LOGINDinda terpaksa menikah dengan Rafael, seorang model sekaligus aktor mapan yang dikenal publik sebagai duda sempurna. Namun, kehidupan rumah tangga yang seharusnya aman justru berubah menjadi mimpi buruk ketika Dinda mulai menyadari sisi gelap yang selama ini disembunyikan Rafael. Terjebak dalam pernikahan beracun dan tekanan keluarga yang menyesakkan, Dinda berada di titik keputusasaan. Di saat itulah Nathan–mantan kekasih yang masih menyimpan perasaan kepadanya–kembali hadir dan membuka peluang bagi Dinda untuk mengungkap kebenaran tentang suaminya. Dinda pun harus menghadapi pilihan paling sulit. Bertahan dalam kebohongan? Atau mempertaruhkan segalanya demi kebebasan dan cinta sejati?
View More"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T
Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya
"Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Raf












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.