LOGINShe was his Luna—until he chose power over love. Rejected, disgraced, and cast out, Ariyah disappeared into the night carrying a secret that would shatter the Alpha realm forever. Years later, Alpha Kael Nightfang, the most ruthless Alpha alive, rules with an iron fist—until a child with his eyes, his scent, and forbidden royal blood steps into his territory. Now the past he buried has returned. The Luna he broke is stronger. The son he denied is the heir he needs. But some betrayals cannot be forgiven… and some bloodlines were never meant to stay hidden.
View MoreTerdengar suara tubuh saling bertabrakan di lobby perusahaan makanan cepat saji, memecah konsentrasi resepsionis yang sedang menerima panggilan masuk. Terlihat sosok perempuan dengan hoodie coklat serta celana jeans lusuh dan sepatu slip on putih yang sudah bolong serta tangannya yang sibuk memeluk erat tumpukan kertas.
Viona yang kala itu tidak mengetahui bahwa dirinya ditabrak oleh seorang CEO dari perusahaan tersebut langsung memakinya dengan kasar karena telah menabrak dirinya.
“Dasar laki-laki menyebalkan! Apakah matamu buta?” teriak Viona saat sang CEO berjalan begitu saja meninggalkan dirinya dan kertas yang berserakan.
Mendengar teriakan itu Emillio atau yang sering dipanggil Emil langsung membalikan badannya yang gagah, menghampiri Viona yang sedang sibuk merapihkan kertas yang terjatuh.
Sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat dengan sengaja menginjak kertas yang ada di lantai membuat Viona menghentikan gerakan tangannya.
“Apa yang kamu bilang? Coba ulangi sekali lagi?” ujar Emil seraya membungkukan badannya agar ucapannya terdengar oleh perempuan yang baru saja memaki dirinya.
Viona yang kesal langsung berdiri mencondongkan tubuhnya ke arah laki-laki yang sudah menabraknya dan menatap lawan bicaranya lekat-lekat.
“Mata kakimu buta? Apakah pelafalan saya kurang jelas? Atau suara saya yang kurang kencang?” kini Viona semakin menaikan suaranya.
Suara getaran telepon yang berasal dari saku kanan Emil memecah konsentrasinya untuk memaki balik perempuan ini dan menjadi akhir dari perdebatan mereka. Terlihat nama Lee di layar ponselnya yang merupakan sekretarisnya tengah menelponnya.
“Hallo, pak Emil rapat akan segera dimulai. Semua pegawai dari divisi penelitian 1 sudah siap, hanya menunggu bapak,” ujar Lee melalui panggilan telepon.
Emil langsung meninggalkan perempuan yang baru saja bertabrakan dengan dirinya, tanpa ada permintaan mohon maaf ataupun ucapan perpisahan.
* * *
“Dasar laki-laki aneh. Haduh, mengapa tumpukan kertas ini sangat berat sekali!” gerutu Viona di depan lift untuk segera ke ruangan Kai sahabatnya yang bekerja di perusahaan tersebut.
Suara denting menandakan pintu lift akan terbuka lebar, tidak lama kemudian terlihat perempuan dengan blezer hitam serta kemeja pink di dalamnya dan heels 5 cm langsung keluar dari lift dan menyapa Viona dengan penuh gembira.
“Terima kasih! Terima kasih!”
“Wajahmu terlihat cantik sekali hari ini. Apakah kamu ingin aku traktir makan?” ucap Kai memuji sahabatnya dengan berlebihan.
“Aku sudah kenyang pagi ini…,” Viona memegang perutnya “traktir nanti saat makan malam saja,” pinta Viona karena sebelum mengantarkan berkas dirinya sudah makan terlebih dahulu.
Kai langsung menganggukan kepalanya setuju dengan permintaan Viona karena hari ini ia rencana akan pulang cepat.
Setelah selesai bertemu dengan Kai dan memberikan berkas yang tertinggal Viona langsung memutuskan untuk pulang tetapi saat ia hendak menaiki bus dan merogoh koceknya tidak mendapatkan kartu cashbee yang merupakan alat pembayaran di bus, beberapa kali ia memeriksa tas dan kantong lainnya tetapi tidak ditemukan juga. Akhirnya dengan terpaksa Viona harus pulang dengan berjalan kaki.
* * *
Emil baru saja selesai rapat siang ini terlihat di dalam ruangannya sudah ada laki-laki tua yang duduk di sofa kulit berwarna coklat muda. Tarikan nafas panjang yang berasal dari sela-sela hidung mancung Emil terdengar diiringi dengan dengusan kekesalan.
“Ada apa ayah harus ke kantor di siang terik seperti ini?”
“Ayah hanya ingin mengecek perkembangan produk baru yang masuk dalam tahap penelitian dan ingin menanyakan kabar anak ayah tercinta,” jawab pak Kim santai.
“Baik, yah.”
“Omong-omong apakah kamu sudah mempunyai pacar?”
Pak Kim langsung menjurus pada pertanyaan yang sudah lebih dahulu diterka oleh anaknya, dirinya dan istrinya memang sudah lama mendambakan menantu dan tentu saja cucu yang menggemaskan dari anak laki satu-satunya.
Mendengar pertanyaan itu Emil tidak menjawab apapun karena itu adalah pertanyaan wajib kedua orang tuanya jika bertemu dengan dirinya. Melihat anaknya tidak menjawab pertanyaannya pak Kim langsung dengan cepat menyodorkan beberapa foto wanita muda yang memang sudah ia siapkan untuk anaknya.
“Coba lihat perempuan ini, apakah ada yang menarik pandanganmu? Jika iya, kabarkan ayah agar disiapkan kencan buta pada akhir pekan ini,” ucap pak Kim lagi dengan sangat percaya diri bahwa anaknya akan menyetujui ucapannya.
Emil langsung berdiri dengan tegak tepat di depan sang ayah dengan pandangannya yang sangat seram karena ia sudah kehabisan kata untuk menolak tawaran ayahnya tentang kencan buta.
“Apakah ada rapat lagi setelah ini?” tanya Emil kepada sekretarisnya.
“Ada pak, sekitar jam 1 siang di hotel The Westin Josun,” jelas pak Lee yang sedang bermain mata dengan Emil karena mengetahui bahwa atasannya itu sedang berada di suasana yang sangat menyeramkan.
“Oke baik! Saya mungkin mengganggu jadwal anak saya hari ini, besok atau lusa saya akan kembali lagi dengan penawaran yang lebih baik!” ucap pak Kim yang langsung memperbaiki posisi dasinya serta jas hitamnya.
Emil dan Lee langsung membungkukan badannya untuk menghormati pak Kim, meskipun mengetahui bahwa hati ayahnya kecewa tetapi Emil mempunyai pendiriannya untuk tidak dicarikan pasangan hidup karena merasa bisa mencari sendiri.
Lee tiba-tiba saja mendekatkan badannya ke arah atasannya itu dan langsung menatap matanya dengan heran.
“Pak Emil apakah kamu mempunyai cashbee?” tanya Lee yang melihat ada sebuah kartu yang jatuh dari jas atasannya.
Emil yang bingung dengan pertanyaan sekretarisnya langsung menyeringitkan dahinya menandakan bahwa dirinya tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sekretarisnya.
“Maksudmu?”
“Ini pak, kartu bus ini jatuh dari jasmu,” jelas Lee seraya mengambil kartu yang masih berada di lantai lalu menunjukan kepada Emil.
Kartu itu dipegang oleh tangan kokoh Emil ia berpikir keras mengapa ada kartu pembayaran bus di dalam jasnya, karena sejak dirinya kecil ia tidak pernah menaiki transportasi umum.
Lee juga sedikit berpikir mengapa ada kartu bus di dalam jas atasannya ini, sesekali mereka berdua berpandangan mata untuk mencari jawaban dengan kebingungan.
Seketika Emil memegang kepalanya mengingat kejadian yang menimpanya tadi pagi, menabrak perempuan yang sedang membawa setumpuk berkas dan berucap tidak sopan kepadanya.
“Apakah kartu ini milik perempuan itu?” gumam Emil sedikit kencang hingga membuat Lee menanyakan apa yang sedang ia katakan.
“Ada apa pak?”
“Oh,,, tidak saya hanya sedikit haus dan ingin minum black coffe,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Pada malam harinya Emil memikirkan kartu bus yang berada di jasnya tetapi perasaanya selalu mengarah kepada wanita yang ia tabrak tadi pagi. Meskipun bayangan wajahnya tidak terlalu jelas tetapi ia sangat mengingat wangi manis segar yang berasal dari tubuh wanita itu dan tentu saja wajahnya yang seram.
Seketika ia mengingat sebelum dirinya bertabrakan dengan wanita itu ia sempat memasukan kartu namanya ke dalam jas yang ia kenakan karena akan bertemu dengan client selanjutnya.
“Apakah kartu namaku terbawa oleh wanita itu?” pikir Emil.
The silence that followed the explosion at the Sun-Stone Crater was not the silence of a grave; it was the silence of a world holding its breath.The necro-magical storm—the bruised purple sky, the bone-chilling wind, and the relentless thrum of the Dread-Tide—was gone. In its place was a fine, shimmering dust that fell like snow, coating the charred remains of the jungle in a layer of crystalline white. The bone-ships on the horizon had not just been broken; they had been unmade, their physical forms dissolved back into the primordial elements from which they were stolen.Selene was the first to reach the edge of the crater. Her hands were raw from digging through the rubble of the Heart-Root tunnels, her white fur singed by the feedback of the Blood-Seal’s destruction. Behind her, Kael and a hundred other warriors limped through the settling dust, their weapons lowered, their eyes wide with a hollow, desperate hope.
The jungle did not scream; it bled.Under the canopy of the Aethel-Oaks, the air was thick with the copper tang of blood and the briny, rotting stench of the Dread-Tide. Elias moved through the undergrowth not as a silver blur of divine wrath, but as a man struggling against the humidity and the weight of his own iron gear. His lungs, once capable of sustaining him through days of non-stop combat, now burned with every ragged breath.He reached the "Third Tier," a defensive line of sharpened stakes and hidden pits. Here, the former Omegas—now the Vanguard of the Root—were holding their ground against the first wave of sea-wolves. It was a butchery. The Dread-Tide didn't fight with the structured discipline of the Iron Fang or the stealth of the Shadow-Stalkers; they fought with a prehistoric hunger. They were massive, their fur matted with black ocean silt, their eyes clouded by a necro-magical haze that rendered them indifferent
The air at the Moon-Well didn't just feel cold; it felt empty. It was the smell of a book with all its pages torn out. The three Witches hovered over the black water, their tattered feather robes swaying in a wind that Elias couldn't feel."Your father’s name, Elias," the Matriarch repeated, her voice a seductive rasp. "Give it to us, and the record of the world will simply... adjust. You will be the son of a hero whose name was lost to time. Your people will thrive in a city that the shadows cannot find. Is a memory worth the death of a civilization?"Elias looked at the wooden wolf in his palm. He felt the "Golden Frequency" of his father’s love—a tiny, flickering candle in the vast, freezing dark of the Well."You don't want the name because it's a 'debt,'" Elias said, his voice gaining strength. "You want it because you're starving."The Revelation of the FadingElias ste
The transformation of Mount Malice was the first true miracle of the new age. Where obsidian once tore at the sky, massive Aethel-Oaks now stretched their limbs, their leaves shimmering with a faint bioluminescence. The Citadel was no longer a fortress; it was the skeleton of a city being born.Elias sat in the high balcony of the North Tower. He looked out at the thousands of campfires below. He could still feel the link—it was faint now, like a distant radio station—but he could no longer "hear" every thought. He was just a man watching his people."The foundations are set," Marek said, stepping onto the balcony. He looked older, but his eyes were bright with a scholar’s fever. "The four High Alphas have surrendered their seals. We’ve begun the census. We are no longer a pack of survivors, Elias. We are a nation."The Blueprint of EquilibriumIn the center of the ruins, a new structure wa
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.