FAZER LOGINMobil mewah Xavier akhirnya berhenti mulus di halaman rumah Bibi Nina yang asri. Xavier tak langsung membukakan pintu atau membangunkan Liora. Pria tegap itu justru bergeming, membiarkan tubuhnya tetap menjadi sandaran nyaman seraya menatap lekat-lekat wajah polos calon istrinya yang masih tertidur lelap. Udara tenang di sekitar rumah Bibi Nina seolah menambah kehangatan suasana.Mendengar deru mesin mobil di luar, Bibi Nina yang mengenakan daster rumahan bergegas berlari kecil menuju halaman. Dengan senyum lebar di wajah keriputnya yang hangat, pengasuh setia itu membuka pintu mobil di sisi Liora."Ya ampun... dia tidur?" bisik Bibi Nina terkekeh pelan seraya menutup mulutnya. "Apa dia sangat lelah setelah ujian, Tuan Xavier?"Xavier menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. "Sepertinya iya, Bi. Dia sangat kelelahan."Usapan lembut tangan Bibi Nina di pipinya serta aroma minyak kayu putih khas pengasuhnya itu perlahan mengusik tidur Liora. Lenguhan halus terdengar dari bibir mun
Xavier tidak bisa menyembunyikan senyum hangat di wajahnya tiap kali melihat raut bahagia Liora. Binar gembira di mata gadis itu seolah menjadi penawar dari segala kepenatan dan kedinginan dunianya."Kado untuk Papimu sudah siap," ujar Xavier lembut sambil mengusap pelan puncak kepala Liora. "Sekarang, kamu mau ikut aku ke kantor atau mau aku antar pulang?"Xavier paham betul Liora pasti sangat lelah setelah menempuh ujian kampus yang menyita pikiran sejak pagi, ditambah lagi maraton belanja yang cukup menguras tenaga.Liora mengulas senyum manis, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan kekar Xavier. "Aku mau pulang ke rumah Bibi Nina... Aku rindu sekali dengan Bibi Nina."Tidak dipungkiri, Liora sudah sangat merindukan sosok wanita hangat yang merawat dan mengasuhnya sejak bayi itu. Liora memang butuh istirahat, namun bayangan harus berhadapan dengan Leli dan Cynthia di rumah utama Martin seketika membuat selera dan energinya menguap. Rumah Bibi Nina adalah tempat teraman baginya un
"Mami, aku minta uang..." rengek Cynthia dengan nada teramat iba tatkala Leli baru saja melangkahkan kaki ke dalam kamar mewahnya.Wajah Cynthia tampak sangat menyedihkan. Matanya sembab dan bengkak akibat terlalu banyak menangis sejak semalam. Rumah ini benar-benar tak lagi terasa nyaman baginya. Jika dulu satu tetes air matanya saja sanggup membuat seluruh isi rumah panik setengah mati, kini bahkan saat matanya membengkak sekalipun, tak ada satu orang pun yang peduli.Leli terdiam mematung. Ditatapnya raut kusam putri kesayangannya itu dengan rasa bersalah yang menggerogoti dada. "Bukannya Mami tidak mau memberimu uang, Sayang... tapi Mami juga benar-benar tidak pegang uang tunai sama sekali. Kamu kan tahu sendiri, semua kartu kredit dan rekening kita sudah dibekukan total oleh Papimu.""Lalu mau sampai kapan kita seperti ini, Mi?! Aku tidak bisa kalau terus-terusan begini!" jerit Cynthia frustrasi, air matanya kembali menetes deras. "Aku tidak mungkin selamanya mengurung diri di da
Mobil mewah Xavier berhenti tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan eksklusif yang memiliki toko mainan impor terbesar di kota. Tanpa membuang waktu, Xavier menggenggam jemari mungil Liora dan menuntun calon istrinya masuk ke dalam toko tersebut.John, sang asisten pribadi yang bertubuh tegap dan selalu berwajah stoik, mengekor di belakang dengan langkah sigap. Namun, begitu melangkah melewati pintu masuk, sepasang mata Liora seketika membelalak sempurna. Deretan rak tinggi yang menjulang penuh dengan berbagai jenis boneka—mulai dari boneka porselen bergaun megah, rumah boneka tiga lantai berlampu, hingga lemari mini berisi ratusan gaun cantik—menyambut pandangannya."X-Xavier... ini beneran?" bisik Liora hampir tak terdengar, suaranya bergetar menahan gejolak bahagia yang membuncah."Semuanya nyata, Sayang," sahut Xavier lembut seraya berbisik tepat di telinga Liora. "Ambil apa saja yang kamu suka. Hari ini, toko ini milikmu."Liora menjerit kecil kegirangan, lalu berlari kecil menu
Setelah Devi pamit meninggalkan ruang kerja dengan membawa sejuta enigma, Martin menarik napas panjang. Pengakuan tulus wanita itu serta kado jam tangan di atas meja seolah menjadi tampar penegas: justru orang luar yang lebih mengingat hari kelahirannya ketimbang istrinya sendiri. Dengan jemari yang sedikit bergetar, Martin menyambar ponselnya lalu menekan nomor putra sulungnya. Panggilan tersebut diangkat pada deringan kedua. "Halo, Papi? Ada apa?" sapa suara bariton Leon di ujung telepon. Martin berdeham pelan, mencoba menetralkan getar emosi di dadanya. "Leon... nanti malam bersiaplah. Papi mau mengajak kalian makan malam bersama di restoran." Leon di seberang sana sempat terdiam sejenak. "Makan malam? Dalam rangka apa, Pi?" "Hari ini ulang tahun Papi," sahut Martin singkat, menyisipkan nada getir yang halus. Hening menjerat jaringan telepon selama beberapa detik sebelum suara Leon terdengar menggeser kursi. "Selamat ulang tahun, Papi. Maaf Aku sempat lupa karena sibuk urusan
Martin duduk tegap di kursi kebesarannya. Ia menyalakan laptop, lalu mulai membaca lembar demi lembar draf kontrak kerja sama berskala besar yang rencananya akan dikirimkan kepada Dominic Group milik Xavier.Meskipun kondisi keuangan perusahaannya saat ini sedang berada di titik kritis, Martin menolak keras untuk sekadar mengandalkan belas kasihan.Ia berusaha mempertahankan sedikit harga dirinya yang masih tersisa. Jika mengingat seperti apa dirinya dulu, rasanya sangat memalukan. Ia bahkan tidak malu untuk mengemis kontrak kerja sama, atas perintah Leli. Pria paruh baya itu tidak ingin mengorbankan profesionalisme atau memanfaatkan status Xavier sebagai calon menantunya tanpa melalui proses seleksi ketat dari tim legal terlebih dahulu. Baginya, akan sangat memalukan jika ia menjual hubungan kekeluargaan demi mendapatkan tender sebesar itu.Di tengah kesibukannya memeriksa draf dokumen, gerakan jemari Martin di atas keyboard tiba-tiba terhenti.Pikirannya melayang kepada putri bungs
Xavier memandang Liora beberapa saat tanpa berbicara.Sorot matanya tenang. Namun tajam. Seolah sedang mencoba membaca isi kepala gadis di depannya.“Jadi,” ucapnya pelan, “apa kau benar-benar siap menjadi istriku?”Xavier bertanya sekali lagi, hanya untuk memastikan.“Iya.”Jawaban Liora singkat.
“Dan pria yang tidak tahu cara berterima kasih,” balas Liora datar.Beberapa tamu mulai saling berpandangan. Tidak ada yang menyangka seorang gadis muda berani berbicara dengan Xavier Dominic, tanpa ada rasa takut. Tatapan mata gadis itu juga tajam, seakan ia sedang menantang. Apakah gadis malang
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e







