Share

147. Hamil?

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 23:24:32

Leonardo tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah, langkahnya tergesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi aroma antiseptik.

Jas kerjanya tampak kusut, dasi yang biasanya terpasang rapi kini longgar, menandakan betapa paniknya ketika dia menerima kabar yang mendadak itu.

Sorot matanya langsung menangkap sosok Gabby yang berdiri di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, wajah gadis itu pucat dan dipenuhi kecemasan.

Leonardo segera menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi pada Alessia?” tanyanya dengan suara berat, nyaris bergetar menahan kekhawatiran.

Gabby menoleh, matanya yang berkaca-kaca menatap ayahnya. Ia menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, Pa. Tiba-tiba saja dia pingsan di restoran. Sebelumnya dia sempat mengeluh pusing.”

Leonardo memejamkan mata sesaat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Tidak ada apa-apa sebelumnya?” desaknya sambil berusaha menemukan celah penjelasan.

Gabby menarik napas panjang. “Ada,” katanya lirih. “Kakek datang ke restoran lagi saat aku tidak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   153. Apakah Mereka Kerjasama?

    “Sebaiknya Anda bicarakan baik-baik dengan Nona Gabby. Walau bagaimanapun, Nona Gabby yang lebih berhak memutuskan semuanya,” ujar Anthony dengan nada suara yang rendah namun penuh pertimbangan.Leonardo menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja yang empuk, lalu menarik napas panjang yang terdengar sangat berat.Ruangan itu seketika menjadi sunyi, menyisakan deru pendingin udara yang seolah menjadi saksi bisu atas kerumitan yang tengah menyelimuti pikiran pria tersebut.Tatapan Leonardo tertuju pada langit-langit ruangan, mencari sedikit ketenangan di tengah badai informasi yang baru saja ia terima dari mantan istrinya.“Aku tidak akan bisa tinggal diam jika Rafael menunjukkan sisi lemahnya dan memilih untuk meninggalkan Gabby,” gumam Leonardo, suaranya terdengar seperti sebuah janji yang kelam.“Kecuali jika Gabby sendiri yang memutuskan untuk pergi dan melepaskan Rafael. Itu adalah haknya. Namun, jika perpisahan itu dipaksakan oleh pihak ketiga, aku tidak akan membiarkannya t

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   152. Kedatangan Mantan Istri

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca besar di kantor pusat Deveroux Group, menyinari ruangan kerja Leonardo yang tertata dengan presisi yang kaku.Leonardo baru saja menyesuaikan posisi duduknya di balik meja kerja, bermaksud memulai tinjauan laporan keuangan, ketika pintu jati ganda ruangannya terbuka dengan kasar tanpa ketukan sama sekali.Seorang wanita dengan pakaian desainer yang mencolok dan aura angkuh melangkah masuk. Amanda.Mantan istrinya itu berdiri di sana dengan senyum miring yang selalu memancarkan racun.Tak lama kemudian, Anthony muncul dengan wajah pucat dan napas yang sedikit tersengal.“Maafkan saya, Tuan Leonardo. Saya sedang menerima panggilan dari departemen hukum dan tidak menyadari bahwa Nyonya Amanda masuk melewati barisan sekretaris tanpa izin,” ujar Anthony dengan nada penuh sesal dan kecemasan.Leonardo mengangkat tangannya dengan tenang, meski matanya memancarkan kilatan ketidaksukaan yang mendalam. “Keluar dan tutup pintunya, Anthony. Biarkan d

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   151. Memang itu Tujuanku

    Waktu seolah merambat lambat saat jarum jam menunjuk tepat pada pukul sebelas malam.Kesunyian di dalam ruang kerja itu hanya dipecah oleh suara ketukan terakhir pada papan tik komputer milik Leonardo.Pria itu mengembuskan napas panjang, menutup layar monitornya, dan mematikan lampu meja yang sejak tadi menjadi satu-satunya sumber cahaya di sudut ruangan.Kini, ruangan itu hanya diterangi oleh pendar lampu dinding yang temaram, menciptakan nuansa kuning keemasan yang hangat dan intim.Leonardo memutar tubuhnya, mendapati Alessia masih setia menunggunya di sofa kulit.Wanita itu tidak tertidur; dia justru duduk dengan anggun, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit diartikan namun sarat akan damba.Leonardo bangkit dan melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya di atas lantai kayu terdengar dominan.Saat dia berdiri tepat di hadapan Alessia, aura maskulin yang kuat terpancar dari tubuhnya yang tampak letih namun tetap perkasa.Tanpa sepatah kata pun, Alessia mengulurkan tangann

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   150. Aku Percaya Padamu

    “Anthony,” ucap Leonardo dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas saat panggilan itu terhubung.“Batalkan semua jadwal pertemuan serta agenda kunjungan lapangan untuk dua hari ke depan. Aku tidak akan masuk ke kantor.”Di seberang sana, Anthony tampaknya memberikan respons yang menunjukkan keterkejutan, namun Leonardo segera memotongnya.“Atur ulang semua janji temu secara virtual jika memang mendesak. Jika tidak, tunda hingga minggu depan. Aku tidak bisa meninggalkan rumah saat ini.“Alessia baru saja pulang dari rumah sakit, dan aku tidak akan membiarkan dia sendirian tanpa pengawasanku. Pastikan hal ini tidak bocor ke media ataupun kepada ayahku.”Tanpa Leonardo sadari, di balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka, Alessia berdiri mematung.Dia telah berdiri di sana selama beberapa saat, bermaksud membawakan camilan kecil untuk Leonardo, namun niat itu tertahan ketika ia mendengar percakapan tersebut.Hatinya berdesir; ada rasa hangat sekaligus rasa bersalah yang me

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   149. Jiwa Posesifnya Keluar

    Dua hari telah berlalu dan sesuai dengan instruksi dokter, Alessia akhirnya diperbolehkan pulang, meskipun kondisinya masih terpantau cukup rentan.Langkah kaki Leonardo terdengar berat dan tegas saat ia mengawal Alessia memasuki ruang tengah.Pria itu tidak membiarkan Alessia membawa apa pun, bahkan tas kecil sekalipun. Tangan kekarnya senantiasa berada di belakang punggung Alessia, siap menyangga jika wanita itu kehilangan keseimbangan walau hanya satu inci.“Duduklah di sini, Alessia. Aku akan mengambilkan bantal tambahan untuk menopang punggungmu,” ujar Leonardo dengan nada otoriter yang tidak menerima bantahan.Alessia menghela napas, namun dia tetap tersenyum tipis. “Leo, aku hanya hamil, bukan sedang menderita kelumpuhan. Aku bisa berjalan sendiri.”Leonardo tidak menghiraukan protes kecil itu. Ia menatap Alessia dengan sorot mata yang tajam namun penuh proteksi.“Kesehatanmu dan anak kita adalah prioritas absolut saat ini. Selama masa pemulihan ini, aku tidak mengizinkanmu mel

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   148. Hanya Menjebak Leonardo

    Alessia menatap Leonardo yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapan pria itu tertuju padanya, begitu dalam dan penuh emosi, seolah ada ribuan pikiran yang berputar di kepalanya.Keheningan itu perlahan terasa menyesakkan, membuat Alessia akhirnya berdeham pelan.“Leonardo,” panggilnya dengan suara lembut namun jelas. “Sejak tadi kau hanya menatapku. Ada apa?”Leonardo tersentak kecil, seakan baru menyadari bahwa ia terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri.Dia kemudian menarik napas dalam, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Tatapannya kini beralih ke tangan Alessia yang terbaring lemah di atas selimut putih.“Aku hanya … sedang berpikir,” jawabnya pelan.Alessia mengerutkan kening. “Tentang apa?” tanyanya lagi.Nada suaranya tetap tenang, tetapi terselip kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. “Atau … apakah kau tidak siap untuk memiliki anak?” tanyanya kemudian.Leonardo segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, hamp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status