LOGIN"Dulu kau membuangku seperti sampah, sekarang kau datang memohon padaku?" Sepuluh tahun lalu, Reno Dirgantara hanyalah remaja biasa yang cintanya diinjak-injak oleh sang primadona sekolah, Karin Anindita. Kini, roda berputar. Reno kembali sebagai pemangsa bisnis yang siap menghancurkan dinasti keluarga Karin. Satu-satunya cara bagi Karin untuk menyelamatkan ayahnya adalah dengan menjadi "pelayan" pribadi bagi pria yang kini sangat membencinya itu. Karin mengira ia hanya akan menghadapi tumpukan pekerjaan dan hinaan. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik tatapan tajam Reno, ada obsesi lama yang belum padam. Di antara benci dan obsesi, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
View MoreKarin Anindita menatap pantulan dirinya di cermin lobi gedung pencakar langit itu. Gamis berwarna softpink yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana kantor Dirgantara Group yang serba monokrom, kaku, dan dingin. Ia merapikan sedikit hijabnya yang tertiup angin AC, berusaha menyembunyikan jemarinya yang mulai bergetar.
“Sabar, Rin. Kamu ke sini bukan untuk perang, tapi untuk memohon,” batinnya berulang kali. Sudah seminggu ini ayahnya masuk rumah sakit. Bukan karena penyakit jantung atau stroke, tapi karena hancur melihat perusahaan yang dibangunnya selama tiga puluh tahun kini berada di ujung tanduk. Dan satu-satunya orang yang memegang kunci keselamatan perusahaan itu adalah sosok yang paling tidak ingin Karin temui di dunia ini. “Nona Karin Anindita? Mari, Pak Reno sudah menunggu di ruangannya,” suara sekretaris yang terdengar robotik itu membuyarkan lamunan Karin. Karin mengangguk kecil, memberikan senyum sopan yang dipaksakan. Ia melangkah mengikuti sekretaris itu melewati lorong-lorong kaca yang sunyi. Setiap langkah kakinya yang beralas sepatu flat terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi. Begitu pintu jati raksasa itu terbuka, aroma sandalwood dan parfum maskulin yang sangat mahal menyerbu indra penciumannya. Di ujung ruangan, di balik meja marmer yang sangat luas, seorang pria duduk memunggungi pintu, menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca. “Duduk,” suara berat itu terdengar. Tak ada nada ramah sedikit pun. Karin duduk di kursi kulit yang empuk, namun ia merasa seolah duduk di atas duri. Ia meletakkan tas kecilnya di pangkuan, meremas talinya dengan kuat. “Selamat siang, Pak Reno. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu saya,” ujar Karin dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski hatinya bergemuruh. Pria itu memutar kursinya perlahan. Begitu mata mereka bertemu, napas Karin tertahan di tenggorokan. Reno Dirgantara. Pria di depannya bukan lagi remaja berkacamata tebal dengan seragam yang selalu kebesaran yang sepuluh tahun lalu ia tolak mentah-mentah di depan gerbang sekolah. Kini, Reno adalah definisi dari kekuasaan. Rahangnya tegas, matanya tajam seperti elang yang siap mencabik mangsa, dan rambutnya tertata rapi yang memancarkan aura dominan. Reno tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap kopi hitamnya pelan-pelan, membiarkan keheningan yang menyiksa itu berlangsung selama beberapa saat. Matanya menatap Karin dari ujung hijab hingga ujung sepatu, seolah sedang menilai berapa harga dari wanita di depannya ini. “Ternyata benar,” Reno akhirnya bersuara, ada seringai tipis yang sangat menyebalkan di sudut bibirnya. “Kalau sudah butuh uang, musuh pun bisa jadi tujuan pertama untuk mengemis.” Wajah Karin memanas. Penghinaan itu menghantam harga dirinya telak. Ia ingin sekali berdiri, menyiramkan kopi itu ke wajah sombong Reno, dan pergi begitu saja. Tapi bayangan ayahnya yang terbaring lemah di ruang ICU menahan kakinya. “Saya ke sini secara profesional, Pak Reno. Saya ingin menawarkan negosiasi ulang terkait akuisisi Anindita Group. Kami memiliki aset yang” “Cukup,” Reno memotong pembicaraan Karin sambil melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja. “Aku tidak butuh penjelasan tentang aset perusahaanmu yang hampir bangkrut itu, Karin. Aku sudah tahu semuanya. Bahkan aku tahu merek obat yang dikonsumsi ayahmu setiap pagi.” Karin membelalak. “Kamu memata-matai keluarga saya?” Reno tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. “Itu namanya riset bisnis. Dan riset saya mengatakan, Anindita Group akan rata dengan tanah dalam waktu tiga hari kalau aku tidak menandatangani surat pembatalan akuisisi ini.” Reno memajukan tubuhnya, menatap Karin dengan jarak yang cukup dekat hingga Karin bisa mencium aroma kopinya. “Pertanyaannya sekarang... apa yang bisa kamu tawarkan kepadaku agar aku mau mengubah keputusanku? Karena bagiku, menghancurkan perusahaan ayahmu jauh lebih menguntungkan daripada menyelamatkannya.” Karin menelan ludah. Ia tahu arah pembicaraan ini. “Berapa bunga yang kamu mau? Kami akan membayarnya setelah perusahaan stabil.” “Uang?” Reno mendengus. “Kamu pikir aku kekurangan uang? Aku bisa membeli sepuluh perusahaan seperti milik ayahmu dalam sehari tanpa perlu berpikir dua kali.” Reno berdiri, berjalan mengelilingi meja lalu bersandar di depan Karin. Ia melipat tangannya di dada. “Aku ingin sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sesuatu yang dulu kamu jaga dengan sangat sombong.” “Apa maksudmu?” tanya Karin, suaranya mulai bergetar. “Jadilah asisten pribadiku. Enam bulan. Kamu harus mengikuti ke mana pun aku pergi, mengurus semua kebutuhanku, dan yang paling penting... kamu harus siap siaga dua puluh empat jam jika aku memanggil.” Karin tertegun. “Aku punya pendidikan, Reno. Aku punya gelar Master Bisnis. Kamu ingin aku jadi pelayanmu?” “PA, Karin. Personal Assistant. Tapi di mataku, ya, kamu tidak lebih dari orang yang harus menebus dosa masa lalu,” ucap Reno dingin. “Satu lagi, di kantor ini, kamu dilarang membantah. Satu kata 'tidak' keluar dari mulutmu, maka detik itu juga aku akan memastikan ayahmu tidak punya kantor untuk kembali setelah keluar dari rumah sakit.” Karin menatap mata Reno, mencari sisa-sisa pria lembut yang dulu pernah menyatakan cinta padanya. Tapi tidak ada. Di sana hanya ada kebencian yang sudah mengkristal selama bertahun-tahun. “Ya Allah, kuatkan aku,” desis Karin dalam hati. “Baik,” ucap Karin akhirnya, nyaris berbisik. “Aku terima.” Reno tersenyum puas, tapi matanya tetap sedingin es. “Bagus. Sekarang, buatkan aku kopi. Tanpa gula, tanpa krim. Dan pastikan suhunya pas. Jangan buat aku menunggu lebih dari lima menit.” Karin terpaku di tempatnya. Kalimat Reno barusan bukan sekadar perintah, melainkan sebuah proklamasi kemenangan. Dengan langkah gontai, ia keluar dari ruangan itu menuju pantry luas yang terletak tak jauh dari meja sekretaris. Sambil menunggu mesin kopi bekerja, Karin menyandarkan punggungnya pada meja marmer yang dingin. Matanya terpejam, dan seketika itu juga, memori yang selama sepuluh tahun ini ia kunci rapat-rapat mendadak terbuka kembali. Flashback – 10 Tahun Lalu Hujan turun sangat deras di depan gerbang SMA Pelita. Karin, si primadona sekolah yang selalu tampil sempurna, sedang menunggu jemputan sopirnya. Tiba-tiba, seorang remaja laki-laki dengan seragam yang tampak lusuh dan kacamata tebal yang melorot di hidungnya mendekat dengan ragu. “Ka-Karin…” suara itu bergetar. Reno menyodorkan sebuah amplop merah muda yang sudutnya sedikit basah terkena air hujan. Karin menoleh, menatap Reno dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat merendahkan. Di depan teman-teman gengnya yang sedang tertawa, Karin mengambil amplop itu hanya untuk menjatuhkannya ke dalam genangan air berlumpur di bawah kaki mereka. “Reno, dengar ya,” ujar Karin dengan suara lantang agar didengar semua orang. “Bahkan kalau kamu adalah laki-laki terakhir di bumi ini, aku nggak akan pernah sudi melihatmu. Kita itu beda kasta. Kamu itu cuma kutu buku ingusan yang masa depannya nggak jelas. Jadi, berhenti bermimpi!” Tawa pecah dari sekeliling mereka. Reno hanya tertunduk, tangannya mengepal kuat di samping tubuh, menahan malu yang luar biasa saat melihat surat cintanya terinjak sepatu mahal Karin. Flashback Berakhir Suara denting mesin kopi menarik Karin kembali ke kenyataan pahit. Ia menatap cangkir hitam di depannya dengan getir. “Ternyata doa orang yang terzalimi itu benar-benar dijabah, ya?” batinnya miris. Kini, si kutu buku itu telah menjelma menjadi raksasa yang siap menginjak-injak hidupnya kapan saja. Karin membawa nampan berisi kopi itu kembali ke ruangan Reno. Tangannya gemetar kecil, membuat cangkir di atas nampan berdenting halus. Begitu ia masuk, Reno sedang sibuk menelepon. Pria itu memberi isyarat dengan tangan agar Karin meletakkan kopinya di meja. Setelah menutup telepon, Reno menyesap kopi itu. Matanya menyipit, menatap Karin yang berdiri kaku di depan mejanya. "Terlalu pahit," gumam Reno dingin, padahal ia sendiri yang meminta tanpa gula. Ia sengaja ingin mencari celah. "Sama seperti kenyataan yang harus kamu hadapi sekarang, bukan?" Karin menarik napas panjang, mencoba mengontrol emosinya. "Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya ingin pamit untuk ke rumah sakit menemui Papa." "Siapa bilang kamu boleh pergi?" Reno berdiri, berjalan mendekati Karin hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Tubuh mungil Karin tenggelam dalam bayangan Reno yang tinggi besar. "Tugasmu baru dimulai sekarang. Ikut aku ke acara jamuan makan malam bisnis jam tujuh malam ini. Pakai baju yang layak. Aku tidak mau asisten pribadiku terlihat seperti gadis desa yang tersesat di ibu kota." Reno menarik selembar kartu kredit dari sakunya dan menyelipkannya di antara jemari Karin yang masih kaku. "Beli gaun yang mahal. Anggap saja ini uang muka untuk kesabaranmu menghadapi aku selama enam bulan ke depan." Karin menatap kartu kredit di tangannya seolah itu adalah bara api. Ia merasa seperti barang yang baru saja dibeli. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar. Di meja depan, sekretaris Reno yang bernama Siska menatapnya dengan tatapan sinis. "Baru hari pertama sudah pucat? Jangan berharap bisa bertahan lama di sini, Nona Karin. Pak Reno tidak suka orang yang lemah." Karin tidak membalas. Ia terus berjalan menuju lift dengan kepala tegak, meski hatinya hancur berkeping-keping. Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian, pertahanannya runtuh. Ia merosot di lantai lift yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Maafkan Karin, Pa… Karin harus melakukan ini,” isaknya tertahan. Di atas sana, di balik jendela kaca ruangannya, Reno menatap mobil Karin yang perlahan meninggalkan area gedung. Ia menyentuh bibir gelas kopinya yang masih hangat. Dendamnya mungkin terasa manis sekarang, tapi ada kekosongan yang aneh di hatinya saat melihat mata Karin yang berkaca-kaca tadi. "Ini baru permulaan, Karin," bisiknya pada keheningan ruangan. "Aku akan pastikan kamu merasakan setiap inci rasa sakit yang dulu kamu berikan padaku."Satu tahun telah berlalu sejak debu pertempuran di Samudra Pasifik mengendap dan menjadi bagian dari sejarah kelam yang terkubur dalam-dalam. Di sebuah kawasan eksklusif di perbukitan Sentul, di mana kabut pagi seringkali memeluk lereng hijau dengan lembut, berdiri sebuah rumah yang menjadi simbol kemenangan cinta atas teknologi. Rumah dua lantai itu dirancang dengan konsep modern minimalis yang sangat personal, sebuah wujud nyata dari impian yang pernah Reno dan Karin diskusikan di masa-masa sulit. Fasad bangunan didominasi oleh perpaduan kaca temper yang kokoh dan aksen dinding bertekstur warna soft pink pastel yang sangat elegan. Warna merah muda itu tidak tampak mencolok, melainkan memberikan kesan hangat dan menyambut bagi siapa pun yang melangkah masuk ke gerbangnya. Di halaman depan, sebuah taman kecil dengan bunga-bunga mawar merah muda mekar dengan sempurna, menyebarkan aroma harum yang bercampur dengan udara pegunungan yang murni. Reno Dirgant
Matahari pagi di tengah Samudra Pasifik tampak berbeda hari ini. Cahayanya tidak lagi terasa mengancam atau membakar, melainkan terasa hangat dan memberikan harapan baru saat menyinari dek kapal pesiar "The Great Naga" yang sedang melaju stabil menuju utara. Di dalam suite medis yang kini sudah jauh lebih tenang, suasana haru biru menyelimuti setiap sudut ruangan yang didominasi peralatan medis mutakhir. Reno Dirgantara, dengan perban yang masih melingkari dada dan pelipisnya akibat pertempuran di "The Ark", duduk setia di tepi tempat tidur Reyhan. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan adiknya, seolah ingin memastikan secara fisik bahwa semua ini bukanlah mimpi indah yang akan sirna saat ia berkedip. "Mas Reno..." suara Reyhan terdengar jauh lebih jernih dan berenergi sekarang. Matanya yang jernih tidak lagi menampakkan kekosongan digital atau ketakutan mencekam yang selama dua puluh tahun ini menyelimuti jiwanya. "Aku merasa... seperti baru saja dibangu
Ruangan pusat kendali "The Ark" terasa seperti sebuah peti mati kaca di dasar samudra. Suara dengung mesin prosesor raksasa menyatu dengan suara hantaman ombak di luar dinding kristal, menciptakan atmosfer yang sangat mencekam. Reno Dirgantara berdiri dengan napas yang memburu, matanya tidak berkedip menatap angka 99% yang menyala merah di layar monitor utama. Di depannya, Bramanto berdiri dengan tenang, seolah-olah ia sudah memenangkan seluruh peperangan ini. "Kau pikir kau bisa menghentikan kemajuan teknologi dengan sebuah senapan, Reno?" tanya Bramanto dengan nada merendahkan. "Ayahmu membangun Aegis untuk melindungi dunia, tapi aku akan menggunakannya untuk mengatur dunia. Perbedaan yang sangat tipis, bukan?" "Ayahku membangunnya dengan hati, Bramanto. Kau membangunnya dengan darah adikku!" raung Reno. Ia menarik pelatuknya, namun sebuah perisai energi elektromagnetik muncul di depan Bramanto, membelokkan peluru Reno hingga menghantam dinding baja d
Kapal pesiar "The Great Naga" kini berada di koordinat yang paling ditakuti oleh para pelaut dunia: Point Nemo. Tempat ini dikenal sebagai 'kuburan satelit', titik di Samudra Pasifik yang paling jauh dari daratan mana pun di bumi. Di sini, kesunyian laut terasa menekan, sebuah hamparan air tak berujung yang menyimpan misteri di kedalamannya yang ribuan meter. Malam itu, langit di atas Point Nemo tampak begitu bersih namun kelam, tanpa ada cahaya lampu kota sedikit pun yang membiaskan ufuk, menyisakan kerlap-kerlip bintang yang terasa sangat jauh dan dingin.Reno Dirgantara berdiri di ruang kendali taktis "The Great Naga", sebuah ruangan yang didominasi oleh layar-layar digital berwarna biru dan hijau. Matanya merah karena kurang tidur, namun fokusnya tidak pernah goyah sedikit pun. Di sampingnya, Bayu dan Arga sedang memantau sistem sensor jarak jauh yang bekerja ekstra keras menembus badai laut yang mulai terbentuk."Sudah berapa lama kita kehilangan sinyal ping d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.