LOGINSetelah menjadi kekasih mas Arka selama tujuh tahun dan sepakat kejenjang pernikahan, tiba-tiba dia memutuskan satu pihak. Padahal kami saling mencintai. Hanya karena aku anak seorang narapidana yang kuyakin itu tuduhan palsu, kedua orang tua mas Arka tidak merestui kami. Sedangkan ayahku sangat menginginkan anak semata wayangnya ini menikah dengan kekasihku itu. Beliau sakit keras dan ingin melihatku menikah sebelum meninggal. Disaat kondisi ayah memburuk itulah, keadaan mendesakku untuk menikah dengan teman dekat mas Arka saat kuliah. Padahal kami tidak saling mencintai. Tanpa disadari, satu demi satu fakta mengejutkan terkuak dalam rumah tanggaku? Siapakah dalang dari semua ini?
View More[Sofia, Aku mau kita selesai!]
[Aku tidak ingin menyakitimu terlalu dalam. Kita bisa bahagia masing-masing. Aku sudah menemukan seseorang yang tepat untukku. Keluarga kami juga sepakat. Maafkan aku.]
Pesan itu terbaca dinetraku. Tulisan itu mengabur seiring mataku yang sudah digenangi air mata. Tenggorokanku tercekat. Ingin rasanya aku mengobrak-abrik pesanan catering yang sudah bertumpuk rapi didapur.
Kucoba menghubungi nomor mas Arka. Namun tidak diangkat, padahal online. Bagaimana bisa, setiba-tiba itu? Bahkan seminggu lalu dia bilang mau melanjutkan hubungan serius dan hendak melamarku kesini.
Oh, aku teringat pertemuan tiga bulan lalu dengan mama dan kakaknya mas Arka. Percakapan yang begitu menyayat hati di cafe Alam Saga. Ingatan itu masih segar dibenakku.
"Maaf ya Sofia, kamu harus tahu sendiri, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menikah dengan anak mantan narapidana. Bayangan masa lalu akan selalu membawa luka. Meskipun kata Arka kamu baik, namun pikirkan baik-baik. Arka pantas mendapatkan wanita yang lebih layak darimu." Tutur bu Ratna begitu tajam.
"Luka itu bukan dari saya bu, namun dari penilaian yang salah. Saya lebih tahu siapa bapak saya, beliau orang yang lebih jujur daripada orang yang bertopeng dari kepalsuan dan haus pujaan." Ucapku tenang. Pandanganku masih lurus namun tajam.
Aku berhak membela diri bahwa bapak tidak salah. Suatu saat, aku akan membersihkan nama itu. Tunggu saja. Mentalku sudah cukup lelah.
Kak Afia, kakak mas Arka sudah tidak sabar ingin menyambarku saja. "Oh, tolong jangan meromantisasi narapidana. Kalau pembunuh ya pembunuh saja. Kamu pikir kamu bisa jadi bagian dari keluarga kita? Jangan mimpi!" Ejeknya sembari mengulas senyum sinis.
"Ha ha. Ternyata anda yang takut aku masuk bagian keluargamu. Padahal selama ini mas Arkalah yang terus mengejarku. Justru anda yang terlihat takut pada orang yang kalian anggap rendahan ini jika kalau aku masuk kehidupan kalian. Santai saja, orang yang kalian anggap anak napi ini lebih bangga tetap bisa berdiri sampai tahap ini tanpa jadi orang yang berpura-pura baik daripada mereka yang berpura-pura suci." Tandasku dengan tatapan tajam. Sebenarnya hidungku mulai pengar menahan air mata. Namun, bersikap lemah saat direndahkan membuat mereka tinggi hati.
Padahal selain mas Arka yang terus mengejarku. Aku juga terlanjur dalam mencintainya.
Aku menandaskan itu agar mereka tahu, betapa tidak adilnya dunia yang hanya melihat dari kacamata luar tanpa tahu sedalam apa luka yang kualami selama ini. Bahkan bertahan dititik ini sangatlah tidak mudah. Tuduhan telah meruntuhkan duniaku.
Bu Ratna kembali bersuara "Kami hanya ingin kamu berkaca bahwa dirimu akan menghancurkan nama baik keluarga kami dan masa depan Arka. Jangan kau kira dunia semulus bayanganmu!"
Mendengar pernyataan bu Ratna, aku hanya tersenyum hambar. Dunia macam apa yang beliau kira mulus menurutku. Andai beliau bukan orang tua, sudah kusambar saja bahwa sejak kecil duniaku memang sudah seterjal bebatuan karena kehilangan ibu dan adikku. Ditambah beban mental sebagai penyandang anak pembunuh.
Hatiku kembali hancur. Teringat bagaimana ketulusan mas Arka dan kebersamaan kami sejak kuliah. Hanya satu harapanku, jika dia benar mencintaiku. Dia akan berjuang dan berkorban demi restu.
Namun hari ini, bukannya meluluhkan hati orang tua dan rela berkorban, justru menambah rasa sakit yang kian dalam. Pertemuan dengan mereka dan pernyataan pesan dari mas Arka pagi ini meruntuhkan seluruh harapanku.
Aku berlari kekamar mandi dan menyalakan kran agar bapak tidak mendengar tangisku. Aku luapkan semuanya, disaat semua sudah sedalam ini, dengan mudahnya dia mengakhiri. Meskipun aku sebenarnya sudah mewanti-waniti diri sejak dulu jangan kasih ruang untuk orang berkuasa sepertinya.
Padahal jika aku tanya mengenai orang tuanya, dia akan berusaha sekeras mungkin untuk meluluhkan. Kulihat juga selama ini dia selalu ada untukku. Bahkan saat dia pindah kekota, ditengah kesibukannya tetap selalu ada meski hanya lewat online. Tapi, sejak dua bulan ini memang dia bilang agak kacau hidupnya, lantas karena apa?
Ponselku berpendar, menyadarkan lamunanku. Ternyata dari pak Ali sopir catering sewaanku.
"Halo mbak, saya sudah hampir sampai rumahmu." Ucapnya dari seberang telepon.
"Baik pak." Lirihku sembari mengusap air mata.
Setelah puas menangis, aku segera cuci muka. Baru kali ini menangis sampai sebegininya. Biasanya aku memang selalu tangguh didepan semua manusia, bahkan orang-orang mengenalku keras kepala.
Ya, dunia yang keras membentukku menjadi seperti ini. Anggaplah ini sebagai benteng pertahanan diri.
"Oh tidak, pagiku yang kacau ini tidak boleh tertangkap bapak." Batinku sembari cuci muka agar sisa air mata tak terlihat.
Hanya didepan bapak aku selalu terlihat lembut dan penurut. Entahlah kenapa?
Aku kembali menutup luka dengan sapuan make up tipis dan mempertebal lipstik. Sesegera mungkin aku mengalihkan tumpukan catering kedepan kemudian berpamitan pada bapak yang tengah duduk disofa kecil dengan koran pagi ditangannya.
Semenjak bapak mengendap ginjal yang sudah parah setelah beberapa kali cuci darah, aku meminta beliau istirahat total dan melarang kerja. Biarlah aku saja yang mati-matian jadi tulang punggung. Toh, sejak kecil hidupku terlatih menderita sejak kepergian ibu dan Sheila.
"Kamu buru-buru, nak?" Tanya bapak tiba-tiba saat aku baru selesai memasukkan catering kedalam mobil dan menyalami hendak mengantar pesanan.
"Oh, tidak pak. Ini sengaja aku antar lebih awal memang. Ada apa?" Hatiku berdebar seolah ada hal penting yang mau ditanyakan.
Aku mencoba duduk disebelahnya sembari menelisik. Perasaanku mulai tidak tenang.
"Pria yang kamu ceritakan kemarin itu jadi silaturahim atau melamarmu kesini?" Pertanyaan itu kembali membuat hatiku remuk redam.
Duh, bagaimana ini?
"Aku akan menikahimu. Kembalilah padaku."“Harus dengan cara apa mengingatkanmu, bahwa kita sudah selesai. Kamu pasti akan menemukan wanita yang kau cintai, mas.”“Tidak, Vi. Aku hanya menginginkanmu. Aku akan mengumpulkan bukti untuk memberi balasan setimpal pada orang yang telah menggagalkan hubungan kita kejenjang serius saat itu.”“Aku menghargai usahamu selama ini padaku mas. Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.”Dia segera menyahut “Keras kepalamu masih utuh ya, namun kali ini aku tak menyukai keras kepalamu yang memilih Al.”“Karena aku sadar mas, jodoh itu rahasia ilahi. Dan mas Al Adalah jodohku.”“Jika aku saja tidak bisa memilikimu, maka pria manapun tak boleh memilikimu, termasuk Al.”“Jangan egois Arya!”“Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, Vi. Aku akan memberi pelajaran pada Al karena telah mempengaruhimu.”Aku sungguh geram “Kemana Arya yang dulu kukenal baik dan tak pernah menyakiti orang?”“Aku seperti ini karena kalian.”Aku memo
“Aku ingin kita sama-sama move on. Kau sudah punya Angel.""Aku tak pernah mencintainya. Dia yang terus mengejarku."Ya, sekarang aku mengerti. Dia tidak pernah mencintai Angel. Mungkin dulu, dia memang benar-benar dijebak. Namun, aku tak boleh menuduh tanpa bukti. "Kamu punya banyak kesempatan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dariku, mas. Semua yang berlalu menjadi cerita yang usai.”“Aku tidak bisa, Vi. Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur gila karenamu.” Teriaknya.Ucapannya membuatku dikepung ketakutan, apalagi tempat ini sangat sepi. Sungguh, aku ingin mati saja. Tiba-tiba ia melajukan mobil dengan begitu cepat tanpa kendali. Aku sampai mual-mual diperjalanan.“Kau harus menerima hukuman dariku karena telah membuatku gila sepanjang malam memikirkanmu.”Dengan teganya, dia kembali menutup mataku dengan kain. Dalam setiap nafasku, aku hanya berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal buruk. Apalagi Arya dalam kondisi kesetanan seperti ini.Kali ini aku benar-benar pasrah, tidak
“Ada mama dan kakak.”“Wah, boleh dong aku dikenalin ke kakakmu.”Tiba-tiba handphone mas Al berdering, aku sedikit mengintip dilayar handponenya. Barangkali ada wanita cantik yang menggoda suamiku.“Kenapa?” Tanya mas Al dengan menahan senyum.Dia pasti ingin sekali menertawaiku. Duh, bisa-bisanya aku mendadak seposesif ini. Mungkin, karena dulu pernah sebegitu dalam mencintai laki-laki dan direbut kali ya. Lebih baik aku cari alasan buat jalan-jalan aja. “Tidak apa-apa. Angkat saja mas. Oh ya, boleh aku jalan-jalan ke taman depan itu?”Mas Al mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menerima panggilan itu. Dengan tas kecil yang setia menemaniku kemanapun aku pergi, langkah kakiku dengan anggunnya menuju arah taman restoran. Sesekali aku menengok suamiku, ternyata dia masih dalam mode serius menelpon. Sesampainya ditaman, aku terkesima dengan hamparan hijaunya rumput yang tertata sempurna, dipangkas rapi dan berdampingan dengan bunga-bunga. Aku duduk didekat kolam kristal yang meme
“Angel, belum puas juga kau?”“Aku hanya ingin kita bersama, Arya.” Pintanya dengan nada penuh iba. “Dasar wanita pengemis cinta!” Batinku. Pesanan menu makananku datang. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat terimakasih, wajahku menunduk masih berpura-pura scroll handphone. Jangan sampai mereka berdua tahu keberadaanku.“Jangan seperti anak kecil, Angel. Kau tak perlu selalu membuntuti aku.” Bentak Arya. Angel menyahut kesal “Hey, jangan lupa. Kalau bukan karena aku, perusahaan keluargamu sudah mati, Arya.” “Kalau kau butuh kalimat itu untuk merasa menang, silakan.”Napas Arya tertahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.“Tapi dengar baik-baik, jangan pernah berpikir aku hidup dalam permainanmu, Angel. Suatu saat kau akan menyesal.”“Kau bicara apa, Arya?”Suara langkah kakinya menjauh, disusul suara langkah kaki high heels wanita itu. Syukurlah aku bisa bernapas lega. Manusia-manusia berkuasa itu sudah pergi dari tempat dekat aku duduk. Aku berharap takkan pernah lagi bertemu mereka.Se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews