LOGINPeople always say that every woman pales in comparison when a man's first love comes begging to reconcile.Noelle Xanthos suffers a huge defeat—she marries Quentin Lowe with a heart full of love, but all she gets in return is a heart that's ripped to shreds.Three years later, she's Collinview City's most renowned specialist in blood diseases, and she's got a pretty face to boot.She has different men in her life—one's a handsome older gentleman who's caring and considerate, while the other's an arrogant, wild younger man who's determined to win her heart.Life is good.During a lively party, Dragfort City's most eligible bachelor—also known as Quentin—pins her to a deserted corner. His eyes are red as he says, "Have you had enough fun? If you have, it's time to come home with me!"
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG"Sorry, but if I ever get married, it definitely won't be to either of you."Noelle had originally come to visit Christian, but now she didn't feel like staying anymore. She was beyond frustrated.Christian's sharp, dangerous eyes narrowed in an instant, brimming with hostility as he locked his gaze on Noelle. Quentin's handsome face darkened as well, his mood turning stormy.Noelle spun around and walked out."We'll see about that," Quentin muttered, getting up to leave as well.As he passed by the clinic where Noelle worked, he cast a glance in that direction before heading out.Near the end of the workday, Russ called. "Ms. Xanthos, Mr. Xanthos has arranged for you to meet a boxing champion. Are you free now? I can take you to meet him."Noelle couldn't help but feel a mix of amusement and bitterness. She had lived 24 years, and only now did he care about whether she had any self-defense skills. Isn't it a little late for that?Still, she went.After one session, she was dr
Noelle quietly closed the door behind her. Leonard glanced over, saw it was her, and put away his phone. "He just fell asleep. Ms. Xanthos, you should head home and rest. I'll keep watch tonight," he said softly.Noelle shook her head. "He took the knife for me. How could I go home? I wouldn't be able to sleep anyway. I'd rather stay here and keep an eye on him."She sat down on the couch, her gaze heavy with concern as she looked at Christian sleeping.Leonard nodded. "Alright, you stay here. I'll step out for a bit," he said before leaving the room.Noelle nodded.Christian's phone, sitting on the nightstand, pinged with a WhatsApp notification.Noelle walked over, picked up the phone, and saw a message from someone with the nickname "The Blomming Fifties.""What a flashy name," she thought with a faint smirk.But for some reason, curiosity tugged at her—she suddenly felt a strong urge to peek into Christian's private world as if she might uncover something hidden beneath t
Noelle remained silent.In Dragfort, ever since Quentin had learned early that morning about Christian taking a knife for Noelle, he had locked himself in his office. It had been three hours now.The morning executive meeting was canceled, and his client appointments were rescheduled. Senior staff members who needed his signature on documents stood hesitating at the door, feeling the oppressive atmosphere even from outside the office.Department heads waiting to give their reports also lingered at the door, too intimidated to enter.In the end, they all turned their pleading eyes toward Martin.But even Martin was hesitant to go in.After all, he had witnessed the weight of Quentin's emotions—shock, frustration, and a deep sense of defeat—that had cast a heavy, oppressive mood over the office.Martin made a call to Dennis, knowing only he could possibly get through to Quentin now."Mr. Jackman, you need to come over," Martin said quietly, making sure to step into a quieter co
Even though Christian was in obvious pain, he forced himself not to make a sound.Such a stubborn fool.The door knocked twice, and Leonard walked in. Seeing Noelle, he greeted her, "Ms. Xanthos."Noelle's eyes were red, but she didn't respond.Christian opened his eyes slightly and said, "Don't tell anyone I'm injured."Leonard nodded."Tell them I'm on a business trip," Christian added.Leonard raised an eyebrow, "Bro, with a wound like that, how long do you think this 'trip' will last before people catch on?"Christian shot him a cold glare, and Leonard quickly relented, "Okay, okay, I get it. I'll handle it."Christian closed his eyes again, waves of pain crashing over him like a relentless tide.Suddenly, he opened his eyes once more. "Silly girl."Noelle paused, her tear-filled eyes looking at him.A smile tugged at the corner of Christian's mouth. "Get out for a bit. You look terrible."Noelle's lips twitched as her damp lashes fluttered, and a surge of unexplainabl
After finishing his cigarette, the new lock arrived.One of the property managers took it upstairs.In his car, Quentin's lips curled into a satisfied smile.The two property managers knocked on Noelle's door, and after checking through the peephole to confirm their identity, she opened the door.They q
"Sarah!" Noelle quickly walked over to her.The two embraced."Elle, are you okay? You scared me to death! I was so worried!" Sarah said, tears in her voice."I'm fine. Did you get hurt anywhere?" Noelle asked.Sarah shook her head. "No, I'm not hurt.""Good, as long as you're not injured," Noelle reassu
Emmie was at a loss for words.Michael said, "Your daughter's leaving for the Utopia States soon. You should take this time to spend with her."Emmie's breath hitched. "Elle agreed?"Michael nodded. "Yes."It was the best way for Noelle to get away from those two men and focus on her own growth.After a
As soon as they stepped out of the room, Emmie pulled her hand away. "She's been with you for ten years. Doesn't Mr. Xanthos feel the slightest bit of pity?"Michael felt a sharp pang as if her words had cut right through him."Why would I pity her? I never loved her, and she brought this on herself,"






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore