Masuk"Mas, beneran bapak tidak apa-apa? Aku sangat khawatir." Rasa lemasku lenyap entah kemana kalau teringat bapak. Ya, sepertinya aku sudah membaik dan hanya tinggal menunggu keluar dari ruangan ini.
"Berdoalah. Bapak sudah mendapatkan penanganan terbaik. Pasca kita akad, beliau sudah mulai operasi. Bapak pasti sembuh." Aku begitu senang mendengarnya. Namun, dari mana uang untuk operasi? Bahkan aku selalu menundanya karena perihal uang.
"Amin. Namun uang dari mana mas?" tanyaku khawatir sekaligus pensaran.
"Aman. Kamu fokus pada kesembuhanmu dulu. Kamu baru sadar kembali pasca belum begitu pulih kemarin." Berkata begitu, mas Al menaikkan selimut rumah sakit.
"Tidak begitu, operasi bapak butuh biaya yang sangat banyak. Kenapa mas tidak memberitahuku dulu?" Aku dengan bersikukuh tidak ingin kembali merepotkan suami dadakan ini.
Aku tahu, sejak dulu dia tampak berpenampilan sederhana, pasti bukan orang kaya juga. Aku tak ingin dia meminjam hutang banyak pada orang lain orang demi aku. Bagaimana aku membayarnya?
Gelak tawa terdengar darinya. "Kamu tak perlu panik begitu. Kita ini suami istri, bapak sudah menjadi bagian keluarga dan tanggungjawabku. Masalah biaya, kau tak perlu risau."
Duh, kurasa pria ini menganggap hal ini tidak begitu serius. Jumlah 300 juta tidaklah sedikit dan tetap butuh waktu lumayan lama untuk mengumpulkannya. Padahal, pernikahan ini masih awal, belum-belum harus menanggung utang sebanyak itu.
"Mas, aku bicara serius!" Aku masih dengan keras kepalanya untuk mencoba memahamkan pria ini.
"Iya, sudahlah. Terpenting bapak bisa sembuh."
"Mas! Paham dong maksudku?" Tandasku geram sembari bangkit, aku sampai lupa ini dipembaringan rumah sakit. Dia hanya mengendikkan bahu dan tak lelah mengingatkanku untuk istirahat dulu, namun aku mengelak, kepikiran bapak juga.
Aku tahu, pria ini punya empati tinggi. Tapi tidak juga harus mengorbankan sebanyak itu diawal pernikahan. Dia sudah masuk dalam perangkap kesalahpahaman hubungan ini.
"Mas, sebenarnya aku hanya tak ingin membebanimu. Kau sudah menolongku kemarin sampai terjebak kesalahpahaman berlarut. Dan itu sudah cukup, jangan membuatku menjadi semakin merasa bersalah. Aku tak mau jadi bebanmu." Rasa sungkanku kembali hadir.
Dia malah kembali menatapku lekat. "Santai, uangku banyak. Selamanya jangan menganggap diri beban. Ceritakanlah apapun yang membuat dadamu sesak."
Suara pintu terbuka, dokter beserta perawat masuk untuk memeriksa kondisiku. Katanya kondisiku sudah membaik. Bahkan aku sudah diperbolehkan pulang besok, namun hatiku mengelak. Bapak masih dirumah sakit ini.
Selepas kepergian mereka, keheningan kembali mengepungku dan mas Al. Sampai suaranya kembali terdengar. " Bagaimana? aku sama sekali tidak keberatan mendengar ceritamu, sepertinya sorot matamu menyimpan banyak luka yang begitu dalam."
Benar sekali, dia memang pandai membaca pikiranku. Kalau begini, mungkin aku perlu menguak perjalanan hidupku yang sejak dulu kutampung sendiri. Dia juga tampak sebagai pendengar yang baik.
"Mas Al, mau mendengar ceritaku?"
"Dengan senang hati."
"Sebenarnya, disisa usia bapak. Aku ingin membersihkan namanya. Sebagai anak, tentu aku mengenal baik tentang bapak. Bukan karena pembelaan, namun tentang kebenaran yang ditenggelamkan." Aku tersenyum getir.
"Maksudnya?" Mas Al tampak begitu penasaran.
"Sejatinya aku hanya trauma, setelah mulai kembali tumbuh dari trauma kehilangan adik dan ibuku bertahun-tahun, hidupku kembali teruji total. Bapak difitnah menjadi terdakwa kasus pembunuhan. Duniaku runtuh saat itu. Bagiku membela kebenaran seperti memegang bara api. Bapak berhak diadili. Aku teringat bagaimana pedihnya bertahun-tahun menyandang status sebagai anak napi dan direndahkan hanya karena kesalahpahaman. Bahkan saat SMA aku dijauhi teman-teman. Makanya aku kembali tampil di saat kuliah, cari tempat baru di Jogja untuk menutup diri dari kenangan masa lalu yang kelam. Disitu aku bereksplorasi karena tidak ada yang tahu kalau aku anak dari mantan napi, meski tertuduh." Keluhku dengan mata berkaca-kaca. Mas Al tampak begitu iba mendengar ceritaku.
"Apa karena ini kau diam-diam menulis cerpen di berbagai situs media?"
"Oh, mas tahu ini juga?"
"Tentu, saat diperpus dulu, kau yang memintaku untuk memegangkan laptopmu. Tanpa sadar kau tidak menutup karyamu saat terbirit-birit aku kasih tahu dipanggil pak Dekan. Dari nama pena itu, aku menelusuri tulisaan cerpenmu lainnya."
Aku mencoba mengingat. Ternyata benar, aku terkadang ceroboh. Padahal beberapa cerpen itu aku tulis secara rahasia. Jika ditanya teman hanya bilang, mengetik tugas. Bahkan, mas Arka pun tidak tahu. Justru pria didepanku yang malah mengetahuinya karena keteledoranku sendiri.
"Hem, rupanya diam-diam kau mengagumi cerpenku, ya." Ledekku memecah ketegangan sejak tadi.
"Ha ha. Anggap saja begitu. Aku bisa membaca tulisan tajammu tentang fiksi ketidakadilan itu. Kurasa, si penulis mendalami emosional cerita. Aku menduga ini kisah nyata, ternyata benar. Lantas kenapa kau tidak mengambil jurusan hukum saja untuk memperjuangkan keadilan bapak?" tanyanya penasaran.
"Aku cukup sadar diri, mas. Aku orang yang ceroboh dan tidak teliti, nanti aku diakali. Mendingan, aku cari uang yang banyak buat menyewa kuasa hukum yang berpegang teguh pada keadilan. Tapi, takdir berkata lain, bapak perlu biaya yang sangat banyak untuk operasi. Jadi uangnya bukan untuk memperjuangkan keadilan lagi, melainkan memperjuangkan nyawa bapak."
Mas Al menimpali dengan wajah tenangnya "Mungkin karena itulah kita berjodoh. Kau tidak perlu lagi menyewa kuasa hukum karena akulah yang akan menjadi kuasa hukum kasus ini."
Aku terkejut dengan penuturannya. Apakah dia pengacara, advokat maksudnya?
"Aku akan menikahimu. Kembalilah padaku."“Harus dengan cara apa mengingatkanmu, bahwa kita sudah selesai. Kamu pasti akan menemukan wanita yang kau cintai, mas.”“Tidak, Vi. Aku hanya menginginkanmu. Aku akan mengumpulkan bukti untuk memberi balasan setimpal pada orang yang telah menggagalkan hubungan kita kejenjang serius saat itu.”“Aku menghargai usahamu selama ini padaku mas. Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.”Dia segera menyahut “Keras kepalamu masih utuh ya, namun kali ini aku tak menyukai keras kepalamu yang memilih Al.”“Karena aku sadar mas, jodoh itu rahasia ilahi. Dan mas Al Adalah jodohku.”“Jika aku saja tidak bisa memilikimu, maka pria manapun tak boleh memilikimu, termasuk Al.”“Jangan egois Arya!”“Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, Vi. Aku akan memberi pelajaran pada Al karena telah mempengaruhimu.”Aku sungguh geram “Kemana Arya yang dulu kukenal baik dan tak pernah menyakiti orang?”“Aku seperti ini karena kalian.”Aku memo
“Aku ingin kita sama-sama move on. Kau sudah punya Angel.""Aku tak pernah mencintainya. Dia yang terus mengejarku."Ya, sekarang aku mengerti. Dia tidak pernah mencintai Angel. Mungkin dulu, dia memang benar-benar dijebak. Namun, aku tak boleh menuduh tanpa bukti. "Kamu punya banyak kesempatan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dariku, mas. Semua yang berlalu menjadi cerita yang usai.”“Aku tidak bisa, Vi. Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur gila karenamu.” Teriaknya.Ucapannya membuatku dikepung ketakutan, apalagi tempat ini sangat sepi. Sungguh, aku ingin mati saja. Tiba-tiba ia melajukan mobil dengan begitu cepat tanpa kendali. Aku sampai mual-mual diperjalanan.“Kau harus menerima hukuman dariku karena telah membuatku gila sepanjang malam memikirkanmu.”Dengan teganya, dia kembali menutup mataku dengan kain. Dalam setiap nafasku, aku hanya berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal buruk. Apalagi Arya dalam kondisi kesetanan seperti ini.Kali ini aku benar-benar pasrah, tidak
“Ada mama dan kakak.”“Wah, boleh dong aku dikenalin ke kakakmu.”Tiba-tiba handphone mas Al berdering, aku sedikit mengintip dilayar handponenya. Barangkali ada wanita cantik yang menggoda suamiku.“Kenapa?” Tanya mas Al dengan menahan senyum.Dia pasti ingin sekali menertawaiku. Duh, bisa-bisanya aku mendadak seposesif ini. Mungkin, karena dulu pernah sebegitu dalam mencintai laki-laki dan direbut kali ya. Lebih baik aku cari alasan buat jalan-jalan aja. “Tidak apa-apa. Angkat saja mas. Oh ya, boleh aku jalan-jalan ke taman depan itu?”Mas Al mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menerima panggilan itu. Dengan tas kecil yang setia menemaniku kemanapun aku pergi, langkah kakiku dengan anggunnya menuju arah taman restoran. Sesekali aku menengok suamiku, ternyata dia masih dalam mode serius menelpon. Sesampainya ditaman, aku terkesima dengan hamparan hijaunya rumput yang tertata sempurna, dipangkas rapi dan berdampingan dengan bunga-bunga. Aku duduk didekat kolam kristal yang meme
“Angel, belum puas juga kau?”“Aku hanya ingin kita bersama, Arya.” Pintanya dengan nada penuh iba. “Dasar wanita pengemis cinta!” Batinku. Pesanan menu makananku datang. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat terimakasih, wajahku menunduk masih berpura-pura scroll handphone. Jangan sampai mereka berdua tahu keberadaanku.“Jangan seperti anak kecil, Angel. Kau tak perlu selalu membuntuti aku.” Bentak Arya. Angel menyahut kesal “Hey, jangan lupa. Kalau bukan karena aku, perusahaan keluargamu sudah mati, Arya.” “Kalau kau butuh kalimat itu untuk merasa menang, silakan.”Napas Arya tertahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.“Tapi dengar baik-baik, jangan pernah berpikir aku hidup dalam permainanmu, Angel. Suatu saat kau akan menyesal.”“Kau bicara apa, Arya?”Suara langkah kakinya menjauh, disusul suara langkah kaki high heels wanita itu. Syukurlah aku bisa bernapas lega. Manusia-manusia berkuasa itu sudah pergi dari tempat dekat aku duduk. Aku berharap takkan pernah lagi bertemu mereka.Se
“Masih diselidiki Fatih. Dugaan kuatnya pelaku asli menyewa saksi palsu.” Jawabnya tenang sambil menyetir. "Jahat sekali. Lalu kemana Saksi asli selama ini? Kenapa dia tidak muncul dan berkata sebenarnya?" Dengusku. "Saksi asli terancam dan terintimidasi. Tapi lebih jelasnya masih ditelusuri. Sabar, sayang." "Tuh kan. Semakin sak-sak e dewe. Bagaimana bisa itu terjadi?" “Ada rekayasa barang bukti dan hakim memutuskan berdasarkan alat bukti sah.” “Harusnya hakim memutuskan berdasarkan kebenaran absolut dong mas?” “Dalam proses pengadilan, kunci utama alat bukti, sayang.Ketika semua saksi dan alat bukti kuat mengarah ke bapak, maka bapak diputuskan bersalah meski bukan pelaku.” Ucapannya tanpa rasa bersalah padaku. “Enteng sekali kau bicara seperti itu. Bapak tidak bersalah lho mas.” Tiba-tiba aku kecewa padanya. Mood ini memang naik turun kalau bicara sama dia, entahlah. Akupun tak tahu. "Iya, aku tahu. Aku hanya bicara kenyataan yang terkadang terjadi dilapangan. Tidak ada ma
“Bisa kita selesaikan setelah kita pindah, sayang.”“Hmmm.”"Kalau kamu keberatan, kita didesa aja. Sejujurnya, aku lebih tenang hidup sederhana bersamamu seperti ini. Aku tidak capek kok kalau harus bolak-balik Purworejo-Jogja."Perkataannya menyambar ulu hatiku. Seakan egoku begitu tinggi. Apa sulitnya mengiyakan permintaan suami, sedangkan selama ini dia telah melakukan banyak hal untukku dengan begitu tulus. Bahkan bapak bisa sembuh karena mas Al. "Aku nggak keberatan kok, kamu kan harus kerja setiap hari di Jogja. Kesehatanmu juga penting. Disisi lain, aku memang harus ikut kamu, mas. Aku juga penasaran dengan keluargamu di sana."Dia menoleh kearahku, senyumnya mengembang. “Nanti kita menghadapi apapun bareng-bareng ya.”Aku hanya mengangguk, teringat saat awal pernikahan itu dia sempat berkata kalau keluarganya bisa dibilang tidak baik-baik saja. Semoga aku salah mendengarnya. “Btw, kita mau kemana mas?”“Ke tempat makan paling enak. Aku traktir, kamu pilih apapun yang kamu







