LOGINAeza De Enigma diharuskan segera hamil karena tuntutan ayahnya. Jika tidak suaminya bisa dianggap tidak layak sebagai menantu keluarga De Enigma dan dan akan disingkirkan dari keluarga tersebut. Demi tetap bersama, suaminya yang tak pernah menyentuhnya karena masalah kesehatan, memaksa Aeza untuk mengandung benih dari pria lain. Namun, karena Aeza sangat menjunjung tinggi ikatan suami istri, dia tidak mau disentuh pria yang bukan suaminya. Akhirnya suaminya menceraikannya sementara waktu lalu menyuruh Aeza menikah dengan seorang bodyguard agar Aeza bersedia disentuh oleh bodyguard tersebut. Awalnya Aeza berat hati, akan tetapi lama kelamaan dia terlena oleh sentuhan panas dan pesona suami barunya. Terlebih suami barunya bukan sembarang orang, suami barunya punya identitas rahasia yang mengejutkan. "Jika Nyonya gugup melakukannya denganku–suami barumu, maka Nyonya bisa menutup mata," Seven, sang bodyguard misterius yang merangkap menjadi suami Aeza. "Aku memang gugup, tapi aku akan terus menatap matamu, Seven. Matamu sangat tampan." Aeza De Enigma.
View More"Bagiamana, Aeza sayang? Di antara ke sembilan pria ini, siapa yang kau pilih untuk tidur denganmu?"
Aeza De Enigma, perempuan berusia 23 tahun tersebut seketika menatap sendu ke arah suaminya. Aeza menunjukkan ekspresi sedih, dada terasa panas, dan pikiran yang terus berdebat dengan batin. Hatinya sangat sedih karena suaminya meminta supaya dia tidur bersama pria lain agar Aeza bisa hamil. Logika Aeza berkata kalau suaminya salah besar. Jika memang suaminya mencintainya, tak mungkin suaminya rela Aeza ditiduri oleh pria lain. Jelas ini salah dan ini juga melanggar norma. Selain itu, suaminya juga merendahkannya dengan rencana ini. Namun, hatinya berkata suaminya terpaksa melakukan ini. Suaminya sangat mencintainya, oleh sebab itu suaminya rela Aeza disentuh oleh pria lain, supaya Aeza hamil dan mereka tidak bercerai. Yah, benar! Aeza harus hamil supaya ayah Aeza tidak memisahkannya dari suaminya–Lucas Wijaya. Sebenarnya sejak awal, ayah Aeza tidak setuju jika Aeza menikah dengan Lucas. Akan tetapi, Aeza mencintai Lucas dan merasa berhutang budi pada Lucas. Dulu, Aeza pernah kecelakaan dan Lucas lah yang menyelamatkannya, akibat kecelakaan itu Lucas menjadi lumpuh, mandul dan ada masalah lain. Karena masalah itu, Aeza tak mungkin hamil. Saat ingin menikah dengan Lucas, satu tahun yang lalu, Aeza sangat sulit mendapat restu dari ayahnya. Hingga akhirnya dia mendapatkan restu, tetapi setelah itu ayahnya menjadi dingin padanya. Sekalipun ayahnya masih menuruti kemauannya, seperti membiarkan Lucas bekerja di perusahaan mereka. Namun, sikap ayannya tak hangat lagi padanya. Namun, beberapa minggu lalu, ayahnya datang ke rumah ini. Ayahnya mempertanyakan hubungan Aeza dan Lucas karena Aeza tak kunjung hamil. Ayahnya tiba-tiba meminta cucu dan mengharuskan agar secepatnya mendapatkan cucu dari Aeza. Jika Aeza hamil, maka ayahnya akan memberikan hadiah besar untuk Lucas. Sedangkan jika Aeza tak hamil dalam satu tahun ini, maka ayahnya akan memisahkan Aeza dari Lucas. Ayah Aeza sendiri sama sekali tidak tahu kalau Lucas mandul. Sebagai istri yang baik, Aeza menutup-nutupi hal itu karena menganggap masalah tersebut adalah aib untuk suaminya. Gara-gara masalah itu, Lucas menjadi panik dan … tiba-tiba ide gila ini muncul, di mana Lucas meminta Aeza agar tidur dengan pria lain supaya Aeza bisa hamil. Logika Aeza sebenarnya menolak melakukan hal ini. Bagiamana bisa seorang istri yang menjunjung tinggi martabat suaminya, membiarkan tubuhnya dinikmati oleh pria lain? Namun, hatinya yang lemah berkata … bukankah cinta harus berkorban? Suaminya sakit seperti saat ini, juga karena menyelamatkan Aeza, dan jika Aeza tak hamil maka dia akan kehilangan cintanya. Tapi tetap saja dia ragu dengan ide suaminya. "Kita bisa memikirkan cara lain, Mas," cicit Aeza, menatap suaminya dengan ekspresi sedih bercampur gelisah. Kehormatan dan harga dirinya dipertaruhkan dalam rencana gila suaminya ini. Dia sangat ragu! "Tidak ada cara yang lebih baik dari ini, Sayang." Lucas menoleh ke arah Aeza, menatap wajah cantik istrinya sambil memberikan senyum tipis yang lembut, "jika kau pura-pura hamil, Ayahmu akan dengan mudah mengetahuinya. Hanya dengan cara ini supaya kita bisa mengelabuhi Ayahmu, Aeza." Aeza terus menatap suaminya dengan raut muka sedih. Perasaannya campur aduk, egonya terluka sebagian perempuan yang menjunjung tinggi sebuah ikatan, dan dia mulai mempertanyakan dirinya. Apakah demi cinta dia akan mengorbankan harga dirinya? Air mata Aeza jatuh, bibirnya melengkung ke bawah. Dia mencoba untuk tak menangis, akan tetapi dia tidak bisa membendung air matanya lagi. "Apa Mas tega aku disentuh …-" Sebelum ucapan Aeza selesai, Lucas lebih dulu memotong. "Lalu kau mau berpisah dariku?" Aeza menggelengkan kepala secara kuat. Air matanya jatuh lebih deras, "aku akan jujur pada Ayah mengenai masalah kesehatan Mas Lucas. Ayah sangat menyayangiku, Ayah pasti akan mendengarkanku." "Jangan naif, Aeza." Suara Lucas menjadi lirih, "jelas-jelas memintamu hamil dalam satu tahun adalah cara Ayahmu untuk menyingkirkanku. Jika kau jujur padanya, maka itu akan menjadi alat untuk Ayahmu memisahkan kita." "Aku akan berlutut di depan Ayah. Dia tidak akan …." Aeza berkata lirih, air matanya terus jatuh. "Hah." Lucas tiba-tiba menghela napas, "sepertinya kau tidak mencintaiku lagi, oleh sebab itu kau tidak mau menjalankan rencana ini." "Aku mencintai Mas Lucas." Aeza berkata cepat. "Jika kau mencintaiku, maka kau akan berkorban. Sama seperti aku mengorbankan kaki dan harga diriku sebagai pria sejati, hanya demi menyelamatkanmu," dingin Lucas pada akhir kalimat, menatap tajam ke arah Aeza. Aeza langsung menundukkan kepala, mengepalkan tangan di atas pangkuan. Hatinya kembali terasa sakit, dadanya terasa sesak, dan pikirannya kacau. Dia kemudian melirik suaminya yang duduk di kursi roda, perasaan bersalah langsung menyelimuti hati Aeza. "Baiklah, a-aku setuju," cicit Aeza sangat pelan, bersama dengan perasaan takut yang menyelimuti hatinya. "Ahaahaa … terima kasih, Sayang. Aku tahu … aku sangat tahu kalau kamu memang sangat mencintaiku. Terima kasih banyak," ucap Lucas semangat, langsung meraih tangan Aeza lalu menggenggamnya secara mesra. "Oke, sekarang pilihlah siapa pria yang ingin kau jadikan teman tidurmu." Aeza menatap suaminya dengan ekspresi malu, hatinya kembali terasa sakit. Apakah demi cinta dan kesenangan pria ini, Aeza sanggup merendahkan dirinya sendiri? Aeza menarik napas secara dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia kemudian menoleh ke arah ke-sembilan bodyguard. Aeza memandang cepat tanpa memperhatikan secara intens pada para bodyguard itu. Dia merasa sangat malu! Tiba-tiba Aexa menutup mata, lalu mengangkat tangan. Dia menunjuk ke arah salah satu bodyguard, tepat pada seorang bodyguard dengan tubuh paling tinggi. Namun, wajah bodyguard itu cacat karena terdapat bekas luka bakar pada hampir sebagian wajah. "Aku memilihnya," ucap Aeza pelan. "Wah, pilihan yang bagus, Sayang. Hahhaha …." Lucas langsung tertawa karena pilihan istrinya. Sebenarnya itu bodyguardnya yang paling hebat. Tapi wajahnya rusak! Aeza membuka mata, menatap terkejut pada bodyguard yang ia pilih. Sedangkan bodyguard yang ia pilih tersebut, juga menunjukkan ekspresi kaget. "Maaf, Tuan." Tiba-tiba saja bodyguard bersuara, membuat Aeza kembali terkejut. Suara pria itu … berat dan dalam. Wajahnya memang cacat, akan tetapi suaranya tampan! 'Ah, tidak. Apa yang kamu pikirkan, Aeza! Ingat, kamu punya suami dan suami adalah yang terbaik di antara semua pria.' batin Aeza, langsung menundukkan kepala karena merasa bersalah telah memuji pria lain dalam hatinya. "Kenapa?" tanya Lucas dengan wajah datar. "Wajah saya begitu buruk, saya takut Nyonya tidak suka dan jijik apabila tidur dengan saya. Jadi saya menolak," ucap bodyguard tersebut secara sopan dan tegas. Aeza kembali mendongak, kembali menatap bodyguard itu lebih teliti dari yang sebelumnya. 'Nada bicaranya sangat sopan. Bahasa tubuhnya saat berbicara dengan Mas Lucas … terlihat sangat berwibawa.' batin Aeza, lagi-lagi tanpa sadar memuji sikap bodyguard tersebut. Bodyguard ini sudah satu tahun bekerja di sini, akan tetapi Aeza tidak terlalu memperhatikan. Baru kali ini! "Namamu Seven, bukan?" tanya Lucas. Dia tahu sebenarnya karena bodyguard ini cukup menonjol di karenakan kemampuan dan wajahnya. Lucas hanya ingin memastikan. "Ya, Tuan," jawab bodyguard tersebut, menunjukkan sikap tenang dan sopan. "Dari laporan yang diberikan kepercayaanku, kau sangat membutuhkan uang untuk membiayai adikmu yang sedang sakit parah. Aku butuh kau menghamili istriku dan kau butuh uang. Ini kesematanmu, Seven," ucap Lucas, menatap tajam pada bodygaurd tersebut. Dia berusaha mengintimidasi supaya bodyguard itu tunduk dan patuh padanya. "Saya memang ingin uang. Akan tetapi … saya tidak percaya diri dengan wajah saya ini." Seven berkata sopan sambil menatap ke arah Aeza yang juga sedang menatapnya. "Istriku membutuhkan spermamu, bukan wajahmu. Lagipula dengan wajah buruk rupamu ini, aku semakin yakin dengan rencanaku. Istriku tak akan tertarik padamu, jadi aku tidak perlu khawatir kalian melibatkan perasaan ataupun berselingkuh," ucap Lucas datar, melirik ke arah istrinya dengan senyum tipis di bibir. Aeza dan Seven sama-sama diam. "Karena pria yang akan menghamilimu sudah dipilih, maka …." Dengan isyarat, Lucas mengusir para bodyguard di sana–kecuali Seven yang tetap berdiri di tempatnya, "malam ini kau dan Seven harus tidur bersama.""Gilayah?" gumam Anaya sambil menatap tak habis pikir pada Larisa. Elma tiba-tiba datang, langsung menarik Anaya supaya menjauh dari hadapan Larisa yang sedang memohon. Dia mengambil tempat dengan berdiri di depan adiknya lalu menatap tajam pada Larisa. "Tolong berhentilah mengganggu adikku, Nona Larisa," tegas Elma, setelah itu menarik Anaya supaya pergi dari sana. Larisa segera berdiri, berniat mengejar Elma dan Anaya. Akan tetapi dia tidak bisa karena tiba-tiba perutnya cukup nyeri. Pada akhirnya dia membiarkan mobil itu pergi, tak mengejar karena dia tak sanggup. "Aku sudah memohon tapi kamu begitu angkuh, Anaya. Baiklah, terpaksa aku meminta sendiri pada Dominic supaya dia menikahiku," ucap Larisa dengan raut muka penuh dendam. Tetapi matanya terus menjatuhkan bulir kristal, ada ketakutan yang sedang ia sembunyikan. ***"Kenapa kamu tidak mendengarkanku, Anaya?!" marah Elma setelah mereka di dalam mobil. Ekspresi Elma terlihat serius, tatapannya tajam pada jalan. Namun, di
"Kakak ipar baik, kan, ke Kakak?" tanya Anaya dengan pelan dan kikuk, efek canggung pada kakaknya. Raut muka Elma terlihat kaget, langsung menatap tak percaya pada Anaya. "Kak-Kakak ipar?" gumannya sudah payah karena terlalu tak percaya kalau Anaya akan menyebut Rain dengan istilah kakak ipar. "Iya, Kak. Rain—kakak iparku." Anaya senyum tipis sambil menganggukkan kepala singkat pada kakaknya. "Oh-oh, dia baik padaku." Elma berkata gugup. "Jangan memanggilnya Kakak ipar, nanti dia marah padamu, Anaya." "Mana mungkin Rain marah, Kak. Malah dia yang menyuruhku untuk memanggilnya 'kakak ipar," jawab Anaya, "sebenarnya Rain … eh, Kakak ipar itu sudah lama suka pada Kakak." "Tidak perlu menghibur." Elma langsung berdiri, semakin gugup dan tak nyaman saat Anaya mengatakan hal demikian. Dia tahu Anaya hanya menghibur. Rain tak mungkin suka padanya. "Kakak keluar dulu. Kamu tunggulah di sini. Tuan Dominic akan segera kembali," ucapnya lalu segera beranjak dari sana. Sebenarnya Elma
"Ck, aku jadi malas di rumahmu, Kek," tambah Darren, duduk di kursi kosong dengan ekspresi kesal. Brak' William langsung memukul meja, membuat Anaya dan para perempuan tersentak kaget. Berbeda dengan para pria yang tampak tenang, sama sekali tak terganggu dengan gebrakan meja. William langsung menatap tajam pada Bianca, wajahnya tampak marah dan menakutkan. "Apa-apaan kau, Bianca?! Tidakkah seseorang mengajarimu sopan santun, Hah?!"Bianca tak menjawab, malah menatap ke arah mamanya untuk meminta bantuan. "A-Ayah, su-sudah menceritakannya padaku. Di-dia bilang ada suara aneh di dalam kamarnya dan dia ketakutan," ucap Baby dengan gugup. Dalam hati, dia mengumpati putrinya yang gila dan bodoh. Baru hari pertama, akan tetapi putrinya sudah berulah. Posisi mereka terancam! "Apapun alasannya tidak seharusnya Bianca bersikap demi kian," geram William. "Ma-maafkan aku, Kakek," ucap Bianca dengan nada muram. "A-aku hanya terlalu takut dan tak tahu harus ke mana. Ka-kamar Mama jauh.""B
"Apa?" Anaya menatap cengang pada Bianca. Ekspresinya tak bisa ia kendalikan, terlalu shock pada permohonan Bianca. "Kamu ingin tidur di sini, di kamar ini?" ulang Anaya, masih menunjukkan ekspresi konyol. Bianca menganggukkan kepala. "Aku juga terpaksa. Soalnya aku takut, Kak Anaya," ucap Bianca, mendadak memanggil Kak pada Anaya supaya Anaya tersentuh dan memperbolehkannya menginap di kamar ini. "Tunggu." Anaya menggaruk daun telinga, menatap semakin tak habis pikir pada Bianca, "sebelum kamu datang ke sini, kamu sudah pastiin nggak kalau otakmu terpasang dengan baik dan benar?" Wajah Bianca seketika muram, juga kesal karena merasa dikatain oleh Anaya. "A-aku minta tolong dengan baik-baik tapi kamu seperti merendahkan yah.""Lah kamu o'on." Anaya melayangkan tatapan sinis, "dari banyaknya kamar di rumah ini, tetapi kamu memilih ingin numpang di kamar yang ditempati oleh pasangan suami istri?""Masalahnya apa? Kak Dominic kan sepupuku," ucap Bianca setengah memekik, "dan karena






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore