LOGINPergi membawa luka, pulang membawa rindu yang tertahan. Itulah yang dirasakan Vanka saat Sora Kim mengajaknya kembali ke Indonesia. Setelah enam tahun menimba ilmu dan bekerja keras di luar negeri, Vanka merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi masa lalunya. Namun, pertahanannya runtuh saat ia berhadapan kembali dengan Efra. Pria yang dulu ia tinggalkan dalam kemurungan, kini berdiri di depannya dengan aura yang jauh lebih mempesona dan matang. Meski Vanka mencoba bersikap asing dan mengandalkan penampilannya yang kini berkacamata agar tak dikenali, Efra tidak mudah dikelabui. Bagi Efra, sejauh apa pun Vanka berlari, ia akan selalu mengenali "istri kecilnya" itu. Akankah dinginnya sikap cuek Vanka mencair di hadapan Efra yang ternyata masih mengenalnya dengan sangat baik?
View MoreJam sebelas malam, koridor lantai tiga rumah Pak Kim sudah sunyi.Satu per satu lampu kamar mati. Bayu yang paling cepat karena besok pagi ia yang harus memastikan semua logistik rapat sudah beres sebelum jam delapan. Eunwoo tidak lama setelah itu. Puja yang sudah hampir tidur sejak di gazebo tadi.Rena yang paling terakhir karena ia masih mengirimkan beberapa email yang tidak bisa ditunda sampai besok.Vanka duduk di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala, mengerjakan sesuatu yang ia bilang ke Sora tinggal sebentar tapi sudah setengah jam.Sora sudah tidur di kamarnya sendiri dengan cara yang tidak perlu diumumkan karena pintunya sudah tertutup sejak jam sepuluh.Di ujung koridor, kamar Seokjin yang sekarang diisi Efra, lampunya masih menyala tipis dari bawah pintu.---Vanka menutup laptopnya jam sebelas empat puluh.Matanya lelah dengan cara yang berbeda dari lelah fisik. Lebih ke lelah yang datang da
Ronde pertama, Efra kalah.Bukan karena tidak bisa main. Tapi karena Sora mengeluarkan kartu plus empat tepat saat Efra hampir menang dan tidak ada yang memperingatkan karena semua orang di meja itu melihat peluang itu dan memilih diam."Itu tidak adil." Efra menatap tumpukan kartu tambahan yang harus ia ambil."Selamat datang di UNO versi kami." Sora menyerahkan spidol ke Vanka. "Kamu yang gambar."Vanka mengambil spidol. Menatap Efra.Efra menatap balik dengan ekspresi yang tidak memberi instruksi tapi juga tidak menolak.Vanka menggambar satu garis pelan di pipi kirinya.Efra tidak bergerak."Itu saja?" tanya Sora."Itu standar hukumannya." Vanka menutup spidolnya. "Satu garis per kekalahan.""Tapi tadi aku dapat tiga sekaligus karena—"" Kak Sora." Suara Vanka tidak tinggi.Sora menutup mulutnya.Ronde berikutnya dimulai.---Jam tujuh, Bayu munc
Jam enam sore, rumah Pak Kim yang biasanya tenang di bagian belakang sudah berbeda suasananya.Dari arah gazebo di pojok taman, suara kartu yang dilempar ke meja dengan keras. Disusul suara protes. Disusul tawa yang tidak ditahan.Dari arah panggangan di sisi lain taman, asap tipis mulai naik dan bau daging yang mulai matang menyebar pelan ke seluruh area belakang rumah.Bi Ema yang lewat dari dapur ke gudang berhenti sebentar menatap dua area itu bergantian, menggeleng pelan dengan senyum yang tidak ia sembunyikan, lalu melanjutkan jalannya.---Di gazebo, permainan sudah berjalan entah berapa ronde.Meja rotan di tengah gazebo penuh dengan kartu yang sudah dimainkan. Di tengahnya, tumpukan kartu sisa yang makin tipis. Dan di wajah empat perempuan yang duduk mengelilingi meja itu, ada bukti yang tidak bisa disangkal dari siapa yang sudah kalah berapa kali.Sora punya empat garis di pipi kanan dan tiga di pipi kiri. Mera
Sora mematap Efra yang sedang menatap adiknya."Kami lupa memperkenalkan." Mama Sohe mengambil sendoknya kembali. "Seokjin itu putra sulung, kakak kami. Sedang dinas di Korea, jarang pulang ke Indonesia. Baru kali ini kami di sini lebih dari dua minggu jadi kamarnya kosong.""Dinas?" Rena yang dari tadi diam bertanya dengan nada yang sedikit lebih tertarik dari nada profesionalnya yang biasa."Angatan Darat." Sora menimpali tanpa mendongak dari piringnya. "Oppa Seokjin tentara aktif jadi menetap di sana. Paling setahun sekali pulang ke Indonesia kalau tidak ada penugasan.""Oh." Rena mengangguk. Kembali ke makanannya. Tapi telinganya masih merah sedikit di bagian atas.Bayu melihat itu. Memilih untuk tidak tahu apa-apa.Efra menatap Pak Kim. Menatap Mama Sohe. Melihat tidak ada celah yang masuk akal untuk menolak tanpa terlihat tidak sopan."Terima kasih. Kalau tidak merepotkan.""Tidak merep
Orang tua yang terakhir pergi adalah Pak Nadi.Bukan karena ia yang paling lama. Tapi karena saat semua orang sudah berdiri dan mengambil tas dan berpamitan satu per satu, Pak Nadi masih duduk sebentar dengan cangkir kopinya yang sudah kosong. Menatap ke meja. Ke piring-piring yang sudah
Kedai kopi itu buka dari jam tujuh pagi. Mama Sohe yang memilih tempat ini dengan alasan yang tidak ia jelaskan ke siapa pun. Kedai kecil di jalan yang tidak terlalu ramai, dengan sudut yang tenang dan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di seberang jalan. Bukan yang mewah.
Tol Cipularang jam dua pagi terasa seperti dunia lain.Tidak ada kemacetan. Tidak ada klakson. Hanya garis putih di aspal yang terus muncul dari kegelapan di depan lampu mobil dan hilang lagi di belakang, berulang-ulang, seperti metronom yang tidak punya tujuan selain terus bergerak.
Jalanan Bandung malam itu sudah mulai menipis.Warung-warung di pinggir jalan tutup satu per satu. Lampu toko yang tadi ramai sekarang tinggal beberapa titik. Minimarket di sudut perempatan masih menyala dengan cahaya putih yang terlalu terang untuk jam sesunyi ini.Motor itu me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.