LOGINYuana Paradipta yang biasa dipanggil Yuan Yuan adalah gadis berbakat di keluarganya, tumbuh dengan penuh perhatian dan cinta dari Bundanya yang sudah menjanda sejak lama dan seorang adik lelaki yang selalu menjadi teman ributnya di rumah. Meski baru saja resign dari pekerjaan tetapnya, dia masih bisa hidup bahagia di dalam keluarganya. Tapi satu yang menjadi permasalahan baginya. Bundanya menuntutnya untuk segera mencari pasangan di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun. "Duh Bun, bahas itu lagi, itu lagi... Bosen Yuan dengernya." "Bunda lebih bosen lagi Yuan... Setiap ketemu tetangga selalu nanyain kapan kamu nikah? Kok gak pernah gandengan sama cowok? Apalagi si Yudha adek laki kamu sudah punya pacar, lha kamu kapan Yuan?" Ujar Bunda Vera sambil menatap sendu anak gadisnya. Sementara itu di tempat lain seorang pria muda yang tampan dan gagah juga mengalami hal yang sama. Dituntut untuk mencari calon mantu untuk Maminya dalam waktu dekat jika tidak mau menjalani perjodohan yang sudah diatur untuknya. Arthur Pradana sudah jenuh dengan ancaman Maminya itu. Sebagai CEO dia saja sudah pusing memikirkan perusahaan, ini malah ditambah memikirkan jodoh. Sungguh bukan gaya seorang Arthur. Dan entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba Arthur dan Yuan yang merupakan karyawan barunya terlibat dalam suatu kesalahpahaman yang membuat mereka diharuskan untuk menikah. Lalu bagaiman kehidupan satu atap mereka yang awalnya saling benci akan berlangsung setiap harinya? Dan bagaimana cara mereka merahasiakan hubungan mereka di kantor?
View More"Astagfirullah Yuana..." Bunda Vera langsung shock melihat Yuana yang sedang berpelukan dengan Arthur, terlebih pakaian keduanya yang cukup terbuka sangat mendukung prasangka semua orang. Begitu pula Mami Lidia yang melihatnya pun langsung terkejut.
"Arthur, apa-apaan kalian berdua?!!" Teriak Mami Lidia dengan jantung yang sudah berdetak cepat. Tak menyangka anaknya akan berbuat demikian dengan seorang perempuan. Ya, saking kagetnya karena kamar yang mereka tempati terbuka tiba-tiba, Arthur dan Yuana refleks berpelukan. Dan ketika mereka sadar dengan perbuatan mereka, semua sudah terlambat. Buru-buru mereka melepaskan pelukan satu sama lain. "I-ini semua salah paham Mi..." Ujar Arthur tergagap, dia tidak habis pikir jika Maminya akan tiba-tiba datang ke rumahnya. "Bund... Ini salah paham." Ujar Yuana sambil ketakutan. "Waow Ar... Aku gak habis pikir, kamu sama Yuana..." "Balik badan Kai! Gak usah lihat!" Seru Mami Lidia sambil menabok wajah Kaidan dengan tas brandednya untuk menutupi mata Kai yang melihat ke arah Yuana. Dan refleks Kai langsung balik badan. "Mi, ini gak seperti yang mami pikirkan." Ujar Arthur mencoba memberi keterangan, namun sang Mami sepertinya menolak untuk percaya. "Sudah diam kamu! Kamu pikir mami bodoh?! Kamu aja cuma pakai boxer, boxernya gak keren pula!" Mendengar itu Arthur langsung menutupi tubuh bawahnya dengan bantal. "Yuan, Bunda gak nyangka kamu bakalan seberani ini." Ujar Bunda Vera sambil menangis. "Bund... Yuan gak gitu... Yuan cuma..." "Dia anak kamu Ver?" Tanya Mami Lidia yang diangguki Bunda Vera dengan air mata yang menetes. "Ya sudah, kita kawinkan saja mereka." Ujar Mami Lidia. "Apa??!!" Seru Arthur dan Yuana bersamaan. "Iya, kalian berdua harus segera dinikahkan!" Tambah Bunda Vera yang membuat keduanya kembali terkejut. "Gak mau!!" Seru mereka berdua lagi. Semua kejadian itu bermula dari awal pertemuan Arthur dan Yuana beberapa hari yang lalu. Dan inilah semuanya berawal.... * * * Flashback satu minggu sebelumnya....... Pagi itu di sebuah ruangan bergaya klasik modern dengan dekorasi minimalis lengkap beserta satu set sofa, kursi dan meja kera, bahkan rak buku yang tertata epik di sana menambah keelegenan ruangan tersebut. Namun bukan hanya isi ruangan itu saja yang sangat menarik untuk dipandang, melainkan si pemilik ruangan tersebut. Seorang pria muda yang gagah dan tampan tengah sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Sesekali dia mengerutkan dahinya dengan mata yang tetap fokus membolak balik kertas di hadapannya. Mata elangnya yang tajam dengan bentuk rahang yang kokoh membuatnya terlihat begitu berkharisma dan terlihat dingin secara bersamaan. Dialah si pemilik ruangan itu. Lelaki tampan yang begitu terkenal dengan ketegasannya, gila kerja, si tampan yang dingin, Raja Iblis yang tampan dan banyak lagi julukan untuknya. Bahkan ada yang menyebutnya si alergi perempuan. Sebutan itu tidak begitu saja ia sandang, tapi itu karena hingga saat ini tidak ada satu pun wanita yang berhasil mendekatinya apalagi meluluhkan hatinya. Bahkan hingga diusianya yang sudah cukup matang untuk menikah itu, dirinya tidak sekali pun menunjukkan tanda-tanda menggandeng atau menggaet satu wanita pun di sisinya. Hingga tersebar rumor dirinya adalah salah satu dari kalangan kaum pelangi. Tapi sayangnya itu tidak dapat mengganggu hindupnya sama sekali, dia hanya terfokus saja pada pekerjaan, kerja dan kerja. Tidak heran sebutan si gila kerja dan Raja Iblis Tampan di tempat kerjanya ia sandang, karena jika sudah berusan dengan dia di tempat kerja, maka orang tersebut tidak akan selamat sebelum ia puas dengan hasilnya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar ruangannya, namun tak mengurangi konsentrasinya dari berkas-berkas tersebut sedangkan suara baritonnya mengintruksi orang di luar sana untuk masuk. "Masuk!" Jawabnya. "Maaf Pak, ini laporan mengenai kantor cabang yang Bapak minta." Ucap lelaki tampan berkaca mata yang merupakan asisten pribadinya sambil menyodorkan sebuah map warna biru di hadapannya. "Terimakasih." Jawabnya singkat sambil menerima map tersebut dan langsung memeriksanya. "Kamu masih belum bisa menemukan pengganti Pak Agus yang pensiun untuk Kepala Cabang?" Tanya pimpinan muda tersebut yang merupakan CEO dari sebuah perusahaan periklanan yang cukup besar di Jakarta. "Sudah Pak, saya menyarankan posisi Kepala Cabang dipegang oleh Pak Jamal karena selain beliau sudah berpengalaman cukup lama di perusahaan ini, kinerja beliau juga sangat bagus. Selama beliau menjabat sebagai Kepala Produksi tidak ada masalah yang tidak pernah beliau selesaikan dengan baik." Jawab asisten pribadinya. "Selain itu beliau adalah orang yang bersih, dapat dipercaya dan bisa diandalkan. Sudah sewajarnya orang seperti beliau naik ke tempat lebih tinggi." Tambahnya lagi. "Ya, kamu benar. Saya setuju itu. Lalu, kita masih memerlukan tambahan karyawan untuk Divisi Design karena salah satu karyawan lama ada yang resign setelah menikah sementara satunya lagi masih cuti melahirkan." Ucap pimpinan tampan itu menanggapi. "Mengenai karyawan baru, saya sudah memasang lowongan lewat media sosial. Mungkin sebentar lagi sudah ada banyak yang akan datang melamar." Jawab asistennya lagi. "Bagus, nanti saya akan...." Belum sempat sang CEO tampan itu melanjutkan kalimatnya, terdengar suara dering telepon dari ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia pun mengerutkan dahinya sembari meraih benda pipih itu dan melihat nama siapa yang tertera di sana. Ternya itu telepon dari Maminya. Dengan ogah-ogahan dia mengangkatnya, dia sudah tau pasti apa yang akan Maminya katakan nanti. "Hallo Mi..." Arthur sayang... Malam ini kamu bisa kan pulang ke rumah? Sudah hampir seminggu lho kamu gak pulang, Mami kangeeenn banget sama kamu." Ya, CEO muda nan tampan itu adalah Arthur Pradana. Putra satu-satunya dan penerus dari keluarga Pradana. "Arthur usahain ya Mi..." Jawab Arthur singkat seperti biasanya. "Ya harus dong sayang... Kebetulan nanti ada temen Mami sama anaknya yang mau makan malam di rumah. Kamu pasti bisa kan pulang sayang?" Nah ini nih yang bikin Arthur malas pulang ke rumahnya. Dia di tempat kerja adalah sang penguasa perusahaan yang ditakuti oleh semua bawahannya. Semua yang keluar dari mulutnya adalah perintah yang harus dilaksanakan, tapi jika sudah di rumah maka sang penguasa di sana adalah sang Mami. Selama kurang lebih seminggu ini dirinya sengaja tidak pulang ke rumah hanya untuk menghindari hal seperti itu. Maminya terus terusan menerornya untuk segera cari pasangan dengan alasan dia sudah cukup matang di usianya yang 32 tahun, takut dirinya lama kelamaan karatan sedangkangkan Maminya pengen segera menimang cucu. Maka sudah hampir seminggu ini dia menginap di kantornya, ada kamar tersembunyi di dalam ruang kerjanya. Atau terkadang ia menginap di rumah Kaidan, asisten pribadinya itu yang merupakan sahabatnya sendiri. Alasan maminya menyuruhnya pulang malam ini pasti gak jauh-jauh dari perjodohan. Sudah sering sekali Arthur menolak bahkan sengaja lari dari kencan buta yang sudah diatur oleh Maminya dengan beberapa wanita pilihan maminya itu. Bukannya dia gak mau nikah, tapi masih belum ada yang klik aja, sementara dirinya tidak suka bila harus dijodoh-jodohkan seperti itu. "Gak janji ya Mi... Kerjaan Arthur banyak banget, banyak yang harus segera diberesin." Alasan Arthur. "Kamu itu alasannya itu itu aja, kerjaan memang penting tapi masa depan keluarga Pradana juga penting. Gimana Mami mau menimang cucu kalau kamu kerjaannya sibuk melulu di kantor dan cuma bergaul sama Kaidan saja. Lama-lama kalian berdua itu sudah seperti pasangan homo karena sama-sama jomblo. Kamu... Gak bener-bener suka sama Kaidan kan Ar?"Tanya Maminya curiga. Arthur yang mendengar tuduhan maminya itu langsung menghela napas lelah. "Ya sukalah Mi, kalau gak suka mana mungkin Arthur jadikan Kaidan asisten pribadi." Jawab Arthur yang malah sengaja menggoda Maminya. Sementara Kaidan yang masih berdiri di sana hanya bisa melongo mendengar namanya disebut. "Terserah kamu sajalah Ar, capek Mami bilangin kamu! Pokoknya nanti malam Mami tunggu di rumah!" Setelah mengucapkan itu, Maminya langsung mematikan panggilan secara sepihak. Arthur hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Maminya itu. "Kamu ngapain sebut-sebut nama aku ke Mami kamu?" Tanya Kaidan yang kini sudah mode santai sesama teman. "Kata Mami aku, kita kayak pasangan homo yang kemana mana selalu berdua." Jawab Arthur seperti yang dituduhkan Maminya tadi. "Astagfirullah..." Sahut Kaidan sambil mengelus dadanya. "Aku masih normal Ar... Aku gak suka sama terong!" Tambahnya. "Bhahaha... Kamu pikir aku doyan?" Ujar Arthur menimpali sambil terbahak bahak. "Makanya mending kamu terima saja tawaran Mami kamu itu. Kan cuma ketemu doang gak langsung kawin." Saran Kaidan padanya. "Kowan kawin...kowan kawin, kamu pikir aku kucing! Ogah! Kamu aja sana!" Ujar Kaidan tidak setuju. "Ketimbang kita dikira homo..." Sahut Kaidan. "Kalau pun homo aku juga pilih-pilih kali Kai, gak bakalan aku pilih kamu." Ungkap Arthur setengah mengejek. "Siapa juga yang mau sama kamu?!." Sahut Kaidan menimpali dengan setengah kesal. "Lha kenapa? Aku ini ganteng dan mapan." Tanya Arthur dengan pongahnya. "Tapi kamu rada gesrek!" Jawab Kaidan. "Sialan!" Umpat Arthur yang bikin Kai terkekeh mendengarnya. "Sudah jangan bahas itu lagi. Kapan rencananya Pak Jamal di kirim ke kantor cabang?" Tanya Arthur menghentikan obrolan absurd mereka. "Rencananya besok pagi beliau akan ke Kantor Cabang untuk meninjau tempat sambil mengamati kinerja pegawai di sana sebelum resmi pengangkatan." Jawab Kaidan. "Tunda dulu, besok pagi kita yang akan pergi. Sementara Pak Jamal suruh mengawasi Perusahaan selama kita tidak ada. Biar nanti dia dibantu sama sekretaris aku, Delo." Perintah dadakan Arthur itu membuat Kaidan terkejut. "Jangan bilang kamu mau kabur lagi dari Mami kamu Ar?" Tebak Kaidan, sementara Arthur hanya membalasnya dengan tersenyun smirk. "Ughh sial..!" Rutuk Kaidan kesal. ****** Sementara itu di lain tempat, di dalam sebuah kamar seorang gadis cantik berkulit putih terlihat sangat damai di dalam tidurnya. Senyumnya mengembang dengan mata yang masih tertutup rapat. Sesekali tanpa sadar ia mengelap sesuatu yang keluar dari ujung bibirnya saat tersenyum. Sepertinya kini dia sedang menikmati mimpi indah di balik selimut biru tuanya. Tapi sayang sekali mimpi indahnya itu harus berakhir saat itu juga, karena... Byuurr...!! "Harpp...harppp... Banjir! Banjir!" Teriaknya gelagapan sambil meraup wajahnya yang basah oleh air. "Banjir kepalamu?!" Sahut seorang wanita paruh baya dengan gayung kosong di tangannya sambil berkacak pinggang. "Ya ampun Buuun... Kok aku diguyur air sih?! Kan Yuan jadi basah Bun." Protes gadis yang menyebut dirinya sebagai Yuan. Ya, gadis itu bernama Yuana Paradipta yang biasa dipanggil Yuan atau Yuan-Yuan oleh orang di sekitarnya, anak perempuan satu-satunya Bunda Vera, janda sholeha yang diam-diam punya real estate mewah di kawasan elit. Kekayaan tersembunyi Bunda Vera itu hanya diketahui oleh kedua anak perempuan dan lelakinya saja, serta orang terdekatnya saja, bahkan keluarga almarhum suamianya saja tidak mengetahuinya. Sementara Bunda Vera dan kedua anaknya memilih tinggal di rumah peninggalan almarhum suaminya di kampung pinggiran kota. "Kamu emang kudu diguyur air dulu biar bisa bangun! Lagian anak perawan jam segini masih molor aja kayak kebo." Ujar Bunda Vera, ibu Yuan. "Kok disamain sama kebo sih Bun?! Kan cantikan Yuan-Yuan kali..." Protesnya lagi gak terima. "Idih... Cantik, cantik hari gini masih jomblo, mendingan kebo. Tuh, kebonya Mang Cecep aja udah kawin dan udah beranak. Lha kamu?" Sindir Bunda Vera pada anak gadisnya yang suka dinyinyirin tetangga karena diusianya yang sudah 28 tahun masih aja anteng menjomblo. "Duh Bun, bahas itu lagi, itu lagi... Bosen Yuan dengernya." Sahut Yuan sambil mengusap-usap telinganya dengan wajah ditekuk. "Bunda lebih bosen lagi Yuan... Setiap ketemu tetangga selalu nanyain kapan kamu nikah? Kok gak pernah gandengan sama cowok? Apalagi si Yudha adek laki-laki kamu sudah punya pacar, lha kamu kapan Yuan?" Ujar Bunda Vera sambil menatap sendu anak gadisnya. "Ngapain Bunda dengerin omongan tetangga? Lagian itu tetangga perhatian banget sama Yuana. Yuan kan anaknya Bunda, bukan anak tetangga. Terus itu si Yudha kan masih pacaran bukannya kawin Bun, kuliah aja belum kelar, belum tentu juga itu pacarnya jodohnya Yudha." Ucap Yuan yang makin pinter aja menjawab pertanyaan Bundanya yang entah sudah berapa kali itu. "Nih anak makin pinter aja ngejawab omongan orang tua." Ujar Bunda Vera sambil menjewer kuping Yuana yang kini tengah mengaduh kesakitan. "Aduh duh, sakit Bun..." Teriak Yuana sambil mengusap telinganya yang baru saja terlepas dari tangan maut Bunda Vera. "Lagian Yuana kan masih ingin berkarier Bun..." Tambah Yuana. "Ingin berkarier tapi malah resign dari kerjaan, kamu pikir cari kerja gampang?" Sahut Bunda Vera menohok. "Kan Yuan sudah bilang kalau si bos di sana tuh mata keranjang Bun. Masak Yuana mau dijadiin istri ketiganya. Mana itu orang mukanya gak karu-karuan lagi, ganteng kagak tua iya." Jelas Yuan sambil bergidik ngeri saat mengingat mata jelelatannya si mantan bosnya itu. "Kamu aja yang kebaperan, mungkin aja bos kamu itu cuma bercanda kagak serius." Terka Bunda Vera. "Bunda sih kagak lihat langsung tatapan genitnya itu bikin merinding Bun... Udah kayak Cu Pat Kai yang air liurnya kemana mana, hiii..." Tambah geli aja tuh Yuana saat teringat mantan bosnya itu. "Lagian Yuana kan gak nganggur-nganggur amat Bun, Yuan masih nerima pesenan desain lewat online kok meski gak banyak." Tambahnya lagi membela diri. "Terserah kamu aja dah, ngejawab melulu kalau dikasih tau orang tua. Pokoknya sekarang kamu bangun! Mandi biar wangi, lalu dandan yang cantik siapa tau ada laki-laki yang tiba-tiba nyamperin kamu kagak bau jigong!" Omel Bunda Vera. "Yuan masih ngantuk Bun... Tadi malam habis begadang bikin desain undangan. Yuan mau ngelanjutin mimpi indah Yuan ketemu Suga BTS yang tadi dirusuh sama Bunda." Jawab Yuan sambil balik lagi rebahan yang langsung dapat tabokan gayung di bokongnya. Plak..!! "Bangun nggak kamu?! Bunda guyur lagi kamu sama air sebaskom!" Ancam Bunda Vera. "Mandi-mandi sana, dandan yang cantik trus keluar jalan kemana kek, siapa tau ketemu jodoh di jalan." Tambah Bunda Vera dengan sejuta omelan panjangnya untuk anak gadisnya. "Iya, iya Bun... Ini Yuan bangun." Jawab Yuana sambil ogah-ogahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar mengikuti sang Bunda. "Disuruh cepet bangun bukannya ditawarin sarapan malah diusir keluar buat tebar pesona." Gumam Yuana yang ngedumel sambil berjalan di belakang Bunda Vera. "Bilang apa kamu Yuan?" Tanya Bunda Vera seraya menengok ke arah Yuana. "Kagak Bun, Yuana kagak bilang apa-apa." Elak Yuana gelagapan, sedangkan Bunda Vera cuma melotot sinis pada anaknya lalu kembali berjalan ke arah dapur. "Busyeettt... Tajem bener telinga Bunda, padahal Mpok Enha yang umurnya dibawah Bunda aja kupingnya udah bolot." Batin Yuana sambil geleng-geleng kepala. Lalu dia bergegas menuju kamar mandi. Setelah mandi dan dandan paripurna sesuai perintah Bundanya, Yuana menuju ke dapur buat mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Melihat putrinya yang sudah rapi, akhirnya Bunda Vera baru bisa tersenyum cerah. "Nah, gini dong cantik, seger kalau dilihat kagak sepet lagi." Ujar Bunda Vera sambil tersenyum, sedangkan Yuana cuma mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Bundanya. "Kok sepi Bun? Yudha kemana?" Tanya Yuan yang tidak melihat batang hidung adik sematawayangnya itu. "Jam segini ya udah berangkat ke kampus lah." Jawab Bunda Vera sambil menaruh secentong nasi ke atas piring di hadapan Yuana. "Yahh... Padahal Yuan mau nebeng ke cafe dekat kampusnya Yudha." Ujar Yuana lesu. "Mana bisa? Kamu lupa kalau adik kamu itu sudah punya pacar? Dia bilang mau jemput pacarnya dulu. Lagian kamu kan bisa bawa motor sendiri, ngapain mesti nebeng adik kamu segala." Ucap Bunda Vera mengingatkan kalau Yudha adiknya itu sudah tidak jomblo lagi. "Lagi males aja bawa motor sendiri. Panas. Kalau sama Yudha kan enak bisa ngadem di dalam mobil." Sahut Yuan sambil memasukkan potongan ayam goreng ke dalam mulutnya. "Ya sudah naik taksi saja." Timpal Bunda Vera yang ditanggapi Yuana dengan anggukan kepala sementara mulutnya tengah sibuk mengunyah. "Tapi bayarin ya Bun... hehehe..."Tidak seperti biasanya, Maya datang ke kampus sendirian tanpa Yudha yang biasa mengantar jemputnya. Tentu saja dia masih malu untuk bertatap muka dengan Yudha karena kejadian memalukan kemarin. Makanya sebisa mungkin dia menghindari bertemu dengan Yudha di kampus, meski dalam hatinya dia sedikit menyesal telah mengabakan ketulusan Yudha padanya. Selama ini Maya menilai jika keluarga Yudha dari kalangan biasa-biasa saja, tidak miskin dan tidak kaya mengingat kehidupan mereka di kampung dibilang sederhana. Tidak tahunya keluarganya adalah induk semang Real Estatae paliing elit di daerah sekitar kampus mereka. "Maya…¡!" Seru Desy, salah satu teman Maya yang hobby-nya menjilat. "Ya ampun Des... Bikin kaget aja kamu!" Ujar Maya yang langsung sadar dari lamunannya. "Hahh... Aku cari kemana-mana ternyata kamu sudah ada di kelas." Kata Desy yang terlihat sedikit ngos-ngosan napasnya. "Cari aku?? Ada apa?" Tanya Maya jadi agak parno dan was-was sendiri. "Btw... Kamu datang ke kampu
Yudha baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, namun belum sempat menutup pintu mobilnya kembali seseorang sudah memanggil namanya. "Yudha..!!" Seru Nabilla sambil berlari kecil menghampiri Yudha. "Baru datang Dha?" Sapa Nabillla. "Iya, kamu sendiri baru datang juga?" Balas Yudha. "Iya, baru aja aku turun dari ojol terus lihat kamu turun dari mobil." Angguk Nabilla sambil menjawab. "Kamu naik ojol Bill? Mobil kamu kemana?" Tanya Yudha yang heran tumben-tumbennya Nabilla pergi ke kampus naik ojol. "Lagi di bengkel Dha, mogok!" Jawabnya sambil meringis. "Ya ampun Billa... Kenapa gak bilang ke aku sih? Tau gitu aku bisa barengin kamu tadi." Ujar Yudha yang membuat Nabilla heran, ternyata Yudha emang sebaik itu. Sayang, kebaikan Yudha tidak terlihat di mata Maya. Mungkin mata Maya rabun sampai tidak bisa melihat ada pria sebaik Yudha dan rela menyakitinya demi bisa bersama lelaki licik seperti Ruben. "Ya... Ada pepatah mengatakan j
Seperti biasanya Arthur berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Kali ini dia memasak sup jagung telur oriental yang hangat dilengkapi sandwich isi daging dan keju. Arthur juga menyiapkan segelas jus jeruk manis untuk Yuana dan segelas susu hangat untuknya sendiri. Sementara Yuana sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya. Biasanya dia sudah bersih-bersih rumah di pagi hari bersamaan dengan Artgur yang sibuk memasak. Namun sampai Arthur hampir selesai menyajikan sarapan mereka, Yuana masih belum keluar juga dari kamarnya. "Yuana kok masih belum turun juga sih? Masa belum selesai mandi? Atau jangan-jangan malah molor lagi?" Gumam Arthur yang menunggu istrinya turun untuk sarapan. Hingga semuanya selesai tersaji, Arthur melepaskan apronnya dan berteriak dari bawah tangga memanggil istrinya. "Sayaaang... Sarapannya sudah siap! Ayo sarapan!" Teriak Arthur sambil melihat ke arah atas lantai dua. "Bentar Mas... Ini juga mau turun!" Sahut Yuana berteriak dari dalam kama
Hari ini Arthur bangun pagi-pagi sekali bukan untuk menyiapkan sarapan, melainkan untuk joging pagi. Mumpung hari Minggu. Namun Arthur tidak ingin pergi sendiri, ia juga akan menyeret istrinya untuk bangun pagi-pagi dan mengajaknya joging pagi hari itu. Tapi Yuana malah merengek gak mau ikut dan memilih untuk bergelung di dalam selimutnya yang hangat. "Sayang, ayo cepetan bangun! Ikut Mas joging pagi." Ajak Arthur sembari menggoyang-goyangkan tubuh Yuana agar cepat bangun. "Ugh... Aku masih ngantuk, Mas pergi aja sediri." Jawab Yuana dengan suara seraknya dan malah membungkus tubuhnya lagi di dalam selimut. "Ya ampun sayang.... Kok malah tidur lagi sih? Kamu harus olahraga sekarang, gerakin tubuh. Dari kemarin kamu makan terlalu banyak, habis itu cuma goleran dan guling-guling aja, kalau kamu gak olahraga pencernaan kamu bisa terganggu lho..!" Kata Arthur menasehati. "Tapi aku males Mas... Aku masih ngantuk!" Sahut Yuana sambil merem. "Ya sudah kalau gitu, padahal tadinya Ma
Arthur benar-benar menemui Joshua sepulang kerja di cafe shop langganan mereka yang cukup jauh dari kantor cabangnya sekarang. Dan di sana Joshua sudah datang terlebih dahulu. Duduk di salah satu meja dekat dinding kaca yang mengarah ke luar. "Maaf Josh, kamu sudah menunggu lama ya? Sekarang aku
"Mas Ar sedari tadi pagi mogok buat sarapan. Setiap melihat ke arahku langsung melengos. Jelas siapa yang gak marah jika wajah rupawannya kena tonjok? Dan kini perasaanku jadi gak enak. Ah bodoh ah!! Meski tadinya gak berniat nonjok matanya, tapi tetap saja aku yang salah." Gerutu Yuana yang sejak
POV YuanaMami Lidia akhirnya pulang juga ke rumahnya setelah merasakan masakan Mas Arthur saat makan malam tadi. Tadinya beliau mau menginep kalau tidak teringat jika besok pagi dia ada pertemuan sosialita, alhasil Mami memutuskan untuk pulang malam ini juga. Dan aku sangat bersyukur sekali akan h
"Terkadang ada wanita yang tidak menyadari jika dirinya sedang hamil, dan justru suaminya yang berperilaku seperti wanita hamil, ngidam misalnya... " Lanjutnya sambil melirik ke arah Arthur yang baru saja menghabiskan asinan Bandungnya untuk kedua kalinya. "Gimana kalau kita antar kamu periksa k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews