LOGINYuana Paradipta yang biasa dipanggil Yuan Yuan adalah gadis berbakat di keluarganya, tumbuh dengan penuh perhatian dan cinta dari Bundanya yang sudah menjanda sejak lama dan seorang adik lelaki yang selalu menjadi teman ributnya di rumah. Meski baru saja resign dari pekerjaan tetapnya, dia masih bisa hidup bahagia di dalam keluarganya. Tapi satu yang menjadi permasalahan baginya. Bundanya menuntutnya untuk segera mencari pasangan di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun. "Duh Bun, bahas itu lagi, itu lagi... Bosen Yuan dengernya." "Bunda lebih bosen lagi Yuan... Setiap ketemu tetangga selalu nanyain kapan kamu nikah? Kok gak pernah gandengan sama cowok? Apalagi si Yudha adek laki kamu sudah punya pacar, lha kamu kapan Yuan?" Ujar Bunda Vera sambil menatap sendu anak gadisnya. Sementara itu di tempat lain seorang pria muda yang tampan dan gagah juga mengalami hal yang sama. Dituntut untuk mencari calon mantu untuk Maminya dalam waktu dekat jika tidak mau menjalani perjodohan yang sudah diatur untuknya. Arthur Pradana sudah jenuh dengan ancaman Maminya itu. Sebagai CEO dia saja sudah pusing memikirkan perusahaan, ini malah ditambah memikirkan jodoh. Sungguh bukan gaya seorang Arthur. Dan entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba Arthur dan Yuan yang merupakan karyawan barunya terlibat dalam suatu kesalahpahaman yang membuat mereka diharuskan untuk menikah. Lalu bagaiman kehidupan satu atap mereka yang awalnya saling benci akan berlangsung setiap harinya? Dan bagaimana cara mereka merahasiakan hubungan mereka di kantor?
View MoreTidak seperti biasanya, Maya datang ke kampus sendirian tanpa Yudha yang biasa mengantar jemputnya. Tentu saja dia masih malu untuk bertatap muka dengan Yudha karena kejadian memalukan kemarin. Makanya sebisa mungkin dia menghindari bertemu dengan Yudha di kampus, meski dalam hatinya dia sedikit menyesal telah mengabakan ketulusan Yudha padanya. Selama ini Maya menilai jika keluarga Yudha dari kalangan biasa-biasa saja, tidak miskin dan tidak kaya mengingat kehidupan mereka di kampung dibilang sederhana. Tidak tahunya keluarganya adalah induk semang Real Estatae paliing elit di daerah sekitar kampus mereka. "Maya…¡!" Seru Desy, salah satu teman Maya yang hobby-nya menjilat. "Ya ampun Des... Bikin kaget aja kamu!" Ujar Maya yang langsung sadar dari lamunannya. "Hahh... Aku cari kemana-mana ternyata kamu sudah ada di kelas." Kata Desy yang terlihat sedikit ngos-ngosan napasnya. "Cari aku?? Ada apa?" Tanya Maya jadi agak parno dan was-was sendiri. "Btw... Kamu datang ke kampu
Yudha baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, namun belum sempat menutup pintu mobilnya kembali seseorang sudah memanggil namanya. "Yudha..!!" Seru Nabilla sambil berlari kecil menghampiri Yudha. "Baru datang Dha?" Sapa Nabillla. "Iya, kamu sendiri baru datang juga?" Balas Yudha. "Iya, baru aja aku turun dari ojol terus lihat kamu turun dari mobil." Angguk Nabilla sambil menjawab. "Kamu naik ojol Bill? Mobil kamu kemana?" Tanya Yudha yang heran tumben-tumbennya Nabilla pergi ke kampus naik ojol. "Lagi di bengkel Dha, mogok!" Jawabnya sambil meringis. "Ya ampun Billa... Kenapa gak bilang ke aku sih? Tau gitu aku bisa barengin kamu tadi." Ujar Yudha yang membuat Nabilla heran, ternyata Yudha emang sebaik itu. Sayang, kebaikan Yudha tidak terlihat di mata Maya. Mungkin mata Maya rabun sampai tidak bisa melihat ada pria sebaik Yudha dan rela menyakitinya demi bisa bersama lelaki licik seperti Ruben. "Ya... Ada pepatah mengatakan j
Seperti biasanya Arthur berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Kali ini dia memasak sup jagung telur oriental yang hangat dilengkapi sandwich isi daging dan keju. Arthur juga menyiapkan segelas jus jeruk manis untuk Yuana dan segelas susu hangat untuknya sendiri. Sementara Yuana sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya. Biasanya dia sudah bersih-bersih rumah di pagi hari bersamaan dengan Artgur yang sibuk memasak. Namun sampai Arthur hampir selesai menyajikan sarapan mereka, Yuana masih belum keluar juga dari kamarnya. "Yuana kok masih belum turun juga sih? Masa belum selesai mandi? Atau jangan-jangan malah molor lagi?" Gumam Arthur yang menunggu istrinya turun untuk sarapan. Hingga semuanya selesai tersaji, Arthur melepaskan apronnya dan berteriak dari bawah tangga memanggil istrinya. "Sayaaang... Sarapannya sudah siap! Ayo sarapan!" Teriak Arthur sambil melihat ke arah atas lantai dua. "Bentar Mas... Ini juga mau turun!" Sahut Yuana berteriak dari dalam kama
Hari ini Arthur bangun pagi-pagi sekali bukan untuk menyiapkan sarapan, melainkan untuk joging pagi. Mumpung hari Minggu. Namun Arthur tidak ingin pergi sendiri, ia juga akan menyeret istrinya untuk bangun pagi-pagi dan mengajaknya joging pagi hari itu. Tapi Yuana malah merengek gak mau ikut dan memilih untuk bergelung di dalam selimutnya yang hangat. "Sayang, ayo cepetan bangun! Ikut Mas joging pagi." Ajak Arthur sembari menggoyang-goyangkan tubuh Yuana agar cepat bangun. "Ugh... Aku masih ngantuk, Mas pergi aja sediri." Jawab Yuana dengan suara seraknya dan malah membungkus tubuhnya lagi di dalam selimut. "Ya ampun sayang.... Kok malah tidur lagi sih? Kamu harus olahraga sekarang, gerakin tubuh. Dari kemarin kamu makan terlalu banyak, habis itu cuma goleran dan guling-guling aja, kalau kamu gak olahraga pencernaan kamu bisa terganggu lho..!" Kata Arthur menasehati. "Tapi aku males Mas... Aku masih ngantuk!" Sahut Yuana sambil merem. "Ya sudah kalau gitu, padahal tadinya Ma
Wajah Yuana sudah cemberut saja sejak kakinya melangkah keluar cafe. Mau tidak mau dia akhirnya menyanggupi permintaan Arthur yang memaksanya pulang dengan terpaksa. Mulutnya komat-kamit sambil mengutuk Arthur yang memberi perintah seenak jidatnya padahal dia bukan Bunda Vera atau bosnya yang me
Tiga puluh menit sebelumnya.... "Hai Nas... Selamat Ulang Tahun ya, semoga panjang umur dan bahagia selalu. Nih, kado buat kamu." Ucap Nabilla, seupupu Arthur yang pada saat itu sedang meghadiri sebuah pesta ulang tahun salah satu teman kampusnya. Dan kebetulan pesta itu digelar cafe yang sama ya
Keesokan harinya di ruang kerja Perusahaan Cabang Pradana Grub..... "Iya Mi... Mami gak usah khawatir deh, sebentar lagi Arthur akan bawakan mantu untuk Mami." Ucap Arthur sekenanya yang saat ini kembali meberima teror dari Maminya lewat telpon. Itu tadi dikatakannya agar sang Mami tidak terus-
Sepuluh menit yang lalu Arthur yang sedang makan siang dengan Kaidan di salah satu cafe pamit pergi ke toilet. Seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan kopi di mejanya, untung saja itu adalah ice coffee dan tidak sampai mengenai pakain kerjanya. Hanya saja ice coffee itu mengenai tangannya ya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews