LOGINXianxia rasa lokal: Thai Qu Cing pernah memiliki segalanya... bakat, cahaya, dan masa depan yang menjanjikan. Namun dalam satu malam berdarah, Perguruan Long Ji runtuh menjadi kuburan, dan dunia mencabut semua yang pernah ia miliki. Meridiannya hancur. Tongkat sakti hilang. Kekuatannya lenyap. Yang tersisa hanyalah satu warisan terkutuk: kekuatan penyembuhnya. Setiap luka yang ia sembuhkan menuntut harga. Setiap nyawa yang ia selamatkan, menggerogoti tubuh dan jiwanya sendiri. Dunia menginginkan mukjizat dari tangannya, tanpa peduli apakah ia akan mati karenanya. Diburu oleh klan iblis, dicurigai manusia, dan terjebak di antara cahaya serta kegelapan. Ketika penyembuhan menjadi kutukan, dan keselamatan berarti pengorbanan, akankah ia tetap memilih menyelamatkan dunia yang telah menghancurkannya? Sangat disarankan membaca book 1 dulu yang berjudul THAI QU CING SI ANAK KOTORAN #fantasy #comedy #romance
View MoreJemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s
Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it
Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar
Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.