Share

Bab 3

Rene tidak ikut pesta sama sekali, dirinya begitu lelah karena perjalanan sehingga dirinya memutuskan untuk tidur.

Saat masuk ke dalam kamarnya, ternyata di depan kamarnya ada Orlan yang tengah menunggunya.

"Hei." Orlan dengan salah tingkah menyapanya.

"Bukankah kau seharusnya pergi bersama Roby sayang?" Tanya Rene.

Orlan menggaruk kepalanya dengan canggung, "tidak terlalu ingin keramaian."

"Oh..."

"Kate menyuruhku menemani dirimu. Apa kau ingin aku pulang kembali ke kamarku atau..."

"Tidak, tinggallah."

Orlan mengangguk masih dengan wajah yang malu-malu.

Rene memasukkan kunci kamarnya diikuti oleh Orlan.

"Aku akan mandi dulu."

"Oh ya, tentu..."

Rene menghabiskan waktunya agak lama untuk mandi.

Selesai mandi Rene melihat Orlan tengah tertidur di kamarnya.

Rene menghampiri Orlan, ikut memeluknya seperti yang biasa mereka lakukan saat sedang menghabiskan waktu bersama.

"Jadi sudah selesai mandinya hm?"

"Ya."

"Maka tidurlah bersamaku."

Rene menyetujuinya dengan terus mengeratkan pelukannya tapi ternyata ucapan Kate membuatnya sedikit bimbang.

"Kau tahu sayang? Kate bilang dirimu dan diriku harus saling tidur bersama."

Orlan tampaknya tidak terganggu dengan ucapan Kate dan malah terkekeh.

"Kau tahu seperti apa sifat Kate, dia adalah orang yang sok tahu."

"Jadi kau tidak?"

"Tentu saja tidak sayang, aku sama sekali tidak pernah ada pemikiran seperti itu kepadamu."

"Mengapa?"

"Karena aku mencintaimu dengan tulus, bukan karena perasaan seperti itu."

Rene menatap mata Orlan dengan tajam.

"Dengar sayang, aku mencintaimu dengan cinta yang benar-benar tulus. Aku tidak ingin merusak apapun yang kau miliki karena aku berpikir untuk hidup bersama denganmu. Ingat bahwa aku berjanji untuk menikahi mu setelah kita lulus kuliah suatu saat nanti? Itu adalah bukti bahwa kau lebih dari sekedar berharga."

Orlan mengusap rambut Rene dengan penuh kasih sayang.

"Lebih dari itu, aku merasa bahwa kita ditakdirkan untuk bersama. Menjadi tua dan membesarkan anak dan cucu kita. Kau ingin menjadi dokter? Maka kejarlah cita-cita mu. Itu yang selama ini kita yakini kan? Percaya bahwa kita memiliki takdir Tuhan yang bisa membuat kita melalui semua yang ada di dunia ini."

Rene merasakan kesedihan luar biasa ketika Orlan mengatakan hal seperti itu. Entah mengapa Rene merasa bahwa mungkin saat inilah dirinya dan Orlan akan bersama meskipun mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

"Orlan, aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena memiliki pria seperti mu."

Orlan mengecup pipi Rene, "tentu saja. Sekarang tidurlah, akan banyak kegiatan esok hari."

Mereka berdua berpelukan malam itu, saling berdoa semoga itu semua bukanlah hal yang akan membuat mereka berpisah.

*****

Hari ini adalah hari keenam mereka berada di Scotland. Tinggal menyisakan satu hari saja bagi mereka untuk merasakan suasana di negara berangin itu.

Rene tengah duduk sambil memijat pelan kakinya, rasanya pegal setelah dirinya di haruskan memanjat bukit di Scotland untuk mengamati banyak hal.

Kate sedang pergi untuk mengambil air minum atau mencari makanan ringan untuk mereka.

Orlan belum terlihat tapi pastinya dia akan terlihat sebentar lagi.

Guru-guru yang mendampingi mereka turun dari bukit dan menyuruh mereka berkumpul.

Seluruh anak-anak berkumpul menjadi satu dengan membentuk setengah lingkaran.

"Jadi kita sudah mendekati akhir dari perjalanan kita di negara ini, dua hari yang lalu para guru kalian sudah meminta kalian mengerjakan tugas dari kelompok masing-masing..."

Para teman-teman Rene mengangguk setuju.

"Dan setelah kami tinjau lebih teliti lagi, kami menemukan satu pekerjaan kalian yang sangat detail dan teliti."

"Ouhhhh!" Seruan heboh diantara teman-teman Rene.

"Kalian tahu itu siapa?"

"Rene?" Kate menjawab dengan nada tinggi yang membuat orang-orang disekelilingnya menatap ke arah Rene.

"Ya! Pintar sekali, Rene kemarilah nak." Gurunya memanggil Rene untuk melangkah maju.

Rene maju ke depan kerumunan itu, semua orang membuat sorakan untuk Rene.

"Kau sungguh hebat nak! Pengamat yang sangat hebat! Aku hampir tidak bisa menemukan kata-kata untuk kesempurnaan tugasmu!"

Guru Rene menepuk pundak Rene, lalu mengucapkan banyak nasehat dan itu membuat Rene tersipu.

"Tentu saja Rene, dia adalah kebanggaan kita kan!" Roby berseru sambil mendorong Orlan untuk menggodanya.

Rene kembali ke barisan dan Orlan mendekatinya.

"Ada hadiah yang menanti sepertinya."

Orlan menyeringai dan Rene hanya menepuk pundaknya.

Para guru membebaskan para muridnya untuk pergi ke sekitar bukit itu, namun karena lelah mendaki para teman-teman Rene tidak berniat untuk pergi ke manapun.

"Kau ingin pulang sayang?" Tanya Orlan dengan perhatian.

"Aku lelah, kau tahu sepertinya kaki ku mati rasa."

Orlan terkekeh mendengar perkataan kekasihnya itu.

"Mau ku gendong?"

"Serius?"

Orlan duduk di bawah kaki Rene, mengangkat kaki Rene dan menekannya perlahan.

Orlan juga membuka alas sepatu Rene, kaki Rene yang bengkak membuat Orlan merasa kasihan.

"Kau tahu? Jika kau sudah tidak sanggup melakukan sesuatu maka jangan lakukan hal apapun."

"Hanya bukit, tentu saja aku bisa melakukannya."

Rene menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya.

Orlan memijatnya pelan, penuh kasih sayang. Adegan itu membuat para teman-teman Rene terutama Roby dan Kate heboh.

Tidak bisa dipungkiri, Rene dan Orlan adalah pasangan paling romantis di sekolahan mereka.

Orlan berbalik masih dengan posisi duduk.

"Ayo naik ke punggungku, aku akan menggendong mu sampai ke bus."

Siulan teman-teman Rene membuat Rene memerah.

Rene mengangguk meletakkan badannya ke punggung Orlan.

Orlan memang bukan tipe pria berbadan besar tapi Orlan memiliki badan yang kokoh untuk menopang Rene.

Sepanjang perjalanan menuju bus, Rene dan Orlan digoda oleh banyak pihak termasuk guru mereka sendiri.

Bahkan banyak yang meramalkan kisah cinta Orlan dan Rene akan menjadi kisah cinta paling menakjubkan di masa depan.

*****

Rene tertidur begitu sampai di bus, perjalanan menuju hotel dari bukit memakan waktu yang cukup lama.

Orlan menatap kekasihnya yang sedang tertidur itu. Kekasih yang dia yakini akan menjadi pilihan di masa depannya.

Kekasihnya begitu nyenyak dalam tidurnya, mata cokelat hangatnya melebur tertutup dengan bulu mata yang lentik.

Orlan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Rene. Tangannya terulur mendekati wajah cantik Rene, mengelusnya perlahan tidak ingin membangunkannya dan mulai mengagumi ciptaan Tuhan.

Selama ini ada ketakutan bagi Orlan, ketakutan apakah dia bisa hidup dengan Rene dimasa depan, apakah Rene akan memilihnya untuk menjadi tempat paling akhir penantian panjang hidupnya?

Rasanya sesak jika Rene tidak memilihnya, tidak bisa dimilikinya. Orlan juga berpikir apakah Tuhan menciptakan Rene untuk dirinya? Atau Orlan hanya diciptakan sebagai salah satu tempat cerita cinta Rene dimulai?

Orlan tidak tahu masa depan, tidak tahu seperti apa Tuhan akan memisahkan atau mendekatkan dirinya dan Rene.

*****

Jason melangkah menuju kamar hotelnya, saat masuk dia tidak bisa menemukan Dyana sama sekali. Tiba-tiba ketakutan akan Dyana yang meninggalkannya muncul.

Jason mengijinkan Dyana untuk pergi keluar dari kamar, tapi tidak boleh sampai pergi dari hotel ini.

Mungkinkah?

Mungkinkah wanita sialan itu kabur?

Jason menghembuskan napasnya dengan tergesa-gesa, jika Dyana kabur maka dia akan menghancurkan segala hal yang berkaitan dengan wanita itu. Akan menghancurkan adik perempuan Dyana, neneknya bahkan siapapun itu.

Jason membuka telfonnya untuk mengabarkan Dyana yang kabur, tapi kemudian sepasang lengan memeluk tubuhnya.

"Ada apa Jase? Kau terlihat cemas?"

Jason mencengkram tangan Dyana dengan penuh kekuatan.

"Darimana saja kau ini? Sudah ku bilang bukan! Kau boleh pergi tapi kembalilah sebelum aku pulang ke rumah!"

Dyana merasakan amarah menyulutnya akibat kata-kata Jason.

"Apa maksudmu? Aku sudah ada di hadapanmu saat ini!" Alih-alih membuat suara yang bisa menenangkan Jason, Dyana malah ikut meninggikan suaranya.

Jason mengernyitkan dahinya, tidak pernah sekalipun dalam hidupnya Dyana berhasil meninggikan suaranya di depan mukanya.

"Sialan kau!" Suara tamparan memenuhi ruangan itu. Jason menampar Dyana dengan tenaga yang begitu kencang, membuat Dyana terhempas dan sisi mulutnya sobek.

"Kau berani melawanku? Sejak kapan!"

Jason menjambak Dyana, tidak memperdulikan suara kesakitan kekasihnya itu.

Saat menatap Dyana yang terdiam saja, Jason merasakan amarahnya surut. Kekasihnya itu terlihat begitu menyedihkan. Matanya berkantung, memerah dan sudut bibirnya pecah akibat tamparannya.

Karena kasihan Jason melepaskan Dyana, menghembuskan nafasnya perlahan dan mencoba tenang.

Dyana sendiri tidak melakukan apapun. Hanya duduk tanpa mencoba melawan ataupun memulai percakapan.

Keheningan berlangsung lama, Jason yang tidak ingin membuat kekacauan lagi mendekati Dyana, memeluknya dan mengucapkan beribu maaf.

Dyana hanya mengangguk, terlalu lelah untuk mengatakan apapun karena sejatinya dirinya tahu, Jason tidak akan pernah berubah. Jason tetaplah pria yang tidak ingin siapapun mengalahkannya terutama Dyana.

"Jangan lakukan itu lagi, aku tidak bisa membayangkan pulang ke kamarku tanpa ada dirimu." Lirih Jason.

"Tapi aku bukan istrimu Jase."

"Tapi aku kekasihmu dan kau adalah milikku. Apapun yang kau lakukan, itu harus dengan ijinku."

"Ya."

"Apakah itu sakit?"

Jason mengusap lembut wajah Dyana, menekan lemah ke luka yang sudah di timbulkan olehnya.

"Kapan kita akan pulang?" Tanya Dyana pada Jason yang tengah sibuk memeriksanya.

"Apa kau tidak betah tinggal disini?"

"Tidak, aku tidak mengatakan hal itu. Aku hanya bertanya kapan kawan baikmu itu membawa kita pulang?"

Jason terlihat kecewa ketika Dyana mengatakan hal itu.

"Aku tidak tahu, Bruno bilang pulang esok hari. Tapi kau tahu Anthony hanya akan pulang jika urusannya selesai."

"Apa urusannya sangat penting sampai Anthony membawa kau dan Bruno ikut bersamanya?"

"Kau tahu tidak ada yang mengenal Scotland sebaik diriku dan itu adalah alasannya."

Dyana mengangguk kecil tidak lagi ingin tahu mengenai urusan Jason dan kedua sahabat baiknya itu.

Bunyi handphone Jason terdengar, Jason mengangkatnya.

Setelah beberapa percakapan, Jason kembali melirik Dyana.

"Apa kau ingin pergi ke bar dekat sini? Aku bisa membawamu jika kau menginginkannya."

Dyana terlihat cerah begitu mendengar Jason tidak lagi memenjarakannya di dalam kamar mereka.

"Kau serius?"

"Ya. Jika kau berjanji untuk tidak kabur dan tidak menghilang dari pandanganku."

Dyana terlihat senang, sambil berdiri Dyana mengecup pipi Jason.

"Tentu saja aku ingin pergi, aku janji padamu aku tidak akan melakukan hal apapun yang membuatmu kesal."

"Baiklah, bersiap-siaplah. Aku akan menjemputmu dalam dua puluh menit."

Jason mencium bibir Dyana dengan penuh gairah.

Dyana merasa sesak, masih tidak bisa menerima bahwa dirinya harus berpura-pura menikmati segala perlakuan Jason.

Jason menyatukan dahi mereka, "aku akan menemui Bruno dan Anthony."

"Oke."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status