Share

Identitas yang Terbongkar

Penulis: Rieyaz Muyas
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-29 14:27:47

 "Kenapa pagiku bisa sesial ini? Kenapa lelaki brengsek itu muncul di perkebunan sepagi ini? Sial sekali!"

Alia menarik stroller apelnya sambil sesekali melirik kearah Dirga yang tengah berdiri mengawasi kegiatan panen raya hari ini. Dia memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak ketahuan.

 "Kenapa Tuan besar itu ada disini pagi-pagi?" tanya Alia pada Mala.

 "Kata bos, dia hari ini ingin menyaksikan sendiri proses panen dan mengecek kualitasnya."

 "Apakah dia gila? Bukankah seharusnya dia duduk tenang di kantornya yang nyaman dan hanya perlu memerintahkan bawahannya."

 "Kamu tahu Keysa, kata bos......pria itu akan mendirikan perusahaannya disini dalam waktu dekat ini dan akan menetap disini dalam beberapa bulan atau beberapa tahun."

 "Apa?!"

Teriakan Alia membuat semua mata tertuju kepadanya seketika.

 "Pelankan suaramu! Kamu menghindarinya kemarin, apa kamu ingin dia menghampirimu sekarang?"

 "Maafkan aku. Tapi kenapa dia melakukan hal itu?"

 "Aku dengar-dengar nih, katanya dia sedang mencari istrinya yang kabur dari rumah. Aku heran, kenapa istrinya meninggalkannya."

 "Mungkin istrinya punya alasan tertentu."

 "Aku dengar juga, katanya dia sudah mencari istrinya tiga tahun terakhir ini. Sepertinya dia sangat mencintai istrinya. Andai saja aku bisa dicintai oleh lelaki seperti itu, pasti aku sangat beruntung."

 "Belum tentu, buktinya saja istrinya meninggalkannya begitu saja."

 "Apakah sangat menyenangkan membicarakan seseorang?"

Mereka berdua terkejut mendapati Dirga sudah berdiri diantara mereka berdua. Mereka cepat-cepat menunduk dan melangkah mundur.

 "Maafkan kami, Tuan Dirga. Kami tidak bermaksud membicarakan anda."

 "Hmmmm.. Pergilah."

Meraka berdua segera berjalan meninggalkan Dirga.

 "Tunggu! Nona yang pakai topi tetap tinggal di sini"

Deg..! Darah mengalir dengan cepat melewati pembuluh darah Alia. Dia membalikkan badannya kearah Dirga. 

 "Ada apa, Tuan?"

Dirga menarik tangan Alia dan melingkarkan tangannya dipinggang Alia dengan erat serta melepaskan topi yang Alia kenakan sehingga membuat rambutnya yang panjang terurai dengan indah.

 "Aku tahu itu kamu. Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku!"

 "Maaf, Tuan. Apa yang anda maksud? Bisakah anda melepaskan saya? ini sungguh tidak pantas."

 "Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Jadi, lebih baik kamu patuh dan menurut."

 "Maaf, Tuan. Sepertinya anda salah mengira." Alia terus berusaha melepaskan diri dari Dirga.

 "Alia!" Dirga menarik masker yang dikenakan Alia.

Alia cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka semua yang dia lakukan selama ini akan sia-sia.

Dirga melepaskan tangannya dari pinggang Alia, menatap wajah Alia. Kemudian hal yang tidak Alia sangka akan dilakukan oleh Dirga terjadi dihadapannya.

 "Maafkan aku, Alia. Kembalilah bersamaku! Aku sudah mencarimu selama ini." Ucap Dirga sambil bersimpuh dihadapan Alia.

 "Aku tidak mau! Pergilah! Aku sangat jijik melihatmu disini." ucap Alia sembari berpaling dan berjalan meninggalkan Dirga  begitu saja.

Dirga bangkit dan kemudian mengangkat tubuh kecil Alia dipundaknya dan membawanya dengan paksa.

 "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Kejadian itu disaksikan oleh Mala dan rekan kerja lainnya. Mala segera berlari untuk meminta pertolongan, dia khawatir terjadi sesuatu pada Alia.

Dirga membawa Alia sebuah ruangan dan menguncinya dari dalam.

 "Kamu gila?!" hardik Alia.

 "Iya! Aku gila!"

 "Kamu keterlaluan! Buka pintu itu sekarang, Dirga!"

 "Jika aku tidak melakukannya, apa yang akan kamu lakukan?!"

 "Aku akan berteriak!"

Dirga mencengkram leher Alia dan mendorongnya di dinding.

 "Lakukan! Teriaklah sekencang mungkin!"

Tatapan mata Dirga terliaht begitu beringas. Alia sudah tidak dapat menghindar bahwa identitasnya sudah terbongkar dan merasa tidak ada yang perlu dia sembunyikan lagi.

 "Tolong! Apa ada orang diluar? Tolong!"

Bibir Dirga mendarat dengan lembut di bibir Alia dan melumatnya perlahan.

 "Brengsek!" Teriak Alia

 "Silahkan teriak! maka setiap teriakanmu, aku akan memberikanmu sebuah ciuman."

Alia menggigit bibirnya untuk menahan amarahnya.

 "Apa yang kamu inginkan!" tanya Alia.

 Dirga melepaskan cengkaraman tanganya di leher Alia.

 "Mari kita bicarakan baik-baik." ucap Dirga.

 "Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita berdua."

 "Tidak, tidak..kamu salah. Justru kita perlu bicara."

 "Biarkan aku pergi."

 "Kamu harus menjawab satu pertanyaanku terlebih dahulu." 

 "Apa?"

 "Dimana anak kita?"

 "Anak apa yang kamu maksud?"

 "Terakhir kali aku dengar bahwa kamu sedang mengandung anakku. Ini sudah tiga tahun, harusnya dia sudah besar."

 "Kamu bermimpilah!"

 "Apa maksudmu?"

 "Aku sudah menggugurkannya!"

Dirga tidak menyangka bahwa dia akan mendengar kalimat yang begitu menyakitkan keluar dari mulut Alia yang mampu menghancurkan harapan yang selama ini dia yakini bahwa dia akan menemukan Alia dan anaknya dan berkumpul menjadi keluarga yang utuh.

 "Apa maksud kamu, Alia! Kamu menggugurkannya?" tanya Dirga.

 "Iya! Aku sangat membencimu sehingga anak itupun tidak layak ada dalam perutku!"

 "Jaga biacaramu, Alia!"

Dirga melayangkan tinjunya mengenai dinding yang berada disamping Alia.

 "Seberapa benci kamu terhadapku, kamu tidak pantas membunuh anak yang belum lahir dan tidak berdosa!!!"

Alia berpikir bahwa inilah kesempatannya untuk melepaskan diri sepenuhnya dari Dirga yaitu dengan cara membuat Dirga membencinya.

 "Lebih baik anak itu tidak dilahirkan jika hanya akan menjadikan hidupnya dipenuhi oleh orang-orang sampah seperti kalian."

 "Lancang sekali kamu!"

Braaaakkk...!!!!

Pintu ruangan itu dibuka paksa oleh beberapa orang dari luar. Terlihat Mala dan pemilik perkebunan serta beberapa rekan kerjanya menatap kearah mereka berdua.

 "Maaf, tuan Dirga. Sepertinya ini sedikit tidak pantas. Anda memperlakukan orang saya seperti ini." ucap Rio, pemilik perkebunan tempat Alia bekerja.

 "Apakah kamu layak mengguruiku, Rio?"

 "Tidak, Tuan. Hanya saja keselamatannya menjadi tanggung jawab saya."

 "Kamu pikir aku akan membunuh istriku sendiri?!"

Dirga meninggalkan ruangan itu begitu saja, membuat semua mata tertuju pada Alia yang masih tersandar di dinding.

Alia membuang pandangannya menatap hamparan pepohonan apel dihadapannya.

 "Jadi dia suamimu?" tanya Mala

 "Aku hanya terpaksa menikah dengannya."

 "Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? apa kamu akan melarikan diri lagi?"

 "Sepertinya kali ini aku akan memilih untuk menghadapinya saja. Melarikan diri juga percuma."

 "Kenapa kamu berbohong kepadanya tentang anak dalam kandunganmu?"

 "Aku pikir, lebih baik jika dia membenciku. Jadi, aku akan terlepas dari belenggunya."

 "Tapi, sepertinya dia pria baik-baik dan bermartabat."

 "Itu yang aku pikirkan saat pertama kali bertemu dengannya. Sudahlah, ayo kita kembali bekerja."

Mereka menyegerakan pekerjaannya dan kembali kerumah masing-masing.

Alia duduk di teras rumahnya, melihat orang yang berlalu lalang.

 "Bengong sendirian nih."

Rio duduk di samping Alia, kemudian menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Alia.

  "Terima kasih."

  "Hmm....Alia.."

  "Iya, kenapa bos?"

 "Jadi itu tadi suamimu?"

 "Bisa dibilang gitu sih."

 "Kok gitu?"

 "Hahaha"

 "Malah ketawa.."

 "Aku tidak ingin membahasnya."

 "Jadi, apa kamu akan kembali bersama suamimu?"

 "Aku sudah memutuskan pergi darinya, jadi mustahil aku akan kembali lagi."

 "Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"

 "Aku belum tahu. Tapi, yang jelas aku tidak ingin kembali untuk saat ini."

 "Aku menghargai semua keputusanmu."

 "Kamu tidak akan memecatku kan bos?"

 "Hahaha, tentu saja tidak."

Mereka berdua tertawa bersama. Namun tawa itu seketika sirna dengan kedatangan Dirga.

 "Mau apa kamu kemari?"tanya Alia.

Tatapan mata Dirga tertuju pada Rio yang berada disamping Alia.

 "Aku ingin bicara berdua denganmu."

 "Maaf, aku sedang ada tamu."

Dirga menarik tangan Alia, menyeretnya untuk masuk kedalam mobil, namun dihentikan oleh Rio.

 "Maaf, tuan Dirga. Tidak baik memperlakukan wanita seperti ini."

Dirga memberi kode kepada ajudannya untuk memberikan pelajaran kepada Rio karena berani mencegahnya.

 "Apa yang ingin kamu lakukan pada Rio?"

 "Kamu sekarang ada waktu untuk berbicara denganku?"

 "Baik, lepaskan dulu Rio."

Dirga menjentikkan jemarinya, kemudian ajudannya menuruti perintahnya.

Dirga kembali menarik tangan Alia masuk kemobilnya, kemudian mobil itu melaju begitu cepat.

 "Kita mau kemana?" tanya Alia.

 "Hotel."

 "Apa maksudmu!"

 "Kamu akan mengetahuinya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Sisi Lain Dirga Aditama

    "Tuan, kami sudah menemukan dalangnya." "Baik."Dirga menatap wanita yang tengah berbaring di atas ranjang, wajahnya terlihat tenang dan tetap cantik seperti biasanya. "Kami belum tahu sampai kapan Nnona akan dalam keadaan koma, Tuan. Benturan di kepalaya sangat fatal, dan kemungkinan beliau akan tertidur untuk beberapa waktu tertentu. Kami akan berusaha semkasimal mungkin untuk menolongnya." "Lakukan yang terbaik untuknya. Kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan mengubur kalian semua untuk menemaninya." "Baik, Tuan."Dirga membelai wajah wanita itu dengan lembut, kemudian mencium keningnya dengan penuh cinta. "Maafkan aku, sayang. Aku pasti akan membalas perbuatan orang yang telah menyakitimu." Gumamnya dalam hati.Dirga menyambar jasnya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju lokasi yang sudah ditentukan. Tidak butuh waktu lama, Dirga sudah sampai di sebuah gedung terbengkalai. Dirga disambut oleh beberapa bawahan yan

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Salah Paham yang Melukai

    "Aku tidak menyangka bahwa kamu yang selama ini mengirimkan karangan-karangan bunga untukku"Alia menatap lelakt sosok yang duduk dihadapannya saat ini. "Aku juga tidak menyangka bahwa apa yang aku lakukan tidak dapat menggoyahkan perasaaan Dirga padamu, bahkan tidak mampu membuat percikan diantara kalian." Ucap sososk itu. "Kamu terlalu meremehkan dia." "Iya, kamu benar. Aku terlalu meremehkan dia. Tapi, kamu juga seharusnya mulai berpikir, jika apa yang aku lakukan tidak dapat membuatnya cemburu, bisa jadi memang dia tidak mencintaimu atau hanya membutuhkanmu saja."Alia menyeruput kopinya perlahan mendengar ucapan itu. "Apapun perasaan dia, aku tidak peduli. Selagi dia tidak merugikanku, aku tidak masalah." "Lalu, bagaimana dengan perasaanmu? Apakah kamu mencintainya?"Alia meletakkan kembali cangkir kopi. "Bagaiamana perasaanku untuknya,itu bukan urusanmu."Satu jam lalu, sebuah karangan bunga Daysi Merah dikirim ke kantor Alia. Namun, kali ini disertai dengan secarik kart

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Adik Ipar

    BRUUKKKK!!!!!"Aw...! Apa kamu tidak punya mata?!""Jelas-jelas kmau yang menabrakku terlebih dahulu. Seharusnya kamu minta maaf kepadaku."Alia memperhatikan wanita muda yang baru saja menabraknya. Postur tubuhnya tidak setinggi dia, dengan rambut panjang terurai."Sudahlah. Aku tidak ingin berurusan denganmu." Ucap Alia hendak berlalu meninggalkan wanita itu."Tunggu dulu, kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah menabrakku."Alia mencoba menahan diri karena semua mata diruang kerja itu sedang menatap mereka."Apa maumu?" Tanya Alia."Berlutut dan minta maaf kepadaku!"Alia tersenyum simpul mendengar ucapan wanita itu."Nona, kamu kebanyakan nonton film drama china ya?" Ledek Alia."Apa maksdu kamu?""Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu."Alia melangkah pergi meninggalkan wanita itu."Hei!! Berhenti kamu"Teriakan wanita itu menghentikan langkah Alia, dia membelikkan badan."Apa lagi?" Tanya Alia."Kamu tahu siapa aku?""Apa urusanku kamu siapa?""Aku adalah adik dari pem

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Uang Adalah Budak Cinta

    "Apakah Nona Alia sudah kehilangan kasih sayang Tuan Dirga?" "Apa maksud kamu?" "Pagi ini, aku melihat Alia berangkat kerja menggunakan taksi, tidak lagi menggunakan mobil mewah seperti sebelumnya."Suara karyawan yang tengah membicarakannya terdengar samar-samar dari ruang kerja Alia. "Mereka seperti tidak ada pekerjaan lain saja." Gumam Alia sendiri.Kalau bukan karena Megan dengan sengaja menggores mobilnya kemarin, tentu saja hari ini dia tidak perlu menggunakan taksi untuk sampai kekantor. Masa perbaikan mobilnya memerlukan beberapa hari pengerjaan karena goresan yang Megan tinggalkan cukup dalam. Di rumahnya hanya ada mobilnya dan mobil milik Dirga. Mobil Dirga tentu saja sedang Dirga gunakan untuk perjalanan bisnisnya.Alia memperhatikan ponselnya beberapa kali dan kemudian meletakkan kembali tanpa melakukan apapun. "Apa aku hubungi Dirga aja ya? Minta dia beliin mobil baru. Tapi, apa pantas?"Alia bergelut sendiri dengan pikiran dan batinnya sendiri, rasa gengsi menyelimu

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Daisy Merah

    " Nona, ada seseorang yang mengirimkan bunga untukmu?" "Bunga?" "Iya" "Siapa pengirimnya?" "Tidak ada kartu nama dan ucapannya, Nona." "Mungkinkah Dirga?"Alia bertanya-tanya dalam hati siapa yang mengiriminya bunga setiap hari selama dia di rumah sakit. Dia selalu menerima kiriman bunga Daysi Merah setiap pagi, namun tidak pernah dicantumkan nama pengirimnya. "Good Morning" Ucap Dirga yang baru saja muncul dari balik pintu ruang perawatan Alia. "Kamu kenapa kemari?" tanya Alia "Aku menjemputmu. Kata Dokter hari ini kamu sudah boleh pulang." "Aku bisa pulang sendiri." "Ayolah, aku sudah cukp merasa bersalah beberapa hari ini tidak datang menjengukmu." "Kamu tahu kamu salah?" "Maafkan aku. Kamu sebut saja apa yang kamu inginkan, aku akan memberikannya." "Tidak perlu. Aku tidak menginginkan apapun. Aku akan berkemas terlebih dahulu." "Baiklah, aku akan menunggumu dengan sabar."Alia mengemasi barang-barangnya kedalam tas untuk bersiap meninggalkan rumah sakit. "Siapa yang

  • Terpaksa Menikah dengan Tuan Dirga   Retakan Kecil

    Berita itu menyebar begitu cepat bagaikan air yang mengalir begitu deras. Bagaimana tidak, adegan saat Megan menganiaya Alia itu disaksikan oleh hampir setengah karyawan perusahaan Dirga. Terlebih lagi pada saat itu Dirga sedang membawa kliennya menuju ruangannya karena Alia tidak datang membawakan kontrak kerja sama. Hal itu benar-benar menjatuhkan harga diri Dirga, karena bagaimanapun juga publik sudah mengetahui hubungan mereka bertiga. Kejadian itu juga membuat perusahaan Dirga kehilangan kerja sama bernilai jutaan Dolar. "Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?!"Ekpresi wajah Dirga menunjukkan amarah yang begitu mendalam terhadap Megan. "Apa kamu sudah tidak waras?!" tanya Dirga kembali. "Dia yang memprovokasiku terlebih dulu! Kenapa kamu melampiaskan emosimu padaku?!" "Kau dengar baik-baik! Kau tidak seharusnya melakukan itu kepadanya tepat dikantorku!" "Siapa suruh jalang sialan itu membuatmu tidak hadir pada malam penting kita!" "Megan!!!!"PLAAAAKK..!!!!Sebuah tamp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status