Share

6. Degan

Penulis: Donat Mblondo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 14:21:58

Kabut tipis menyelimuti lantai hutan.

Sulur hijau itu meluncur perlahan di antara akar-akar besar, menekan dirinya serendah mungkin, menyatu dengan lumut dan tanah lembap. Setiap gerakan dilakukan tanpa suara. 

Hutan Lembah Siluman Kera bukan tempat tumbuhan berjalan bebas.

Ia berhenti.

Getaran halus merambat dari tanah ke ujung sulurnya. Di kejauhan, kabut bergerak melawan arah angin.

"Bukan angin," pikirnya.

Ia menahan diri, membiarkan sulur-sulurnya memucat, warna hijau perlahan memudar menjadi kecokelatan kusam. Napasnya dipaksa melambat.

Lalu ia melihatnya.

Di sela dua batang pohon tua yang melengkung seperti gerbang alami, sesuatu tumbuh.

Pohon itu menjulang ramping, batangnya hijau pucat dan halus, berbekas cincin pelepah. Daun-daunnya panjang dan melengkung, berkilau lembap di bawah kabut hutan.

Di antara pelepah, kelapa muda bergantung, hijau cerah, penuh air, energinya tenang, stabil, nyaris tak berdenyut.

Degan.

Ia berhenti. Satu pandangan sudah cukup. Tidak perlu menyentuhnya… ia sudah tahu cara menumbuhkannya.

Sulurnya berhenti pada jarak aman, hanya beberapa jengkal dari batas energi tanaman itu. Ia merasakan alirannya cara ia menyerap air, bagaimana ia menahan energi tanpa menyimpannya berlebihan, bagaimana akarnya berdenyut pelan mengikuti denyut hutan.

“Oh…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Ia menutup seluruh indra luarnya, membiarkan kesadarannya tenggelam pada satu hal saja: ritme tumbuhnya tanaman itu. Cara ia hidup. Cara ia bertahan.

Dan pada saat itulah, kabut di belakangnya bergetar.

Naluri si tumbuhan menjerit. Ia tidak menoleh. Tidak bergerak. Namun sulur paling ujungnya bergetar, merasakan tekanan berat dari sesuatu yang merayap mendekat. Bukan satu. Lebih dari satu.

Patroli…

Hutan ini memang punya penjaga.

Ia segera bertindak.

Sulur-sulurnya menancap ke tanah, bukan untuk kabur, tapi untuk meniru. Energi hijau pucat mengalir pelan dari inti tubuhnya, meniru denyut yang baru saja ia lihat. 

Ia hanya menyimpan caranya.

Kabut di belakangnya terbelah.

Bayangan besar melintas di antara pepohonan. Mata kuning menyala sebentar, lalu padam. Sesuatu mengendus udara, jelas gelisah.

Aroma asing.

“Tsk…”

Suara rendah itu nyaris seperti geraman, tapi cukup membuat tanah bergetar.

Si tumbuhan menarik seluruh sulurnya sekaligus, menyusut, menyatu kembali dengan bayangan akar besar. Warnanya lenyap, bentuknya mengabur, seolah tak pernah ada sesuatu di sana.

Makhluk itu berhenti tepat di tempat Degan tumbuh.

Diam.

Lalu… ia berbalik.

Kabut kembali menutup jalur itu perlahan.

Baru setelah getaran benar-benar menjauh, si tumbuhan berani bergerak lagi.

Ia tidak menunggu.

Dengan satu gerakan cepat dan senyap, ia menyelinap mundur, mengikuti jalur paling aman yang tadi ia tandai.

Dalam perjalanannya kembali, satu pikiran berulang di benaknya.

'Ini bukan kebun biasa. Tanaman itu sengaja diletakkan di sini. Dan yang lebih mengganggu, siapa pun yang menjaganya… tidak sedang berburu makanan.'

Di cekungan batu, wanita itu masih memeluk Qu Cing ketika sulur hijau itu akhirnya kembali, menyelinap masuk melalui celah sempit dengan gerakan jauh lebih cepat dari sebelumnya.

“Apa kamu terluka?” bisiknya pelan.

“Tidak,” jawab si tumbuhan singkat. “Tapi, di sini benar-benar tidak aman.”

Wanita itu menegang seketika.

“Apa kamu menemukannya?”

“Ya,” katanya lirih. “Dan aku tidak perlu membawanya.”

Ia menancapkan ujung sulurnya ke tanah cekungan.

“Berikan aku waktu.”

Energi hijau pucat meresap ke tanah cekungan perlahan. Satu ritme halus menyusup ke lapisan tanah lembap di bawah batu.

Wanita itu menahan napas. Ia bisa merasakannya.

Permukaan tanah di depan mereka bergetar sangat halus.

Retakan kecil terbuka, hampir tak terlihat. Dari celah itu, titik hijau pucat muncul, kecil seperti kuku jari, basah oleh embun hutan.

Sulur hijau itu menegang.

“Sekarang…” bisiknya.

Titik hijau itu bergerak. Ia membelah tanah perlahan, mendorong dirinya seolah tanah itu sendiri memberi jalan.

Daun pertama mulai membuka.

Pada saat yang sama, getaran berat menghantam hutan di kejauhan.

Kabut berdesir. Aura asing menekan, jauh lebih kuat dari patroli sebelumnya.

Wanita itu langsung mengangkat kepala.

“Cepat!” bisiknya tegang.

Sulur hijau bergetar hebat. Energi ditarik mundur, ditekan sekuat mungkin.

Tunas kecil itu berhenti tumbuh… lalu berdenyut sekali. Ia dipaksa berubah.

Energi hijau pucat yang mengalir dari sulur itu tidak lagi mengikuti pola alami pertumbuhan penuh. Ritmenya dipatahkan, dipadatkan, dilipat ke dalam ruang sempit cekungan batu. Tanah bergetar lirih, seolah menahan protes, tapi tetap memberi jalan.

Batang itu tumbuh cepat.

Tidak menjulang, melainkan menguat. Pendek, tebal, dengan kulit hijau pucat yang masih basah oleh energi. Pelepah daun membuka setengah, tidak sempurna, namun cukup lebar untuk menampung cahaya samar yang merembes dari celah batu.

Di antara pelepah itu, sebuah buah terbentuk.

Kecil. Hijau muda. Kulitnya tipis, nyaris transparan. Namun di dalamnya, air bening berkilau pelan, tenang, persis seperti yang ia rasakan di hutan tadi.

Degan… versi singkat.

Sulur hijau itu melemah sesaat, lalu menahan diri agar tidak runtuh sepenuhnya.

“Ini batasnya,” ucapnya pelan. “Ruang dan waktu tidak cukup. Tapi… airnya tetap murni.”

Wanita itu menatap pohon kecil itu dengan mata membesar. Ia bisa merasakan kesegarannya bahkan sebelum menyentuhnya.

“Minumlah!" kata si tumbuhan cepat, napasnya terasa berat meski tak terdengar. “Ini tidak akan menambah kekuatan Anda. Tapi tubuh Anda akan kembali bugar. Anda bisa melanjutkan penyembuhan tanpa letih.”

Wanita itu tidak ragu.

Ia memetik buah kecil itu dengan hati-hati, membukanya dengan satu tekanan lembut. Aroma segar langsung menyebar di cekungan batu, mengusir bau darah dan kelelahan.

Ia meneguk airnya perlahan.

Dingin, ringan, seolah seluruh tubuhnya ditarik keluar dari lumpur kelelahan yang menahan sejak tadi. Getaran di tangannya mereda. Napasnya kembali dalam dan stabil. Rasa nyeri di dada menyingkir, tidak hilang, tapi cukup jauh untuk ditahan.

“Sekarang!” bisik si tumbuhan.

Wanita itu mengangguk. Ia meletakkan buah kosong itu, lalu kembali menyalurkan cahaya hijau. Energi menyusup ke tubuh Qu Cing seperti aliran air hangat.

Tanda matahari di telapak tangan kanannya berdenyut pelan. Retakan yang sebelumnya tampak jelas… mulai bergerak.

Perlahan, garis-garis pecah itu saling mendekat, seperti logam panas yang ditarik kembali ke bentuk semula. Cahaya di dalamnya tidak lagi liar, melainkan terkunci rapi, mengikuti jalur yang baru saja distabilkan.

Wanita itu menahan napas.

“Berhasil…” ujarnya.

Pada detik berikutnya, jari Qu Cing tiba-tiba bergerak sedikit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   12. Sang penjaga wilayah

    Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   11. Wilayah Inti

    Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   10. Keraguan

    Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   9. Getaran hati

    Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   8. Dihadang para kera

    Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   7. Kesadaran

    Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status