Masuk" SLEEP WITH ME..." Those words rang in her ear and her eyes widened immediately. This is what she was avoiding. She quickly removed her hand from his grip " Am sorry sir but am not here for that, I only came to dance for you but... since you don't want that I'll take my leave now" she turned to go but he lifted her off the floor like she was a feather Emily Wilson forced to look for a way to save her mother had no choice but to become a dancer at a nightclub. But what happens when she gets offered the exact amount needed for her mum's surgery for a one night stand.
Lihat lebih banyakMahyadin dengan tegang dan penasaran yang tinggi menatap kakek di depannya ini, pria tinggi tegap dengan body kokoh ini mulai mendengarkan Kakek Zainul bercerita…!
Pet Jan Terling adalah seorang perwira Belanda yang ditugaskan untuk melawan kaum pribumi yang memberontak. Pet Jan Terling yang berpangkat Kapten ini mengepalai 500 lebih pasukan Belanda.
Mereka sampai masuk ke pelosok-pelosok untuk mengejar perlawanan kaum pribumi yang menolak pendudukan Belanda saat itu.
Pet Jan Terling berubah total saat bentrok dengan perlawanan gigih kaum pejuang, dan bersama pasukannya dia terdesak dan sudah banyak anggota pasukan Pet Jan Terling yang terbunuh oleh senjata kaum pejuang.
Pet Jan Terling sendiri sudah menderita luka-luka ditubuhnya, sudah banyak pasukan Peter yang kabur meninggalkan pertempuran.
Agaknya dalam waktu yang tak terlalu lama lagi sisa pasukan Pet Jan Terling akan habis di bunuh para pejuang yang terus merangsek maju tanpa takut mati.
Akhirnya pasukan sisa yang bertahan terbunuh, ada sekitar 80 orang yang tewas, sisanya melarikan diri dan tertinggallah Pet Jan Terling yang terluka parah dan saat akan di tombak pasukan pejuang, ada seorang pejuang tua yang sangat di hormati, yakni Ki Janos, yang meminta agar Pet Jan Terling jangan di bunuh, tapi di tahan sebagai tawanan.
Pet Jan Terling di kurung di sebuah rumah di hutan dan dia diperlakukan dengan baik, luka-lukanya juga di rawat.
Yang membuat Pet Jan Terling melongo, Ki Janos yang memberikan perawatan dengan cara yang tak biasa, yakni mengusap-ngusap luka bekas tembakan dibadannya.
Badannya yang terkena peluru mengering dan lama kemudian malah sembuh. Ini sulit diterima akal sehatnya, yakni ada pengobatan yang baginya mirip sihir.
Setelah seminggu di tahanan dan menerima perlakuan baik dari para pejuang, penjagaan juga dikurangi, sehingga Pet Jan Terling bisa melihat bagaimana para pejuang yang makan seadanya dan terlihat akrab dan juga sangat setia satu dengan yang lain.
Pet Jan Terling yang sudah lama tinggal di Kalimantan karena bertugas, juga paham Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa daerah, sehingga dia mengerti apa yang diomongkan semua pejuang ini. Intinya dia mulai mengerti, negerinya adalah penjajah dan para pejuang ini bukanlah pemberontak, mereka hanya ingin merdeka dan tak mau di belengu Belanda lagi.
Simpati Pet Jan Terling mulai timbul dan dia malah menyesali ada pribumi yang berkhianat dengan perjuangan mereka.
Pet Jan Terling ternyata memiliki istri dari kalangan pribumi di Banjarmasin, yang mulai dia sadari berperilaku tak baik, karena justru membela negara asal Pet Jan Terling, bukan membela negeri sendiri.
Salitin, wanita pribumi itu janda punya anak satu bernama Tungga yang sudah beranjak remaja, pernikahan sebelumnya dengan suami pertamanya, Pet Jan Terling sendiri saat ini berumur hampir 40 tahun.
Tungga ternyata ikut para pejuang dan tentu saja dia jarang menjenguk ibunya yang dianggapnya berkhianat kepada bangsa sendiri.
Setelah 3 bulan di tawan, kini Pet Jan Terling bukan lagi dianggap tawanan, tapi dia dianggap biasa saja.
Para pejuang pun tak lagi menyebut nama lengkap Pet Jan Terling, tapi mereka hanya memanggil Peter saja, Peter pun bisa bebas berkeliaran di sarang para pejuang di tengah hutan lebat Kalimantan ini.
Yang makin membuat Peter kecewa, pasukan Belanda tak pernah ada niat mencarinya, dia sudah dianggap gugur alias tewas di tangan pejuang, itu dia dengar dari pasukan pejuang yang sering turun ke desa dan kota memantau perkembangan dengan cara menyamar.
Peter diam-diam juga sering berdiskusi dengan Ki Janos tentang perjuangan mereka melawan pasukan Belanda, simpati yang timbul karena melihat aslinya para pejuang ini baik-baik dan ramah.
Lama-lama Peter mulai menyadari negerinya lah yang salah dan selama ini mencaplok negeri indah ini.
Saat akan menyerbu benteng pasukan Belanda dan berencana merampas senjata-senjata di benteng itu, tanpa disangka-sangka semua pejuang, Peter menawarkan diri ikut melawan pasukan negerinya sendiri.
Ki Janos lalu menyakinkan para pejuang, kalau niat Peter ini tulus dan dia sudah sadar kalau negerinya salah menjajah Indonesia.
Peter dan pemimpin pejuang lalu menyusun rencana, yakni para pejuang akan melepaskan Peter ke pasukan Belanda, lalu para pejuang akan menyerbu secara tiba-tiba, setelah Peter yang nantinya masuk ke benteng pasukan Belanda akan membokong dari belakang.
Semua setuju dengan rencana ini…!
Peter diserahkan dua pejuang ke pasukan Belanda yang tak sadar kalau mantan komandan ini diam-diam telah berkhianat dan memihak kaum pejuang.
Selama dua hari Peter di interogasi komandan nya Mayor Van Cook di benteng itu, dia ditanya macam-macam, terutama di mana sarang para pejuang itu.
Peter pun sengaja menyebut daerah-daerah para pejuang bersembunyi, Mayor Van Cook senang sekali dan dia memerintahkan 5 anak buahnya segera ke Kadipaten (kini Kabupaten) minta tambahan pasukan, karena Mayor Van Cook akan membasmi habis para pejuang itu yang dia sebut kaum ekstremis alias pemberontak.
“Jadi jumlah pasukan ekstremis itu hanya sekitar 300 orang…hemmm…cukup tambah 250 pasukan, habis para pemberontak itu!” kata Mayor Van Cook tertawa, ketika melihat wajah Kapten Pet Jan Terling alias Peter mengangguk.
Di benteng ini sendiri ada sekitar 350 orang pasukan Belanda asli, ditambah 200 orang pasukan pribumi yang disebut dengan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau KNIL, pasukan yang diambil dari warga pribumi.
Sesuai rencana, Peter akan memberi tanda para pejuang yakni tengah malam saat para serdadu ini istirahat. Peter akan membakar gudang makanan dan saat itulah tanda agar para pejuang datang menyerbu.
Target awal adalah 3 hari…tapi sampai hari ke 5 belum juga ada tanda dari Peter, pasukan pejuang mulai gelisah dan menganggap Peter berbohong dan hanya siasat saja untuk kembali ke pasukannya.
Ki Janos tetap sabar dan minta para pejuang tidak gegabah dan harus percaya dengan Peter. Untung komandan pasukan yakni Farhan juga sabar, pria gagah perkasa yang di dapuk pemimpin para pejuang dengan pangkat Letnan ini sama dengan Ki Janos, yakni percaya dengan Peter.
Ki Janos sendiri sudah di anggap sebagai penasehat pasukan. Ki Janos sangat di segani karena memiliki ilmu-ilmu kanuragan yang sangat hebat, Ki Janos bahkan dikatakan bisa menghilang dan kebal senjata.
Hari ke enam, Ki Janos yang mempunyai batin kuat, ternyata berkomunikasi secara batin dengan Peter, Peter memberitahu malam ini pasukan pejuang diminta bersiap.
Tepat jam 12 malam, tiba-tiba benteng terlihat heboh, karena ada kebakaran di gudang yang berisi makanan. Saat pasukan terbangun dan sibuk memadamkan kebakaran itu, menyerbulah 300 an pasukan pejuang.
Suasana kacau balau, para pejuang yang rata-rata nekad ini menyerbu dengan ganas, semua pasukan Belanda yang belum siap benar-benar kocar-kacir, Mayor Van Cook bukan main marahnya mendapati pasukannya di serbu para pejuang.
Dengan senjata di tangannya, dia menembaki pejuang-pejuang yang mencoba mendekatinya, sudah ada dua pejuang yang tewas kena tembakannya.
Tapi tembakannya terhenti, saat sebuah peluru menembus dadanya dan dia makin mendelik dan kaget bukan main, karena yang menembaknya adalah Kapten Pet Jan Terling.
Letnan Farhan yang menyaksikan itu kini yakin, kalau Peter memang sudah menjadi bagian dari kaum pejuang.
Tewasnya Mayor Van Cook membuat pasukan Belanda kabur menyelamatkan diri, Letnan Farhan memerintahkan pasukannya jangan mengejar pasukan Belanda yang kabur, tapi fokus untuk mengambil senjata-senjata di Gudang amunisi.
Peter yang jadi petunjuknya ikut bersusah-payah angkut senjata-senjata milik pasukan Belanda.
Tak sampai 3 jam, pasukan Letnan Farhan langsung kabur dari benteng itu, 95 pasukan Belanda tewas, sisanya kabur menyelamatkan diri.
Pasukan pejuang yang tewas hanya 5 orang dan diangkat ramai-ramai kaum pejuang, ada sekitar 45 pejuang yang di tawan di benteng itu, semuanya di bebaskan pejuang dan diminta ikut bawa senjata yang baru di rampas, terutama yang badannya masih sehat dan kuat, sedangkan yang sakit dipapah tawanan pejuang yang masih sehat.
Penyerbuan yang menggegerkan itu terutama kabar pembelotan Peter sampai ke telingga Gubernur Jenderal Belanda di Banjarmasin, luar biasa murkanya sang Gubernur ini, dia sampai meminta 2.500 tambahan pasukan untuk membasmi komplotan Letnan Farhan yang kini di bantu Kapten Pet Jan Terling yang berkhianat.
Kapten Peter kini diminta Letnan Farhan melatih para pejuang menggunakan senjata api dan membidik dengan benar.
Di satu sisi, Peter juga mulai menyukai seorang gadis pribumi yang sering bertugas di dapur umum. Dia tak tahu, kalau salah satu tawanan pejuang yang dibebaskan dari benteng itu adalah anak tirinya, yang bernama Tungga.
Tungga kaget juga, suami ibunya ini malah ikut bergabung dengan pejuang, dia menjadi simpati dengan Peter dan blakan-blakan Tungga mengaku anak sambungnya dan ibunya Salitin, Peter pun juga tak menyangka bertemu Tungga, dan akhirnya ia malah sangat akrab dengan Tungga.
Secara diam-diam Tungga mengatakan ke Peter ada sebuah peta harta karun di benteng itu, yang diketahuinya saat dia jadi tawanan.
“Selain kamu, siapa lagi yang tahu soal peta itu!” tanya Peter ke Tungga,
“Bino dan Jabir…yang lain tak tahu!” sahut Tungga. Peter kemudian meminta Tungga memanggil Bino dan Jabir, akhirnya mereka berempat berunding bagaimana caranya kembali ke benteng itu.
“Saat ini pasti benteng itu jaga super ketat oleh pasukan Belanda, apalagi kamu sudah nyata-nyata berkhianat, kalau kita ke sana akan jadi masalah besar!” kata Tungga.
Peter, Bino dan Jabir manggut-manggut, mereka kini sama-sama terdiam memikirkan bagaimana caranya agar bisa masuk ke benteng itu.
“Kita terus cari akal bagaimana kembali ke benteng itu…sementara kita jangan cerita ke pejuang lain dulu!” kata Peter yang disambut ungkapan setuju Tungga, Bino dan Jabir.
*****
BERSAMBUNG
Emily blinked rapidly before clearing her throat. She glanced around checking in case someone saw them just now. “I should go,” she whispered. “Yeah,” he replied, though he didn’t move. She walked past him, but just before she reached the door, she turned back. “see you tonight " she said, Then slipped out, leaving him with the smallest smile tugging at his lips. ********** Unknown Location Alex eyes narrowed as she stared at the strange but familiar lady in the picture. Her hair was blue, with thick makeup and slutty dress but one thing caught her attention...those eyes, she can never forget them even in a thousand years to come. " Emily??" " Is this really the Emily that I know" she asked staring at Trevor with wide eyes. He nodded " You know her as Emily but I knew her as grey eyes..." " Tell me everything you know Trevor and I mean everything" Alex demanded angrily. If she could prove Emily was a slut then maybe just maybe Ryan would turn his back on Emily and b
Lily smiled as she nibbled on her breakfast, her mind replaying the events of last night like her favorite scene in a romance movie. She could still feel the heat of his kisses, the way his touch lingered warmly on her skin. A soft giggle escaped her lips. "What's so funny, Aunt Lily?" Zander asked, his curious gray eyes fixed on her. "Huh?" Lily blinked, snapping out of her daydream. "You've been smiling non-stop. Are Grandma's pancakes that good?" "Well, I... of course!" she said, laughing nervously. "The food is too delicious. That's why I’m smiling." Just then, footsteps echoed down the stairs. "Good morning. I'm off to work," Emily said, pecking the twins on their cheeks before heading for the door. "Emily, wait!" Lily called, jumping up and hurrying after her. Emily turned at the door, raising a brow. "What is it?" Lily smirked as she leaned in. "Are you really that excited about going to work? Or…" she dropped her voice to a whisper, "…to see your boyfriend?" "Stop it
Chapter 58Emily glanced at the two men glaring at each other, her hands were already hurting from their tight grip. "Let go of me, it hurts!" she exclaimed, and they released her immediately."Are you okay?" they asked in unison, which only annoyed Ryan further. "Why do you care if she's hurt?" he snapped at Landon. "She's been my best friend for two decades, of course I care!" He answered and the two resumed their glaring contest.Emily intervened, stepping between them. "Alright, that's enough. Cut it out." She turned to Ryan. "Why are you here?"Ryan furrowed his brows. "Is that even important right now?" His gaze flicked back to Landon. "I just saw someone asking my girlfriend out."Landon chuckled, which infuriated him. "What's so funny?" "You keep repeating she's your girlfriend like you're trying to convince yourself. If you're not even sure about yourself, then maybe you shouldn't be together." Ryan's anger boiled over. He snarled, grabbing Landon by the collar. Emily gasp
Episode 57 Taste and TableLily skipped into the restaurant with a smile on her face. Her bright hazel eyes shone brightly and filled enthusiasm. As she entered the kitchen, the employees couldn't help but turn their heads, drawn in by her infectious energy."Wow, Lily, you're beaming today!" Maria exclaimed, wiping her flour-dusted hands on her apron.Tom looked up from the stove and smiled. "That smile of yours could light up the whole kitchen. What's got you so happy?" Lily rolled her eyes Playfully, " oh please guys. I always smile like this..." she said. "Really? You look like you just won the lottery" maria added but she just smiled and shook her head. "Oh, it's nothing," she said, trying to brush it off. " Where's Landon?"" He's in his office" Tom answered and she nodded before taking her leave.Lily knocked twice but got no response, so she opened the door and found Landon sitting at his desk, staring intently at something in his hand. He seemed completely absorbe
Episode 36Emily stood up immediately dusting her skirt she looked away embarrassed. Ryan smiled and stood up too" you won, I guess you really want to stay away from me"
Episode 29 *Sleep with me, I'll compensate you well* *Here, this is three million dollars... have it* *Are you crazy! How dare you use money to trade for my body! I'll never sleep with you* * Let go ! Let go of me!* Emily kept screaming as she rolled on the bed. Her body was soaked with sw
Episode 31 " What!...dear...what are you saying huh, you didn't even discuss this matter with me" Mrs maria asked glancing at Ryan nervously " It's not something to discuss. He and Alex have known each other for many years since childhood and...both families are close so, Alex is the perfect pers
Episode 22*Thompson industries 🏢 "What?... he's not here?" Alex asked in disbelief. " Am sorry miss Alex but boss didn't come to work today" tlyer replied and left. " That's odd, why isn't he here...is he at home then" she wondered then picked her phone to call him." Come on answer" she mut


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan