LOGINSunrise White, tak pernah membayangkan akan terlibat dalam pernikahan kontrak dengan CEO-nya karena kesalahan satu malam yang ia buat. Pria yang berhasil ia taklukkan semalam ternyata Khairen Crown, CEO CNC tempatnya bekerja. Pria misterius yang terkenal dingin, sempurna, dan tak pernah tersentuh itu muncul untuk pertama kalinya di hadapan publik. Keduanya setuju melakukan perjanjian kontrak demi tujuan masing-masing. Sunrise mempertahankan posisi dan reputasinya, sedangkan Khairen demi mempertahankan kekuasaan dan pewaris tunggal. Namun, di balik ikatan tanpa cinta itu, keduanya menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya. Sunrise bukan sekadar wanita biasa, dia adalah putri dari musuh bebuyutan keluarga Crown, yang selama ini diyakini telah mati. Ia kembali untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya, menghancurkan Khairen dan seluruh keluarganya. Namun takdir berbalik kejam. Saat Khairen diam-diam melindunginya dari bayang-bayang ancaman, batas antara kebencian dan cinta keduanya mulai kabur. Mereka tahu, perasaan itu terlarang. Tapi semakin mencoba menjauh, semakin dalam mereka terjerat. Tiga tahun kontrak yang dipenuhi rahasia, intrik, dan luka lama. Akankah mereka tetap bertahan hingga akhir? Atau justru saling menghancurkan, dan kehilangan satu sama lain selamanya?
View MoreAngin malam menyelinap lembut melalui celah jendela kabin. Sunrise memejamkan mata, menghirup aroma laut yang asin dan hangat. Pelukan Khairen dari belakang terasa seperti jangkar kokoh, menenangkan, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tak lagi harus berdiri sendiri menghadapi dunia.Malam itu mereka tak terburu tidur. Ellion tertidur lebih dulu, tubuh kecilnya meringkuk di ranjang dengan boneka di pelukan, senyumnya tersisa seolah mimpi pun ikut merayakan kebahagiaan.Sunrise menarik selimutnya perlahan dan mencium dahi anak itu, lalu berdiri di sisi Khairen. Mereka menatap Ellion lama, menyaksikan napasnya yang teratur.“Dia nampak bahagia,” bisik Sunrise.“Itu yang terpenting.” timpal Khairen.Mereka duduk berdampingan di sofa kecil kabin. Keheningan terasa nyaman. Sunrise memutar cincin di jarinya, mengingat perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini.Luka yang pernah mengurung, ketakutan yang pernah menenggelamkan, hingga keberanian kecil yang tumbuh perlahan dan akhirnya cukup
Kabut Albinen perlahan menjadi kenangan ketika pagi itu mereka meninggalkan desa kecil di pegunungan untuk pergi berlibur.Mobil melaju tenang, Ellion duduk di kursi belakang diapit nenek dan tante, matanya tak berhenti menempel ke jendela, menghitung terowongan, menebak gunung mana yang akan mereka lewati.Sunrise duduk di samping Khairen, tangannya terlipat di pangkuan, hatinya terasa ringan dengan cara yang asing, penuh harapan baru yang selama ini ia kubur rapat.Ini bukan perjalanan biasa. Tapi awal dari segalanya.Bandara menjadi dunia baru bagi Ellion. Ia berlari kecil, kagum pada pesawat-pesawat raksasa yang berjejer seperti burung logam. Untuk pertama kalinya, ia menggenggam paspor kecil dengan namanya tercetak rapi. Khairen berjongkok di hadapannya, menyamakan tinggi badan mereka.“Siap terbang jauh, Kapten Ellion?”Ellion mengangguk penuh semangat. “Daddy, nanti kita lihat laut?”Khairen tersenyum, menatap Sunrise sekilas. “Bukan cuma laut. Kita akan melihat dunia.”Venice
Setelah sarapan yang penuh kecanggungan, mereka bersiap meninggalkan rumah. Udara dingin Albinen menyambut dengan aroma kayu basah dan roti hangat dari kejauhan.Sunrise mengancingkan pakaian Ellion, sementara Khairen berdiri di dekat pintu, menunggu dengan kesabaran yang jarang ia perlihatkan pada dunia.“Daddy bantu Mommy di toko, ya?” Ellion berkata polos sambil meraih tangan Khairen.Khairen mengangguk, menatap Sunrise sekilas. “Tentu.”"Ellion, di rumah dengan nenek dan tante ya." Sunrise berpesan."Ellion akan menunggu Daddy dan Mommy pulang." ucapnya antusias. "Byee..." Ia melambaikan tangan.Toko roti itu masih sunyi ketika mereka tiba. Pintu dibuka, lonceng kecil berdenting, dan kehangatan langsung menyergap, aroma mentega, vanila, dan adonan yang baru matang. Sunrise menggantung mantel, lalu mengikat celemeknya. Khairen mengamati sejenak, lalu ikut meraih celemek cadangan tanpa diminta.Sunrise tersenyum kecil saat melihat Khairen yang biasanya memimpin rapat dewan dengan se
Khairen menutup pintu kamar dengan punggungnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sunrise masih berada dalam gendongannya, tubuhnya ringan namun getarnya terasa jelas, seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan diri dan akhirnya berhenti melawan.Ia menurunkannya perlahan ke ranjang. Sprai putih berkerut di bawah tubuh Sunrise, berkilau dengan rambut pirangnya yang tergerai. Khairen tidak langsung menjauh. Ia tetap di sana, satu tangan menopang tubuhnya, yang lain menyentuh pinggang Sunrise, sebuah sentuhan pelan, seolah bertanya sekali lagi apakah ia benar-benar diizinkan.Sunrise menarik napas panjang. Dadanya naik turun, matanya berkabut.“Jika kau pergi setelah ini…” suaranya nyaris tak terdengar, “aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan lagi.”Khairen menunduk, dahinya menyentuh dahi Sunrise. “Aku tidak datang sejauh ini untuk melukaimu lagi.”Ciuman mereka kali ini berbeda. Lebih dalam. Lebih jujur. Tak ada lagi kemarahan, tak ada sindiran. Hanya dua orang dewasa yang akhir
Sunrise bersandar pada pintu kayu, tangannya gemetar saat menutup wajah. Dadanya naik turun, napasnya patah-patah. Ia mengira enam tahun cukup untuk mengubur segalanya, rasa cinta, luka, harapan. Nyatanya, hanya butuh satu kehadiran untuk merobohkan dinding yang ia bangun dengan susah payah.Di lua
“Mulai malam ini, kau tinggal di mansion sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Khairen dingin. Nada suaranya datar. “Aku tidak ingin berdebat soal ini. Pergilah ke kamarmu!”"Kamarmu?" Kata itu membuat Sunrise tersenyum pahit. Ingin berteriak memberontak. Ingin melemparkan semua kem
Mobil Sunrise meluncur membelah pagi dengan keheningan yang menekan. Summer duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. Kartu identitas magang CNC tergantung rapi di lehernya. Sunrise menggenggam setir erat, seolah sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.Gedung CNC menjulang, kaca-kacanya mem
Sunrise masih berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Ucapan Summer terus terngiang di udara.Pandangannya tertuju pada jam dinding. Pendulum terus berputar dengan jarum yang menunjuk angka delapan. Satu jam lagi, ia harus sudah berada di kantor.“Kau tidak boleh pergi,” ucap Sunrise akhirnya. Suaran












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews