로그인Eveline, mahasiswi bisnis semester akhir yang hamil karena kesalahan masa lalu, nyaris menggugurkan kandungannya demi mempertahankan mimpi keluarga. Hingga sahabat ayahnya, Kael, menghentikannya dan menawarkan pernikahan kontrak demi menyelamatkan reputasinya. Kael setia mendampingi selama tiga tahun penuh perjuangan. Tiga tahun kemudian, saat Eveline mulai membuka hati pada Kael dan hidupnya tampak membaik, Alvaro—kekasih yang dulu pergi tanpa pamit—kembali membawa luka lama yang belum sembuh. Namun kali ini, Eveline tak hanya berhadapan dengan cinta yang rumit, tapi juga ancaman nyata: keluarga Alvaro berusaha merebut hak asuh anaknya. Di antara masa lalu yang menyakitkan, masa kini yang rapuh, dan masa depan yang tak pasti, Eveline harus memilih—bukan hanya siapa yang ia cintai, tapi juga siapa yang pantas menjadi ayah bagi buah hatinya.
더 보기"Aborsi? Apa Ibu yakin?"
Siang itu, Eveline Sinclair memilih Klinik kecil di pinggiran kota untuk menggugurkan kandungannya. Karena terlena akan bualan manis sang pacar, Eveline harus menanggung semua sendiri.
Sang pacar, Alvaro Danendra justru tidak mau bertanggung jawab. Hanya meninggalkan sebuah pesan singkat, ‘Aku belum siap’, sebelum dia benar-benar lenyap.
Eveline mengangguk mantap. Kedua netranya menatap penuh tekad. Walau hatinya terluka, Eveline harus siap.
Kedua tangan Eveline mengepal kuat di bawah meja. Tanpa ragu ia menjawab, "Iya, Dok! Saya udah ribuan kali mikirnya. Saya udah bener-bener yakin."
Dokter tak langsung mengiyakan. Tangannya menunjuk setitik kecil di layar monitor USG.
"Bisa lihat ini, Bu! Yang kecil itu anak Ibu," ungkap Dokter berusaha mengubah pendirian Eveline. "Kandungan ibu udah 3 minggu loh. Sehat juga bayinya.”
Dokter berhenti bicara sesaat. Membiarkan Eveline meresapi omongannya. “Gimana? Masih mau aborsi?"
Eveline menatap layar itu lekat-lekat. Bibir bawahnya digigit kuat, meredam rasa sakit hati yang seolah tersayat kembali. Kalau boleh, ia juga tidak ingin melakukan ini.
Namun saat mengingat ayah dari bayinya, kilatan mata Eveline kembali membara. Alvaro, lelaki yang ia kira tulus, ternyata seorang pengecut.
Eveline duduk perlahan. Sorot matanya kembali kuat. "Saya udah yakin, Dok. Saya mau aborsi!"
Dulu, Eveline merasa sangat beruntung dicintai Alvaro.
Tak hanya tampan, Alvaro juga berprestasi dan memiliki masa depan yang cerah. Berasal dari keluarga berada, bahkan tengah mengambil S2 jurusan hukum.
Eveline mengira hidupnya yang susah akan berubah. Ia hanya gadis dari desa kecil yang memiliki mimpi ingin mengubah nasib.
Namun, kini Eveline sadar. Menggantungkan nasib ke orang lain itu tidaklah benar. Sekarang ia berniat meraih kesuksesan dengan usahanya sendiri walau harus mengorbankan sesuatu yang berharga.
Dokter itu menghela nafas panjang seolah pasrah dengan keputusan Eveline. "Ya sudah. Kalau gitu saya akan ambil tindakan kuret ya, Bu."
Eveline menelan ludahnya. Harga yang harus ia bayar karena keputusan bodohnya, karena percaya dengan ucapan berbisa seorang pria.
Suster membawa Eveline ke ruang tindakan.
Begitu kaki Eveline melangkah masuk, hawa dingin seolah menusuk. Aroma antiseptik menguar kuat.
Alat medis berjejer rapi di atas meja. Entah mengapa jantung Eveline berpacu lebih cepat.
"Ibu baring di sini, ya!" pinta suster sambil menunjuk ke arah ranjang tindakan.
Eveline melangkah pelan menuju ranjang dan mulai berbaring di atasnya. Tak lama dokter masuk dengan APBD lengkap.
Suasana seketika sunyi. Deritan pintu yang tertutup seolah menjadi terompet kematian.
"Rileks ya, Bu!" kata dokter mencoba menenangkan.
Dokter mulai menyuntikkan anastesi. Eveline menarik nafas panjang.
Namun, saat alat kuret nyaris menyentuh area intimnya, pintu ruangan dibuka paksa dari luar.
Brak!
"Berhenti!"
Seorang pria bertubuh atletis berteriak keras dari ambang pintu.
Seketika semua orang terkesiap. Pandangan mereka tertuju pada pria yang entah dari mana datangnya.
“Penjaga! Pada ke mana penjaga klinik?!” pekik Dokter tersebut, panik. “Anda tidak bisa sembarangan masuk ke sini, Pak!”
Bahkan para suster langsung menghindar ketakutan.
Namun, si pendobrak mengabaikan ucapan sang dokter.
Dengan gerakan kuat, pria itu langsung menggendong Eveline. Tanpa banyak kata, dia membawa Eveline keluar begitu saja.
Pikiran Eveline masih setengah sadar saat pria itu membawanya pergi. Kedua tangannya mencengkeram kuat kemeja yang menutupi dada bidang pria tersebut. Ia berusaha melepaskan diri dengan memukul dada pria itu, tetapi pria itu tetap bergeming.
"Lepas! Anda mau ngapain?!"
Lelaki yang menggendongnya itu pun menurunkan Eveline perlahan di kursi tunggu. Sorot matanya tajam, tetapi Eveline bisa melihat ada sedikit kesedihan di sana.
Pria itu kembali memegang tangan Eveline. “Aku mau bawa kamu pergi dari sini."
"Anda siapa? Ngapain ganggu aku?"
Eveline semakin bingung dengan pria di hadapannya. Ia berusaha mengingat pria itu, tetapi benar-benar tak mengenalnya.
Semakin ketakutan, Eveline terus berusaha melepaskan genggaman tangan lelaki itu.
"Lepas! Atau aku teriak!" ancam Eveline.
“Oke, Oke! Jangan teriak, Eve!" Pria itu akhirnya melepas tangannya.
Kemudian, ia lanjut memperkenalkan diri, "Kamu tenang dulu. Aku Kael Arlo Sagara, teman lama ayahmu."
Air mata Eveline merembes mendengar kalimat terakhir itu. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan sosok sang ayah.
"Teman ayahku?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Kael mensejajarkan tubuhnya dengan Eveline. Berusaha menatap kedua netra yang kini berlinangan air mata. Kemudian mengangguk lembut.
"Iya. Aku teman ayahmu. Kamu bisa panggil aku Kael atau Om Kael. Aku cuma mau nyelametin kamu dari rasa bersalah, Eveline," tutur Kael, volume suaranya semakin pelan. "Kalau kamu jadi menggugurkannya, kamu bisa menyesal seumur hidup, loh."
Tubuh Eveline seketika menegang. Bagaimana bisa pria asing di depannya itu tahu kalau dirinya tengah hamil.
“Om Kael? Om mata-matain aku?"
Kael melengos, menghindari tatapan menuduh dari Eveline.
"Aku cuma mau mastiin kamu aman," akunya. "Itu juga termasuk amanat ayahmu. Jadi jangan gugurkan bayimu."
Eveline tidak pernah tahu kalau dirinya begitu berharga bagi Kael. Ia juga tidak pernah menyadari bahwa selama ini gerak-geriknya selalu diawasi. Beasiswa penuh yang selalu ia dapatkan, itu juga tak lepas dari pengaruh Kael.
Bulir bening menetes dengan deras ke pipi Eveline. Dadanya bergemuruh. Ia mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi saat ia memilih menggugurkan bayinya.
“Om nggak ngerti apa yang aku alami. Enak Om bilang kayak gitu. Tapi kalau aku pertahanin, gimana aku mau ngadepin orang-orang?!”
Helaan nafas pelan keluar dari mulut Kael yang mencoba mengerti posisi Eveline. “Tapi Eveline. Anak itu gak salah. Anak itu nggak bisa milih lahir dari rahim siapa. Tapi saat dia sudah hadir, kamu justru ingin merenggutnya.”
Eveline terus saja meremas ujung bajunya hingga jari kukunya memutih. Pandangannya kabur karena air mata. Entah mengapa, yang dikatakan Kael benar-benar mengenai hatinya.
Kerinduan akan ayahnya seolah terobati dengan kedatangan pria asing itu. Namun, Eveline takut. Takut menghadapi dunia dengan keadaannya sekarang.
“Terus aku harus gimana? Gimana aku mau lanjutin kuliah? Gimana aku ngadepin Ibuku?” isaknya semakin kencang.
Eveline meringkuk, isakannya semakin kencang. Kael mendekat saat dia ingin mengusap puncak kepala Eveline dia berhenti.
"Ayo, kita menikah!”
"Apa katamu? Siapa yang batalin pesanan, Geb?" Pikiran Eveline berputar cepat. Ia bahkan tidak berani menerka-nerka, sebab memang banyak pesanan aksesori dari orang-orang kalangan penting. "Lihat, Bu!" Geby memperlihatkan layar iPad-nya. "Tiba-tiba aja pihak Valencia membatalkan pesanan cincinnya. Mereka bahkan nggak kasih alasan apa pun." Mata Eveline membelalak, urat lehernya menegang. Cincin di tangannya ia remas kuat hingga ujung kukunya memutih. Cincin itu bukan sekadar perhiasan biasa. Ada dedikasi penuh dari para pengrajin hingga bisa menciptakan sepasang cincin yang begitu memukau. Namun, Valencia dan Alvaro bahkan tidak bisa menghargai itu. Eveline meletakkan kembali cincin tersebut ke dalam kotaknya. Napasnya yang sempat tersengal berangsur menenang. "Coba hubungi lagi. Sebenarnya mau mereka apa, sih?" "Baik, Bu." Geby bergegas mengirim pesan. Namun, setelah menunggu beberapa menit, tidak ada satu pun balasan. Geby menoleh dengan tatapan lesu, lalu perlahan menggelen
"Sienna ... kamu di mana, Sayang?" Dada Eveline seketika berdegup kencang. Matanya, menyapu ke sekeliling demi mencari keberadaan sang anak. Ia tidak peduli dengan hal lain. Kini ketakutan terbesarnya adalah keselamatan Sienna. Keamanan putri kecilnya adalah yang utama, dan Eveline tidak akan membiarkan siapa pun merenggut Sienna dari sisinya. "Sienna ... " rintihnya pelan. Pak Satpam yang mulai ikut panik melangkah mendekat. "Tenang dulu, Bu. Siapa tahu putrinya dijemput sama ayahnya?" "Nggak, Pak. Suami saya lagi sibuk. Dia juga udah bilang kalau nggak bisa jemput." Mendengar itu, Pak Satpam makin cemas. Ia mulai menyisir area sekitar, berharap menemukan keberadaan Sienna. Di tengah rasa paniknya, Eveline buru-buru mengambil ponsel. Dengan terpaksa ia menghubungi Kael, seseorang yang sebenarnya tidak ingin ia repotkan, karena ia tahu pria itu sedang memimpin rapat penting. "Halo, Kael?" "Iya, Eve. Ada apa?" sahut Kael. Nada suaranya terdengar agak parau. Eveline sempat ter
’Kurang ajar kamu, Eveline!’ Ternyata Valencia lah yang tak sengaja mendengar pembicaraan Eveline dan Alvaro. Tangannya sudah mengepal kuat-kuat, menahan amarah. ‘Nggak ada yang boleh rebut Alvaro dari aku, termasuk kamu, Eveline!’Valencia tidak menyangka bahwa Eveline adalah mantan kekasih Alvaro. Percakapan dua mantan kekasih itu benar-benar membakar api cemburu di hatinya.Selain terkenal sebagai gadis ambisius, Valencia memiliki gengsi tinggi. Dia tidak akan rela jika pria yang diinginkannya justru menginginkan wanita lain.Dari arah belakang, Geby menatap heran ke arah Valencia yang hanya berdiri di dekat pintu yang sedikit terbuka itu. "Kak, kok nggak masuk?"Valencia tersentak mundur beberapa langkah. Dia mengibas bajunya yang mengkerut dengan sikap angkuh."Nggak apa-apa, kok." Perlahan dia mendorong pintu ruang rapat.Begitu kakinya melangkah, sorot matanya langsung tajam mengarah ke Eveline. Tidak ada rona ramah sama sekali.Eveline sadar akan perubahan sikap Valencia, tet
"Alvaro!" ucap Eveline lirih.Pandangan mereka saling mengunci. Beberapa detik waktu seakan berhenti. Napas Eveline kembang kempis berusaha menahan gejolak amarah di dadanya."Lho? Kalian saling kenal?" celetuk Valencia, tunangan Alvaro.Valencia menatap curiga ke arah Eveline dan Alvaro.Eveline tersentak dari lamunannya, kemudian buru-buru mengelak. "Oh! Nggak kok, Kak. Mana mungkin saya kenal. Saya kira tadi orang lain."Valencia mengangguk, tetapi hatinya masih ragu. Apa yang dilihatnya berbeda dengan yang diucapkan. Bahkan ia menangkap tatapan Alvaro seperti menatap seseorang yang sangat dia rindukan.Eveline mengulurkan tangan. "Saya Eveline, pemilik Galeri Perak Dante. Panggil saja Eve."Valencia menyambut uluran tangan Eveline. "Valencia."Namun, saat bersalaman dengan Alvaro, buru-buru Eveline menarik tangannya."Ayo masuk. Kita bahas pesanan cincin kalian," ucap Eveline berusaha tetap profesional.Valencia melangkah masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan, sedangkan A
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.