LOGINCelina menjual mahkota kewanitaan demi mengeluarkan ibunya dari penjara. Sang ibu dituduh karena mengelapkan dana perusahaan. Padahal sang ibu hanya dijadikan kambing hitam oleh seseorang. Tak ada satupun orang yang membantunya hingga ia mendapatkan tawaran bagus untuk melayani pria yang baru saja datang dari luar negeri. Ternyata orang yang menyewanya malam itu adalah dosen baru dari luar negeri, Luis. Setiap melihat Celina, Luis tak bisa menahan diri dan selalu ingin menyentuhnya. Ia melakukan berbagai cara agar gadis itu jatuh ke pelukan Doni sang kekasih Celina curiga dengan hubungan keduanya karena ia sering melihat Celina masuk ke ruangan Luis dengan tanda merah di leher kekasihnya. Begitu juga Sofia, calon tunangan Luis sering memergoki keduanya saling curi pandang. Hingga Celina dinyatakan hamil anak Luis. Apakah Luis mau bertanggungjawab atau mengabaikan Celina karena ia telah membayar gadis itu untuk memenuhi nafsunya atau justru Luis jatuh hati dengannya?
View MoreBab 1
"Berapa tarifmu?" Pria itu duduk di sofa kulit cream elegan di depannya tersaji wine dengan dua gelas cantik tertata rapi. Jas hitam menutupi tubuhnya yang atletis, tatapan mata tajam, mata bola coklat gelap yang dingin tanpa ekspresi. Alis tebal, rahang tegas dan keras. Wajahnya dihiasi jambang halus. Ruangan luas dengan pencahayaan hangat menampilkan ranjang king size berlapis seprai putih bersih di luar jendela memperlihatkan pemandangan kota yang berkilau. "100 Juta Om," ucap gadis dihadapannya, Celina. Wajah tertunduk tak berani melihat wajah pelanggan pertamanya. Kedua tangan meremas dress memperlihatkan kaki dan kulit tubuhnya. "Apa kamu yakin bersih?" tanya pria itu menatap ragu. Luis Suarez, pria yang baru datang dari luar negeri ingin melepaskan lelah dengan cara menjamah wanita. Ia bukan pemain hanya ingin bermain sekali-kali saja. Perjalanan 15 jam membuat dirinya ingin bercinta. Ia harus datang ke kota Barlian atas perintah orang tuanya. Dengan bantuan teman Luis menyewa wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dan mengantar ke hotel. Sudah dua tahun ia menduda tak pernah sekalipun menyentuh wanita lain kecuali mantan istrinya. Sang istri memilih bercerai dengan alasan Luis tak romantis dan bersikap dingin. Alasan tak masuk akal, tapi Luis menyetujui keinginan istrinya untuk bercerai. Pria itu tak mau ambil pusing, menandatangani surat cerai dan memberikan hak istri selama satu tahun mengabdi kepadanya. "Aku bersih Om." Suara gadis dihadapan Luis lirih. Tapi ia hanya bisa menyunggingkan senyum. Panggilan nama Om membuat Luis terkekeh pelan. Apakah ia setua itu dipanggil dengan sebutan Om. Wajahnya tak terlalu tua, umurnya baru 30 tahun. Sedangkan gadis berdrees merah dengan belahan dada rendah memperlihatkan tonjolan berukuran 38 cup A cukup besar bagi Luis. Celina berusia 24 tahun. Jarak tak begitu jauh. Rambut hitam panjang diikat kuda menambah kesan gadis pemberani dan tegas. Bentuk tubuhnya pas di pandang dan dipeluk oleh tangan kekar Luis. Membayangkan tubuh Celina pikiran Luis berkelana jauh. "Bagaimana aku tahu kamu bersih. Apalagi kamu menjual tubuhmu." Luis tersenyum miring. Harga 100 juta bukan harga yang murah justru sangat mahal. Tapi bagi Luis kalau pelayanan bagus kenapa tidak. Biasanya wanita penghibur memberikan tarif jutaan saja. Apalagi banyak yang mengunakan jasanya itu yang ia ketahui dari temannya. "Aku masih suci dan belum pernah tersentuh. Satu kali pun tak pernah berhubungan intim. Om bisa membuktikannya setelah melakukannya," ucapnya percaya diri, tapi hanya terdengar di awal saja sedangkan kata terakhir diragukan. "Om? Aku tak setua itu. Bisakah kamu memanggil sebutan yang lain?" Celina mengangkat kepala dan menatap lebih detail. Ternyata yang Luis ucapkan memang benar kalau pria itu tak pantas dipanggil Om. Celina terlalu gugup apalagi pertama kali ia satu kamar dengan pria asing. Selama berpacaran Celina hanya bergandengan tangan tanpa melakukan sentuhan lebih. Ia tak suka hal itu. Tapi kini ia terpaksa melakukannya demi membela ibunya yang berada di penjara. Sang Ibu dituduh korupsi di perusahaan dan harus membayar ganti rugi untuk mengeluarkannya. Celina tak tega jika ibunya berada di balik jeruji. Apalagi dengan keadaan saat ini. Ibunya Celina, Denada penyakit asma sering kambuh. Wanita itu tak bisa tinggal di tempat sempit dan gelap. Perusahaan tempat bekerja ibunya meminta uang 100 juta dan semua akan terselesaikan dengan cepat. Sebagai anak pertama Celina akan melakukan segala cara untuk mengeluarkan ibunya. Sedangkan adik Celina baru berusia 17 tahun, Riana. "Maaf, Tuan. Aku salah." Celina pikir pria hidung belang pasti tua dan buncit. Tapi nyatanya ia salah. Luis begitu tampan dan gagah. Padahal ia sudah cukup lama berdiri di hadapan Luis tak menyadari hal itu. "Aku akan menambahkan 50 juta jika kamu benar-benar masih suci." Celina menelan salivanya. Uang 50 juta cukup banyak untuk kebutuhan hidupnya. Gadis itu langsung mengangguk. "Lakukan," pinta Luis siap mendapatkan pelayanan. Sejak tadi jangkungnya naik turun melihat tubuh dan wajah Celina yang begitu mengoda. Ia sudah lama lapar dan haus wanita. Kali ini akan mendapatkan berlian yang belum tersentuh. Celina mengerjapkan mata. Apa yang harus ia lakukan untuk melayani pelanggannya. "Kenapa diam saja? Ayo lakukan pekerjaanmu dan puaskan aku." Suara Luis tegas, wajahnya tak sabaran untuk menyantap tubuh Celina. Tangan Luis langsung menarik lengan Celina hingga terduduk di pangkuannya. Netra mereka bertemu. Luis mendekatkan wajahnya hingga mereka bersentuhan lebih dalam. Sentuhan Luis lembut dan memabukkan, Celina hanya bisa menikmati sentuhan Luis yang tak akan pernah ia lupakan selama hidupnya. "Tuan pelan-pelan," pinta Celina menatap netra Luis yang sudah berada di atas tubuhnya. Kamar itu menjadi saksi bahwa mereka melakukan hubungan satu malam yang tak akan pernah dilupakan Celina. Mahkota yang ia jaga selama 24 tahun sudah ternodai. Setetes air mengalir di ujung mata Celina. Kedua tangan gadis yang kini tanpa sehelai kain memeluk tubuh Luis erat. Jangan sampai pria itu tahu air mata yang mengalir di ujung netra. Suara gemericik air di kamar mandi terdengar jelas. Luis sedang mandi di balik pintu kaca buram, bayangan samar tubuhnya terlihat sekilas dari cahaya lampu yang tembus keluar. Sementara itu, Celina duduk di tepi ranjang, tubuhnya terbungkus selimut putih tebal. Tangannya mengambil pakaian yang tergeletak di atas lantai. Celina menatap noda merah di atas ranjang bercampur cairan putih. Ada rasa nyeri di dada. Seharusnya mahkota ini untuk suaminya bukan ia jual demi uang 100 juta. "Demi ibu," lirihnya menguatkan hati. Ia tak tega ketika melihat ibunya di jeruji penjara dan menangis karena takut berada di dalam sana. Jalan satu-satunya menjual diri. Luis keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Ujung matanya ke arah Celina. Gadis itu membuktikan dirinya masih bersih dan Luis sangat puas. Celina berdiri dan menghampiri Luis. Ia menyodorkan ponselnya untuk transaksi pembayaran. Luis membayar sesuai janjinya. Celina melangkah tertatih-tatih setelah transaksi pembayaran lunas. Ia harus pulang menemani adiknya. "Ini sudah malam. Apa kamu tak menginap?" "Masih jam 11 malam. Masih ramai." "Aku akan segera pergi. Kamu bisa pakai kamar ini." "Tidak, terima kasih banyak Tuan." Tangan Celina menyentuh gagang pintu suara Luis menghentikan langkahnya. "Siapa namamu?" Celina tak menjawab gadis itu melangkah cepat ingin melupakan kejadian semalam. Tapi Luis masih penasaran dan menghubungi temannya. "Aku ingin tahu siapa gadis yang menemaniku tadi? Carikan informasi yang lain tentang dia."Bab 121 Celina terjebak macet. Ia hendak ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari tetangganya. Ibunya, Denada meminta tetangga untuk menghubungi Celina karena keadaan Mama Lela memburuk dan ponsel Denada mati daya setelah menerima panggilan dari Brian.Celina meremas tangannya. Di kemudi supir perusahaan hanya menghela napas panjang."Pak, apa tidak ada jalan lain?""Ada Nona. Di depan ada gang kecil. Kita bisa lewat sana hanya saja macet."Celina menatap ponselnya sudah tiga puluh menit berlalu. Tapi perjalanan rumah sakit masih jauh. Hingga akhirnya ada pergerakan dari mobil setelah di kondisikan oleh keamanan.Langkah Celina semakin cepat. Tubuhnya gemetar setelah menerima kondisi terbaru Mama Lela. Ia mendorong pintu ruangan. Di sana Brain dan Elizabeth berdiri berdampingan dan Denada mengenggam tangan Mama Lela.Langkah Celina berdiri di samping tubuh mertuanya. Ia menatap wanita itu dengan iba. Baru beberapa hari saja tubuhnya semakin ringkih."Ma, ini Celina sudah datan
Bab 120 Wajah Aldo begitu riang untuk pertama kalinya ia duduk bersama pria yang bisa dipanggil papa. Brian bukan tak bisa hadir. Aldo sudah berbicara semalam, tapi pertengkaran antara Brian dan Elizabeth membuat dirinya sadar diri kalau ia bukan siapa-siapa. Aldo tak menyalahkan mereka justru dirinya yang menyusahkan saja sejak dalam kandungan. Aldo memilih pergi tak ingin menganggu Brian dan kekasihnya. Untung saja bertemu Luis di jalan. Pria itu bisa diajak kerjasama. Lampu aula sekolah meredup. Hanya sorotan cahaya kuning hangat yang menerangi panggung kayu di depan. Di barisan kursi terdepan, Luis membetulkan posisi duduknya yang terasa kaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di sebelahnya, beberapa ayah lain tampak bersenda gurau, bangga menunggu giliran anak mereka tampil dalam perayaan Hari Ayah pagi itu."Selanjutnya." Suara guru pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, "kita sambut penampilan dari Aldo, kelas nol besar, yang akan mempersembah
Bab 119Aldo duduk di teras sudah siang ia belum juga pergi ke sekolah. Hari ini hari perayaan ayah sedunia. Ia belum mendapatkan penganti ayahnya. Semalam ia mencoba beranikan diri untuk berbicara dengan Brian. Pria itu bisa menjadi ayahnya di panggung. Aldo menatap jemari mungilnya yang sejak tadi dimainkan. Kendaraan berlalu lalang menyapa anak itu. Tapi tak ada satupun ia jawab. Hanya menatap tanpa kehangatan. Semua orang menyadari hal itu. "Aldo. Kenapa kamu belum berangkat? Ke mana Aunty mu itu?" tanya salah satu orang tetangga. "Mereka pergi pagi-pagi ke rumah sakit. Nenek Lela kambuh dan Aunty Riana mengantar Nenek ke sana. Mami belum pulang." "Lalu kenapa kamu belum berangkat?" tanya wanita itu berusia lima puluh tahunan. Ia menatap iba Aldo. Biasanya wajah anak itu sangat ceria. Hari ini raut wajahnya berbeda. "Aku segera berangkat." Aldo beranjak bangkit. Ia menatap sepedanya yang sedang rusak. Bel
Bab 118 Riana menarik lengan Aldo menjauhi Brian. Tatapan bocah itu sinis begitu juga tunangan Brian. Jangan sampai keponakanmya itu mengalami sesuatu yang tak diinginkan. Riana tahu kalau ibunya Brian tak setuju perceraian anaknya. Tapi semua itu sudah ada diperjanjikan pra nikah. Begitu sayang wanita itu kepada Celina. Hingga enggan melepaskan statusnya sebagai mantu kesayangan Walau ia tak pernah tahu detailnya. Sudah pasti kontrak mereka akan habis dan tak ingin diperpanjang lagi karena Brian mencintai Elisabeth bukan Celana. Riana mengangkat wajahnya membalas tatapan wanita itu. Ia tak ingin diremehkan. Tatapan tunangan Brian tak ia sukai. "Riana. Kami akan tidur di sini," ucap Brian seperti meminta izin kepada orang lain padahal rumah ini milik ibunya. Tapi tetap saja ia lakukan. "Oh, iya. Aku ambil kuncinya dulu. Kalian mau mampir ke rumah aku untuk minum teh. Kebetulan Ibu membuat cemilan kue kering di rumah." Brian baru membuka mulutnya. Tapi sudah terpotong. "Tidak u
Bab 117 Aldo sedih karena neneknya belum pulang juga. Dia duduk di teras termenung menatap langit. Riana melihat keponakannya duduk di sampingnya dan memberikan permen lolipop rasa buah-buahan."Mau?" tanya Riana lembut. Biasanya ia tak mengizinkan keponakannya itu makan permen. Tapi kali ini ber
Bab 116 Celina berdiri di samping Mama Lela. Ia menggenggam jemari wanita itu. Semalam Celina tak tidur karena Mama Lela merintih kesakitan. "Ma, apa masih sakit?" tanya Celina takut mertuanya kambuh lagi. Beberapa bulan ini Mama Lela sering merasakan nyeri di dadanya. Ia tak pernah memberitahu C
Bab 115Celina baru saja berdiri dari kursinya. Map proyek sudah berada di tangannya. Hari ini ia seharusnya turun langsung meninjau pembangunan proyek besar. Celina sudah bersiap untuk meninjau ke proyek. Semua yang diperlukan sudah dibawa bersama asistennya. “Mobil sudah siap, Bu,” ujar Julia
Bab 114 Luis menatap Celina dari kejauhan. Pria itu menghentikan langkahnya dan memastikan wanita yang ia lihat pagi-pagi keluar dari mobil di parkiran apakah benar Celina. Ia keluar dan mengikuti langkahnya. Hingga wajah Celina terlihat jelas ketika menyapa petugas keamanan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews