Home / Romansa / Terpaksa Nikah Diratukan Parah / 5. Perasaan Macam Apa Ini?

Share

5. Perasaan Macam Apa Ini?

Author: Hidayatun Q
last update Last Updated: 2025-05-13 06:47:48

Aku terbangun saat sebuah tangan menggenggamku. Aku terkejut, mas Al tidur ditepi ranjang rumah sakit dalam posisi duduk. Aku menatapnya, dia  terlihat begitu lelah. Terbayang hari-hari yang melelahkan. Aku jadi merasa bersalah pada pria dihadapanku ini. Dia terhimpit keadaan dan terpaksa menikahiku. Setelah ia bangun, aku akan meminta maaf dan membahas hubungan ini. Tidak apa jika harus cerai.

Aku segara menarik diri. Namun sepertinya mas Al terusik. "Kamu sudah sadar?"

"Berapa lama aku tak sadarkan diri, mas?"

"Satu hari lebih Sofia, kamu belum benar-benar pulih dari hipotermia kemarin dan mungkin syok dihadapkan banyak hal tak terduga kemarin." Penjelasannya kembali mengingatkanku. Kondisi fisikku kali ini memang lemah.

Aku terdiam beberapa saat lamanya. Hingga suara mas Al kembali terdengar.

"Aku baru lihat seorang Sofia yang dulu sering terlihat tangguh dikuliah, sekarang tampak rapuh dihadapanku." Ucapnya sembari mengulas senyum meledek dan menaikkan selimutku.

Aku hanya membalas senyum. Memang kali ini begitu rapuh, tidak seperti biasanya didepan sana tampak selalu tangguh. Walau sebenarnya aku juga sering menangis diam-diam sendirian. Teringat beberapa peristiwa yang terus menghantamku.

Aku mulai menata diri. Membicarakan hal yang serius, terlebih untuk meminta maaf padanya telah menjadi korban keadaanku.

"Mas, maafkan aku. Karena keadaan membuatmu terseret dalam kesalahpahaman berlarut ini. Aku berterimakasih karena mas telah menolongku didepan bapak. Pasti mas Al rela menikahiku karena iba pada bapak kan? Aku tidak berhak melarangmu menceraikanku setelah ini. Kita akan hidup masing-masing." Tandasku dengan penuh keyakinan.

"Aku tidak akan menceraikanmu, Sofia." Ucapnya tegas.

"Kenapa? Bukankah pernikahan kita karena terdesak?" Tanyaku heran.

"Pernikahan tidak sebercanda itu, istriku." Ucapnya sembari mengelus rambutku dan tersenyum hangat.

Istri. Oh, telingaku terasa begitu geli. Pertama kalinya mendengar kata istri dari pria yang berstatus suami.

"Tapi aku tidak mencintaimu. Kau juga akan tersiksa dengan pernikahan ini." Aku yakin, selain terdesak oleh bapak kemarin, ada permintaan mamanya kemarin yang membuat beliau salah paham dengan hubungan kami.

"Suatu saat kau akan mencintaiku, Sofia."

"Apakah kau melakukan ini karena perkataan mamamu beberapa hari lalu?" .

Dia tidak menjawab beberapa lama, lalu mengangguk pelan. Benar kan, hanya paksaan, untuk menuruti titah ibu. Pernikahan macam apa ini?

"Bukan mamaku. Tapi mama kita." Ralatnya.

"Bagaimana dengan kekasihmu disana? Dia pasti sangat patah hati melihatmu menikah dengan wanita sepertiku."

"Aku tidak punya kekasih. Karena istriku kekasih masa depanku, selamanya." Jawabnya tenang. Aku masih tidak percaya.

Tidak mungkin pria setampan dan secerdas dia tidak punya kekasih. Aku mengenalnya sejak kuliah satu organisasi kampus. Dia punya pemikiran matang dan bijak sejak dulu. Bagaimana tiba-tiba mengambil pemikiran konyol untuk menikahiku, kalau tidak karena iba?

Raut wajahku terbaca olehnya. "Jika aku punya kekasih, aku tak mungkin berani menikahimu."

"Tapi kau akan tersiksa dengan pernikahan pura-pura ini." Aku terus mendesaknya, meski hatiku menolak dikatakan pura-pura. Aku telah sah jadi istrinya secara agama.

"Aku tidak pernah main-main dalam pernikahan, Sofia. Karena ada tanggungjawab pada Allah dalam ikatan suci ini."

Bibirku bergetar mendengar penuturan bijaknya. Aku belum mampu menuangkan kalimat untuk menimpalinya.

"Saat kamu rapuh seperti ini, aku takkan membiarkanmu sendirian, Sofia. Aku tahu, kamu sudah tidak ada hubungan dengan Arya, kan?"

Aku terkejut. "Bagaimana mas Al bisa tahu?"

"Maaf, aku tak sengaja melihat ponselmu yang berpendar saat aku charger pasca kehujanan kemarin. Dilayar jendela notifikasi, pesan Arka terbaca. Makanya aku berani mengiyakan permintaan bapak." Ujarnya.

Diingatkan itu, mataku kembali berkaca-kaca. Kepedihan ditinggal kekasih yang terlanjur dalam perasaan ini. Trauma karena ditinggal Sheila dan ibu saja tiada sembuhnya. Saat ini ditambah ditinggal orang yang kembali berharga.

Setidaknya, setelah ini mas Al akan menjadi bagian masa depanku yang katanya akan ada saat aku rapuh. Semoga saja bisa mengobati luka-luka sebelumnya. Tiba-tiba aku teringat bapak. Aku tidak siap jika kembali kehilangan orang yang kucintai, apalagi aku belum berhasil membersihkan namanya.

"Bagaimana keadaan bapak? Apakah beliau akan meninggalkanku, teringat ucapannya kemarin malam?" Lidahku tak sabar mengetahui kondisi bapak. Teringat itu hatiku perih. Air mata mengalir dipipiku.

"Kita berdoa yang terbaik. Beliau sedang diberikan penanganan terbaik." Tutur mas Al yang terdengar tenang. Dia mengulas senyum.

"Tapi, aku belum siap kehilangannya, mas. Aku tidak punya siapa-siapa lagi?" Aku kembali tergugu. Kali ini, izinkan aku yang selalu berpura-pura baik-baik saja untuk menampakkan sisi rapuhku. Tidak apa kan, didepan suami sendiri. 

Melihat keadaanku yang kacau, mas Al memelukku. Tangisku pecah didadanya. Setelah membiarkanku puas menangis dan diberitahu keadaan bapak semakin membaik. Hatiku lega.

"Kamu masih punya aku, aku tidak akan meninggalkanmu."

Aku beralih menatapnya. Perkataan itu membuatku tersentuh saja. Mungkin karena terbiasa rapuh sendirian dan kali ini diujung kerapuhan terparah.

"Perasaan macam apa ini?" Batinku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   25. Nekat

    "Aku akan menikahimu. Kembalilah padaku."“Harus dengan cara apa mengingatkanmu, bahwa kita sudah selesai. Kamu pasti akan menemukan wanita yang kau cintai, mas.”“Tidak, Vi. Aku hanya menginginkanmu. Aku akan mengumpulkan bukti untuk memberi balasan setimpal pada orang yang telah menggagalkan hubungan kita kejenjang serius saat itu.”“Aku menghargai usahamu selama ini padaku mas. Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.”Dia segera menyahut “Keras kepalamu masih utuh ya, namun kali ini aku tak menyukai keras kepalamu yang memilih Al.”“Karena aku sadar mas, jodoh itu rahasia ilahi. Dan mas Al Adalah jodohku.”“Jika aku saja tidak bisa memilikimu, maka pria manapun tak boleh memilikimu, termasuk Al.”“Jangan egois Arya!”“Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, Vi. Aku akan memberi pelajaran pada Al karena telah mempengaruhimu.”Aku sungguh geram “Kemana Arya yang dulu kukenal baik dan tak pernah menyakiti orang?”“Aku seperti ini karena kalian.”Aku memo

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   24. Sudah Gila

    “Aku ingin kita sama-sama move on. Kau sudah punya Angel.""Aku tak pernah mencintainya. Dia yang terus mengejarku."Ya, sekarang aku mengerti. Dia tidak pernah mencintai Angel. Mungkin dulu, dia memang benar-benar dijebak. Namun, aku tak boleh menuduh tanpa bukti. "Kamu punya banyak kesempatan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dariku, mas. Semua yang berlalu menjadi cerita yang usai.”“Aku tidak bisa, Vi. Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur gila karenamu.” Teriaknya.Ucapannya membuatku dikepung ketakutan, apalagi tempat ini sangat sepi. Sungguh, aku ingin mati saja. Tiba-tiba ia melajukan mobil dengan begitu cepat tanpa kendali. Aku sampai mual-mual diperjalanan.“Kau harus menerima hukuman dariku karena telah membuatku gila sepanjang malam memikirkanmu.”Dengan teganya, dia kembali menutup mataku dengan kain. Dalam setiap nafasku, aku hanya berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal buruk. Apalagi Arya dalam kondisi kesetanan seperti ini.Kali ini aku benar-benar pasrah, tidak

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   23. Posesif

    “Ada mama dan kakak.”“Wah, boleh dong aku dikenalin ke kakakmu.”Tiba-tiba handphone mas Al berdering, aku sedikit mengintip dilayar handponenya. Barangkali ada wanita cantik yang menggoda suamiku.“Kenapa?” Tanya mas Al dengan menahan senyum.Dia pasti ingin sekali menertawaiku. Duh, bisa-bisanya aku mendadak seposesif ini. Mungkin, karena dulu pernah sebegitu dalam mencintai laki-laki dan direbut kali ya. Lebih baik aku cari alasan buat jalan-jalan aja. “Tidak apa-apa. Angkat saja mas. Oh ya, boleh aku jalan-jalan ke taman depan itu?”Mas Al mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menerima panggilan itu. Dengan tas kecil yang setia menemaniku kemanapun aku pergi, langkah kakiku dengan anggunnya menuju arah taman restoran. Sesekali aku menengok suamiku, ternyata dia masih dalam mode serius menelpon. Sesampainya ditaman, aku terkesima dengan hamparan hijaunya rumput yang tertata sempurna, dipangkas rapi dan berdampingan dengan bunga-bunga. Aku duduk didekat kolam kristal yang meme

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   22. Makan Berdua

    “Angel, belum puas juga kau?”“Aku hanya ingin kita bersama, Arya.” Pintanya dengan nada penuh iba. “Dasar wanita pengemis cinta!” Batinku. Pesanan menu makananku datang. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat terimakasih, wajahku menunduk masih berpura-pura scroll handphone. Jangan sampai mereka berdua tahu keberadaanku.“Jangan seperti anak kecil, Angel. Kau tak perlu selalu membuntuti aku.” Bentak Arya. Angel menyahut kesal “Hey, jangan lupa. Kalau bukan karena aku, perusahaan keluargamu sudah mati, Arya.” “Kalau kau butuh kalimat itu untuk merasa menang, silakan.”Napas Arya tertahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.“Tapi dengar baik-baik, jangan pernah berpikir aku hidup dalam permainanmu, Angel. Suatu saat kau akan menyesal.”“Kau bicara apa, Arya?”Suara langkah kakinya menjauh, disusul suara langkah kaki high heels wanita itu. Syukurlah aku bisa bernapas lega. Manusia-manusia berkuasa itu sudah pergi dari tempat dekat aku duduk. Aku berharap takkan pernah lagi bertemu mereka.Se

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   21. Bertemu di Restaurant

    “Masih diselidiki Fatih. Dugaan kuatnya pelaku asli menyewa saksi palsu.” Jawabnya tenang sambil menyetir. "Jahat sekali. Lalu kemana Saksi asli selama ini? Kenapa dia tidak muncul dan berkata sebenarnya?" Dengusku. "Saksi asli terancam dan terintimidasi. Tapi lebih jelasnya masih ditelusuri. Sabar, sayang." "Tuh kan. Semakin sak-sak e dewe. Bagaimana bisa itu terjadi?" “Ada rekayasa barang bukti dan hakim memutuskan berdasarkan alat bukti sah.” “Harusnya hakim memutuskan berdasarkan kebenaran absolut dong mas?” “Dalam proses pengadilan, kunci utama alat bukti, sayang.Ketika semua saksi dan alat bukti kuat mengarah ke bapak, maka bapak diputuskan bersalah meski bukan pelaku.” Ucapannya tanpa rasa bersalah padaku. “Enteng sekali kau bicara seperti itu. Bapak tidak bersalah lho mas.” Tiba-tiba aku kecewa padanya. Mood ini memang naik turun kalau bicara sama dia, entahlah. Akupun tak tahu. "Iya, aku tahu. Aku hanya bicara kenyataan yang terkadang terjadi dilapangan. Tidak ada ma

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   20. Saksi Kasus Bapak

    “Bisa kita selesaikan setelah kita pindah, sayang.”“Hmmm.”"Kalau kamu keberatan, kita didesa aja. Sejujurnya, aku lebih tenang hidup sederhana bersamamu seperti ini. Aku tidak capek kok kalau harus bolak-balik Purworejo-Jogja."Perkataannya menyambar ulu hatiku. Seakan egoku begitu tinggi. Apa sulitnya mengiyakan permintaan suami, sedangkan selama ini dia telah melakukan banyak hal untukku dengan begitu tulus. Bahkan bapak bisa sembuh karena mas Al. "Aku nggak keberatan kok, kamu kan harus kerja setiap hari di Jogja. Kesehatanmu juga penting. Disisi lain, aku memang harus ikut kamu, mas. Aku juga penasaran dengan keluargamu di sana."Dia menoleh kearahku, senyumnya mengembang. “Nanti kita menghadapi apapun bareng-bareng ya.”Aku hanya mengangguk, teringat saat awal pernikahan itu dia sempat berkata kalau keluarganya bisa dibilang tidak baik-baik saja. Semoga aku salah mendengarnya. “Btw, kita mau kemana mas?”“Ke tempat makan paling enak. Aku traktir, kamu pilih apapun yang kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status