Mag-log inSelene Wade, a girl who was arranged to marry into the Black family to the young CEO who doesn't love or acknowledge her. After a night of steamy drunken love with her husband, his childhood bestfriend and his relatives try to get rid of her as she was close to the matriarch and not someone they could manipulate, unlike Emma. She comes back years later with a son and Alexander Black finally takes notice to her. "I'm nolonger the girl I was Alex, Sebastien may be your son but I am not your woman."
view more“Tolong pelan, Tuan….”
Pekikan itu terdengar lirih di dalam kamar hotel mewah yang pengap oleh hawa tubuh dan aroma parfum mahal. Suara Aya nyaris tenggelam oleh deru napas berat pria di atasnya. Ayana Cantika, gadis dua puluh dua tahun, dengan tubuh yang belum pernah benar-benar mengenal sentuhan seperti ini, terkungkung di bawah seorang pria tampan bertubuh kekar. Pinggul pria itu terus bergerak tanpa jeda, membuat Aya terpaksa mengikuti irama yang tak pernah ia inginkan. “Ahh…,” racau sang pria, suaranya berat dan serak. Dua tangan kekar menggenggam pinggul ramping Aya, menahannya agar tak menghindar. Desahan mereka bersahutan, namun hanya satu yang dipenuhi gairah. Pria itu memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang ia nikmati sendiri. Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Rasa malu sudah lama luruh digantikan oleh erangan, desahan, dan napas yang saling bertabrakan tanpa makna. “Ahh… Tuan, tolong pelan sedikit…,” pinta Aya lagi, kali ini sambil menggenggam tangan pria itu. Jarinya bergetar, berusaha menahan agar tempo itu melambat. Namun rasa perih tetap menjalar. Napasnya tersengal. Genggaman Aya akhirnya terlepas, tubuhnya menegang, sementara jari-jarinya mencengkram seprai putih seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak benar-benar tenggelam. Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya. Ingatan Aya melayang pada beberapa jam yang lalu, di lorong rumah sakit yang dingin. “Mbak Aya,” suara dokter paruh baya itu terdengar serius namun tetap lembut. “Kami sudah melihat hasil pemeriksaan Ibu Ningsih.” Aya meremas kedua tangannya. “Bagaimana, Dok?” Dokter itu menghela napas panjang. “Ibu Ningsih harus segera dioperasi. Kanker payudaranya sudah sampai tahap yang tidak bisa ditunda.” Dunia Aya seolah berhenti berputar. Suara langkah kaki dan percakapan orang-orang menjauh dari pendengarannya. Yang tersisa hanya satu kalimat itu. “Apakah… bisa menggunakan kartu yang biasanya?” tanyanya lirih. “Maaf, Mbak. Kartu itu hanya menanggung perawatan. Untuk biaya operasi, Mbak harus membayarnya sendiri.” “Tapi uang saya nggak cukup, Dok…,” gumam Aya. Ia tahu persis angka yang disebutkan. Tabungannya bahkan tak mencapai setengahnya. Dokter itu mengangguk, seolah sudah menduga. “Kami masih bisa memberi waktu sampai besok lusa untuk menyelesaikan administrasi.” “Besok lusa…,” Aya menunduk, dadanya nyeri. “Kalau saya belum dapat uangnya, Ibu saya bagaimana?” “Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk.” Aya menggigit bibir. Tubuhnya gemetar. Dunia seakan menekannya dari segala arah. Namun ia tetap mengangguk kecil. “Baik, Dok. Saya akan berusaha.” Dan dokter itu pergi, meninggalkan Aya sendirian di lorong yang mulai gelap. Kini, Aya kembali ke kenyataan. Berbaring pasrah di bawah pria kaya yang menjanjikan uang, bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak ada pilihan lain. “Tuan…,” ucapnya pelan, mengikuti dorongan tubuh pria itu. “Berjanjilah… uang itu akan Tuan berikan.” Gerakan pria itu terhenti sejenak. Ia menatap wajah Aya yang tampak wajah cantik dan basah oleh air mata, lalu menyeringai. “Selama aku puas,” ujarnya santai, “uang itu akan menjadi milikmu.” Jemari panasnya mengusap pipi Aya, menghapus air mata yang tak ia pedulikan maknanya. Aya memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sisi ranjang. Di sana, kartu ATM pria itu tergeletak, janji yang menjadi satu-satunya harapannya. Aya menelan ludahnya. Lalu menatap pria itu lagi, menelan penghinaan dalam diam. “Tuan…,” suaranya bergetar. “Ta–tapi, tolong jangan keluar di dalam, saya tidak mau hamil….” Pria itu mendengus dingin. “Kamu tidak akan hamil. Aku juga tidak sudi anakku dilahirkan oleh wanita malam sepertimu.” Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari sentuhan mana pun. Suasana hening sejenak. “Kalau begitu… lakukan saja apa yang Tuan mau,” ucap Aya akhirnya. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia melingkarkan tangan ke bahu lebar itu, menariknya mendekat. Pria itu menyeringai. “Kuakui keberanianmu.” Ia menatap wajah Aya sedikit lebih lama dari sebelumnya, memperhatikan mata bening itu, bulu mata lentik yang bergetar, bibir tipis yang terkatup gugup. Ada sesuatu yang terusik. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat sikapnya bergeser. “Tu—Tuan… bukankah tidak ada ciuman?” Aya berusaha menghentikan saat wajah itu mendekat. “Bukankah kamu bilang aku bisa melakukan apa pun?” balas pria itu, masih terdengar dingin, tapi kini ada tekanan lain di baliknya. Aya terdiam. Ia sendiri yang membuka pintu itu. Tanpa menunggu lagi, pria itu menutup jarak dan menempelkan bibirnya. Reaksinya lebih keras dari yang ia perkirakan. “Mmh…,” lenguhan kaget lolos begitu saja. Ciuman pertamanya hilang pada pelanggan pertamanya. Saat Aya mencoba mendorong dadanya, tekanan justru semakin kuat. Hingga akhirnya, ciuman dilepas. Tatapan pria itu berubah, tidak lagi sepenuhnya dingin. Seperti ada sesuatu yang mengusik sisi lain dari dirinya. Senyum tipis pria itu kembali, tapi kali ini lebih gelap, lebih yakin. Akhirnya, ia berkata, “Puaskan aku. Jika gagal, kamu tak dapat apa-apa.” Aya menelan ludah. “Baik….” Bibir mereka kembali bertaut. Kali ini, pria itu membimbing dengan pagutan panasnya. Aya masih kaku, namun perlahan mengikuti. Pelukannya menguat tanpa sadar saat tubuhnya diangkat sedikit. “Hm!” pekiknya tertahan. Gerakan pria itu kembali dimulai perlahan, selaras dengan ciuman, lalu semakin cepat. “Ahh… Tuan…,” desah Aya saat ciuman terlepas. Pria itu tiba-tiba berhenti. Wajahnya menggelap. “Sial….” Aya menatapnya takut. “T-Tuan…?” Tak ada jawaban. Pinggul Aya diangkat lebih tinggi, dan gerakan berikutnya membuat tubuhnya tersentak kaget. Setelah itu, tak ada lagi kata-kata. Hanya gerakan cepat, napas berat, dan kendali yang sepenuhnya berpindah tangan. Aya mendesah tanpa sadar. Di bawah langit malam tanpa bintang, ia menyerahkan segalanya, kehormatan, air mata, dan dirinya sendiri, demi satu nyawa yang ia cintai. * Pagi itu Aya terbangun lebih dulu. Gadis itu dengan cepat namun hati-hati, memakai kembali pakaiannya dan membawa kartu ATM yang ada di atas meja. Dengan mengendap perlahan, dia akhirnya berhasil keluar dari kamar mewah tersebut. "Bu, tunggu aku...." gumamnya penuh kelegaan. Uang yang dia butuhkan sudah ada di tangan. Rumah sakit itu tidak jauh dari hotel dan kelab malam, tapi bagi Aya, setiap langkah terasa berat meski dia sudah membawa uang sebagai harapan. Aya segera tiba di lobi dengan napas terengah, rambut berantakan, mata bengkak, dan pakaian lusuh. Beberapa orang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Dia berlari menuju ruangan dokter untuk membicarakan operasi sang ibu. "Dokter!" serunya begitu melihat dokter yang merawat ibunya. "Dokter! Saya sudah dapat uangnya! Tolong segera operasi ibu saya!" Dokter itu menatap Aya dengan sorot mata yang tidak pernah Aya lihat sebelumnya. Membuat Aya mengerutkan kening. "Dok? Dokter kenapa diam? Cepat! Tolong selamatkan Ibu saya!" desak Aya. "Mbak Aya...." Dokter itu mencoba menenangkan. "Dokter! Tolong selamatkan Ibu saya! Sekarang sudah bisa operasi kan? Saya sudah dapat uangnya." Dokter itu menyentuh kedua bahu Aya dengan lembut. "Mbak Aya... yang sabar, ya?" Aya terdiam. Dia tak suka kalimat ini. Dokter itu menarik napas panjang. "Semalam kami sudah menelpon Mbak berkali-kali. Tapi Mbak tidak mengangkatnya." Aya membeku. Ketakutan. "Bu Ningsih...." Dokter itu menunduk. "Bu Ningsih tidak berhasil bertahan. Beliau sudah meninggal semalam, Mbak." ***I’ve recently put the nurturing skills I developed during my rigorous training as "the Mother" to good use and opened a small bakery. It’s a cozy little shop nestled in the heart of the village, and though it doesn’t make me rich, it provides enough income to cover basic expenses like rent and utilities. It’s honest, fulfilling work that keeps me grounded—a sharp contrast to the life I left behind.Yes, I still have access to the money I’ve saved over the years, as well as the dividends from countless investments I’ve carefully curated. But for the sake of appearances, I live modestly. I’m playing a long game here, and as a single mother raising two young children, it’s important that the villagers continue to see me as one of their own—a hardworking woman doing her best to provide for her family. If they knew the truth about who I am and the life I used to lead, their perception of me would shift drastically, and that’s not something I can afford right now.My shop has been doing wel
My life has been pretty quiet since we left. It's been two years now since I left home. Two long years filled with moments that were both liberating and exhausting. From living with Azee and her sheikh to the unfortunately extravagant banquets I had to endure with Cassie, I’ve finally found some semblance of peace.Now, I’m settled in a small village tucked away from the chaos of my past. At first, it was awkward—this place truly lives up to the "small village" stereotype, where everyone knows everyone. My arrival was the gossip of the town for over a month. It wasn’t just that I was new; it was also because I’m a single mother with two adorable, yet lively, children.Sebastian and Scarlett are growing up so fast, and I’m proud of them. Even though I’ve made mistakes along the way, I see their little smiles and know I’m doing something right. Sebastian has always been the calm one, even as a baby. Scarlett, on the other hand, is more of a firecracker—full of energy and quick to throw
We’ve just returned from our mission, and being away from my children, even for just a week, was an experience I never want to repeat. As I walked through the door, relief washed over me at the sight of my beautiful children, both in good health. Ife had taken great care of them, and I heard that Mother had also been helping out. However, I couldn’t ignore the disapproving looks from my mother’s sisters. It was clear they weren’t pleased with the special treatment Sebastian was receiving. The atmosphere felt tense, and I sensed that a final decision about his future was looming. My training to become the next Mother had been rigorous, but I felt like a different person now. I had been taught never to depend on a man; we women are meant to be strong and to look out for ourselves and each other. The success of our society—thriving under the weight of patriarchy for over a millennium—proves that we can achieve so much. Men are only useful to us as breeders, necessary for our survival,
After six months of sleepless nights and the chaotic joy of motherhood, I was finally regaining my strength. The twins, Sebastian and , were healthy and thriving, and the bond between us was deepening with each passing day. Still, my mind often drifted to my training, the whispers of the council about my potential, and the ever-looming uncertainty surrounding Sebastian’s future. My mother had been relentless in her requests for visits. She believed it was her duty to mold me into the woman she wanted me to be, and she seemed particularly insistent on impressing upon me the importance of maintaining family ties. But with each visit, the weight of her expectations felt heavier, clashing with the new life I was trying to build for myself and my children. Rose had been my lifeline during this tumultuous time. She was a steadfast friend and a seasoned operative, skilled in both the arts of combat and stealth. With the twins often nestled in her arms or cooing in their crib, she somehow
Just as I walked into the living room, I found grandma having tea. "Oh, Alex. What do I owe to the visit?" She asked. I've sat down opposite her and just stare at her as I try to calm my beating heart. Now that I think about it, it was strange how close the two seemed but as I look at her she doesn
The next morning, Rose and I went for a walk with her pets. The sun was just rising, casting a warm golden light over the landscape, and the air was fresh with the scent of dew and blooming flowers. Walking with her is calming. There's something about the way she moves, alert and attentive, always a
I wake up to an empty room, something I'm used to but as I look next to me, I realize Alex never came back last night and it pains me. Eventhough I'm used to it, I thought we were past it. I get ready for the day, just as I was going down the stairs my phone rings. I see it's Carlos, It has been a
I finally had the chance to sift through the mountain of documents that my father and uncles had left behind during the months I spent in the hospital. The chaos they’d created was overwhelming, and the burden of it all was starting to wear on me. Being left alone, without anyone of considerable inf






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.