LOGINMobil mewah Xavier berhenti tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan eksklusif yang memiliki toko mainan impor terbesar di kota. Tanpa membuang waktu, Xavier menggenggam jemari mungil Liora dan menuntun calon istrinya masuk ke dalam toko tersebut.John, sang asisten pribadi yang bertubuh tegap dan selalu berwajah stoik, mengekor di belakang dengan langkah sigap. Namun, begitu melangkah melewati pintu masuk, sepasang mata Liora seketika membelalak sempurna. Deretan rak tinggi yang menjulang penuh dengan berbagai jenis boneka—mulai dari boneka porselen bergaun megah, rumah boneka tiga lantai berlampu, hingga lemari mini berisi ratusan gaun cantik—menyambut pandangannya."X-Xavier... ini beneran?" bisik Liora hampir tak terdengar, suaranya bergetar menahan gejolak bahagia yang membuncah."Semuanya nyata, Sayang," sahut Xavier lembut seraya berbisik tepat di telinga Liora. "Ambil apa saja yang kamu suka. Hari ini, toko ini milikmu."Liora menjerit kecil kegirangan, lalu berlari kecil menu
Setelah Devi pamit meninggalkan ruang kerja dengan membawa sejuta enigma, Martin menarik napas panjang. Pengakuan tulus wanita itu serta kado jam tangan di atas meja seolah menjadi tampar penegas: justru orang luar yang lebih mengingat hari kelahirannya ketimbang istrinya sendiri. Dengan jemari yang sedikit bergetar, Martin menyambar ponselnya lalu menekan nomor putra sulungnya. Panggilan tersebut diangkat pada deringan kedua. "Halo, Papi? Ada apa?" sapa suara bariton Leon di ujung telepon. Martin berdeham pelan, mencoba menetralkan getar emosi di dadanya. "Leon... nanti malam bersiaplah. Papi mau mengajak kalian makan malam bersama di restoran." Leon di seberang sana sempat terdiam sejenak. "Makan malam? Dalam rangka apa, Pi?" "Hari ini ulang tahun Papi," sahut Martin singkat, menyisipkan nada getir yang halus. Hening menjerat jaringan telepon selama beberapa detik sebelum suara Leon terdengar menggeser kursi. "Selamat ulang tahun, Papi. Maaf Aku sempat lupa karena sibuk urusan
Martin duduk tegap di kursi kebesarannya. Ia menyalakan laptop, lalu mulai membaca lembar demi lembar draf kontrak kerja sama berskala besar yang rencananya akan dikirimkan kepada Dominic Group milik Xavier.Meskipun kondisi keuangan perusahaannya saat ini sedang berada di titik kritis, Martin menolak keras untuk sekadar mengandalkan belas kasihan.Ia berusaha mempertahankan sedikit harga dirinya yang masih tersisa. Jika mengingat seperti apa dirinya dulu, rasanya sangat memalukan. Ia bahkan tidak malu untuk mengemis kontrak kerja sama, atas perintah Leli. Pria paruh baya itu tidak ingin mengorbankan profesionalisme atau memanfaatkan status Xavier sebagai calon menantunya tanpa melalui proses seleksi ketat dari tim legal terlebih dahulu. Baginya, akan sangat memalukan jika ia menjual hubungan kekeluargaan demi mendapatkan tender sebesar itu.Di tengah kesibukannya memeriksa draf dokumen, gerakan jemari Martin di atas keyboard tiba-tiba terhenti.Pikirannya melayang kepada putri bungs
Genggaman tangan Xavier pada jemari mungil Liora membuat riuh bisik-bisik para calon mahasiswi di pelataran kampus seketika mereda. Dengan penuh kelembutan, sang taipan menuntun calon istrinya masuk ke dalam Maybach hitam mewah yang telah menunggu di depan gedung.Pintu mobil segera ditutup rapat oleh pengawal, mengisolasi mereka berdua dari tatapan kagum ratusan pasang mata di luar sana.Begitu mobil melaju mulus membelah jalanan, Xavier melepaskan jasnya dan menyingsingkan lengan kemeja putih hingga ke siku. Pria tegap itu kemudian merengkuh tubuh mungil Liora, membawanya bersandar nyaman di dada bidangnya sembari mengusap lembut rambut gadis itu.“Bagaimana ujiannya tadi, hm?” tanya Xavier. Suara baritonnya mengalun hangat di dekat telinga Liora.Liora menengadah. Sepasang mata jernihnya berbinar penuh semangat.“Lancar sekali, Xavier! Soal-soalnya mirip dengan yang aku pelajari selama di rumah. Aku yakin seratus persen nilaiku pasti bagus!”Xavier menyunggingkan senyum tipis yang
Mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Leon perlahan memasuki area pelataran parkir Universitas nomor satu di Indonesia. Di dalam mobil, suasana riuh rendah oleh ocehan Dion dan Leon yang sejak tadi tak henti-hentinya memberikan petunjuk dan semangat untuk adik bungsu kesayangan mereka."Ingat ya, Dek... Kerjakan yang mudah dulu. Jangan buru-buru, waktu ujiannya panjang kok," tutur Leon seraya mematikan mesin mobil dan menoleh ke belakang."Benar kata Kak Leon. Kalau ada soal yang membingungkan, pakai insting saja. Jangan sampai stres," tambah Dion seraya mengacak pelan puncak kepala Liora dengan gemas.Liora mengangguk-angguk anggun dengan senyum manis terukir di bibirnya. Wajahnya yang segar berbalut kemeja putih dan rok hitam membuat penampilannya terlihat begitu memesona namun tetap anggun dan polos.Ketiganya melangkah keluar dari mobil menuju gedung fakultas tempat ujian dilaksanakan. Kehadiran mereka bertiga seketika menarik perhatian dari ratusan calon mahasiswa baru yang mem
"Betul sekali, Kak Leon lebih bisa dipercaya," timpal Dion menyeringai tipis.Wajah Leli seketika memerah padam karena amarah melihat kedua putra kandungnya justru membela Liora. "Harus Mami yang simpan! Mami ini ibunya!"Liora memandang wajah mereka satu per satu, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan polos. "Aku... daripada ke Mami, sebenarnya lebih percaya ke Kak Leon sih. Soalnya Kak Leon terlihat lebih jujur. Atau Kak Dion juga boleh, walaupun kadang menjengkelkan, tapi Kak Dion baik dan jujur."Pukulan telak itu membuat raut wajah Leon dan Dion seketika semringah bangga."Nah, benar kan!" sahut Dion tertawa puas. "Kami laki-laki tidak akan memakainya untuk pamer. Dan kami juga tidak sedang butuh uang mendesak untuk menjualnya diam-diam. Kalau diberikan ke Mami... wah, rawan sekali! Sama saja seperti investasi bodong—uang masuk tidak akan pernah kembali! Diberikan ke Papi juga kasihan, lihat tuh raut wajah Papi."Martin yang disindir sama sekali tidak marah. Pria paruh
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k
"Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,







