LOGIN*Pelataran pusat perbelanjaan itu berkilau diterpa matahari siang San Diego. Deretan palem berdiri rapi, sementara udara laut yang asin samar-samar terbawa angin. Felix mematikan mesin sedan hitam yang baru saja ia parkirkan, lalu duduk beberapa detik lebih lama dari biasanya, menatap setir dengan napas tertahan.“Berbelanja,” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri adalah tantangan. “Ayolah, ini hanya berbelanja. Tidak akan sesulit itu.”Ia jarang—hampir tak pernah—melakukan urusan semacam ini. Biasanya, segala kebutuhan Casa Nero sudah diatur rapi oleh tangan-tangan lain yang lebih berpengalaman dan sesuai job desk. Namun keadaan berubah sejak keluarga itu kedatangan anggota baru: Tuan Muda Gabriel. Bayi kecil itu membuat rutinitas semua orang beralih poros, termasuk Felix.Pagi tadi, Bella menelepon dengan suara lirih namun tegas. Gabriel demam ringan setelah vaksin, dan ia tidak mungkin keluar rumah. “Tolong belikan diapers yang biasa,” katanya, lalu mengirimkan foto kemasan lewa
**Beberapa bulan kemudian"Apa kau takut, Bella?""Tidak, Gio, aku tidak takut. Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu. kau harus mengaca dan melihat wajahmu yang pucat seperti mayat itu."Bella tertawa pelan, dan Giovanni mendesis muak. "Dokter, bisakah kalian persingkat waktu? Kalian akan apakan istriku ini sebenarnya?"Ruang operasi itu terasa jauh lebih dingin dibandingkan ruangan rawat inap sebelumnya. Pendingin udara berdengung konstan, membuat bulu kuduk Giovanni meremang meski ia mengenakan pakaian steril berwarna biru pucat. Aroma karbol dan obat-obatan menyeruak tajam, menusuk hidungnya hingga menimbulkan rasa tak nyaman. Lampu-lampu operasi yang besar menggantung di atas, memancarkan cahaya putih terang yang terasa kejam bagi mata yang belum terbiasa.Giovanni berdiri di sisi kepala ranjang operasi, tepat di samping Bella. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat-erat, seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak runtuh. Bella ber
**Giovanni tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Sudah berapa banyak pagi, siang, sore, atau malam yang berlalu, ia juga tidak ingat. Ia hanya tahu sudah duduk diam di tempat yang sama untuk waktu yang lama.Ruang rawat inap itu sunyi, hanya diisi dengung halus mesin pemantau jantung dan desau pendingin udara rumah sakit yang berdiri menghadap Teluk San Diego. Dari balik jendela besar, cahaya matahari sore menyelinap masuk, memantul di lantai putih yang mengilap. Di kejauhan, laut tampak tenang, seolah bersekongkol menjaga rahasia antara hidup dan mati yang baru saja dilewati seorang perempuan bernama Isabella Estes.Giovanni duduk di kursi di sisi ranjang, dengan tubuh yang condong ke depan. Kedua sikunya bertumpu pada kasur, sementara jemarinya menggenggam tangan Bella yang dingin namun hidup. Sudah berhari-hari ia berada di posisi yang sama, hampir tidak pernah beranjak kecuali untuk ke kamar mandi atau menerima laporan singkat dari Felix. Matanya jarang terpejam, seakan tak
**Giovanni pikir, dirinya benar-benar akan tewas saat itu juga. Ia pejamkan mata rapat-rapat, menunggu rasa sakit atau semacamnya datang setelah letusan pistol terakhir terdengar. Tapi untuk ke sekian kalinya, tidak ada yang terjadi. Pria itu masih bertahan dalam posisi duduk melindungi kepala ketika suasana mendadak hening. Tidak ada pergerakan apapun, sehingga kapal yang bergoyang-goyang di atas lautan bisa terasa dengan jelas di bawah kakinya saat itu.Giovanni menoleh pelan, dan menemukan tubuh Damian sudah jatuh menelungkup di atas puing-puing dek kapal mewahnya yang berserakan. Kalau begitu, siapa yang tadi menembak?"Tuan! Tuan baik-baik saja?Tuan tidak apa-apa?"Suara derap langkah yang awalnya pelan, terdengar semakin jelas, menggema di lorong sempit yacht yang masih dipenuhi aroma mesiu dan logam terbakar. Giovanni yang terduduk bersandar pada dinding retak itu mengangkat kepala dengan susah payah. Pandangannya sedikit kabur, tetapi ia mengenali siluet yang mendekat.“Tuan
**"Tutup mulutmu, kau bajingan! Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku! Kau sudah siap mati, ha!"Giovanni benar-benar murka saat mendengar penuturan adik sepupunya yang tidak tahu malu itu. Ia mengangkat tangan yang memegang pistol, lurus dengan wajah Damian. Dan segera saja para penjaga di belakang Damian bergerak maju hendak menyerang balik. Membuat pria itu segera memberi isyarat untuk menenangkan mereka."Begitukah sikapmu kepada tuan rumah? Yang kau injak saat ini adalah geladak kapal milikku, lho. Harusnya aku yang tanya, apa kau sudah siap mati jika sikapmu seburuk itu?"Jemari Giovanni hampir menarik pelatuk, sebelum Damian dengan ringan mengatakan, "Jika kau nekat melakukan sesuatu yang buruk kepadaku, hal yang sama pasti akan dilakukan anak buahku kepada istrimu di dalam."Seketika membuat sang Don murka. Rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meledak tak terkendali. "Di mana istriku, bajingan keparat! Katakan atau kurobek mulut besarmu itu!""Whoa ... calm down
**Sedan hitam milik Giovanni merapat ke kawasan dermaga yang sepi di pantai selatan batas kota San Diego. Lampu-lampu pelabuhan berpendar redup, memantul di permukaan air yang beriak pelan. Hanya desir angin laut dan debur ombak yang terdengar, seolah kota itu menahan napas. Di belakang sedan tersebut, beberapa mobil lain berhenti dengan jarak terukur, mengawal dalam diam tanpa terlihat mencolok sama sekali.Giovanni turun lebih dulu. Bahunya sedikit tertarik ke belakang sebab menahan nyeri yang belum sempat sembuh sejak kekacauan di kastil tadi. kemejanya kusut dan ada bercak noda darah di beberapa bagian. Ia mengedarkan pandangannya, tajam dan waspada, menyusuri jalanan sepanjang dermaga yang dipagari pembatas besi. Felix berjalan di sampingnya, rahangnya mengeras, telapak tangannya siap menggenggam pistol di balik jaket. Keduanya melangkah dalam sepi.“Tidak ada gerakan mencurigakan,” gumam Felix pelan. “Tapi Damian memang bukan tipe yang ceroboh. Dia tidak akan meninggalkan jejak







