MasukEveline, mahasiswi bisnis semester akhir yang hamil karena kesalahan masa lalu, nyaris menggugurkan kandungannya demi mempertahankan mimpi keluarga. Hingga sahabat ayahnya, Kael, menghentikannya dan menawarkan pernikahan kontrak demi menyelamatkan reputasinya. Kael setia mendampingi selama tiga tahun penuh perjuangan. Tiga tahun kemudian, saat Eveline mulai membuka hati pada Kael dan hidupnya tampak membaik, Alvaro—kekasih yang dulu pergi tanpa pamit—kembali membawa luka lama yang belum sembuh. Namun kali ini, Eveline tak hanya berhadapan dengan cinta yang rumit, tapi juga ancaman nyata: keluarga Alvaro berusaha merebut hak asuh anaknya. Di antara masa lalu yang menyakitkan, masa kini yang rapuh, dan masa depan yang tak pasti, Eveline harus memilih—bukan hanya siapa yang ia cintai, tapi juga siapa yang pantas menjadi ayah bagi buah hatinya.
Lihat lebih banyak"Aku bilang berhenti!" Suara Kael menggema keras. Suasana seketika hening. Melihat tatapan Kael yang tajam dan menusuk, nyali mereka langsung ciut. Kael membentangkan kedua tangannya. Tubuhnya yang tegap seolah memblokir penuh jalan masuk. "Tunggu di sini! Kalian cuma boleh sampai di sini. Kalau berani masuk, aku bakal bikin kalian semua yang ada di sini bener-bener menyesal!" Setelah melontarkan ancaman yang memaksa mereka menunggu, Kael kembali menatap sang istri, memastikan Eveline tenang. "Tunggu di sini, Sayang. Aku pastikan Sienna bakal kembali ke kita. Tapi untuk sekarang, aku minta kamu sabar dulu," ucap Kael, berusaha membuat istrinya mengerti. Eveline tetap menggeleng. Namun, Kael tak punya pilihan. Jika mereka menolak atau menghalangi pihak pengadilan dan menentang putusan Mahkamah Agung, penjara sudah menanti mereka. Dia dan Eveline hanya bisa mengalah untuk menang. Dengan langkah berat, Kael mulai melangkah masuk untuk menghampiri Sienna di kamarnya. Tangisan Eveli
"Nggak, nggak boleh! Mereka nggak boleh bawa Sienna." Tangis Eveline kembali pecah saat mendengar suara beberapa mobil mendekat. Tatapannya mendadak gelap, seolah dunianya tak lagi memiliki cahaya. Kedua tangannya mencengkeram lengan Kael dengan kuat hingga ujung kukunya memutih. "Tahan mereka. Mereka nggak boleh bawa Sienna, nggak boleh!" Mata Eveline tertuju jauh ke arah pintu. Ia begitu takut jika tiba-tiba mereka datang untuk membawa pergi putrinya. Kael yang melihat sang istri makin hilang kendali langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Dia memeluknya erat demi membatasi gerak Eveline. "Lepas, Kael! Aku harus bawa Sienna pergi, kita harus pergi sekarang juga!" Kael mengendurkan pelukannya, lalu menatap sang istri. "Eve, lihat aku. Kamu harus tenang. Aku bakal keluar buat hadapi mereka. Kamu di dalam aja, temani Sienna, ya?" Mendengar ucapan yang menenangkan itu, Eveline mengangguk patuh. Perlahan ia bangkit dibimbing Kael. Dengan langkah gemetar dan terus-menerus menengok
Eveline dan Kael memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Pikiran mereka benar-benar kacau, nasib anak mereka tengah dipertaruhkan. Begitu mobil berhenti di area parkir, Eveline langsung melompat keluar dan berlari ke dalam rumah. Ia mencari sosok mungil yang sangat disayanginya—gadis kecil yang dulu selalu ia nantikan sejak masih dalam kandungan. Air matanya sudah bercucuran. Langkah kakinya yang tergesa-gesa tak lagi menghiraukan halangan di depannya. "Sienna!" teriaknya histeris hingga suaranya pecah. Matilda yang tengah menemani cucunya di kamar sontak terkejut mendengar teriakan itu. Tanpa berpikir panjang, dia refleks menggendong Sienna keluar menghampiri sumber suara. "Kamu di mana, Sayang!" Kael ikut kalang kabut menyusul dari belakang. Dia menyejajarkan langkah, memastikan istrinya tidak tersandung atau jatuh. Kedua tangan Kael siap siaga menadah tubuh sang istri. "Eve, pelan-pelan!" Namun, Eveline tak mengindahkannya sama sekali. Ia terus melangkah menelus
"Aku nggak terima sama keputusan ini, kalian iblis!" Eveline benar-benar murka. Amarahnya tak lagi dapat ia bendung. Begitu para hakim dan jaksa meninggalkan ruangan, Eveline langsung mengamuk. Dengan emosi yang memuncak, ia berlari ke arah Alvaro lalu mencengkeram kuat kerah bajunya. "Kamu benar-benar licik, Al! Kamu manfaatin kelemahanku cuma buat ambil Sienna dariku. Tega kamu, ya!" Alvaro menarik paksa tangan rapuh yang mencoba mengancamnya itu. "Eve, aku kan udah kasih kamu penawaran, tapi kamu tolak mentah-mentah. Tapi tenang aja, belum terlambat kok kalau kamu mau balik sama aku." "Apa kamu bilang? Balik?" potong Valencia dengan nada sangsi. Alvaro seketika bungkam dan mendadak panik—hal yang justru membuat Eveline merasa makin jijik. Pria plin-plan sepertinya memang tak layak untuk dicintai. Eveline segera mundur beberapa langkah, seolah takut tertular penyakit mematikan dari mereka. Ia hanya menatap dingin ke arah Alvaro dan Valencia yang justru malah asyik berdeb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan