Se connecter**Audi hitam yang dikemudikan Felix melambat sebelum akhirnya berbelok ke halaman sebuah restoran mewah di tepi pelabuhan pantai San Diego. Bangunan berlantai dua itu berdiri anggun menghadap laut lepas, dengan dinding kaca besar yang memantulkan warna jingga matahari senja. Lampu-lampu temaram mulai menyala, menciptakan suasana hangat dan eksklusif. Bella bahkan tidak tahu ada tempat sebagus ini di kotanya. Ia sama sekali belum pernah melihat.“Felix, kenapa kita ke sini?” suara Bella bertanya dengan bergetar, kepanikan masih jelas tergambar di wajahnya.Mobil berhenti sempurna. Felix segera turun dan berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bella dengan sikap sopan seperti biasa. “Silakan turun, Nyonya,” katanya sembari sedikit menunduk. “Tuan sudah menunggu di dalam.”Bella tertegun mendengar itu. “Giovanni … ada di sini?”Felix mengangguk dengan senyum tipis namun meyakinkan. Rasa lega seketika menyusup ke dada Bella, mengusir sebagian besar ketakutan yang sejak tadi
**Langit San Diego hari itu cerah, biru pucat tanpa awan, seolah ikut merayakan kegembiraan Bella. Ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya yang dijalin sederhana. Perutnya yang mulai membulat terbungkus gaun longgar berwarna krem. Empat bulan. Angka itu terasa seperti janji—bahwa tubuhnya telah kembali kuat, bahwa ia boleh bernapas sedikit lebih lega. Morning sickness-nya sudah lewat dan ia kini bisa makan dengan baik.“Jangan terlalu lama berdiri, Bell.” suara Giovanni terdengar dari ambang pintu. Pria itu menatapnya dengan sorot mata waspada yang tak pernah benar-benar padam. Terlebih setelah sang istri ketahuan sedang mengandung. Setiap gerak-gerik Giovanni seperti mengandung kewaspadaan.Bella tersenyum. “Aku hanya ingin terlihat rapi. Lagipula, ini pertama kalinya aku keluar rumah setelah sekian lama.”Giovanni mendengus pelan, lalu melangkah mendekat. “Hanya ke hotel. Setelah itu, kita pulang.”“Aku tahu,” sahut Bella lembut. “Aku tidak akan memaksakan diri.”Perj
**Berita kehamilan Bella itu tentu saja bukanlah hal yang harus disembunyikan. Bagaimana mungkin sang Don bisa merahasiakan hal sebesar ini? Ia akan memiliki penerus yang sah. Bukankah itu luar biasa dan harus dirayakan?Maka, dalam waktu sekejap saja seluruh penghuni mansion Casa Nero sudah mendengar kabar bahagia tersebut. Semua staff, para maid, bodyguard, dan semua anggota keluarga kelompok mafia itu mendengarnya. Dan seperti yang sudah seharusnya, mereka semua berbahagia atas berita ini. Giovanni sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu kerja di mansion saja. Pertemuan dengan klien yang biasanya dilakukan di luar, sekarang lebih diarahkan di mansion pula. Meski dengan demikian pengamanan harus menjadi lebih ketat. Jikalau tidak memungkinkan dan tetap harus dilakukan di luar, Giovanni meminta bertemu di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah dan tidak memakan banyak waktu.Bella tentu saja senang, sebab waktu bersama suaminya menjadi lebih intens. Kata-kata Damian tentang
**"Ini benar. Usia kandungan Nyonya saat ini sekitar lima minggu. Lihat, dia masih sangat kecil. Mungkin hanya sebesar biji apel. Meski demikian, jantungnya sudah mulai berdetak."Dokter menunjuk monitor yang menampilkan gambar abstrak hitam putih. Gambar itu bergerak-gerak seiring dengan gerakan alat yang menempel di perut Bella. Sepasang alis Giovanni berkerut dengan serius melihat rekaman itu."Aku tidak melihat apapun. Kecuali titik putih kecil itu yang kau sebut bayi?""Masih calon bayi, Tuan." Si Dokter meralat sembari tersenyum. "Walau hanya sebesar titik, dia ini hidup. Maka anda berdua harus menjaganya baik-baik.""Apa yang harus kulakukan?" Giovanni menyambar dengan cepat. Pandangannnya jatuh pada sang istri yang masih berbaring sembari memandang penuh kagum pada layar."Nanti akan saya jelaskan apa yang sebaiknya Nyonya lakukan dan hindari. Jangan lupa datang untuk pemeriksaan rutin setiap kali ada keluhan, atau setidaknya setiap bulan jika keadaannya baik-baik saja."Giov
**Giovanni reflek melompat dan menyambar tubuh Bella yang hampir terjerembab ke belakang. Ia memeluk tubuh mungil itu, sementara si empunya mengerjapkan mata dengan bingung."Astaga, ada apa denganmu?" Suara sang Don kedengaran panik sekali. Hal yang jarang terjadi, sebab biasanya Giovanni tidak mudah panik menghadapi apapun. "Bella, kau kenapa?""Aku pusing ...." Perempuan itu berusaha menegakkan tubuhnya yang lemah. "Tidak tahu, tapi rasanya tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang. Aku pusing sekali.""Kau pasti kelelahan. Sudah, jangan berdiri, biar aku saja." Dengan sigap Giovanni menggendong tubuh sang istri dan membawanya ke ranjang. Ia baringkan dengan hati-hati. Wajah cemasnya tidak bisa ia sembunyikan. "Sudah kubilang jangan bekerja terlalu keras, Bell. Kau pasti belum istirahat sama sekali sejak pagi, kan?""Aku baik-baik saja, jangan khawatir Gio.""Masih bisa berkata jangan khawatir dengan kondisimu yang seperti ini? Apa kau bercanda?"Bella hanya tersenyum tipis. Ia memej
**"Wajah saya?" Felix tergagap. Pikirnya kala itu, matilah ia sudah. Tapi kemudian ia menggeleng dan mencoba mengelak. "Ada apa dengan wajah saya, Tuan? Apakah saya bertambah tampan?"Tanpa diduga, Giovanni berdecih dan segera melupakan rasa curiganya. Felix tidak punya selera humor, jadi kata-kata anehnya barusan bisa mengalihkan kecurigaan sang Tuan dengan sempurna. Pria itu masih memandang Giovanni dengan polos."Lupakan saja. Kurasa kau kelelahan dan butuh istirahat. Jangan hubungi aku malam ini jika tidak ada keadaan darurat yang tidak bisa kau tangani sendiri. Aku akan menemani istriku bekerja sekarang."Felix mengangguk patuh. Ia menunggu hingga sang bos berlalu keluar ruangan sebelum menghembuskan napas keras-keras karena lega."Nyaris saja," bisiknya keras. "Beruntunglah belakangan ini Bos sedang berada dalam suasana hati yang baik. Jika tidak, aku benar-benar bisa mati." Ia menggeleng sebelum mengendurkan simpul dasinya dan menyusul ke luar ruangan, menuju kamar pribadinya







