Se connecterXavier tidak menyahut, ia justru menundukkan kepalanya sedikit, menghirup aroma wangi stroberi yang menguar dari rambut Liora. Tindakan spontan yang teramat manis dan romantis itu sukses membuat pipi Liora merona merah jambu karena malu ditonton di tempat umum.Ehem!Sebuah dehaman keras dan penuh penekanan memotong momen manis tersebut. Leon melangkah satu blok ke depan, melipat kedua tangannya di dada sembari melempar tatapan mata yang luar biasa tidak suka ke arah Xavier. Di sebelahnya, Dion juga melakukan hal yang sama; rahangnya mengeras, menatap tajam tangan Xavier yang masih betah mengunci pinggang adiknya."Sebentar lagi Liora akan sah menjadi istrimu, Xavier. Jadi tolong, jangan bersikap serakah seperti itu," ujar Leon dengan nada ketus yang tertahan. "Kami berdua ini adalah kakak kandungnya. Hari ini kami juga ingin menghabiskan waktu dan dekat dengan adik bungsu kami. Jangan langsung main bawa pergi saja.""Benar," timpal Dion tidak kalah sinis, matanya melotot ke arah geng
"Liora, selain tas, kamu mau apa lagi? Sepatu? Perhiasan? Atau baju baru?" tanya Leon beruntun, wajahnya tampak sangat bersemangat untuk memanjakan adiknya.Liora tersenyum dan kemudian menggeleng kepalanya. "Baju ku sudah banyak sekali dibelikan kak Dion.""Yang lain, apa?" Tanya Leon gemas. Apakah adik bungsunya itu tidak pandai menghabiskan uangnya?"Benar, Liora. Katakan saja apa yang kamu mau. Mau ganti ponsel baru? Atau kamu mau Kakak belikan mobil matik kecil untuk kamu pakai ke kampus nanti?" tambah Dion, ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Liora dengan mata berbinar-binar.Melihat antusiasme kedua kakaknya yang begitu meluap-luap, Liora buru-buru menggelengkan kepalanya sembari tersenyum manis. "Tidak perlu, Kak Leon, Kak Dion. Ini sudah lebih dari cukup. Tas ranselnya bahkan langsung dibeli dua sekaligus. Aku tidak butuh apa-apa lagi sekarang.. jujur saja, ini tas termewah dan termahal yang aku miliki. Tapi seharusnya kita tidak usah membeli yang seperti ini. Aku lebih suka
Xavier menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran Dominic Group, memutar-mutar ponsel pintar di jemarinya yang kokoh. Entah sudah berapa kali fokusnya terpecah dari tumpukan berkas di meja hanya karena terbayang wajah polos Liora. Mengulas senyum tipis, ia mulai mengetikkan sesuatu di layar. “Hai, calon istri. Lagi apa?” Setelah menekan tombol kirim, Xavier meletakkan ponselnya di atas meja, namun sepasang matanya tidak lepas dari benda persegi tersebut. Begitu status di pojok atas berubah menjadi 'typing...', ketidaksabaran mendadak terpancar jelas di wajah tampannya yang biasa sedingin es. Ting! Sebuah notifikasi masuk. Xavier dengan cepat menyambar ponselnya dan membaca pesan balasan itu dengan suara yang cukup keras di dalam ruang kerjanya yang sunyi. “Hai juga, calon suami. Aku sedang bersama Kak Leon dan juga Kak Dion.” Xavier terkekeh pelan. Rasa posesif yang menjadi ciri khas seorang Dominic mendadak terusik. Tanpa membuang waktu, jemarinya kembali menari lincah di
Xavier duduk tegap di balik meja kerja mahagoni miliknya yang megah di dalam ruang kerja pribadi Dominic Group. Lampu meja bercahaya temaram menyinari tumpukan berkas penting, namun fokus pria itu tidak sepenuhnya berada di sana. Jemari kokohnya bergerak ritmis, sesekali membolak-balik dokumen yang membutuhkan tanda tangan mutlak darinya sebagai penguasa tertinggi perusahaan.Ketukan pelan di pintu memecah keheningan ruangan. John, sang asisten pribadi yang selalu cekatan dan setia, melangkah masuk dengan langkah tegap bin teratur."Bos, saya sudah mendapatkan data serta melakukan survei langsung terhadap beberapa lahan perkebunan di luar kota, sesuai dengan instruksi yang Anda perintahkan kemarin," ujar John dengan sikap hormat yang kaku namun profesional.John melangkah mendekat, lalu menyerahkan sebuah tablet digital premium miliknya yang sudah menampilkan grafik, koordinat GPS, serta rangkuman aset.Xavier menghentikan aktivitas penanya. Ia bersandar pada kursi kulitnya yang nyama
"Lalu, tas seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan, Hm? Katakan pada Kak Leon," sahut Leon tiba-tiba, melangkah mendekat sembari menawarkan diri. Perasaan bersalah karena telah membedakan hadiah di antara kedua adiknya mulai merayap di dada Leon."Kakak yang belikan untuk mu. Kita cari besok," kata Deon. Liora menyunggingkan senyum tipis, lalu menunjuk ke arah atas tempat tidur barunya. Di sana, di sudut kasur yang rapi, terletak sebuah tas ransel kain berwarna hitam yang sudah sangat usang, pudar warnanya, dan beberapa bagian jahitannya sudah mulai terlepas. "Aku hanya ingin tas ransel biasa, Kak. Lihatlah, tas ransel milikku yang biasa kupakai sejak SMP, sudah sangat jelek dan hampir rusak."Melihat penampakan tas ransel usang milik Liora yang berbanding terbalik dengan tas puluhan juta milik Cynthia, hati Dion dan Leon seketika terenyuh. Di detik itu juga, kedua kakak laki-laki itu sepenuhnya percaya bahwa Liora sama sekali tidak bersalah dalam insiden ini. Bagaimana mungkin L
Liora kembali membuka suara, nadanya terdengar begitu sendu dan menusuk ulu hati siapa pun yang mendengarnya. "Kak Leon... Sejak lahir hingga sekarang, aku sadar kalau aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau barang apa pun dari kalian berdua. Sebuah kado ulang tahun sederhana sekalipun... aku sangat ingin merasakannya, meski mungkin hanya diberikan satu kali saja dalam seumur hidupku. Tapi, aku tahu diri. Aku tidak pernah mengharapkan sebuah kado mewah dengan nilai nominal yang gila-gilaan seperti milik Kak Cynthia."Liora menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman geli di balik akting sedihnya. "Bagi Liora, yang terpenting itu adalah rasa nyaman dan kegunaan saat memakai sesuatu. Aku tidak akan pernah tega menuntut kado super mahal yang sampai bisa membuat keuangan perusahaan Kakak goyah atau membuat utang bank Kakak bertambah demi gengsi semata."Leon kembali tertegun, kalimat sindiran halus Liora tentang 'utang bank dan keuangan perusahaan' terasa menyentil egonya sebaga







