Home / Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Ketenangan Sebelum Badai

Share

Ketenangan Sebelum Badai

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2025-03-04 11:37:07

Saat aku kembali ke kantor Lucian setelah pertemuanku dengan Veronica, pria itu sudah menungguku dengan ekspresi datar. Dia sedang berdiri di depan jendela, melihat pemandangan kota yang bermandikan cahaya senja.

"Apa yang dia katakan padamu?"

Aku menghela napas dan berjalan ke arah meja, meletakkan tas tanganku dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya. "Oh, hal biasa. Ancaman terselubung, pertanyaan meremehkan, sedikit penghinaan halus."

Lucian akhirnya berbalik menatapku. Mata kelamnya mengamati wajahku seolah mencoba membaca apakah aku sedang berbohong atau tidak. "Dan bagaimana menurutmu?"

Aku menyandarkan tubuh ke meja, melipat tangan di depan dada. "Aku pikir dia menganggapku sebagai pengganggu dalam hidupmu. Dan dia ingin memastikan aku tidak bertahan lama."

Sudut bibir Lucian sedikit terangkat, tapi bukan dalam senyuman. "Itu sudah bisa diduga."

Aku menatapnya tajam. "Kau tidak akan melakukan apa pun soal itu?"

"Apa kau ingin aku melakukannya?" Dia balik bertanya, mendekat hingga hanya beberapa langkah dariku.

Aku terdiam sejenak. Ini bukan pertama kalinya Lucian menantangku seperti ini, tapi kali ini aku tahu dia benar-benar ingin mendengar jawabanku.

Aku menarik napas dalam dan menatap matanya dengan penuh keyakinan. "Aku bisa mengurusnya sendiri."

Tatapan Lucian tetap melekat padaku selama beberapa detik sebelum akhirnya dia mengangguk.

***

Hari-hari setelah pertemuanku dengan Veronica berlalu tanpa insiden berarti, tapi itu hanya ketenangan sebelum badai.

Hari ini, Lucian dan aku menghadiri acara amal yang diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya. Acara ini bukan hanya sekadar pameran kekayaan, tapi juga ajang untuk menunjukkan status sosial. Dan sebagai istri Lucian, aku harus memainkan peranku dengan sempurna.

Aku mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan sederhana, cukup klasik untuk tidak mencolok, tetapi tetap menunjukkan bahwa aku bukan orang sembarangan. Rambutku ditata dalam gelombang lembut, dan riasanku dibuat natural, tapi tetap menonjolkan fiturku.

Saat kami tiba, semua mata tertuju pada kami. Bisikan-bisikan mulai terdengar, seolah mereka sedang menilai apakah aku layak berdiri di samping Lucian Devereaux.

Lucian seperti biasa, tak terganggu. Dia menggenggam tanganku dengan santai, tetapi aku bisa merasakan kekuatan dalam genggamannya, seolah ingin memastikan aku tetap berada di sisinya.

"Jangan terlalu dipikirkan," katanya pelan saat kami berjalan melewati para tamu yang menatap dengan penuh minat. "Mereka hanya penasaran."

Aku tersenyum kecil. "Aku juga sudah terbiasa."

Kami bergabung dengan sekelompok orang berpengaruh, termasuk beberapa kolega yang juga hadir dalam makan siang kemarin. Olivia ada di sana, tersenyum tipis saat melihatku.

"Hai, Seraphina?" sapanya dengan nada yang terdengar terlalu manis. "Senang sekali bisa bertemu lagi."

Aku membalas senyumannya dengan anggun. "Hai, Olivia."

Dia melirik Lucian sebelum kembali menatapku. "Kau terlihat luar biasa malam ini. Lucian pasti punya selera yang bagus dalam memilih pakaian untukmu."

Aku tertawa kecil. "Lucian bahkan tidak tahu aku akan mengenakan ini sampai beberapa menit sebelum kami berangkat."

Olivia tampak sedikit terkejut, seolah tidak mengira aku akan menjawab dengan percaya diri.

"Tentu saja," katanya akhirnya. "Bagaimanapun, kau sekarang adalah bagian dari dunia yang glamor ini."

Aku tahu maksud terselubungnya. Bagian dari dunia ini, tapi tetap dianggap orang luar. Aku hendak membalas, tetapi sebelum aku bisa mengatakan apa pun, suara lain menyela.

"Memang sulit menyesuaikan diri, bukan?"

Aku menoleh dan melihat Veronica berdiri di dekat kami. Sekarang aku tahu kenapa aku merasa suasana di ruangan ini semakin menegang.

Olivia tersenyum puas saat melihat Veronica bergabung dalam percakapan. "Oh, Veronica! Aku sedang berbicara dengan Seraphina tentang bagaimana rasanya menjadi bagian dari dunia kita."

Veronica menatapku lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Aku yakin dia sedang belajar banyak."

Aku menegakkan bahu dan menatap balik tanpa gentar. "Aku selalu belajar dengan cepat."

Tatapan kami bertemu, dan aku tahu ini adalah pertempuran diam-diam.

Lucian tiba-tiba melangkah di antara kami, menatap Veronica dengan tajam. "Veronica."

Suara itu cukup untuk membuat beberapa orang yang mendengar menegang.

Veronica menatapnya dengan ekspresi polos. "Aku hanya berbincang dengan istrimu."

Lucian diam, hanya menatap adiknya dengan tajam, seolah memperingatkannya untuk tidak bermain terlalu jauh.

Aku melihat Olivia dan beberapa orang lainnya menonton dengan penuh minat, seolah ini adalah drama yang sangat menarik bagi mereka.

Aku menghela napas dalam dan memutuskan untuk mengambil kendali situasi.

"Aku menghargai perhatianmu, Veronica," kataku dengan suara lembut tapi tegas. "Aku yakin kau hanya ingin memastikan aku bisa menyesuaikan diri."

Veronica tersenyum tipis. "Tentu saja."

***

Saat acara berakhir dan kami dalam perjalanan pulang, aku menatap Lucian yang duduk di sampingku di dalam mobil.

"Apa kau ingin bertanya sesuatu?" tanyanya tanpa menoleh.

Aku menyandarkan kepala ke jok dan menghela napas. "Aku hanya penasaran ... kenapa hubunganmu dengan Veronica begitu rumit?"

Lucian diam sejenak, lalu akhirnya berkata, "Kami punya sejarah yang panjang."

Aku menunggu, berharap dia akan mengatakan lebih banyak, tapi dia tetap diam.

Aku tidak ingin memaksanya. Aku tahu Lucian bukan tipe orang yang akan membuka diri begitu saja.

Aku menoleh padanya dan berkata pelan, "Aku ingin mengerti duniamu, Lucian. Jika kita harus menjalani ini bersama, aku ingin tahu kebenarannya."

Dia menatapku untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke mobil. Tatapan itu dalam, seolah dia sedang menimbang sesuatu.

Setelah beberapa detik, dia berkata, "Tapi kau harus siap menerima apa yang kau cari, Seraphina"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Selalu Jadi Miliknya

    Aku mengeringkan rambut sambil duduk di sisi kolam, kaki masih terendam di air yang mulai terasa dingin. Lucian baru saja muncul dari permukaan, mengibaskan rambutnya seperti anjing laut tampan yang menyebalkan, lalu menggeser posisinya duduk di sebelahku. Bahunya yang lebar sedikit menyentuh pundakku. Kulirik tubuhnya yang masih basah, dan entah kenapa aku seperti lupa cara bernapas. "Seharusnya kita renang begini tiap malam," ucapnya dengan mata penuh menggoda. "Kau terlihat bahagia. Aku senang Melihatmu yang seperti ini." Aku mengangguk, menyeka leherku yang dingin dengan handuk kecil. "Setidaknya malam ini tidak ada panggilan bisnis yang menculikmu, tidak ada tumpukan laporan, tidak ada Liora yang tiba-tiba menangis." Lucian menoleh dan menyeringai. "Jadi selama ini aku dicuri banyak orang, ya?" "Setiap hari," sahutku cepat. "Tapi aku terlalu baik untuk komplain." Dia tertawa pelan, lalu berdiri dan menju

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tidak Bisa Menahan

    Aku tak pernah menyangka suara tawa kecil bisa menciptakan kehangatan sedalam ini. Taman bermain itu tidak terlalu ramai malam ini, hanya beberapa keluarga yang tampaknya juga ingin membiarkan anak-anak mereka menikmati udara segar sebelum tidur. Lampu-lampu temaram memantul di permukaan perosotan logam, dan aroma manis dari jajanan kaki lima bercampur dengan wangi rumput basah menyelimuti suasana. “Papa! Ayun ... Liora mau ayun ....” Suara cempreng putri kecil kami, Liora, memecah pikiranku. Dengan dua gigi mungil yang menyembul di senyumnya, dia menunjuk ke arah ayunan sambil melompat-lompat kecil. Lucian menunduk, mengangkat Liora dengan cekatan lalu menggendongnya tinggi di udara sebelum menurunkannya ke ayunan. “Siap terbang, Putri Kecil?” “Iya yang tinggi yaa!” Liora berseru. Aku duduk di bangku tak jauh dari mereka, mengenakan jaket panjang dan syal tipis. Tangan memeluk termos kecil berisi cokelat pan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Ketakutan Terasa Kecil

    Jalanan ibu kota tampak bersahabat malam itu. Lampu-lampu gedung memantulkan kilauan lembut ke permukaan mobil yang meluncur perlahan melewati trotoar-trotoar berisi pejalan kaki yang masih ramai meski waktu sudah mendekati malam. Aku menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan embun tipis yang menempel di kaca sedikit menyejukkan kulitku. Lucian mengemudi dengan satu tangan di setir, satu lagi menggenggam tanganku tanpa melepaskan sedetik pun. "Ayah dan Ibu pasti sudah tertidur," gumamku sambil tersenyum kecil. Lucian melirikku sekilas, "Kau yakin mereka tidak kerepotan dengan anak kita?" "Ibu sudah bilang dia senang bisa menghabiskan waktu dengan cucunya. Dan Ayah bahkan bilang mereka merasa muda kembali karena rumah jadi ramai." Lucian tertawa pendek. "Kalau begitu kita harus sering-sering menitipkannya." Aku menyipitkan mata. "Lucian ...." "Berlebihan, ya?" Dia tersenyum bers

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Sesuatu Tak Ternilai

    Begitu pintu utama terbuka, aroma makanan lezat segera memenuhi seluruh ruangan. Aku bahkan belum melihat siapa yang datang, tapi aroma ayam panggang madu dan jamur krim itu jelas tidak salah lagi. Aku buru-buru berjalan ke arah pintu, dan begitu melihat Lucian berdiri di sana, lengkap dengan setumpuk kantong makanan dan ekspresi lelah yang terlukis samar di wajahnya, aku langsung tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya dan menyandarkan kepalaku ke dadanya. "Aku kangen," ucapku pelan, menyembunyikan wajahku di balik jas kerjanya yang dingin. Lucian menunduk, mencium pelipisku singkat. "Aku juga. Maaf, baru pulang sekarang. Tadi ada rapat tambahan. Tapi aku bawa pulang semua makanan favoritmu." "Kak, serius deh! Ini anakmu seharian tidak mau tidur, dan tadi muntah di bajuku!" Veronica menyusul keluar dari kamar dengan ekspresi jengkel, rambut diikat seenaknya dan mengenakan kaos kebesa

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dalam Segala Lelah

    Tidur malam menjadi kemewahan. Bayi kecil kami—yang baru saja menginjak usia tiga minggu—menguasai segalanya. Dari waktu, emosi, hingga batas kesabaran yang tak pernah kutahu ternyata begitu lentur. Lucian sedang berusaha memasang popok. Lagi. Ini sudah kelima kalinya malam ini. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan kemejanya terlipat tak karuan seolah habis diremas mesin cuci. Tapi dia tetap teguh, seolah sedang memimpin pertemuan direksi. "Aku rasa ... bagian ini ke depan?" gumamnya, menatap popok seperti menatap dokumen merger yang tak dia pahami. "Bukan. Itu bagian belakang." Aku menahan senyum, menyodorkan tisu basah. "Kau sudah salah tiga kali. Mau aku bantu?" "Jangan, ini soal harga diri," balasnya serius. Aku tertawa pelan sambil menyandarkan punggung ke dinding, menggendong bayi kami yang baru saja selesai menyusu. Lucian mungkin terlihat konyol sekarang, tapi hanya aku yang tahu betapa cepatnya

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Menatap Keajaiban Kecil

    Punggungku terasa pegal sejak tadi, tapi aku tak begitu memperhatikannya. Kupikir hanya karena duduk terlalu lama saat menyortir dokumen dari yayasan. Tapi ketika nyeri itu merambat ke perut dan membuatku sedikit meringis, aku mulai curiga.Lucian sedang duduk di seberang meja, menatap layar tablet dengan mata serius. Dahi pria itu berkerut, namun tetap sesekali mencuri pandang ke arahku. Ia memang akhir-akhir ini terlalu protektif, terlebih setelah dokter berkata usia kehamilanku sudah cukup matang.Kupaksakan tersenyum padanya, walau tubuh ini terasa seperti akan meledak dari dalam.“Lucian,” panggilku pelan, menutup map di tanganku. “Kau sibuk?”Tatapan kelamnya langsung berpindah padaku. “Tidak. Kenapa?”Aku menarik napas perlahan. “Perutku … agak nyeri. Tapi bukan seperti kontraksi hebat. Mungkin cuma karena terlalu banyak duduk.”Lucian langsung berdiri, menarik kursinya hingga berderit. “Sakitnya seperti apa? Tajam? Menusu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status