MasukIa mati sebagai yang tak berguna. Qu Cing hanyalah murid lumpuh yang dibuang dan dilupakan. Tak ada yang peduli ketika ia dinyatakan tewas. Namun kematian itu hanyalah awal. Dengan nama baru (Cing Mu) ia kembali ke sekte yang pernah mengabaikannya. Sebagai murid kelas bawah. Sebagai bayangan. Di balik aura elemen kayu yang biasa, tersembunyi cahaya penyembuh yang dikaitkan dengan ras siluman yang telah lama diburu dan dimusnahkan. Kekuatan yang, jika terbongkar, akan membuat seluruh dunia memburunya tanpa ampun. Ia harus menekan matahari di telapak tangannya. Ia harus tumbuh tanpa terlihat. Karena di dunia kultivasi yang kejam, bayangan yang diremehkan sering kali menjadi awal dari bencana yang tak terhindarkan. Sangat disarankan membaca book 1 dulu yang berjudul THAI QU CING SI ANAK KOTORAN #fantasy #comedy #romance
Lihat lebih banyak“Ha ha ha!”
Tawa berat Gran Dong, sang Raja Iblis Hitam, mengguncang langit-langit Perguruan Long Ji. Asap hitam pekat berputar liar, menelan cahaya lentera, mengurung bocah berusia sepuluh tahun di tengah pelataran.
Dari balik kabut, dua sosok melangkah keluar, iblis merah bermata bara dan iblis hijau bersisik dengan taring mencuat. Jumlah mereka tak terhitung, mengepung dari segala arah, membuat udara bergetar oleh tekanan aura.
'Bagaimana bisa… sebanyak ini…?'
Tubuh Qu Cing gemetar, namun sorot matanya tetap dingin. Ia tahu, satu langkah salah berarti kematian.
Suara berbisik menggema langsung di pikirannya.
“Tak tersentuh teknik pengikisan jiwa… benar-benar bakat langka. Sayang, malam ini kau harus mati.”
Kabut terbelah.
Seorang pria tampan melangkah maju, wajah manusia, mata merah, aura gelap mengalir tenang namun menekan. Qu Cing mengenalinya seketika.
Seo Rang.
Satu-satunya iblis berwajah manusia.
“Jadi kau sendirian, Bocah?” ucapnya lembut, tapi dinginnya menusuk tulang. “Aku penasaran… siapa yang berani menghalangi kami.”
Gran Dong tertawa berat. “Biarkan dia merasakan sendiri, Tuan Seo Rang. Jangan terburu-buru. Anak ini… menarik.”
“Jika kau tak membunuhnya sekarang,” balas Seo Rang tenang, “suatu hari dia yang akan membunuhmu.”
Ucapan itu menghantam seperti pisau.
Asap hitam Gran Dong bergejolak. Langit bergetar, lentera pecah beruntun, tanah merintih menahan amarahnya.
“Aku mengingatnya dengan jelas,” suara Gran Dong rendah dan penuh kebencian. “Bagaimana anakku… menjerit… sebelum mati di tangan bocah ini.”
Tekanan aura menghantam pikiran, bukan tubuh.
Qu Cing terhuyung.
Bisikan, jeritan, wajah-wajah asing menindih kesadarannya.
“Bunuh dia…”
“Ini salahmu…”
“Kau seharusnya mati…”
Telapak tangan kanannya berdenyut keras.
Tanda matahari bereaksi. Cahaya putih samar menyala, memaksa kegelapan mundur. Rasa panas menyambar pembuluh darahnya, seperti api mengalir dari dalam.
Darah merembes dari celah tanda itu.
Dengan napas tersengal, Qu Cing mengangkat tongkat saktinya. Cahaya meledak, membentuk perisai tipis namun kokoh, menahan tekanan Gran Dong.
“Menarik,” dengus Raja Iblis Hitam.
Langkah ringan terdengar.
Seo Rang sudah berdiri di hadapan perisai.
Ia mengangkat tangan kirinya, telapak terbuka.
“Cahaya yang indah,” gumamnya. “Sayang… ini bukan milikmu sepenuhnya.”
Sentuhan ringan.
Perisai bergetar, retak... lalu runtuh. Cahaya tersedot ke telapak tangan Seo Rang.
Qu Cing terpental. Darah menyembur dari mulutnya. Tongkat saktinya bergetar hebat… lalu mati, seolah tunduk pada tangan lain.
Seo Rang menatap cahaya yang memudar di telapak tangannya, lalu menyimpan tongkat itu.
“Benar dugaanku,” katanya pelan. “Kau bukan hanya penyembuh.”
Seo Rang menatap bocah itu lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu selain keyakinan di matanya.
“Tanda itu… menunjukkan kau benar-benar darah keturunannya.”
Keturunan siapa…?
Seo Rang menoleh ke Gran Dong. “Jika bocah ini hidup…”
Ia melangkah mendekat, bayangannya menelan tubuh kecil Qu Cing.
“Dia akan menjadi bencana bagi kita semua.”
“Bunuh dia!” raung Gran Dong.
Asap hitam runtuh seperti lautan dari langit.
Tubuh Qu Cing terhempas ke lantai batu. Napasnya tersendat, dunia berputar, kegelapan merayap di tepi penglihatannya.
“Yang paling menyenangkan,” suara Gran Dong menggema, “melihat penyembuh mati tanpa bisa menyembuhkan dirinya sendiri.”
Asap hitam menyusup ke pori-porinya.
Wajah-wajah teman sekelasnya muncul dalam bayangan.
“Tolong…”
“Kenapa kau tak menyelamatkan kami…?”
“Cukup!” teriak Qu Cing.
Tanda matahari menyala terang dipaksa aktif.
Cahaya putih meledak, membakar kegelapan di sekitarnya. Namun tubuh bocah itu langsung menjerit menanggung akibatnya.
Di dalam dirinya, satu jalur utama meridian retak… lalu runtuh sepenuhnya.
“Dia memaksakan tanda itu,” ucap Seo Rang datar.
Qu Cing mencoba menyembuhkan diri sendiri.
Tapi, kosong...
Tak ada jawaban.
“Kenapa… tidak sembuh…?” bisiknya.
Gran Dong tertawa. “Tubuhmu sudah kau hancurkan sendiri.”
Kesadarannya mengambang. Suara menjadi jauh.
Seo Rang menoleh. “Akhiri sekarang.”
Asap hitam memadat di telapak tangan Gran Dong, membentuk tombak kegelapan yang berdenyut pelan.
Qu Cing terbaring, napasnya tipis.
“Ma…af…”
Tombak turun.
Pada detik itu, tanda matahari di telapak tangannya berdenyut untuk terakhir kalinya.
Cahaya putih tidak meledak keluar. Ia berbalik… masuk ke dalam tubuhnya sendiri.
Seo Rang menyipitkan mata.
Gran Dong menghentikan gerakan setengah napas.
Cahaya itu liar, mengalir deras di jalur yang rapuh, lalu hancur.
Satu kehancuran menyeluruh.
Tubuh Qu Cing terkulai. Tanda matahari meredup, retaknya jelas, seperti matahari patah di tengah gerhana.
“Sudah cukup,” gumam Gran Dong. “Dendamku berakhir di sini.”
Tombak kegelapan diarahkan ke jantung bocah itu.
"Akhirnya... aku menemukanmu!"
Suara yang terengah, serak, seolah pemiliknya berlari menembus jarak yang seharusnya mustahil ditempuh.
Udara di pelataran Perguruan Long Ji mendadak bergetar hebat.
Semua iblis merah, hijau, bahkan Gran Dong serentak menoleh.
Kabut terbelah, dan bayangan seseorang mulai muncul di ujung pelataran, bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menagih sesuatu yang telah lama tertunda.
Lima tahun telah berlalu sejak malam berdarah di ruang takhta.Dunia kultivasi telah banyak berubah. Di bawah kepemimpinan Seo Rang yang kembali bertahta, Klan Nuur mengukuhkan diri sebagai klan cahaya terkuat. Keseimbangan dunia yang sempat diacak-acak oleh ras iblis perlahan pulih.Namun, dari semua perubahan itu, tidak ada yang lebih melegakan selain kedamaian yang akhirnya dirasakan oleh seorang pemuda yang dulu hanyalah pelayan buangan.Sore itu, di paviliun pribadi Tuan Muda Klan Nuur yang menghadap langsung ke danau teratai emas, Cing Mu duduk bersila. Jubah putih dengan sulaman benang emas membalut tubuhnya yang kini telah tumbuh tinggi dan tegap. Di usianya yang menginjak 18 tahun, wajahnya yang tampan mewarisi garis ketegasan ayahnya dan kelembutan ibunya. Ia bukan lagi murid rendahan, melainkan Sang Pendekar Cahaya, kultivator termuda yang telah menembus puncak dunia.Di lengan kanannya, sebatang sulur zamrud melilit dengan nyaman. Daun-daunnya lebat, segar, dan berkila
Ruang takhta itu dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Udara yang sebelumnya terasa kotor dan berbau anyir darah kini perlahan tergantikan oleh hawa hangat yang murni, memancar dari dua sosok yang berdiri tegak di ruangan tersebut.Di atas undakan takhta, Seo Rang menatap Jun Jung dengan sepasang mata yang menyala bagai emas cair. Keagungannya sebagai Pemimpin Klan Nuur benar-benar kembali, menekan siapa pun yang berada di dekatnya hingga nyaris tak bisa bernapas.Di bawah, Jun Jung menggigil hebat. Wajahnya sepucat kertas. Ia tahu betul seberapa mengerikan kekuatan sang Pemimpin ketika sedang murka. Sepuluh tahun yang lalu, ia hanya berani menusuk Seo Rang dari belakang karena bantuan mutlak dari Ba Jang. Kini, pelindungnya telah lenyap menjadi abu."T-Tuan Seo Rang..." Jun Jung bersujud, membenturkan kepalanya ke lantai batu hingga berdarah. Suaranya bergetar penuh keputusasaan. "Ampuni hamba! Hamba tidak sadar... Hamba disihir oleh Ba Jang! Pikiran hamba dikendalikan selama se
"...Cing Mu."Nama itu bergema pelan di dinding-dinding batu ruang takhta yang dingin. Sangat pelan, namun efeknya bagaikan petir yang menyambar tepat di jantung sang penguasa.Tepat ketika suku kata terakhir lepas dari bibir Jun Jung, tubuh agung yang dirasuki Ba Jang itu tiba-tiba tersentak hebat. Langkahnya membeku di udara. Matanya yang tadinya memancarkan warna merah darah iblis kini berkedip tak terkendali, bergantian antara merah menyala dan emas yang murni.Sebuah nama. Nama yang ia bisikkan dengan penuh kasih sayang belasan tahun lalu, kini menjadi kunci yang membuka paksa belenggu baja di dasar jiwanya.Di bawah belenggu itu, jiwa asli Seo Rang—Sang Pemimpin Klan Nuur yang tertidur dalam kegelapan dan penyesalan selama sepuluh tahun—membuka matanya."A-apa... apa yang terjadi?!" raung Ba Jang dari dalam tenggorokan Seo Rang. Suaranya terdengar bertumpuk, setengah manusia dan setengah monster. Tangan kanannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan panik. "Kenapa raga ron
Tiga hari berlalu secepat kedipan mata.Pagi itu, kabut tebal masih menggantung rendah menyelimuti gerbang utama Sekte Embun Senja. Tiga sosok muda berdiri di sana, siap untuk memulai perjalanan panjang menuju gerbang transportasi yang akan membawa mereka ke Perguruan Besar Long Ro.Cing Mu berdiri paling pinggir, mengenakan jubah abu-abu sederhananya. Di lengannya, Si Hijau melilit diam menyerupai gelang akar yang tak mencolok. Di sisi lain, Wei Jian berdiri dengan wajah kaku. Sejak insiden di Arena Embun, kesombongannya seolah terkunci rapat. Ia bahkan tidak berani menatap mata Cing Mu lebih dari dua detik. Sementara Shen Jia, perwakilan ketiga dari Aula Embun, memilih diam dan menjaga jarak dari keduanya.Tanpa upacara pelepasan yang megah, ketiganya melangkah keluar menembus batas formasi pelindung sekte.Perjalanan awal terasa canggung dan sangat sunyi. Udara pegunungan di luar wilayah sekte terasa jauh lebih dingin dan liar. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menutupi sina
Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di pungg
Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak sega
Cahaya hijau di ujung jemari wanita itu bergetar.Ia menarik napas pendek, lalu dengan tekad keras hendak kembali menyalurkan energi ke dalam tubuh Qu Cing. Retakan pada tanda matahari memang telah tertahan, namun aliran di bagian terdalam masih rapuh. Sedikit lagi… hanya sedikit lagi, pikirnya.Na
Kabut tipis menyelimuti lantai hutan.Sulur hijau itu meluncur perlahan di antara akar-akar besar, menekan dirinya serendah mungkin, menyatu dengan lumut dan tanah lembap. Setiap gerakan dilakukan tanpa suara. Hutan Lembah Siluman Kera bukan tempat tumbuhan berjalan bebas.Ia berhenti.Getaran hal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan