah ini, kamu harus segera pergi dari sini dan menerima pernikahan ini!" tegas Arkan Ghifari---Ayah Alesha Shaqia---tanpa perasaan dengan tatapan menajam seraya menjauhkan kakinya yang masih setia dipeluk oleh Alesha, sang puteri. Air mata Alesha semakin banyak mengalir dari pelupuk matanya. Perkataan ayahnya mampu menghancurkan harapannya untuk mengejar cita-citanya sejak dulu. Padahal dia sangat mengingkan menjadi seorang dokter dan membantu orang-orang yang tidak mampu membayar rumah sakit karena tidak memiliki cukup uanh. Karena dia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki uang ketika hidupnya sudah seperti di ambang kematian. Orang-orang bilang, Ayah adalah cinta pertama untuk anak gadis, tapi tidak untuk Alesha. Tapi meski begitu, Alesha selalu menyayangi ayahnya dengan setulus hati, dia tidak pernah ingin kehilangan sosok ayah seperti Arkan. "Alesha janji sama Ayah, Alesha nggak akan nyusahin Ayah. Alesha akan ikut tes bea siswa supaya Ayah tidak susah-susah membayar uang kuliah untuk Alesha. Asal Alesha jangan dinikahkan, Ayah!" "Kamu harus tetap menikah, Alesha! Kamu selama ini sudah menjadi beban bagi kami, termasuk bagi abang kamu. Kamu selalu menyusahkan kami selama ini, jadi alangkah baiknya kamu pergi dari rumah ini, beruntunglah karena orang yang akan menikah denganmu ini adalah seseorang dari keluarga yang berada. Nikmati hidupmu dan berhenti menyusahkan kami lagi, sudah cukup kamu menyusahkan kami selama ini!" Anindya Ayu---Bunda Alesha---menyorot tajam ke arah Alesha dengan perkataan yang menghunus ke dalam hati Alesha. "Kamu sekarang pilih, menikah dengan tuan Alvino, atau kuliah tapi jangan menganggap kami sebagai orang tuamu lagi. Bagaimana? Kamu pilih yang mana?" Mata Alesha membulat sempurna, air matanya yang beberapa detik lalu berhenti keluar, kini merembes kembali dengan begitu derasnya. Bagaimana mungkin Alesha bisa hidup tanpa kedua orang tuanya, meskipun dia tidak selalu mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan, tapi tetap saja dia tidak ingin hidup tanpa kedua orang tua. Tapi bagaimana? Alesha masih ingin melanjutkan kuliahnya. Kenapa semesta tidak adil padanya? Sungguh, Alesha ingin segera mengakhiri semuanya. Hidupnya, juga penderitaannya. Alesha menyunggingkan senyum getirnya, dia berdiri dari duduknya kemudian menatap lembut ke arah kedua orang tuanya bergantian. Kenapa bisa mereka sangat menginginkan dirinya untuk menikah di usia yang masih se-dini ini? Pikir Alesha. Sejenak Alesha memasukkan begitu banyak pasokan udara melalui hidungnya kemudian mengembuskannya perlahan. "Ayah, Bunda, kenapa kalian selalu mengatakan kalau aku ini adalah beban bagi kalian? Selama ini, apa pernah aku meminta sesuatu yang aneh-aneh yang bisa menghabiskan uang kalian? Kalaupun aku minta, aku pasti akan kena semprot bahkan tak jarang aku dapat amukan dari kalian. Lalu, kenapa kalian masih mengira kalau aku ini beban bagi kalian?" tanya Alesha lembut, siapa tahu orang tuanya akan berubah pikiran. "Hentikan omong kosong itu, Alesha! Kita hanya ingin jawaban 'iya' saja dari kamu, apa itu sangat susah untukmu?!" protes Arkan dengan wajah bengisnya membuat nyali Alesha menciut. "Bukan masalah susah atau tidaknya mengatakan 'iya', Ayah. Tapi ini menyangkut masa depanku, apa kalian tidak memikirkan bagaimana jadinya aku nanti kalau menikah di usia yang masih sangat muda? Apa kalian tidak takut kalau rumah tanggaku hanya akan seumur jagung?" Anindya memutar bola matanya jengah. Anaknya yang satu ini sangat-sangat mampu membuat emisonya naik drastis. Anindya berkacak pinggang serta tatapan nyalang dilayangkan untuk Alesha. Bagaiamana mungkin nyali Alesha tidak menciut jika seperti ini? "Kamu ini ..! Sekali saja nurut apa kata orang tua, bisa nggak, sih? Kenapa sih kamu maunya menyusahkan hidup kami terus? Kami muak melihatmu berada di rumah ini, andai bukan karena abang kamu, kami sudah membuangmu ke panti asuhan sejak dulu, Alesha!" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Anindya mampu merobek hati Alesha, bahkan kalimat yang diberikan Nindya menusuk masuk ke dalam ulu hati terdalamnya. Sakit, bahkan perih rasanya ketika kedua orang tua kita tidak menginginkan kita berada di kehidupannya. "Ini pertama kalinya kami meminta bantuan padamu, Alesha. Apa selama ini kami pernah memintai bantuanmu? Nggak, 'kan? Jadi ini pertama dan terkahir kalinya kami memintai bantuanmu. Hanya kamu yang bisa membantu kami, menikahlah dengan anak tuan Malik, supaya kami terbebas dari hutang-hutang itu." Anindya mencoba untuk melembut. Dia pikir, mungkin Alesha tidak bisa menurut karena dibentak, dan dia memilih untuk melembut. Selama hidupnya, ini pertama kalinya Anindya, sang bunda berkata selembut ini padanya. Alesha tentu terharu karena itu. "Baiklah, Bunda, Ayah, Alesha akan bantu kalian untuk bayar hutang ...." Senyuman seketika terbit di wajah kedua orang tuanya yang sejak tadi hanya menampakkan wajah bengis serta nyalang. "... Tapi tidak dengan menikah." Baru saja dibuat terbang setinggi langit, sekarang mereka dihempaskan ke bumi lagi. Alesha memang menyebalkan. "Kalau tidak menikah dengan tuan Alvino, lalu dengan cara apa kamu akan membantu kami? Menjual diri kamu?" tanya Nindya. Mulut Anindya memang sangat jahat, pekataannya selalu kejam juga pedas bak cabai merah yang baru matang. Orang tua mana yang mengira anaknya akan bekerja dengan cara menjual dirinya? "Bunda, bisa nggak sih sekali saja jangan mengira yang buruk-buruk tentang Alesha!" bantah Alesha tidak terima jika dia dikira akan menjual dirinya untuk membantu membayar hutang. Dia tidak akan melakukan hal semurahan itu untuk mendapatkan uang. Bukannya tersinggung dengan bantahan Alesha, Anindya malah memutar bola matanya malas. Dia sungguh sangat jengah dengan seseorang yang berada di hadapannya sekarang ini. Rasanya dia ingin sekali menendangnya sampai ke galaxy lain supaya tidak melihatnya lagi. "Kalau nggak mau kayak gitu, ya tinggal minggat dari rumah aja, saran paling simple dari, Bunda!" balas Anindya tentu saja tanpa perasaan sedikit pun. Alesha merasa kalau bundanya bukanlah angle, tapi dia lebih merasa kalau bundanya adalah devil dengan mulut pedas dan jahatnya. Jika di dunia ini ibu adalah malaikat tanpa sayap, maka Alesha berbanding terbalik dengan kebanyakan orang, dia menganggap bundanya adalah devil tanpa sayap. Karena julukan itu memang sangat cocok untuk Anindya. 'Nggak boleh gitu, Alesha, bunda tetap bunda kamu. Suatu saat bunda pasti bisa bersikap lebih baik lagi padamu, kamu hanya perlu bersabar, Alesha!' batinnya masih mempertahankan senyum getir yang dia paksa terbit di wajahnya. "Kenapa sih kalian sepertinya sangat tidak menginginkan Alesha berada di rumah ini. Kalau memang seperti itu, kenapa Bunda lahirin Alesha ke dunia kalau Bunda sendiri samasekali nggak menginginkan Alesha?" Alesha lelah tapi dia tidak ingin banyak mengeluh, karena dia tahu tidak akan ada gunanya mengeluh jika orang tuanya saja tidak peduli. Dan Alesha tahu, tidak akan ada perubahan apapun jika hidup ini lebih banyak digunakan untuk mengeluh saja. Hidup ini perlu banyak-banyak besyukur, karena kunci kebahagiaan di dunia ini adalah bersyukur. "Bersyukurlah karena kamu masih memiliki abang, andai bukan karena abangmu, kamu pikir kami mau menampungmu di sini?!" Arkan berucap sarkas, dia samasekali tidak memiliki rasa iba sedikit pun kepada Alesha malah dia merasa kesal dengan puterinya. "Bunda, Ayah, cukup!" tegur seseorang yang baru saja sampai di rumah.Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir. Alesha tidak akan berharap lagi untuk dibukakan pintu oleh Alvino, karena berharap pada Alvino sama saja dengan menyakiti perasaan sendiri. "Padahal baru aja mau bukain kamu pintu mobil, tapi malah keluar duluan. Kamu jadi nggak bisa ngerasai diromantisin sama aku," ujar Alvino setelah berdiri di samping Alesha. Alesha memutar bola matanya malas menatap Alvino dengan gaya sok cool-nya itu. Berada di dekat Alvino memang nyaman, tapi bisa-bisa kalau seharian berdebat dengan Alvino, Alesha bisa darah tinggi. "Sudahlah, Om, hentikan omong kosong, Om. Aku tahu Om hanya berbohong." "Apa tampangku terlihat sedang berbohong?" "Terlihat jelas, Om. Muka-muka seperti Om ini adalah muka-muka seo
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang yang sesekali duduk 'tak karuan menantin kedatang seorang Alvino. Entah kenapa jantungnya berdetak 'tak karuan. Alesha takut-takut berani untuk bertemu dengan Alvino, dia takut jika Alvino tidak sesuai dengan ekspektasinya. Takutnya nanti seseorang yang bernama Alvino itu adalah seorang om-om yang sudah keriputan, mengingat bagaimana memohonnya orang tua Alvino kemarin. "Jangan-jangan Alvino itu udah tua dan nggak laku makanya orang tuanya memohon-mohon sama aku buat dijadiin istrinya dengan berdalih untuk bayar hutang. Please, Ale takut, Tuhan!" gumam Alesha yang masih duduk tidak bisa diam di tempatnya. "Ale," panggil Kenandra yang baru saja keluar dari kamarnya mengejutkan Alesha yang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara langsung." Kenandra berucap. Sebenarnya hari ini Kenandra masih masuk kerja, tapi Kenandra sengaja mengambil libur untuk hari ini saja. Hari penting untuk sang adik, meski Kenandra tahu Alesha hanya terpaksa menerima semua ini. "Untuk apa ngelamar lagi, Bang? Bukankah semuanya sudah siap? Bukankah ayah juga udah bicara sama tuan Malik?" "Itu artinya tuan Malik beserta keluarga adalah orang baik-baik, meski mereka memaksa untuk menikahkan anaknya denganmu, tapi mereka tetap memilih untuk melamar kamu dengan cara baik-baik lagi. Kamu harus bersyukur karena kamu akan mendapat keluarga yang baik seperti mereka," ujar Kenandra yang masih menemani Alesha di kamarnya. "... Dan kamu tidak akan m
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi uang? Kenapa pikiran kalian se-bejat itu, sih?" Kenandra menarik Alesha ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan tubuh bergetar sang adik, tentu dia tidak tega melihat adiknya diperlakukan seperti ini oleh orang tuanya. "Kami cuma minta bantuan padanya, Kenan. Lagian, dia aneh-aneh aja sih malah mau kuliah, dia pikir kita punya banyak uang buat membiyayainya? Beruntung dia masih bisa lulus SMA, mana lulusan sekolah ter-favorite se-Indonesia, lagi." Tatapan Anindya tidak pernah berubah, selalu sinis dan tidak suka. Sampai saat ini, Alesha masih tidak mengerti kenapa dia begitu tidak disukai bahkan sangat dibenci oleh kedua orang tuanya. Hanya Kenan, sang kakak yang begitu menyayanginya mele
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.