Mag-log inSmut Alert: This book contains steamy, explicit scenes, filthy rich men, and one heroine caught between them all. Proceed if you like it hot. He was the golden boy who broke her, denied her, and humiliated her, and she left for LA, carrying the one secret that could ruin him. Now she’s back in NewYork, hotter, richer, and ready to make him pay. But she never planned on his brothers. One wants to protect her, one wants to corrupt her, and one wants to own her. They’re dangerous, filthy rich, and completely off-limits… but when all three set their sights on her, revenge turns into something else. And the closer she gets to destroying them, the more she wants to let them pin her to the wall and fuck her senseless.
view more"Kenapa harus aku, Ayah?" protes seorang wanita berjas warna putih khas seorang dokter.
"Zea, Ayah mohon. Tolong gantikan kakakmu untuk sementara waktu. Dia kabur dari rumah suaminya, Ar terus mencari ibunya," pinta seorang pria paruh baya pada anak perempuannya itu."Tidak bisa, Ayah. Aku tidak akan bisa seperti Kak Zeva. Bagaimana kalau kak Zayyan tahu Ayah membohonginya, aku atau pun Ayah kita akan sama-sama dalam bahaya," ucap sang anak."Kau bisa, Zea. Hanya kau yang bisa menyelamatkan Ayah." Pria tersebut masih memohon agar anaknya mau mengikuti apa yang dia katakan.Sang anak menghela napas panjang dan menatap ayahnya dengan kasihan."Haruskah aku menggantikan kakak, Yah? Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" Dia menatap ayahnya dengan sendu."Untuk sementara kau harus meninggalkan pekerjaanmu dulu, Zea. Sampai kakakmu kembali."Zea Ananda Mikola wanita berusia 25 tahun. Dia salah satu tenaga medis kedokteran spesialis anak di salah satu rumah sakit negeri di Ibukota. Memiliki wajah cantik dan rupawan membuat dia menjadi salah satu sosok yang banyak dikagumi oleh kaum adam. Namun, hingga kini Zea masih saja betah dalam kesendirian.Zea kembali menatap sang ayah yang sudah berlutut di depan kakinya."Kalau sampai kak Zayyan tahu jika kakakmu kabur. Dia pasti akan membunuh ayah," ucapnya.Zea tersenyum lalu mengangkat tubuh Miko agar berdiri kembali. Bagaimanapun, dia adalah seorang anak yang tidak akan tega jika ayahnya diperlakukan kasar oleh orang lain."Baiklah, Ayah. Aku akan menggantikan kakak," ucapnya mengalah."Terima kasih, Zea." Pria paruh baya itu memeluk anak bungsunya. "Maafkan Ayah yang harus mengorbankan mu. Ayah berjanji setelah Zevanya kembali, kau akan terbebas dari semua ini."Zea mengusap punggung sang ayah. Dia tidak begitu tahu apa penyebab sang kakak meninggalkan suami dan anaknya. Ke mana kakaknya itu pergi? Apa dia tidak kasihan pada anak kecil yang merenggek mencari dirinya? Atau memang ada hal lain yang sebenarnya terjadi?"Sudahlah, Ayah. Jangan berkata seperti itu, aku adalah anak Ayah. Sudah sepatutnya aku membantumu," ucap Zea melepaskan pelukan Miko.Miko mengangguk dan menyeka air matanya. Sebenarnya dia tidak tega mengorbankan Zea . Namun, tak ada cara lain lagi karena jika sampai sang menantu tahu jika anaknya Zevanya menghilang, pastilah dirinya akan dihabisi oleh pria yang tak memiliki perasaan itu."Iya sudah, sekarang siapkan barang-barangmu. Ayah akan mengantarmu ke mansion tuan Zayyan," ucap Miko."Iya, Ayah."Zea masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu baru saja pulang dari rumah sakit. Wajahnya terlihat lelah karena banyak menanggani pasien hari ini."Kenapa nasibku jadi begini? Kak Zeva ke mana sih?" Dia menggerutu kesal sambil memasukan pakaiannya ke dalam koper.Zea duduk di bibir ranjang dan menatap sebuah figura yang terletak di atas nakas. Dia rengkuh benda yang sudah hampir usang tersebut, perlahan air mata bergulir dan jatuh menggelinding dari kelopak mata indahnya."Bu, aku berjanji akan membahagiakan ayah dan kakak. Apapun akan aku lakukan untuk mereka," ucapnya terdengar lirih dan menyayat hati.Tak mau lama-lama meratapi kesedihan. Zea keluar dari kamar sambil menyeret kopernya. Setelah sang kakak menikah dengan pria ternama di Ibukota. Dia hanya tinggal bersama sang ayah dan menjaga lelaki paruh baya itu sepenuh hati. Miko memiliki hutang ratusan juta sehingga mengharuskan dia menyerahkan anaknya — Zevanya menjadi penebus dari hutang itu. Sekarang, Zea lah yang akan kembali berjuang demi menyelamatkan ayahnya."Apa kau sudah siap?" tanya Miko."Sudah, Ayah," jawab Zea."Ayo!"Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Lalu meninggalkan rumah mewah itu dan menuju mansion yang akan menjadi tempat tinggal Zea sampai kakaknya kembali."Zea, kau harus seperti kakakmu. Jangan sampai tuan Zayyan curiga jika kau bukan Zeva," ucap Miko mengingatkan."Tapi, Ayah..." Zea menarik napas dalam. "Bagaimana caranya aku meniru sifat kakak?"Zevanya dan Zea dua wanita kembar identik. Terlahir dengan wajah serupa dan suara yang mirip serta seluruh anggota tubuh yang tak dapat dibedakan. Walaupun terlahir dari rahim yang sama, akan tetapi sifat keduanya sungguh bertolak belakang. Zevanya seorang wanita sosialita yang berprofesi sebagai model papan atas. Dia terbiasa dengan kehidupan yang glamour dan mewah. Itulah sebabnya dia menerima lamaran Zayyan karena dia tidak akan bisa hidup tanpa uang dan harta. Sementara Zea, gadis polos dan lugu. Sejak kecil dia sudah terdidik dan dididik mandiri oleh sang ayah. Ia memiliki segudang prestasi hingga bisa masuk fakultas kedokteran dengan beasiswa penuh. Oleh sebab itu, Zea sangat menyayangi ayahnya karena memang hanya sang ayah yang dia miliki di dunia ini.Mobil yang Miko kendarai sampai di sebuah mansion mewah. Keduanya keluar dari mobil, mata Zea berdecak kagum melihat bangunan mewah bak istana di depannya."Ayah, rumahnya besar sekali!" seru Zea.Seperti orang kampung wanita itu celingak-celinguk melihat fatamorgana tanaman bunga di depan pekarangan mansion mewah suami kakaknya."Zea, tolong jaga sikapmu!" bisik Miko."Eh iya, Ayah."Mereka berdua berjalan masuk. Kedatangan Miko dan Zea ternyata sudah disambut oleh para pelayan yang bertugas di sana.Di sana tampak lelaki tampan berdiri menatap ke arah dua manusia itu. Tangan terselip di saku celana kanan dan kirinya. Sorotan mata tajam dengan rahang yang keras, tak ada senyum dari bibirnya. Dia seperti jelmaan iblis yang siap menerkam mangsanya kapan saja."Selamat malam, Tuan Zayyan. Saya sudah berhasil membawa Zeva pulang," ucap Miko.Zea bergidik ngeri melihat tatapan kakak iparnya itu. Semoga saja Zayyan tidak sadar jika dirinya bukan Zevanya. Entah bagaimana nasibnya nanti hidup dengan pria seperti tembok itu?Zayyan menatap Zea dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sudut bibir pria itu tertarik, tetapi tak ada yang menyadari."Kau sedang tidak menipuku 'kan, Tua Bangka?" tanya Zayyan dingin, tetapi tatapan matanya tertuju pada Zea.Zea terkejut mendengar pertanyaan lelaki itu pada ayahnya, sungguh tak ada sopannya sama sekali. Jika saja sang ayah tidak mengingatkannya tadi, sudah pasti dia akan melabrak lelaki itu."Saya tidak mengerti apa yang Anda ucapkan, Tuan," kilah Miko berusaha mengontrol kegugupannya."Baiklah, aku percaya padamu. Namun, kau harus ingat sekali saja kau menipuku. Kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan padamu!" ancamnya.Miko membalas dengan anggukan. Keringat dingin mengucur di dahinya, dia melirik Zea sekilas berharap jika gadis itu bisa menyelamatkannya dengan menjadi Zevanya sampai anaknya itu kembali."Saya tidak akan berani menipu Anda, Tuan," sahut Miko."Bagus! Harusnya memang begitu karena kau tahu, aku bukan orang yang mudah ditipu. Aku jelas tahu mana yang asli dan mana yang palsu!" bisik Zayyan di telinga Miko.Bersambung ...Chapter 22 Zariah’s POVThe city outside her windows glittered like a field of diamonds scattered over black velvet.From this height, the streets didn’t roar; they pulsed — a quiet rhythm of headlights and life, a reminder that even when empires trembled, the world refused to pause for anyone.Zariah stood barefoot on the marble floor, one hand resting on the cool glass. Her reflection stared back — still, poised, unreadable. The news cycle had already devoured her, spat her name across headlines, and moved on to the next scandal.But the tremor it left behind still rippled through her company.She had spent the last two days cleaning the mess in silence.Board members reassured. Investors soothed. Leaks traced, or at least narrowed.And through it all, she never once raised her voice.Power didn’t shout.It whispered — and the world bent closer to hear.A faint knock broke the hush.Her assistant’s voice came through the intercom, careful and subdued.“Ma’am, the last file you requ
Chapter 21 Adrian’s POVThe restaurant was too quiet.That kind of silence that cost money — where every clink of glass was swallowed by velvet walls and the hum of secrets.Adrian sat alone at a corner table, his jacket draped neatly over the chair beside him. The waiter had already tried twice to take it away. Twice he’d refused. People like Voss noticed things like that — what a man kept close.He checked his watch. 8:57. Three minutes early.Outside, the city pulsed behind the tinted windows — horns, light, chaos — but in here, everything was control.The maître d’ whispered something near the entrance. Then Voss appeared.A wolf in a silk tie.He didn’t rush, didn’t smile. Just moved — smooth, deliberate — like the air bent to his pace.“Mr. Hale,” Voss greeted, voice calm as water. “You chose an interesting place.”Adrian leaned back, offering nothing but a nod. “The kind of place where people pretend not to listen.”Voss smirked as he sat. “Then we’ll get along just fine.”Th
Chapter 20 Adrian’s POV (The Hunter Becomes the Hunted)The city pulsed beneath him like a living engine.Adrian had always trusted patterns—the way lights blinked in predictable rhythms, the way footsteps echoed differently when someone followed too close. Tonight, nothing matched the rhythm he knew.The photograph lay on the table where he’d dropped it hours ago. It was still damp from the rain that had soaked the courier’s coat. The grainy reflection of his own face in that window stared back, taunting him.Someone had eyes on him.That was unacceptable.He slid the image into a folder, locked it in his desk drawer, and started pacing. The suite was silent except for the faint hum of the city and the tick of his wristwatch. Every sound felt too loud.“Marco,” he said into his earpiece.A click of static. “I’m here.”“Find the woman who delivered the envelope. Every camera from the east side to Park Avenue.”“Already working on it. She’s good—no plates, no trace.”“Then she’s not w
Chapter 19 Adrian’s POVThree days laterThe city didn’t sleep — it watched.And Adrian had always liked that about New York.From his penthouse window, the skyline glowed like a field of restless stars, each one whispering secrets he could use. Below, the world moved in patterns he understood too well — power, greed, fear — the things that made people predictable. The things that made them weak.He took a slow sip from his glass, the amber liquor burning down his throat. The bruise along his jaw had almost faded, but the memory of Damian’s fist hadn’t. It had been a long time since anyone dared touch him like that.He almost respected it. Almost.He set the glass down and turned as the door clicked open.Marco stepped in, quiet as a shadow — ex-military, loyal to money, not friendship. Adrian liked that kind of loyalty.“They’re still not speaking,” Marco said, placing a file on the table. “Zariah hasn’t shown up at the office since that night. Damian’s been handling the press hims
Chapter 15 Zariah’s POVThe morning after the chaos was merciless.Newsfeeds blared headlines that painted her empire as fragile glass. The photo of her at the investor gala; eyes narrowed, jaw clenched, Damian’s hand gripping her arm as Adrian was dragged away by security, looped endlessly on eve
Chapter Fourteen Zariah’s POVThe ballroom was a cage.Crystal chandeliers glittered overhead, polished marble shone beneath her heels, and the air reeked of money, old money, suspicious money, hungry money. Investors crowded the space, their smiles sharp, their laughter hollow. Every handshake ca
Chapter Thirteen Zariah’s POVMorning sunlight usually calmed her. But not today.Zariah stood in front of her mirror, silk robe draped over her shoulders, watching her reflection as though it belonged to someone else. The woman in the glass looked flawless, makeup immaculate, hair perfectly smoot
Chapter Eleven Zariah’s POVBy mid-afternoon, Zariah was buried under contracts and crisis calls. Her office, perched on the forty-third floor of the Ambrose Tower, gleamed with steel and glass, but inside her, the edges were fraying.Every investor wanted reassurance. Every board member wanted a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.