LOGINAlia terpaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai demi menebus hutang orang tuanya sedangkan usianya masih remaja dan harus mengalami penyiksaan dimalam pertama pernikahannya yang membuatnya trauma dak ketakutan. Alia tidak tahu bahwa setelah malam itu, lelaki dingin itu jatuh hati pada kepolosannya, namun Alia sudah memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahan itu selamanya. Kehidupan Aliapun berubah 360 derajat setelah dia berhasil kabur keluar negeri.
View MoreSore hari di pantai Melur, pantai dengan pasir putih dan air biru jernih yang terletak di pesisir kota Batam. Pantai ini memang tidak seramai pantai-pantai ikonik lainnya seperti Kuta yang rame oleh pelancong asing, tapi pantai Melur ini cukup ramai dikunjungi para wisatawan domestik yang membutuhkan waktu bersantai bersama keluarga.
Milly memandangi birunya air yang terhampar sejauh mata memandang, hari ini rumah makan yang dia jaga sangat sepi pengunjung, makanya dia bisa berleha-leha untuk sejenak.
Saat menatap hamparan laut itu banyak sekali yang dia pikirkan. Namun, keindahan ini sama sekali tidak mengurangi beban hidup yang dia pikul selama ini. Dia ingin ibunya sembuh. Ibu divonis mengidap kanker darah stadium akhir, sebenarnya mustahil untuk ibu bisa bertahan lebih lama tapi Milly sangat ingin memberikan pengobatan terbaik untuk ibunya.
Tak ada satu orang pun yang bisa dia anggap keluarga di dunia ini selain ibu, hanya Ibu! Sejak dia ingat, dia tak tahu siapa sosok ayahnya. Seumur hidup dia hanya tinggal bersama ibu saja. Dan saat mulai beranjak remaja Milly sudah bisa menyimpulkan kalau dirinya adalah anak dari hasil hubungan gelap, terlebih dia mulai mengerti apa pekerjaan ibunya di masa lalu, ya! Memang bukan pekerjaan yang bisa dibanggakan, bahkan itu adalah pekerjaan yang memalukan.
"Mil ...." Ada seseorang memanggil dan itu berhasil membuyarkan lamunan Milly, dia menoleh dan ternyata yang datang menghampiri itu Aldi, rekan kerja Milly.
"Ya, ada apa?" tanya Milly
"Dipanggil bos tuh, kamu lupa? Ini kan hari gajian," kata Aldi, dia tampak senang dan semangat, dan tidak dengan Milly. Dia tahu gajinya bulan ini hanya akan tersisa separuh karena hari-hari sebelumnya dia sudah mengambil kasbon untuk kebutuhan ibu dan kebutuhan mendesak lainnya.
Milly segera temui bosnya yang sudah menunggu.
"Bagaimana ya? Sebenarnya, susah sekali menghitung sisa gajimu, tunggakanmu sudah terlalu banyak, Milly!" kata bos, Milly pasrah saja. Berapa pun sisa gajinya akan ia terima dengan senang hati.
"Tapi aku bukan raja tega, ini! Ambilah! Mungkin cukup untuk membeli obat ibumu."
Bos menyodorkan amplop kearah Milly.
"Terimakasih banyak bos."
"Ya."
Bos sudah maklum dengan kondisi Milly, dia tahu betul apa saja yang sudah Milly lewati selama ini. Bos sangat tahu kehidupan getir yang Milly kecap selama ini. Lagi pula Milly memang sosok karyawan yang teladan dan selalu bisa diandalkan, oleh sebab itu Bos tak pernah mempermasalahkan kebiasaan kasbon yang selalu Milly minta padanya.
***
Milly pulang ke rumah, rumah petak kecil yang dia tempati bersama ibunya. Ibu menunggu kedatangan Milly. Tubuhnya ringkih dan mukanya pucat pasi, leukimia itu telah menggergoti sisa-sisa kehidupannya.
"Mana gajimu? Hari ini kamu gajian kan?" pinta ibu, dia memang selalu seperti itu.
"Gajiku bulan ini gak sampai separuhnya Bu, kita masih punya banyak hutang sama bos," kata Milly.
"Jadi bosmu memotong lagi gajimu bulan ini?" Intonasi Ibu meninggi.
"I-iya ...."
"Sudah! Cari saja pekerjaan lain, keterlaluan dia! Gajimu kan cuma sedikit, terus berani-beraninya dia potong sampai separuhnya, dasar gak punya hati!" gerutu ibu. Memang seperti itu lah sifatnya. Dia selalu lupa bersyukur kalau selama ini dia dikaruniai putri baik hati seperti Milly. Tapi setiap hari dia selalu mengomel dan mengomel.
Milly diam saja.
"Hey Milly! Kapan Ibu bisa kemotherapy?" Ibu melanjutkan pertanyaannya. Ibu mengajukan lagi permintaan untuk bisa menjalani kemotherapy.
"Setelah aku cari tahu, ternyata kemotherapy itu butuh biaya yang sangat besar, Bu."
"Jadi kamu mau hitung-hitungan sama Ibu?"
"Bukannya gitu ...."
"Kamu lelah merawat Ibu? Kamu mau Ibu cepat-cepat mati, begitu?" Lagi-lagi ibu emosi dan emosinya memang sulit dikendalikan. Milly memilih untuk diam saja.
"Aku belum siap untuk mati sekarang! Masih banyak yang ingin aku raih! Penyakit ini tidak pantas untukku." Ibu lagi-lagi meratap, ini memang hal biasa untuk Milly, keluhan seperti ini sudah jadi makanannya sehari-hari.
"Aku akan cari uang yang lebih banyak Bu, Ibu sabar ya," kata Milly mencoba menenangkan.
"Selama kamu kerja disana, di restauran kecil itu, kamu gak akan bisa membiayai perawatan Ibu! Makanya cari pekerjaan lain! Kalau bisa cari keluar kota! Yang penting kita bisa dapat uang yang banyak!"
"Iya, iya ... aku akan cari kerja ditempat lain."
"Buktikan!"
Itulah sebagian kecil kehidupan memilukan yang Milly jalani sepanjang hidupnya selama ini, dia tidak berharap banyak, dia hanya ingin ibu bertahan, dia hanya ingin ibu bahagia.
Di belahan Nusantara lainnya ....
Orang-orang bilang "nobody's perfect" tapi Richie adalah sosok yang almost perfect.Lahir dari keluarga ningrat yang punya segalanya. Apapun yang dia inginkan sangat mudah untuk dia raih. Harta, tahta dan wanita. Dia tumbuh sebagai seorang pengusaha sukses di usia muda ditunjang dengan sosok dan penampilan yang tidak pernah tidak terlihat keren.
Dia menjabat sebagai General Manager di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti. Jabatan itu memang dia dapat dengan mudah karena dia adalah salah satu pewaris utama Djayadiningrat group.
Dia tampak bosan hari ini, dia scroll layar ponselnya dan dia tidak juga menemukan hal menarik.
"Aaahh ...." dengusnya lalu ia sandarkan tubuhnya di kursi nyamannya.
Tok tok, ada yang mengetuk pintu, dia tersadar.
"Masuk!" seru Richie.
Tak lama, seorang office boy masuk.
"Anda di tunggu di ruangan pak Aria," kata Budi, office boy itu.
Seketika Richie tampak malas, dia sepertinya tidak siap menghadap ayahnya.
"Ya," sahutnya pelan.
Walaupun segan tapi Richie harus segera memenuhi panggilan ayahnya. Richie masuk keruangan Direktur utama perusahaan yang juga ayahnya itu.
"Duduk!" kata Aria Utama Djayadiningrat, ayah kandung Richie. ekspresinya menunjukan kalau dia ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan anaknya itu.
Richie duduk, dia mencoba bersikap biasa walaupun dalam hati dia sudah menduga kalau sang ayah akan membahas beberapa kasus penyelewengan dana perusahaan yang ia lakukan.
"Tolong rekap lagi laporan keuangan dari Julian!" kata Aria dengan dingin, dia pasti sudah menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan. Selama ini Richie memang sering menyelewengkan uang perusahaan.
Sejak mengenal dunia perjudian, dia sering menghabiskan banyak uang di meja judi.
"Itu semua salahku!" akui Richie.
"Baguslah kalau kamu sadar, Richie ... kalau kamu tidak bisa tinggalkan kebiasaan burukmu itu, sebaiknya tanggalkan saja jabatanmu, Ayah bisa cari orang yang lebih bertanggung jawab, sekalipun itu orang lain," kata Aria.
"Maaf Ayah, beri aku kesempatan sekali lagi."
"Kesempatan lagi?" tanya Aria.
"Kali ini aku akan bersungguh-sungguh."
Aria tatap putranya itu, dalam hati dia sangat berharap bahwa Richie akan mulai bersikap dewasa dan meneruskan tahtanya kelak. Tapi Richie sepertinya belum cukup belajar, selama ini dia selalu mendapatkan segalanya tanpa terlalu banyak usaha.
"Baiklah, ini yang terakhir! Kalau kamu masih melanggarnya, Ayah akan berikan kepercayaan Ayah ini pada Julian!"
Richie tampak lega mendengarnya, akhirnya dia dapat lagi kesempatan itu, kesempatan yang tak henti-hentinya Tuan Aria Utama Djayadiningrat berikan padanya.
***
Richie adalah sosok sempurna yang diidamkan setiap gadis, tak jarang para model-model cantik pun mau jadi selirnya.
Tapi hati Richie hanya tertambat untuk satu hati, Daniar! Dia lah gadis beruntung yang berhasil menjerat hati Richie.
Daniar adalah seorang aktris muda mempesona dan penuh bakat. Semua pria mendambakannya jadi pasangannya dan hanya Richie lah yang berhasil mencuri perhatiannya.
Keduanya sering dinobatkan sebagai couple goal dan most wanted couple oleh beberapa media.
Hari ini mereka bertemu, mereka menikmati malam yang syahdu di sebuah restauran classy yang sengaja Richie booking untuk menjaga privasi mereka.
"Besok aku harus ke Bandung," kata Daniar.
"Oh ya ...." tanggapi Richie datar, dia sedang menikmati steak wagyu favoritnya.
"Iya, launching produk yang baru kemarin endorse aku. Sebenarnya malas, tapi ... ya mau gimana lagi, aku harus tetap profesional."
"Kalau begitu, kita menikah saja dan tinggalkan dunia keartisanmu ini," kata Richie lagi, Daniar hanya tersenyum mendengarnya.
"Tapi ini kan dunia yang membesarkan aku, mana bisa aku meninggalkannya."
"Aku pasti menjamin seluruh kebutuhan kamu."
"Iya, aku tahu! Tapi ... inikan passion-ku, ya memang kadang-kadang ada rasa penat, tapi aku gak mungkin meninggalkan dunia entertainment ini."
Richie hanya mendengus, dia lelah membujuk Daniar untuk berhenti dari dunia keartisannya, dia ingin daniar jadi istri yang mendedikasikan hidupnya hanya untuknya kelak.
"Kalau nanti kita menikah, aku akan prioritaskan kamu tentunya," kata Daniar dengan nada menggoda, Richie hanya memicingkan matanya.
Perdebatan ini memang sering terjadi, dan Richie hampir kehabisan cara untuk membujuk Daniar yang terlanjur jatuh cinta dengan dunia entertainment.
Itu lah dua kehidupan berbeda yang dua insan berbeda kasta itu jalani selama ini. Jika suatu hari Richie ataupun Milly dipertemukan, akankah mereka bisa untuk saling melengkapi?
"Tuan, kami sudah menemukan dalangnya." "Baik."Dirga menatap wanita yang tengah berbaring di atas ranjang, wajahnya terlihat tenang dan tetap cantik seperti biasanya. "Kami belum tahu sampai kapan Nona akan dalam keadaan koma, Tuan. Benturan di kepalaya sangat fatal, dan kemungkinan beliau akan tertidur untuk beberapa waktu tertentu. Kami akan berusaha semkasimal mungkin untuk menolongnya." "Lakukan yang terbaik untuknya. Kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan mengubur kalian semua untuk menemaninya." "Baik, Tuan."Dirga membelai wajah wanita itu dengan lembut, kemudian mencium keningnya dengan penuh cinta. "Maafkan aku, sayang. Aku pasti akan membalas perbuatan orang yang telah menyakitimu." Gumamnya dalam hati.Dirga menyambar jasnya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju lokasi yang sudah ditentukan. Tidak butuh waktu lama, Dirga sudah sampai di sebuah gedung terbengkalai. Dirga disambut oleh beberapa bawahan yang s
"Aku tidak menyangka bahwa kamu yang selama ini mengirimkan karangan-karangan bunga untukku"Alia menatap lelakt sosok yang duduk dihadapannya saat ini. "Aku juga tidak menyangka bahwa apa yang aku lakukan tidak dapat menggoyahkan perasaaan Dirga padamu, bahkan tidak mampu membuat percikan diantara kalian." Ucap sososk itu. "Kamu terlalu meremehkan dia." "Iya, kamu benar. Aku terlalu meremehkan dia. Tapi, kamu juga seharusnya mulai berpikir, jika apa yang aku lakukan tidak dapat membuatnya cemburu, bisa jadi memang dia tidak mencintaimu atau hanya membutuhkanmu saja."Alia menyeruput kopinya perlahan mendengar ucapan itu. "Apapun perasaan dia, aku tidak peduli. Selagi dia tidak merugikanku, aku tidak masalah." "Lalu, bagaimana dengan perasaanmu? Apakah kamu mencintainya?"Alia meletakkan kembali cangkir kopi. "Bagaiamana perasaanku untuknya,itu bukan urusanmu."Satu jam lalu, sebuah karangan bunga Daysi Merah dikirim ke kantor Alia. Namun, kali ini disertai dengan secarik kart
BRUUKKKK!!!!!"Aw...! Apa kamu tidak punya mata?!""Jelas-jelas kmau yang menabrakku terlebih dahulu. Seharusnya kamu minta maaf kepadaku."Alia memperhatikan wanita muda yang baru saja menabraknya. Postur tubuhnya tidak setinggi dia, dengan rambut panjang terurai."Sudahlah. Aku tidak ingin berurusan denganmu." Ucap Alia hendak berlalu meninggalkan wanita itu."Tunggu dulu, kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah menabrakku."Alia mencoba menahan diri karena semua mata diruang kerja itu sedang menatap mereka."Apa maumu?" Tanya Alia."Berlutut dan minta maaf kepadaku!"Alia tersenyum simpul mendengar ucapan wanita itu."Nona, kamu kebanyakan nonton film drama china ya?" Ledek Alia."Apa maksdu kamu?""Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu."Alia melangkah pergi meninggalkan wanita itu."Hei!! Berhenti kamu"Teriakan wanita itu menghentikan langkah Alia, dia membelikkan badan."Apa lagi?" Tanya Alia."Kamu tahu siapa aku?""Apa urusanku kamu siapa?""Aku adalah adik dari pem
"Apakah Nona Alia sudah kehilangan kasih sayang Tuan Dirga?" "Apa maksud kamu?" "Pagi ini, aku melihat Alia berangkat kerja menggunakan taksi, tidak lagi menggunakan mobil mewah seperti sebelumnya."Suara karyawan yang tengah membicarakannya terdengar samar-samar dari ruang kerja Alia. "Mereka seperti tidak ada pekerjaan lain saja." Gumam Alia sendiri.Kalau bukan karena Megan dengan sengaja menggores mobilnya kemarin, tentu saja hari ini dia tidak perlu menggunakan taksi untuk sampai kekantor. Masa perbaikan mobilnya memerlukan beberapa hari pengerjaan karena goresan yang Megan tinggalkan cukup dalam. Di rumahnya hanya ada mobilnya dan mobil milik Dirga. Mobil Dirga tentu saja sedang Dirga gunakan untuk perjalanan bisnisnya.Alia memperhatikan ponselnya beberapa kali dan kemudian meletakkan kembali tanpa melakukan apapun. "Apa aku hubungi Dirga aja ya? Minta dia beliin mobil baru. Tapi, apa pantas?"Alia bergelut sendiri dengan pikiran dan batinnya sendiri, rasa gengsi menyelimu
"Kenapa pagiku bisa sesial ini? Kenapa lelaki brengsek itu muncul di perkebunan sepagi ini? Sial sekali!"Alia menarik stroller apelnya sambil sesekali melirik kearah Dirga yang tengah berdiri mengawasi kegiatan panen raya hari ini. Dia memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak ke
Tidak terasa sudah tiga tahun lamanya Alia meninggalkan kampung halamannya, dan selama tiga tahun ini dia selalu berpindah-pindah dari satu negara kenegara lain demi menghilangkan jejaknya, dan akhirnya dia menemukan sebuah desa kecil dan menetap disana sudah lebih dari dua tahun. Alia mengganti ide
"Kamu baik-baik saja, Al? Kamu sakit?" tanya seorang guru pengawas saat ujian. "Nggak apa-apa, buk. Saya baik-baik aja."Apa yang dialaminya semalam membuat Alia shock. Meskipun dia sudah mengatakan sejujurnya, namun Dirga tetap menyelesaikannya sampai akhir.Alia buru-buru menyelesaikan ujiannya
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini, jangan pernah berpikir bahwa aku akan menganggapmu sebagai istriku" "Akupun tidak pernah berkeinginan menjadi istrimu."Alia bergegas membersihkan dirinya dikamar mandi. Dia membenamkan diri kedalam Bathtub, sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan sete












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews