LOGINDinda terpaksa menikah dengan Rafael, seorang model sekaligus aktor mapan yang dikenal publik sebagai duda sempurna. Namun, kehidupan rumah tangga yang seharusnya aman justru berubah menjadi mimpi buruk ketika Dinda mulai menyadari sisi gelap yang selama ini disembunyikan Rafael. Terjebak dalam pernikahan beracun dan tekanan keluarga yang menyesakkan, Dinda berada di titik keputusasaan. Di saat itulah Nathan–mantan kekasih yang masih menyimpan perasaan kepadanya–kembali hadir dan membuka peluang bagi Dinda untuk mengungkap kebenaran tentang suaminya. Dinda pun harus menghadapi pilihan paling sulit. Bertahan dalam kebohongan? Atau mempertaruhkan segalanya demi kebebasan dan cinta sejati?
View More"Lepas handukmu," perintah Rafael.
Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang.
"M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?
Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
"Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan.
"Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."
Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut daripada mengerti.
Rafael melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Dinda mundur satu langkah. "Lepas handukmu. Sekarang."
***
Seminggu sebelumnya….
"Ini... kamar kita, Mas?" tanya Dinda pelan.
Dinda Aurellia Pranata berdiri kaku di depan pintu kamar, jemarinya meremas rok gaun pengantin. Rambut hitam panjangnya yang disanggul rapi memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Cantik dan anggun, itulah yang dikatakan teman-temannya saat resepsi pernikahannya tadi. Ada pula beberapa komentar sanjungan dari wartawan dan media yang memang diundang untuk meliput.
Di sebelahnya, berdiri seorang pria dengan sosok tinggi dalam balutan jas hitam yang mempertegas bahu lebarnya. Rambut hitamnya tertata rapi, rahangnya tegas ditumbuhi jambang tipis, dan postur tubuhnya atletis.
Itu Rafael Hadinata, salah satu model paling diincar desainer di Indonesia sekaligus aktor yang belakangan ini naik daun.
Dinda masih tidak percaya pria seperti itu kini menjadi suaminya.
Rafael hanya mengangguk tanpa menatapnya. Dinda masih bingung dengan perubahan sikap Rafael, padahal pria itu tak henti-hentinya tersenyum ketika resepsi dan memperlakukannya seperti permata berharga.
Tapi begitu mereka meninggalkan gedung, segala kehangatan Rafael musnah. Senyum pria itu lenyap, tatapan hangatnya hilang, digantikan oleh sikap dingin yang menusuk.
Apa salahku? Apa aku melakukan kesalahan tanpa sadar?
Dinda bertanya dalam hatinya, mencoba mengingat-ingat kejadian selama resepsi yang mungkin membuat Rafael kesal.
"Masuk," perintah Rafael dengan ekspresi datar setelah membuka pintu kamar. Tidak ada uluran tangan bahkan secuil senyuman, membuat Dinda merasa kecil di bawah tatapan pria itu.
"I–iya, Mas," ucap Dinda canggung sebelum melangkah masuk dengan perasaan was-was.
Kamar itu luas, jauh lebih besar dari kamar Dinda di rumah orang tuanya di Depok. Dindingnya berwarna putih gading beraksen kayu terang khas gaya Scandinavian senada dengan interior mewah dan elegan yang menghiasi keseluruhan rumah dua lantai ini.
Di atas seprai, kelopak mawar merah bentuk hati bertaburan. Di sudut kamar juga ada lilin aromaterapi yang tercium di seluruh ruang.
Dinda menelan ludah. Dekorasi kamar ini terlalu romantis untuk dua orang yang masih asing satu sama lain.
Suara pintu tertutup di belakangnya membuat Dinda tersentak.
Rafael berdiri di sana, tangannya masih memegang kenop. Dinda buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura menikmati pemandangan sisa-sisa senja yang menari di dinding.
Wajahnya terasa panas, membayangkan ini adalah kamar yang akan mereka bagi bersama malam ini.
Kamar pengantin. Malam pertama. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya.
Meski pikirannya bercampur, Dinda tidak bisa berkata apa-apa. Sama seperti saat orang tuanya menjodohkannya dengan Rafael, seorang pria yang bahkan hampir tidak ia kenal selain dari tayangan televisi, media sosial, dan majalah.
Sebuah perjodohan yang dilandasi hutang keluarga yang menumpuk dan nama baik yang harus dijaga. Ia harus melakukan ini demi menyelamatkan orang tuanya dari kemelaratan.
Dinda mencuri pandang ke arah cermin besar yang menempel di dinding. Dalam pantulan cermin tersebut, ia bisa melihat Rafael yang kini berdiri di depan meja rias. Pria itu mulai membuka jas hitamnya.
Dinda pun segera memalingkan wajahnya yang memerah lalu melangkah lebih jauh ke dalam kamar, mendekati ranjang.
Dinda memainkan ujung pita gaunnya, mencari sesuatu untuk dikerjakan. Apa yang ia harus lakukan sekarang?
"Nggak usah canggung begitu.” Suara Rafael menyengatnya lagi. Dinda menoleh sedikit, mendapati suaminya duduk di kursi depan meja rias. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya mulai digulung hingga siku.
"Istirahat kalau capek," lanjutnya tanpa menatap Dinda. Matanya fokus pada ponselnya. "Dan kalau mau ganti baju dulu juga silakan."
Dinda menunduk, melihat gaunnya yang seharian ini dia pakai. Benar, rasanya tidak mungkin tidur nyaman dengan gaun seberat dan sekaku ini.
Tapi, di mana kopernya?
"Aku mau ganti baju, tapi koperku…”
"Masih di bagasi mobil," potong Rafael. "Aku lupa bawa kopermu naik. Sementara, kamu pakai baju yang ada di lemari itu dulu." Dengan dagunya, ia menunjuk ke lemari besar yang menempel di dinding seberang ranjang.
"Oh." Dinda mengangguk pelan. "Boleh aku pinjam dulu, Mas?"
“Pakai saja sesukamu. Memang sudah disiapkan Mama kok.”
Dinda menelan ludah mendengar balasan Rafael yang dingin itu. Tapi alih-alih tersinggung, Dinda berusaha memahami alasan Rafael. Mungkin suaminya itu sedang lelah.
Dinda pun tidak berani bertanya lagi, dan segera melangkah ke arah lemari lalu membukanya.
Gaun tidur berwarna biru langit yang ia ambil secara acak dari lemari sudah di tangannya, tapi sekarang Dinda kebingungan harus berganti pakaian di mana.
Ia masih merasa canggung jika harus bertelanjang di hadapan Rafael. Bagaimanapun, ini adalah perjodohan yang bukan rencananya.
Mereka bahkan belum pernah berciuman. Upacara pernikahan mereka ditutup dengan pelukan kaku yang lebih terasa seperti jabat tangan formal.
Seolah bisa membaca pikiran Dinda, Rafael berkata tanpa menoleh, "Kalau malu, ganti baju di kamar mandi.”
"Oh, ba–baik, Mas," balas Dinda, bergegas menuju pintu yang ditunjuk. Kamar mandi itu hampir seluas kamar tidur lamanya. Dinding marmer putih, bathtub oval besar, dan shower terpisah dengan dinding kaca.
Dengan perjuangan keras, Dinda akhirnya melepas gaun pengantinnya. Dia menghela napas lega saat tubuhnya terbebas dari kungkungan gaun berat itu.
Dinda mengambil gaun tidur biru dan memakainya. Bahan satin dingin itu meluncur mulus di kulitnya.
Saat menatap cermin, napasnya tercekat. Gaun itu tidak seperti yang dia bayangkan.
Rupanya itu bukan sekadar gaun tidur biasa, melainkan lingerie yang begitu tipis dan terbuka. Bagian dadanya hanya ditutupi renda tipis, bahkan dalam cahaya kamar mandi yang terang, siluet tubuhnya terlihat jelas di balik kain. Gaun itu jatuh hanya sampai pertengahan pahanya, meninggalkan sebagian besar kakinya terekspos.
Wajah Dinda memanas. Ini pertama kalinya dia mengenakan pakaian seperti ini. Bahkan ketika berkencan dengan mantan pacarnya dulu, dia selalu berpakaian sopan dan tertutup.
Tapi ini lingerie, jelas dirancang untuk malam pengantin. Yah, tentu saja ibu Rafael akan memilihkan pakaian seperti ini untuk menantunya.
Dinda memeluk tubuhnya sendiri, merasa tak nyaman dan terekspos. Dia berpikir untuk kembali mengenakan gaun pengantinnya, tapi akan sangat merepotkan untuk memakainya lagi.
Tak ada pilihan lain selain mengenakan lingerie ini.
Seumur hidup, tak seorang pria pun pernah melihat tubuhnya.
Lalu sekarang, pria yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu akan menjadi yang pertama melihat tubuhnya. Mengenakan lingerie terbuka seperti ini, Dinda mulai membayangkan macam-macam.
"Masih pura-pura nggak tahu salahnya di mana?" Rafael melepas topi, lalu melemparkannya ke sudut kamar. "Anak sakit, kamu malah enak-enakan tidur! Ibu macam apa kamu ini?""Aku ... aku tadi udah rawat Nikita, Mas. Sumpah! Barusan aku cuma ketiduran habis mandi. Nggak sengaja, Mas.""Jangan coba-coba bohong. Kamu pikir aku nggak tahu? Mbak Asti yang jagain Nikita seharian. Kamu malah enak-enakan pergi makan malam di rumah orang tuamu.”"Aku memang pergi ke rumah orang tua, tapi cuma sebentar, Mas. Pas pulang, aku langsung jagain Nikita lagi. Bisa tanya Mbak Asti kalau Mas nggak percaya." "Udah lah, nggak usah banyak alasan! Intinya, kamu udah gagal jadi ibu yang baik. Anak lagi sakit, kamu malah pergi-pergi, terus pulang cuma tidur.”Dinda menggigit bibir, berusaha menahan isakan. "Kenapa nggak batal aja acaranya?" Rafael mencecar lagi. "Harusnya kalau anak mulai nggak enak badan, kamu batalkan semua acara. Bukan malah pergi terus pulang-pulang langsung tidur!""Aku nggak langsung ti
Dinda membelalak. Segera, ia letakkan ponselnya lagi di dekat bantal. Dinda teramat menyadari bahwa dirinya sudah putus dengan Nathan, yang artinya ia tidak lagi memiliki hak terhadap pria itu. Sekarang Nathan bebas menjadi kekasih siapa saja. Tapi, mengapa membaca pesan dari Helen, terasa menyakiti hatinya?Nathan Leonard Sagara. Lelaki itu memang benar-benar membekas untuk Dinda.Nathan laki-laki pertama yang benar-benar melihat Dinda sebagai dirinya sendiri. Nathan yang paling sabar mengajari Dinda, Nathan yang rela pulang larut demi menunggu Dinda selesai rapat OSIS, Nathan yang tidak pernah mengeluh saat Dinda curhat berjam-jam tentang tekanan di rumahnya.Selama lima tahun bersama, Nathan adalah pelabuhan Dinda. Tempat ia bisa bernapas tanpa beban, tanpa perlu berpura-pura kuat atau sempurna. Saat ibunya terlalu keras dan saat kakaknya terlalu menyebalkan, Nathan selalu ada di sana, mendengarkan tanpa menghakimi Dinda. Dinda menelan ludah, merasakan tenggorokannya tercekat k
Begitu sampai di rumah, Dinda langsung menuju ke kamar Nikita. Di dalam kamar, Nikita sudah tidur, tapi memang kata Mbak Asti suhu tubuh Nikita belum stabil dan harus selalu dipantau jika mungkin nanti demamnya timbul lagi.Dinda lantas duduk di kursi dekat ranjang. Tangannya menggenggam tangan mungil Nikita.Sebenarnya makan malam di rumah orangtuanya memberinya banyak tekanan yang melelahkan mental. Tapi, melihat Nikita tidur dengan tenang seperti ini, entah bagaimana semua masalah di luar sana serasa hilang untuk sementara."Cepat sembuh, ya, sayang," bisik Dinda, mengusap jari-jari kecil Nikita."Ibu istirahat saja kalau capek,” ujar Mbak Asti. “Biar saya yang jaga Non Nikita.""Nggak usah, Mbak. Saya mau nemenin Nikita dulu. Mbak Asti istirahat aja."Mbak Asti pun mengangguk, lalu keluar dari kamar setelah mengingatkan Dinda untuk memanggilnya bila membutuhkan sesuatu.Sambil menjaga Nikita, Dinda mengecek ponselnya, lalu menemukan beberapa notifikasi media sosial dari Yunita yan
Dinda menunduk lalu menghela napas. "Iya, Bu. Aku ngerti," jawabnya kepada Santi.Demi menghindari ceramah panjang yang pasti hanya akan melelahkan batinnya, ia pun menerima bungkusan ramuan itu. Tentu saja ia tak berniat benar-benar akan meminumnya. Untuk apa minum ramuan kesuburan kalau suaminya saja tak pernah menggaulinya? Itu sama saja dengan menyiram tanaman plastik, berharap akan tumbuh bunga."Nah, gitu dong, nurut sama Ibu," ujar Santi. "Oh, ya, Din. Ibu mau cerita sedikit. Sekarang kan harga-harga naik semua ya, Din. Ibu juga harus ngatur uang buat belanja, bayar listrik yang makin mahal, belum lagi biaya berobat Bapakmu ... aduh, rasanya pusing kepala Ibu."Dinda menahan napas, perasaannya tidak enak. "Nah, kamu sekarang kan sudah jadi istri Rafael, pasti hidupmu berkecukupan, ya?" Santi melirik Dinda penuh harap. "Ibu pikir ... mungkin kamu bisa bantu Ibu sedikit? Bulan ini Ibu agak kekurangan."Dinda merasakan amarah merayap naik ke tenggorokannya. Rasanya ingin sekal
"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan ca
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita be
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yan
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews