共有

123. Setelah Berpisah

作者: DF Handayani
last update 公開日: 2026-05-06 15:30:37

Enam Tahun Kemudian.

Hujan turun tipis di kota kecil Albinen, air membasahi jalanan berbatu yang dipagari deretan maple tua. Sunrise berdiri di depan etalase toko roti miliknya, sebuah bangunan sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan D'Amore Bakehouse.

Lampu kuning hangat di dalam memantul di kaca, menenangkan. Di balik ketenangan itu, hidupnya berjalan pelan, rapi, dan sunyi. Seperti yang ia inginkan.

Ia mengancingkan mantel, menoleh ke jam dinding. Hampir pukul delapan. Saatnya menutup t
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • The CEO'S Forbidden Bride    123. Setelah Berpisah

    Enam Tahun Kemudian.Hujan turun tipis di kota kecil Albinen, air membasahi jalanan berbatu yang dipagari deretan maple tua. Sunrise berdiri di depan etalase toko roti miliknya, sebuah bangunan sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan D'Amore Bakehouse.Lampu kuning hangat di dalam memantul di kaca, menenangkan. Di balik ketenangan itu, hidupnya berjalan pelan, rapi, dan sunyi. Seperti yang ia inginkan.Ia mengancingkan mantel, menoleh ke jam dinding. Hampir pukul delapan. Saatnya menutup toko. Dari dalam, suara tawa kecil terdengar.“Mom, lihat!” Seorang anak laki-laki berambut hitam legam berlari kecil sambil mengangkat gambar. “Aku menggambar pegunungan. Ada mataharinya, cantik seperti Mommy.”Sunrise tersenyum. “Bagus sekali, Ellion.” Ia berlutut, merapikan kerah jaket anak itu. “Sastnya kita pulang, ya?”Ellion mengangguk. Matanya, mata yang sangat dikenal Sunrise, berkilau polos. Ia tak pernah bertanya tentang ayahnya. Dan Sunrise tak pernah menceritakan. Bagi dunia kecil El

  • The CEO'S Forbidden Bride    122. Akhir Dari Semua

    Lampu-lampu gedung perlahan tergantikan oleh gelap dan siluet pepohonan. Di kursi belakang mobil, Sunrise duduk memeluk dirinya sendiri. Bahunya bergetar, namun tak satu pun isak yang ia lepaskan.Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya, memburamkan pandangan yang menatap kosong ke jendela.Tak ada percakapan. Lucas duduk di depan, rahangnya mengeras. Steve menyetir dengan wajah dingin. Mesin mobil berdengung monoton, seolah ikut menjaga kesunyian yang sengaja diciptakan.Setiap kilometer yang terlewati terasa seperti menjauhkan Sunrise dari satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa pulang.Khairen.Nama itu berputar di kepalanya tanpa henti. Senyumnya. Tatapannya. Suara tenangnya saat berkata akan menepati janji. Dan ia memang menepatinya.Di ballroom CNC yang porak-poranda, Khairen akhirnya berhasil lolos dari kepungan media. Nick menariknya masuk ke lorong belakang dengan pengawalan ketat. Pintu tertutup, suara riuh meredam.Khairen bersandar pada dinding. Napasnya

  • The CEO'S Forbidden Bride    121. Hari Pembalasan Yang Dinanti

    Ballroom utama CNC pagi itu berkilau seperti panggung kemenangan. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, layar raksasa menampilkan visual pegunungan Alpen Timur yang diselimuti salju, dengan garis-garis jaringan yang menyala biru, simbol keberhasilan Mega proyek yang selama ini hanya bisa ditembus oleh CNC.Para tamu memenuhi ruangan. Direksi, komisaris, investor asing, petinggi perusahaan jaringan global, dan tentu saja media. Kamera-kamera sudah siaga, lampu kilat berkedip tanpa henti. Semua menunggu satu momen, yaitu peluncuran resmi proyek Alpen Timur.Di balik layar, Sunrise berdiri tegak. Gaun krem pucat membalut tubuhnya sederhana namun elegan. Wajahnya begitu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai sebesar ini di dadanya. Tablet ia dekap erat, jemarinya mencengkeram sisi perangkat itu seolah di dalamnya tersimpan takdir yang tak boleh jatuh ke tangan siapa pun.Ia sudah datang sejak satu jam lalu. Mengecek alur acara. Memastikan setiap detail sesuai rencana. Tidak bole

  • The CEO'S Forbidden Bride    120. Dua Hati Terluka

    Sunrise terbangun saat langit masih berkabut. Jam di nakas menunjukkan pukul enam pagi. Beberapa hari belakangan, kamar itu sunyi, tidak ada suara langkah kaki Khairen. Tidak ada aroma parfum yang biasanya tercium dari arah walk in closed.Ia duduk perlahan, menatap sisi ranjang yang kosong. Rapi, seolah memang tak pernah ada seseorang yang tidur di sana.Di meja makan, hanya ada dirinya dan keheningan. Pelayan menunduk sopan ketika Sunrise turun.“Beliau sudah berangkat sejak satu jam yang lalu, Nyonya,” ucap pelayan itu hati-hati. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati Nyonya.Sunrise menarik napas panjang, lalu duduk. Ia tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mulutnya terbuka.Sunrise mengangguk pelan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya ada sesuatu yang mengeras di balik sorot matanya.“Mulai besok tak perlu menyiapkan sarapan untukku.” ucap Sunrise setelah menyelesaikan sarapannya.Pelayan menatap Sunrise bingung.Sunrise mengambil tasnya sendiri. Untu

  • The CEO'S Forbidden Bride    119. Jarak

    Keheningan yang tertinggal terasa begitu pekat, seolah udara di dalam ruangan ikut membeku bersama kepedihan yang baru saja terjadi.Sunrise tetap terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang, napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sempit, seakan setiap tarikan napas adalah siksaan. Paru-parunya seperti disayat dari dalam, membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Di luar kamar, langkah Khairen terhenti di ujung koridor yang panjang dan sunyi.Ia bersandar pada dinding, satu tangannya menutup wajah, sementara tangan lainnya mengepal keras di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, napasnya berat. Kata-kata Sunrise terus menghantam kepalanya tanpa ampun, berulang-ulang, tanpa memberi ruang untuk bernapas."Tidak pernah.""Dari awal hanya sandiwara.""Perjanjian kontrak.""Alat tukar."Setiap kata itu seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke dadanya, diputar dengan kejam, lalu dibiarkan tertinggal begitu saja.Khairen menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, matanya m

  • The CEO'S Forbidden Bride    118. Mencintaimu Dengan Kejam

    Khairen segera kembali ke mobilnya begitu meninggalkan area itu. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Mesin menderu saat ia menekan pedal gas tanpa ragu. Jalanan malam terasa lengang, tapi kepalanya justru riuh.Kata-kata Sunrise terus terngiang di benaknya.Hamil… alat tukar… negosiasi…Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat pertama kali mendengar Sunrise hamil. Bahagia. Hangat. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia berani impikan. Seorang anak. Darah daging mereka.Namun rasa itu langsung hancur, tergantikan oleh nyeri yang menyesakkan dada.Sunrise menjadikan anak mereka sebagai alat tawar-menawar.Khairen mengumpat pelan. Rahangnya mengeras. Ia menambah kecepatan, seolah ingin lari dari pikirannya sendiri. Ia ingin percaya bahwa Sunrise terpaksa. Bahwa perempuan itu tidak benar-benar berniat seperti itu.Tapi setiap kali mengingat tatapan Sunrise saat berhadapan dengan Magnus dingin, tegas, tanpa gentar hatinya semakin sakit.Sunrise melangkah meninggalkan Magnus dengan kepala

  • The CEO'S Forbidden Bride    84. Hampir Melanggar Batas

    Sunrise akhirnya terlelap, tubuhnya terlalu lelah untuk terus berjaga. Napasnya perlahan teratur sampai malam menariknya masuk ke tempat yang tidak ingin ia kunjungi lagi.Bau air laut. Suara pintu dibanting. Langkah kaki yang terlalu dekat.“Jangan...”Ia tercekik oleh mimpi. Dadanya

  • The CEO'S Forbidden Bride    83. Malam yang Canggung

    Sunrise bangkit dari ranjangnya, berjalan dan berdiri di dekat jendela, membiarkan cahaya lampu taman menyentuh wajahnya. Malam terasa sunyi, hening perlahan meresap ke dada.Tak ia pungkiri jika kamar ini terasa begitu tenang.Ia berbalik, menatap sekeliling. Setiap sudut terasa ramah, s

  • The CEO'S Forbidden Bride    82. Satu Bukti Perasaan Khairen

    “Mulai malam ini, kau tinggal di mansion sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Khairen dingin. Nada suaranya datar. “Aku tidak ingin berdebat soal ini. Pergilah ke kamarmu!”"Kamarmu?" Kata itu membuat Sunrise tersenyum pahit. Ingin berteriak memberontak. Ingin melemparkan semua kem

  • The CEO'S Forbidden Bride    81. Cinta Terhalang Benci

    Sunrise berdiri di hadapan Khairen dengan bahu tegang. Ia sudah terlalu sering berdiri seperti ini sebagai istri di atas kertas, sebagai perempuan yang selalu menjaga jarak dari suaminya sendiri.“Cukup Khairen!” ucapnya pelan sambil mendorong tubuh Khairen yang begitu dekat dengannya. “Aku t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status