Share

5. Siapakah si tumbuhan?

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2026-01-26 18:54:36

Cahaya hijau di ujung jemari wanita itu bergetar.

Ia menarik napas pendek, lalu dengan tekad keras hendak kembali menyalurkan energi ke dalam tubuh Qu Cing. Retakan pada tanda matahari memang telah tertahan, namun aliran di bagian terdalam masih rapuh. Sedikit lagi… hanya sedikit lagi, pikirnya.

Namun sebelum cahaya itu sempat menguat, sulur hijau tiba-tiba menjulur cepat.

Sulur itu melilit pergelangan tangan wanita tersebut dengan lembut, menghentikan aliran energi sebelum kembali mengalir.

“Cukup,” ucap sebuah suara kecil. “Jika Anda memaksakan diri… Qu Cing tidak akan senang, Bibi.”

Gerakan wanita itu terhenti. Cahaya hijau meredup sepenuhnya. Ia terdiam beberapa detik, seolah memastikan bahwa yang barusan ia dengar bukan halusinasi akibat kelelahan. Lalu ia menoleh perlahan, matanya menyapu sekeliling cekungan batu.

“Siapa…?” gumamnya.

Tidak ada siapa pun.

Hanya Qu Cing yang terbaring di pangkuannya. Batu-batu besar yang dingin. Dan... tumbuhan merambat itu.

Sulur-sulur hijau yang sejak tadi bergetar kini diam, ujungnya masih melilit ringan pergelangan tangannya. Daun-daunnya sedikit menguncup, seolah waspada.

Dahi wanita itu berkerut.

Ia menatap tanaman itu lebih saksama. “Tunggu…” katanya pelan. “Tadi… kamu yang berbicara?”

Sulur itu bergerak kecil, seperti anggukan.

“Siapa lagi?” jawabnya santai. “Di sini hanya ada aku.”

Hening...

Angin hutan berdesir pelan, membawa aroma tanah lembap dan daun tua. Mata hijau wanita itu sedikit melebar.

“Tanaman… berakal?” gumamnya.

Sulur itu mengendurkan lilitannya, namun tidak sepenuhnya menjauh, seolah masih berjaga.

“Aku tidak berniat lancang,” ujarnya. “Tapi tubuh Anda sudah melewati batas. Jika Anda memaksakan diri sekarang, energi Anda akan runtuh lebih dulu daripada lukanya tertutup sempurna.”

Wanita itu menunduk, menatap jemarinya sendiri. Sedikit gemetar. Darah tipis masih membekas di sudut bibirnya.

Ia menghembuskan napas panjang.

“…Aku tahu,” ucapnya lirih.

Pandangan matanya beralih ke wajah Qu Cing. Bocah itu masih tak sadarkan diri, namun napasnya kini lebih teratur. Dada kecilnya naik turun perlahan, tidak lagi tersendat seperti sebelumnya.

“Kalau begitu,” lanjut si tumbuhan pelan, “izinkan aku menjaga sisanya.”

Wanita itu mengangkat kepala kembali, menatap tanaman itu dengan sorot yang berubah.

“Jadi kamulah,” katanya pelan. “Yang membungkusnya. Yang menyembunyikannya. Yang membawanya menjauh dari jejak iblis?”

Sulur itu bergetar kecil.

“Kalau aku tidak melakukannya,” jawabnya jujur, “dia sudah mati sebelum Anda tiba.”

Wanita itu terdiam.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang dalam. Lalu ia tersenyum tipis yang begitu tulus.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

Ia menarik tangan Qu Cing kembali ke dadanya, memeluknya dengan lebih hati-hati. Cahaya hijau tidak lagi mengalir deras, hanya sisa kehangatan yang menempel, menjaga agar aliran energi tidak kembali liar.

Sulur hijau itu tiba-tiba bergerak kecil, seolah baru teringat sesuatu.

“Oh iya,” katanya ringan, nyaris terlalu santai untuk situasi genting seperti ini. “Sebenarnya… ada cara supaya dia bisa pulih lebih cepat.”

Wanita itu mengangkat kepala seketika. Mata hijaunya yang semula redup kembali memancarkan fokus tajam.

“Cara?” ulangnya. Ada nada waspada, tapi lebih kuat rasa penasaran di dalamnya. “Apa maksudmu?”

Sulur itu menggeliat pelan, ujungnya melingkar ke udara seperti seseorang yang mengangkat jari saat ingin bercerita.

“Aku tidak bilang ini metode agung atau teknik rahasia,” ujarnya. “Tapi untuk kondisi seperti ini… cukup efektif.”

Wanita itu sedikit memiringkan kepala, menunggu.

Hening sesaat, lalu si tumbuhan terkekeh kecil. Suara itu terdengar aneh, campuran antara gesekan daun dan tawa tertahan.

“Aku mengenalnya,” katanya tiba-tiba.

Gerakan wanita itu terhenti.

“Mengenal… Qu Cing?” tanyanya pelan.

“Mm.” Sulur itu mengangguk kecil. “Kami pernah belajar di tempat yang sama. Perguruan Long Ji.”

Mata wanita itu menyempit tipis, terkejut. Ia menatap tanaman itu lebih saksama, seakan mencoba menembus bentuk hijau di hadapannya dan melihat sosok di baliknya.

“Kamu…” gumamnya. “Teman seperguruannya?”

“Teman sekelas,” koreksinya ringan. “Atau setidaknya… pernah.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, seperti mengenang sesuatu yang jauh.

“Dulu, sebelum semua kekacauan ini, dia pernah membuat sesuatu.”

Sulurnya bergerak pelan, membentuk lingkar kecil di tanah.

“Katanya ramuan ajaib.”

Wanita itu terdiam. Alisnya terangkat tipis.

“Ramuan penyegel?” tebaknya.

“Bukan,” jawab si tumbuhan cepat, lalu terkekeh lagi. “Aku juga sempat percaya waktu itu. Dia bilangnya dengan wajah serius sekali, seolah menemukan teknik kuno yang terlarang.”

Nada suaranya mengandung geli yang tak disembunyikan.

“Tapi aku penasaran. Jadi aku cari tahu sendiri.”

Wanita itu menahan napas tanpa sadar.

“Dan?” tanyanya.

Sulur itu bergoyang kecil, seperti orang yang mengangkat bahu.

“Ternyata bukan ramuan ajaib sama sekali,” katanya. “Cuma ramuan penambah tenaga. Sangat sederhana. Dia mengatakan itu ramuan ajaib, alih-alih hanya untuk menyembunyikan kemampuannya.”

Wanita itu berkedip. “Penambah tenaga?”

“Iya.” Ada nada geli yang hangat di suaranya. “Namanya Degan.”

Hening...

Angin berdesir pelan di antara bebatuan. Mata hijau wanita itu melebar sedikit, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

“…Degan?” ulangnya.

“Air buah kelapa muda,” jawab si tumbuhan lugas. “Segar dan ringan. Cocok untuk tubuh yang hampir runtuh karena kehabisan energi, tapi belum boleh menerima aliran besar lagi.”

Wanita itu menunduk, menatap wajah Qu Cing. Bocah itu masih terlelap, tapi rona pucatnya sedikit memudar.

“Kalau aku meminumnya…” gumamnya perlahan, lebih pada dirinya sendiri.

“Itu tidak akan menambah kekuatan Anda,” potong si tumbuhan jujur. “Tapi akan menahan kelelahan Anda agar tidak runtuh sekarang. Dengan begitu, sisa penyembuhan bisa berjalan alami… dan dia punya kesempatan lebih besar untuk bangun lebih cepat.”

Wanita itu terdiam. Lalu ia tersenyum.

“Anak itu…” katanya pelan. “Bahkan dalam keadaan seperti ini, masih meninggalkan jalan keluar.”

Ia mengangkat pandangan ke arah tanaman itu. “Bisakah kamu menyiapkannya?”

Sulur hijau itu bergetar yakin.

“Bisa,” katanya pelan. “Tapi aku harus keluar lebih dulu… aku belum pernah melihat tanaman itu secara langsung.”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Ia menatap celah-celah batu di sekeliling cekungan, lalu ke bayangan pepohonan yang saling bertaut di luar. Hutan Lembah Siluman Kera tampak tenang… terlalu tenang.

“Keluar dari sini, berarti membuka diri pada apa pun yang sedang mengintai.” ucapnya akhirnya, suaranya sangat rendah.

Sulur hijau itu menegang sedikit.

“Aku tahu,” katanya jujur.

“Itulah sebabnya aku yang pergi.”

Wanita itu menunduk, menatap Qu Cing yang masih terlelap di dadanya. Napas bocah itu stabil, tapi lemah. Terlalu rapuh untuk dipindahkan lagi.

Ia mengangguk pelan.

“Kalau kau merasakan sesuatu yang salah,” katanya, “kembalilah! Jangan paksakan.”

Sulur itu bergetar kecil, seperti mengangguk.

“Aku cepat,” ujarnya ringan, tapi kali ini nadanya tidak sepenuhnya santai.

Perlahan, sulur-sulurnya melepaskan diri dari tanah cekungan. Daun-daunnya merapat, warna hijaunya meredup, menyatu dengan bayangan hutan. Ia menyelinap menuju celah sempit di antara batu dan akar besar.

Begitu ujung tubuhnya menyentuh tanah luar, hutan berdesir. Seolah sesuatu di kejauhan menyadari… ada yang bergerak.

Sulur itu berhenti sepersekian detik.

“…Hutan ini,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar, “tidak sendirian.”

Namun ia tetap melangkah keluar.

Di dalam cekungan, wanita itu menutup mata sesaat, memeluk Qu Cing lebih erat. Cahaya hijau tipis kembali muncul, hanya untuk menghangatkan tubuhnya.

Di luar, bayangan pepohonan bergoyang pelan.

Dan di antara kabut tipis Hutan Lembah Siluman Kera, sesuatu… mulai bergerak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   12. Sang penjaga wilayah

    Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   11. Wilayah Inti

    Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   10. Keraguan

    Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   9. Getaran hati

    Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   8. Dihadang para kera

    Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   7. Kesadaran

    Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status