LOGINAku terbangun saat sebuah tangan menggenggamku. Aku terkejut, mas Al tidur ditepi ranjang rumah sakit dalam posisi duduk. Aku menatapnya, dia terlihat begitu lelah. Terbayang hari-hari yang melelahkan. Aku jadi merasa bersalah pada pria dihadapanku ini. Dia terhimpit keadaan dan terpaksa menikahiku. Setelah ia bangun, aku akan meminta maaf dan membahas hubungan ini. Tidak apa jika harus cerai.
Aku segara menarik diri. Namun sepertinya mas Al terusik. "Kamu sudah sadar?"
"Berapa lama aku tak sadarkan diri, mas?"
"Satu hari lebih Sofia, kamu belum benar-benar pulih dari hipotermia kemarin dan mungkin syok dihadapkan banyak hal tak terduga kemarin." Penjelasannya kembali mengingatkanku. Kondisi fisikku kali ini memang lemah.
Aku terdiam beberapa saat lamanya. Hingga suara mas Al kembali terdengar.
"Aku baru lihat seorang Sofia yang dulu sering terlihat tangguh dikuliah, sekarang tampak rapuh dihadapanku." Ucapnya sembari mengulas senyum meledek dan menaikkan selimutku.
Aku hanya membalas senyum. Memang kali ini begitu rapuh, tidak seperti biasanya didepan sana tampak selalu tangguh. Walau sebenarnya aku juga sering menangis diam-diam sendirian. Teringat beberapa peristiwa yang terus menghantamku.
Aku mulai menata diri. Membicarakan hal yang serius, terlebih untuk meminta maaf padanya telah menjadi korban keadaanku.
"Mas, maafkan aku. Karena keadaan membuatmu terseret dalam kesalahpahaman berlarut ini. Aku berterimakasih karena mas telah menolongku didepan bapak. Pasti mas Al rela menikahiku karena iba pada bapak kan? Aku tidak berhak melarangmu menceraikanku setelah ini. Kita akan hidup masing-masing." Tandasku dengan penuh keyakinan.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Sofia." Ucapnya tegas.
"Kenapa? Bukankah pernikahan kita karena terdesak?" Tanyaku heran.
"Pernikahan tidak sebercanda itu, istriku." Ucapnya sembari mengelus rambutku dan tersenyum hangat.
Istri. Oh, telingaku terasa begitu geli. Pertama kalinya mendengar kata istri dari pria yang berstatus suami.
"Tapi aku tidak mencintaimu. Kau juga akan tersiksa dengan pernikahan ini." Aku yakin, selain terdesak oleh bapak kemarin, ada permintaan mamanya kemarin yang membuat beliau salah paham dengan hubungan kami.
"Suatu saat kau akan mencintaiku, Sofia."
"Apakah kau melakukan ini karena perkataan mamamu beberapa hari lalu?" .
Dia tidak menjawab beberapa lama, lalu mengangguk pelan. Benar kan, hanya paksaan, untuk menuruti titah ibu. Pernikahan macam apa ini?
"Bukan mamaku. Tapi mama kita." Ralatnya.
"Bagaimana dengan kekasihmu disana? Dia pasti sangat patah hati melihatmu menikah dengan wanita sepertiku."
"Aku tidak punya kekasih. Karena istriku kekasih masa depanku, selamanya." Jawabnya tenang. Aku masih tidak percaya.
Tidak mungkin pria setampan dan secerdas dia tidak punya kekasih. Aku mengenalnya sejak kuliah satu organisasi kampus. Dia punya pemikiran matang dan bijak sejak dulu. Bagaimana tiba-tiba mengambil pemikiran konyol untuk menikahiku, kalau tidak karena iba?
Raut wajahku terbaca olehnya. "Jika aku punya kekasih, aku tak mungkin berani menikahimu."
"Tapi kau akan tersiksa dengan pernikahan pura-pura ini." Aku terus mendesaknya, meski hatiku menolak dikatakan pura-pura. Aku telah sah jadi istrinya secara agama.
"Aku tidak pernah main-main dalam pernikahan, Sofia. Karena ada tanggungjawab pada Allah dalam ikatan suci ini."
Bibirku bergetar mendengar penuturan bijaknya. Aku belum mampu menuangkan kalimat untuk menimpalinya.
"Saat kamu rapuh seperti ini, aku takkan membiarkanmu sendirian, Sofia. Aku tahu, kamu sudah tidak ada hubungan dengan Arya, kan?"
Aku terkejut. "Bagaimana mas Al bisa tahu?"
"Maaf, aku tak sengaja melihat ponselmu yang berpendar saat aku charger pasca kehujanan kemarin. Dilayar jendela notifikasi, pesan Arka terbaca. Makanya aku berani mengiyakan permintaan bapak." Ujarnya.
Diingatkan itu, mataku kembali berkaca-kaca. Kepedihan ditinggal kekasih yang terlanjur dalam perasaan ini. Trauma karena ditinggal Sheila dan ibu saja tiada sembuhnya. Saat ini ditambah ditinggal orang yang kembali berharga.
Setidaknya, setelah ini mas Al akan menjadi bagian masa depanku yang katanya akan ada saat aku rapuh. Semoga saja bisa mengobati luka-luka sebelumnya. Tiba-tiba aku teringat bapak. Aku tidak siap jika kembali kehilangan orang yang kucintai, apalagi aku belum berhasil membersihkan namanya.
"Bagaimana keadaan bapak? Apakah beliau akan meninggalkanku, teringat ucapannya kemarin malam?" Lidahku tak sabar mengetahui kondisi bapak. Teringat itu hatiku perih. Air mata mengalir dipipiku.
"Kita berdoa yang terbaik. Beliau sedang diberikan penanganan terbaik." Tutur mas Al yang terdengar tenang. Dia mengulas senyum.
"Tapi, aku belum siap kehilangannya, mas. Aku tidak punya siapa-siapa lagi?" Aku kembali tergugu. Kali ini, izinkan aku yang selalu berpura-pura baik-baik saja untuk menampakkan sisi rapuhku. Tidak apa kan, didepan suami sendiri.
Melihat keadaanku yang kacau, mas Al memelukku. Tangisku pecah didadanya. Setelah membiarkanku puas menangis dan diberitahu keadaan bapak semakin membaik. Hatiku lega.
"Kamu masih punya aku, aku tidak akan meninggalkanmu."
Aku beralih menatapnya. Perkataan itu membuatku tersentuh saja. Mungkin karena terbiasa rapuh sendirian dan kali ini diujung kerapuhan terparah.
"Perasaan macam apa ini?" Batinku.
"Kapan kalian menikah?"Mas Al masih mengelap darah diujung bibir atasnya. Keduanya kembali duduk dengan perasaan berdarah-darah. Aku duduk disebelah mas Al."4 Mei kemarin." Jawabku tegas. Mas Arka tampak mengingat-ingat. Mungkin saat itu dia sedang koma.Sungguh hati ini begitu pedih. Saat kuliah dulu, mereka sangat akrab sebagai aktivis di organisasi dan saling bertukar pikiran sebagai pria pemikir. Aku dan mas Arka jurusan Management Bisnis, sedangkan mas Al jurusan Hukum satu tahun diatas kami."Ternyata kau sungguh licik, Al. Memanfaatkan keadaan, kau sudah tahu pasti sejak dulu aku kekasih Sofia, kan?" Todong mas Arka."Jangan menuduh! Aku menikahinya karena keadaan mendesak. Sebelumnya pun, aku sudah mengirim pesan kenomormu dan kau tak mempermasalahkan, kan?""Pesan? Kenomorku? Jangan-jangan kaulah yang berbuat kelicikan ini. Katakan dimana ponselku?!""Aku tak pernah tahu menahu tentang ponselmu, Arka. Bahkan, sejak lulus kuliah, kita jarang berkontak, bukan? Hanya kemarin,
Sofia POV"Assalamualaikum." Suara ketukan pintu terdengar. Aku segera mengambil bergo dan membukanya."Waalaikumsalam."Aku terkejut melihat seorang pria yang tak asing masuk rumahku. Beraninya dia datang kesini sendirian. Dia pikir ini kota, bagaimana dengan pandangan warga yang melihat bukan mahram masuk kesini seorang diri, harusnya dia bawa saudara perempuan atau siapapun itu. Mas Al bilang pulang telat lagi. Hm. Semoga tidak lama dan tidak jadi fitnah. Aku jadi panik. "Silahkan duduk, mas." Sebenarnya hatiku masih menyambut perasaannya. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah aku juga harus butuh waktu tujuh tahun juga untuk melupakannya?Aku membuatkan minum dan memberi kabar pada mas Al atas kedatangan mas Arka. Sayang, kucari-cari handphoneku sama sekali tak kutemukan. Aku semakin panik. Duh, bagaimana ini? Bapak lagi solat lagi dimushola, pasti lama banget wiridannya. Aku segera keluar membawa minum."Sendirian saja mas dari Jakarta?" Tanyaku memecah keheningan."Iya
Arka's POVSetelah sadar dari koma selama 10 hari di ICU, mereka berkata tubuhku mulai stabil dan dipindah ke ruang perawatan. "Alhamdulillah, kamu sudah kembali sadar." Suara yang sangat tidak asing terdengar begitu mencemaskanku. Mama.Aku mengerjapkan mata. Teringat hari-hari yang berlalu. Terakhir aku menyetir dalam keadaan mabuk dan berujung entah kemana. Ternyata aku masih hidup.Sesaat beberapa memori melintas dibenakku. Menyelinap halus betapa pedihnya ujian kali ini.Aku teringat betul, aku mabuk karena melampiaskan stres berkepanjangan karena bisnis papa dihantam ujian yang hebat. Padahal sejak dulu aku paling takut minum benda haram itu, benar juga. Minuman haram itu membuatku sampai kecelakaan karena nyetir sambil mabuk. Kepalaku kembali berat, apalagi mengingat hal lain yang lebih berat lagi. Setelah memberikan kepastian untuk datang silaturahim dan melamar kerumahnya. Aku justru terkapar disini.Hal yang lebih menyakitkan lagi, saat papa berkata ingin menjodohkanku deng
Dapur dipenuhi aneka masakan untuk bahan kontenku. Meskipun tubuhku seperti remuk redam dikuasai suami sendiri tadi malam. Namun aku tetap tak boleh malas. Aku masih terngiang. Betapa romantisnya malam-malam teduh kami. Setelah salat subuh, mas Al kembali terlelap. Sebenarnya aku masih takut, kami belum mengadakan pelegalan nikah dan resepsi. Meskipun, tadi malam mas Al sempat bilang hal yang meyakinkanku."Setelah bapak sudah berangsur membaik. Kita akan mengadakan resepsi dan menikah secara sah agama dan negara. Namun, kuharap suatu saat nanti, kamu bisa menerima keluargaku. Meskipun, hubungan keluargaku bisa dikatakan tidak baik-baik saja." Aku jadi penasaran, keluarga mas Al seperti apa?Padahal sejauh ini aku mengenal dia pria yang sangat baik dan bijaksana. Terkadang, memang dibalik bijaknya seseorang tergantung dari sikap yang dibentuk saat menghadapi banyak masalah.Aku jadi teringat dengan biaya operasi bapak yang tidak sedikit. Setiap kali aku tanya, dia selalu mengalihkan t
"Maaf." Ucap mas Al dengan raut begitu bersalah.Tanpa menjawabnya, aku beranjak pergi kekamar. Benar-benar hatiku tak berhenti berdebar. Mungkin karena posisiku halal baginya. Jantungku yang berpacu kian hebat memilih untuk berwudhu untuk salat Isya.Saat memakai mukena, sekilas handphoneku bergetar. Nomor asing. Beberapa kali panggilan tak terjawab. Ada deret pesan didalamnya.[Assalamualaikum, Vi.][Vi, tolong maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu besok di cafe Lestari?][Aku masih begitu mencintaimu, Vi.]Aku membalas pesannya. Meski tidak menyebutkan nama, aku tahu, ini dari mas Arka. Entah berapa kali dia bilang mencintaiku sebagai kekasih. Tidak seperti mas Al yang sama sekali tidak pernah bilang begitu.[Cukup berdustanya. Aku sudah tidak percaya bualan-bualanmu, apapun itu. Saat kamu memutuskanku lewat chat dan keluargamu yang tidak menyetujuiku, aku harap kita beteman saja, tidak lebih. Maaf kalau banyak salah selama ini.]Aku sudah tidak mau berur
"Mas Al seorang advokat?"Dia mengangguk. Oh, kebetulan sekali. Pucuk dicinta ulampun tiba, suami sendiri yang akan membersihkan nama bapak. Apakah ini dibalik ujian yang bertubi-tubi?"Aku akan membantumu mencari pelaku aslinya. Dia berhak menuai perbuatannya dalam keadilan." Ucapnya tenang, namun tajam dan dalam.Kali ini aku terharu. Tanpa sadar, diriku yang labil ini melompat kepelukannya. Mas Al tampak terkejut dengan sikapku."Terimakasih banyak, mas." Saking senangnya mendengar ada partner yang membantu membersihkan nama bapak. Tanpa sadar, aku memeluknya erat."Sama-sama, sayang."Sekarang giliran aku yang terkejut saat mendengar bibirnya mengatakan 'sayang'. Aku mendongak ke wajahnya. Dia tersenyum hangat. Melihatnya sedekat ini, baru kusadari. Ternyata suamiku setampan ini."Aku tahu aku tampan, jangan menatapku begitu! Nanti kau lebih cepat jatuh cinta padaku." Ucapannya membuatku segera melepaskan diri. Bisa-bisanya salah tingkah begini."Dimakan dulu buburnya. Aku suapi.







