LOGINBastian Leonardo mantan Narapidana yang gagal dalam melakukan misinya saat bertugas sebagai tim pemberantas narkotika. Bastian kehilangan pekerjaannya, semua aset pribadinya, karirnya juga keluarganya. Bahkan, dia gagal menikah dengan kekasihnya. Bastian harus berjuang setelah ke luar dari penjara. Suatu hari dia mendapatkan pekerjaan menjadi bodyguard. Dia harus menjaga keamanan seorang gadis bernama Bianca Mozeto yang merupakan putri Gabriel Mozeto pimpinan salah satu klan mafia.Bianca memiliki ketertarikan pada Bastian. Tetapi, Bastian akhirnya mengetahui. Gabriel Mozeto penyebab hancurnya karirnya dan hidupnya. Apa yang dipilih Bastian? menerima perasaan Bianca dengan tulus atau membalas Gabriel dengan mempermainkan putrinya dengan cinta palsu?
View More“bugh bugh brak!” Bastian menendang keras pintu yang terkunci, tidak butuh lama pintupun terbuka lebar. Kegaduhan akibat tendangan Bastian semakin menambah kecemasan semua orang di area pemotretan itu. Mereka melihat Kimberly yang berprofesi sama dengan Bianca memeluk Bianca di belakangnya. Terlihat ujung pisau berjarak beberapa sentimeter ke kulit leher mulus Bianca. Wajah Bianca memucat, “Ayo, kita bicara baik-baik Kimberly!” bujuk Bianca dengan tangan bergetar. Kimberly tertawa lepas, “Percuma saja. Sudah tidak ada gunanya. Gara-gara pemutusan kontrak sepihak, aku kehilangan penghasilanku. Ibuku meninggal karena aku telat membayar biaya pengobatannya,” tolaknya sambil menarik tangannya membuat beberapa kru wanita menjerit. Mereka takut ujung pisau itu menggores leher Bianca, fatalnya menusuk. “Kenapa kamu menyalahkanku? seharusnya kamu tuntut Mr. Johan sebagai pimpinan agensi,” tepis Bianca. “Jangan pura-pura tidak tahu, Bianca!” bentaknya membuat gadis itu tersen
Bastian berdiri tak jauh dari ruang kelas di mana Bianca sedang mengikuti salah satu mata kuliahnya. Bastian menyandarkan punggungnya di pohon besar sambil menghisap batang nikotin yang dijepit kedua jemarinya. Tatapan tajamnya tak lepas mengarah ke ruang kelas. Bastian melirik ke arah dua lelaki mengenakan seragam tak asing, bahkan Bastian mengenal keduanya. Mereka ajudan ayahnya. Bastian mengalihkan tatapannya ke arah pintu kelas, tepatnya mengabaikannya seolah tidak mengenal mereka meskipun tahu tujuan keduanya hendak menghampirinya. “Selamat siang tuan muda,” sapa keduanya dengan rasa hormat. Tapi, Bastian mengabaikannya. “Tuan…” ucap salah satunya lagi. Bastian menatapnya, kolonel Erik yang memanggilnya dengan sebutan dulu sebelum namanya dipecat sebagai penerus Leonardo. “Kau memanggilku?” tanya Bastian dengan memiringkan kepalanya sambil menunjuk dirinya. Kolonel Erik dan Hamdan menatapnya ragu, meskipun mereka tahu dengan benar. Adanya konflik diantara atasannya dengan
Setelah Clara keluar dari kamarnya, Bastian duduk terdiam dengan punggung merapat di pintu. Meskipun sudah merelakannya, tepatnya mengusir semua rasa cintanya pada Clara. Bastian tetap manusia biasa, di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersisa secerca rasa yang tidak bisa dihapus begitu saja, sekalipun menyakitinya. Apalagi Clara tak berhenti mengusik-nya. Bastian mendengar ketukan pintu, Bastian berdiri tegak dengan ekspresi tegas. Kemudian membukanya. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di balik pintu. Bastian yang baru sehari di kediaman Gabriel belum mengenalnya. mereka tak jauh darinya sebagai pegawai Gabriel. “Tuan Gabriel meminta kami mengantarmu menemuinya,” ucap salah satunya. Bastian tahu Gabriel pasti memanggilnya. Dia menyadari kesalahannya, kesalahan yang berhubungan dengan Bianca. Dia tidak mengelak, Bastian memiliki bukti sebagai pembelaan jika Gabriel menyalahkannya. Bastian pun mengikuti mereka. Salah satu lelaki yang berjalan di belakangnya memukul
“Sentuh aku, tiduri aku! buat aku hamil!” Ucapan itu membuat Bastian tergerak, Bastian menggenggam tangan Clara yang berlabuh erat di depan perutnya. Kemudian memutar hingga menghadapnya. Manik matanya yang terlihat redup. Tapi, mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Bohong, jika Bastian sudah menghapus rasa cintanya. Sampai kapanpun nama Clara, gadis satu-satunya yang masih terukir dalam lubuk hatinya. Bastian mengapit kedua pipi tirus nan halus dengan telapak tangannya. “Apa kau serius?” Clara mengangguk pelan, wajahnya merona karena malu. Sudah begitu lama situasi seintena ini tidak mereka lakukan. “Ulangi lagi permintaanmu tadi!” ucap Bastian sambil mengangkat dagunya. Jangan tanya bagaimana tatapan Bastian. Tak hanya secerca, tapi banyak. Tatapan yang dulu sering Clara lihat, penuh godaan yang membuat Clara tak sanggup menolak. Ya, menolak Bastian mencumbunya. Clara menggigit bibir bawahnya dengan rona wajah yang masih memerah. “Jangan menggodaku! seger






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews