Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku

Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku

last updateLast Updated : 2026-01-30
By:  Ayumi SarahUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dinda terpaksa menikah dengan Rafael, seorang model sekaligus aktor mapan yang dikenal publik sebagai duda sempurna. Namun, kehidupan rumah tangga yang seharusnya aman justru berubah menjadi mimpi buruk ketika Dinda mulai menyadari sisi gelap yang selama ini disembunyikan Rafael. Terjebak dalam pernikahan beracun dan tekanan keluarga yang menyesakkan, Dinda berada di titik keputusasaan. Di saat itulah Nathan–mantan kekasih yang masih menyimpan perasaan kepadanya–kembali hadir dan membuka peluang bagi Dinda untuk mengungkap kebenaran tentang suaminya. Dinda pun harus menghadapi pilihan paling sulit. Bertahan dalam kebohongan? Atau mempertaruhkan segalanya demi kebebasan dan cinta sejati?

View More

Chapter 1

Bab 1 - Kamar Pengantin

"Lepas handukmu," perintah Rafael.

Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang.

"M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?

Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

"Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan.

"Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."

Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut daripada mengerti.

Rafael melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Dinda mundur satu langkah. "Lepas handukmu. Sekarang."

***

Seminggu sebelumnya….

"Ini... kamar kita, Mas?" tanya Dinda pelan.

Dinda Aurellia Pranata berdiri kaku di depan pintu kamar, jemarinya meremas rok gaun pengantin. Rambut hitam panjangnya yang disanggul rapi memperlihatkan lehernya yang jenjang.

Cantik dan anggun, itulah yang dikatakan teman-temannya saat resepsi pernikahannya tadi. Ada pula beberapa komentar sanjungan dari wartawan dan media yang memang diundang untuk meliput. 

Di sebelahnya, berdiri seorang pria dengan sosok tinggi dalam balutan jas hitam yang mempertegas bahu lebarnya. Rambut hitamnya tertata rapi, rahangnya tegas ditumbuhi jambang tipis, dan postur tubuhnya atletis. 

Itu Rafael Hadinata, salah satu model paling diincar desainer di Indonesia sekaligus aktor yang belakangan ini naik daun.

Dinda masih tidak percaya pria seperti itu kini menjadi suaminya.  

Rafael hanya mengangguk tanpa menatapnya. Dinda masih bingung dengan perubahan sikap Rafael, padahal pria itu tak henti-hentinya tersenyum ketika resepsi dan memperlakukannya seperti permata berharga. 

Tapi begitu mereka meninggalkan gedung, segala kehangatan Rafael musnah. Senyum pria itu lenyap, tatapan hangatnya hilang, digantikan oleh sikap dingin yang menusuk.

Apa salahku? Apa aku melakukan kesalahan tanpa sadar?

Dinda bertanya dalam hatinya, mencoba mengingat-ingat kejadian selama resepsi yang mungkin membuat Rafael kesal.

"Masuk," perintah Rafael dengan ekspresi datar setelah membuka pintu kamar. Tidak ada uluran tangan bahkan secuil senyuman, membuat Dinda merasa kecil di bawah tatapan pria itu.

"I–iya, Mas," ucap Dinda canggung sebelum melangkah masuk dengan perasaan was-was.

Kamar itu luas, jauh lebih besar dari kamar Dinda di rumah orang tuanya di Depok. Dindingnya berwarna putih gading beraksen kayu terang khas gaya Scandinavian senada dengan interior mewah dan elegan yang menghiasi keseluruhan rumah dua lantai ini.

Di atas seprai, kelopak mawar merah bentuk hati bertaburan. Di sudut kamar juga ada lilin aromaterapi yang tercium di seluruh ruang.

Dinda menelan ludah. Dekorasi kamar ini terlalu romantis untuk dua orang yang masih asing satu sama lain.

Suara pintu tertutup di belakangnya membuat Dinda tersentak. 

Rafael berdiri di sana, tangannya masih memegang kenop. Dinda buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura menikmati pemandangan sisa-sisa senja yang menari di dinding. 

Wajahnya terasa panas, membayangkan ini adalah kamar yang akan mereka bagi bersama malam ini.

Kamar pengantin. Malam pertama. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya.

Meski pikirannya bercampur, Dinda tidak bisa berkata apa-apa. Sama seperti saat orang tuanya menjodohkannya dengan Rafael, seorang pria yang bahkan hampir tidak ia kenal selain dari tayangan televisi, media sosial, dan majalah. 

Sebuah perjodohan yang dilandasi hutang keluarga yang menumpuk dan nama baik yang harus dijaga. Ia harus melakukan ini demi menyelamatkan orang tuanya dari kemelaratan. 

Dinda mencuri pandang ke arah cermin besar yang menempel di dinding. Dalam pantulan cermin tersebut, ia bisa melihat Rafael yang kini berdiri di depan meja rias. Pria itu mulai membuka jas hitamnya.

Dinda pun segera memalingkan wajahnya yang memerah lalu melangkah lebih jauh ke dalam kamar, mendekati ranjang.

Dinda memainkan ujung pita gaunnya, mencari sesuatu untuk dikerjakan. Apa yang ia harus lakukan sekarang?

"Nggak usah canggung begitu.” Suara Rafael menyengatnya lagi. Dinda menoleh sedikit, mendapati suaminya duduk di kursi depan meja rias. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya mulai digulung hingga siku.

"Istirahat kalau capek," lanjutnya tanpa menatap Dinda. Matanya fokus pada ponselnya. "Dan kalau mau ganti baju dulu juga silakan."

Dinda menunduk, melihat gaunnya yang seharian ini dia pakai. Benar, rasanya tidak mungkin tidur nyaman dengan gaun seberat dan sekaku ini. 

Tapi, di mana kopernya?

"Aku mau ganti baju, tapi koperku…”

"Masih di bagasi mobil," potong Rafael. "Aku lupa bawa kopermu naik. Sementara, kamu pakai baju yang ada di lemari itu dulu." Dengan dagunya, ia menunjuk ke lemari besar yang menempel di dinding seberang ranjang. 

"Oh." Dinda mengangguk pelan. "Boleh aku pinjam dulu, Mas?"

“Pakai saja sesukamu. Memang sudah disiapkan Mama kok.” 

Dinda menelan ludah mendengar balasan Rafael yang dingin itu. Tapi alih-alih tersinggung, Dinda berusaha memahami alasan Rafael. Mungkin suaminya itu sedang lelah. 

Dinda pun tidak berani bertanya lagi, dan segera melangkah ke arah lemari lalu membukanya.

Gaun tidur berwarna biru langit yang ia ambil secara acak dari lemari sudah di tangannya, tapi sekarang Dinda kebingungan harus berganti pakaian di mana. 

Ia masih merasa canggung jika harus bertelanjang di hadapan Rafael. Bagaimanapun, ini adalah perjodohan yang bukan rencananya.

Mereka bahkan belum pernah berciuman. Upacara pernikahan mereka ditutup dengan pelukan kaku yang lebih terasa seperti jabat tangan formal. 

Seolah bisa membaca pikiran Dinda, Rafael berkata tanpa menoleh, "Kalau malu, ganti baju di kamar mandi.”

"Oh, ba–baik, Mas," balas Dinda, bergegas menuju pintu yang ditunjuk. Kamar mandi itu hampir seluas kamar tidur lamanya. Dinding marmer putih, bathtub oval besar, dan shower terpisah dengan dinding kaca. 

Dengan perjuangan keras, Dinda akhirnya melepas gaun pengantinnya. Dia menghela napas lega saat tubuhnya terbebas dari kungkungan gaun berat itu.

Dinda mengambil gaun tidur biru dan memakainya. Bahan satin dingin itu meluncur mulus di kulitnya.

Saat menatap cermin, napasnya tercekat. Gaun itu tidak seperti yang dia bayangkan.

Rupanya itu bukan sekadar gaun tidur biasa, melainkan lingerie yang begitu tipis dan terbuka. Bagian dadanya hanya ditutupi renda tipis, bahkan dalam cahaya kamar mandi yang terang, siluet tubuhnya terlihat jelas di balik kain. Gaun itu jatuh hanya sampai pertengahan pahanya, meninggalkan sebagian besar kakinya terekspos. 

Wajah Dinda memanas. Ini pertama kalinya dia mengenakan pakaian seperti ini. Bahkan ketika berkencan dengan mantan pacarnya dulu, dia selalu berpakaian sopan dan tertutup.

Tapi ini lingerie, jelas dirancang untuk malam pengantin. Yah, tentu saja ibu Rafael akan memilihkan pakaian seperti ini untuk menantunya. 

Dinda memeluk tubuhnya sendiri, merasa tak nyaman dan terekspos. Dia berpikir untuk kembali mengenakan gaun pengantinnya, tapi akan sangat merepotkan untuk memakainya lagi.

Tak ada pilihan lain selain mengenakan lingerie ini. 

Seumur hidup, tak seorang pria pun pernah melihat tubuhnya. 

Lalu sekarang, pria yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu akan menjadi yang pertama melihat tubuhnya. Mengenakan lingerie terbuka seperti ini, Dinda mulai membayangkan macam-macam. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status