Share

7. Kesadaran

Penulis: Donat Mblondo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-31 21:20:35

Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.

Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.

Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.

Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.

'Ini…'

Ingatan kecil muncul.

Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.

'Degan…?'

Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.

'Ramuan yang sering kuandalkan."

Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.

Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Tidak memaksa ataupun memelukai.

Anak itu menyadari kehadiran seseorang… sedang sangat berhati-hati. "Jangan… dipaksakan…" ujarnya samar dan lembut.

Suara lain menjawabnya.

“Diamlah!" kata suara itu pelan, hampir berbisik. “Kamu baru saja lolos dari batas.”

Dada Qu Cing bergetar kecil. Ingatan mengeruyak dalam pikirannya.

Suara itu tidak sering ia dengar. Bahkan sangat jarang.

Mereka jarang bertemu untuk mengatakan suara itu akrab dalam keseharian. Namun entah mengapa, setiap kali terdengar, selalu terasa sama. Hangat, tegas, dan begitu dekat.

Seolah jarak dan waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.

Di ambang kesadarannya yang rapuh, suara itu menyentuhnya dengan lembut. Tidak mendesak ataupun menuntut. Hanya hadir, membawa rasa aman yang tulus, seperti pelukan yang tak perlu diucapkan.

'Tidak mungkin…'

Kelopak matanya terasa seperti ditahan paku. Setiap upaya membuka terasa menyayat, seolah dunia menolak dilihat. Namun rasa ingin tahu itu lebih kuat dari nyeri.

Ia memaksa. Cahaya samar menembus celah penglihatannya. Bentuk-bentuk masih buram, berlapis kabut. Bayangan cahaya hijau. Dan… sosok yang berlutut sangat dekat.

Rambut perak yang terurai. Siluet bahu yang dikenalnya. Pandangan itu goyah. Dunia berputar sesaat. Nyeri menyambar dari dada hingga ke ujung jari, membuat napasnya tercekat.

Namun ia bertahan. Karena jika ini mimpi, ia ingin melihatnya lebih lama.

“Bi…” suaranya nyaris tak keluar, tenggelam di tenggorokan yang masih kering. “…bi…”

Sosok itu membeku.

“Qu Cing?” napas wanita itu tersendat halus.

Bocah itu mengumpulkan sisa tenaga yang ada, menelan rasa sakit yang kembali menguat, lalu memanggil dengan suara lirih yang hampir runtuh.

“Bibi Miao…”

Kata itu keluar pelan.

Miao Meng adalah Ratu terakhir dari ras siluman kucing bermata hijau, garis keturunan penyembuh yang hampir punah. Berambut putih perak dan bermata hijau tenang, ia dikenal lembut, penyayang, dan nyaris tak pernah goyah, bahkan di tengah bahaya. Kekuatan penyembuhannya berada di puncak, namun ia hampir tak memiliki kemampuan bertarung, memilih melindungi daripada melawan.

Selama bertahun-tahun, ia hidup di balik bayangan, beberapa kali turun tangan menyelamatkan seseorang tanpa pernah mengungkap jati dirinya, setia pada janji dan waktu yang ia tunggu. Mereka yang pernah disentuh penyembuhannya hanya mengingat satu hal, kehangatan yang tulus untuk datang dari orang asing.

Wanita itu langsung menunduk, kedua tangannya menahan bahu kecilnya seolah takut ia akan menghilang jika dilepas.

“Beristirahatlah!” katanya cepat, tapi suaranya bergetar.

Qu Cing tersenyum tipis. Karena meski penglihatannya kembali memudar, dan rasa sakit perlahan menutup kesadarannya…

Ia sudah melihat cukup.

Kelopak mata Qu Cing akhirnya menutup sepenuhnya.

Kali ini bukan karena terpaksa, melainkan karena tubuhnya sendiri menariknya masuk ke dalam istirahat yang dalam. Napasnya menjadi tenang. Dada kecil itu naik turun perlahan, ritmenya stabil, seolah badai di dalam tubuhnya telah benar-benar mereda.

Di telapak tangan kanannya, tanda matahari berdenyut pelan… lalu meredup.

Cahaya di celah retakannya menyatu, garis-garis yang pecah kembali rapat, meninggalkan bekas samar seperti luka lama yang telah sembuh.

Miao Meng menatapnya tanpa berkedip.

Beberapa detik berlalu sebelum bahunya akhirnya mengendur.

“Syukurlah…” ujarnya lirih.

Namun kelegaan itu hanya bertahan sesaat.

Telinganya bergerak kecil. Bulu kuduknya meremang.

'Ada sesuatu.'

Matanya yang hijau tenang berubah fokus. Lapisan hutan seakan terkelupas di hadapan pandangannya... akar, batu, kabut... semuanya menjadi tembus pandang. Dan di baliknya, pergerakan masif muncul seperti gelombang hitam yang menyebar ke segala arah.

Ratusan sosok kera. Mereka bergerak teratur, menyisir lembah, meloncat dari pohon ke pohon, menutup jalur satu per satu. Bukan berburu acak. Ini… pencarian.

“Celaka!" bisik Miao Meng. Tubuhnya menegang. “Kita harus segera pergi!”

Sulur hijau di sampingnya bergetar.

“Apa yang terjadi, Bibi?”

“Para kera,” jawab Miao Meng cepat, suaranya tetap rendah tapi tegas. “Mereka telah tunduk pada pemegang Tongkat Sakti. Seluruh Lembah Siluman Kera pasti sudah digerakkan untuk mencari satu orang.”

Ia menunduk menatap wajah Qu Cing yang terlelap.

“…Dia.”

Meski matanya terpejam, telinga Qu Cing masih menangkap kata-kata itu. Kesadarannya yang tipis bergetar, namun tubuhnya terlalu berat untuk merespons.

Sulur hijau menegang.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Bibi?”

Miao Meng tidak ragu.

“Bisakah kamu membentuk diri menjadi sebuah tas? Ini supaya aku lebih leluasa membawanya."

Sulur itu terdiam sepersekian detik, lalu bergerak cepat. Daun dan batangnya melipat, serat-serat hijau menyatu, membentuk anyaman lentur namun kuat. Dalam hitungan napas, sebuah ransel sederhana terbentuk, hangat di bagian dalam, menyelimuti tubuh Qu Cing dengan rapat tanpa menekan jalur energinya.

Miao Meng mengangkatnya ke punggung, mengikatnya dengan satu gerakan terlatih.

Mereka bergerak.

Menyusup di antara batu dan akar, menjauh dari cekungan tepat saat kabut di depan mereka terbelah.

Sebuah bayangan besar mendarat di atas batu dengan suara berat.

Bulu hitam legam. Mata merah kusam. Aura menekan yang membuat tanah di bawahnya berderak pelan.

Lu Tung.

Siluman kera hitam itu mengendus udara, lalu tersenyum menyeringai.

“Aroma ini…” gumamnya. “Tidak salah lagi.”

Miao Meng membalik arah seketika, tapi sudah terlambat.

Sebuah tongkat hitam menyapu udara.

Swuuush!

Ia melompat, nyaris menghindar, namun ujung serangan itu tetap menyambar lengannya. Darah merah tipis mengalir, jatuh ke tanah lembap.

Lu Tung tertawa rendah.

“Kena juga.”

Miao Meng meringis pelan, tapi langkahnya tidak berhenti. Ia berlari, melompat ke balik pepohonan, darahnya menetes, aromanya menyebar.

Di punggungnya, Qu Cing tetap terlelap.

Dan di belakang mereka, suara lolongan kera mulai bersahutan, semakin dekat.

Hutan Lembah Siluman Kera… telah mengunci mangsanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   12. Sang penjaga wilayah

    Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   11. Wilayah Inti

    Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   10. Keraguan

    Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   9. Getaran hati

    Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   8. Dihadang para kera

    Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   7. Kesadaran

    Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status