LOGINSunrise White, tak pernah membayangkan akan terlibat dalam pernikahan kontrak dengan CEO-nya karena kesalahan satu malam yang ia buat. Pria yang berhasil ia taklukkan semalam ternyata Khairen Crown, CEO CNC tempatnya bekerja. Pria misterius yang terkenal dingin, sempurna, dan tak pernah tersentuh itu muncul untuk pertama kalinya di hadapan publik. Keduanya setuju melakukan perjanjian kontrak demi tujuan masing-masing. Sunrise mempertahankan posisi dan reputasinya, sedangkan Khairen demi mempertahankan kekuasaan dan pewaris tunggal. Namun, di balik ikatan tanpa cinta itu, keduanya menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya. Sunrise bukan sekadar wanita biasa, dia adalah putri dari musuh bebuyutan keluarga Crown, yang selama ini diyakini telah mati. Ia kembali untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya, menghancurkan Khairen dan seluruh keluarganya. Namun takdir berbalik kejam. Saat Khairen diam-diam melindunginya dari bayang-bayang ancaman, batas antara kebencian dan cinta keduanya mulai kabur. Mereka tahu, perasaan itu terlarang. Tapi semakin mencoba menjauh, semakin dalam mereka terjerat. Tiga tahun kontrak yang dipenuhi rahasia, intrik, dan luka lama. Akankah mereka tetap bertahan hingga akhir? Atau justru saling menghancurkan, dan kehilangan satu sama lain selamanya?
View More"Cinta datang tanpa peringatan, dari luka yang tak pernah sembuh dan dari musuh yang tak seharusnya disentuh." (Sunrise White)
--- Crown's Hotel and Suites, Zurich-Switzerland. Hampir tengah malam, pukul 23.35. Swiss telah memasuki musim dingin, udara di luar nyaris membeku. Seorang lelaki berpostur tinggi dan gagah berjalan lelah menyusuri lantai lorong hotel yang sunyi, sambil menahan dingin telapak tangannya di balik coat luxury hitamnya yang dilapisi bulu domba terbaik. Menunjukkan siapa pemiliknya tanpa perlu orang bertanya. Khairen Crown, seorang old money, pewaris tunggal Crown's Company yang artinya pemilik hotel mewah ini. Room 1101, Presidential Suites. Khairen, mengeluarkan Mastercard Privilege dari dalam sakunya. Menempelkannya pada ganggang pintu yang otomatis membuka segel pintu kamar yang jarang dihuni. Ia mendorong pintu dengan sedikit lelah karena jetlag. Perjalanan bisnis yang panjang membuatnya ingin segera merebahkan badan. Namun, tanpa ia sadari. Sejak tadi, ada seorang wanita misterius yang terus mengintainya dari kejauhan, membuntuti dengan langkah hampir tanpa suara. Khairen baru melangkahkan kaki ke dalam kamar, segera wanita misterius tadi berjalan cepat menuju kamar yang masih belum sempat tertutup. Ia mendorong kuat pintu tersebut dengan kakinya. Pintu kamar hotel terbuka dengan kasar, membentur punggung Khairen dengan sangat keras hingga membuatnya terkejut dan hampir tersungkur. Khairen berbalik, menegakkan kembali tubuhnya, ia memicing mencoba mengenali sosok yang telah lancang dan brutal masuk ke dalam kamarnya. Seorang wanita bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu. Sorot matanya dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian yang mendalam, tersembunyi di balik masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Rambut pirangnya yang panjang dikuncir dengan rapi, memperlihatkan garis-garis wajahnya yang tegas. Dia mengenakan pakaian one set hitam yang ketat, menyembunyikan tubuhnya yang proporsional dan sexy. Belum sempat Khairen bicara, wanita itu langsung menyerang Khairen yang berdiri di depannya, tamparan keras menghantam pipi Khairen dengan suara yang nyaring. Menciptakan jiplakan jari merah di wajah tampannya. Rambutnya yang hitam dan tersisir rapi ke belakang pun berantakan, menutupi dahinya yang lebar. "Bajingan!" teriak wanita itu dengan penuh kebencian, suaranya menggema di ruangan hotel yang mewah. Tinjunya membabi buta, menghantam dada dan wajah tampan Khairen tanpa ampun, hingga membuat tubuh tegap Khairen tersungkur ke lantai. "Ini balasan untuk lelaki brengsek yang berani menyentuh dan mempermainkan adikku!" pekiknya yang kemudian menindih dada Khairen dengan lututnya. Khairen terkejut, tapi tidak melawan. Dia hanya menatap sang wanita dengan sorot mata tajamnya yang tenang, tanpa ekspresi di wajah tegasnya. Namun, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya, sesuatu yang membuatnya penasaran tentang sosok wanita brutal yang menghajarnya tanpa ampun dan tanpa alasan. "Berani kau menyentuhnya lagi, aku tak segan menghabisimu!" ancamnya penuh tekanan dengan melayangkan satu pukulan lagi di hidung Khairen yang menjulang tinggi dan tegas. Setelah puas, wanita itu berhenti menghajarnya. Dia menatap Khairen dengan mata yang masih menyala, lalu berdiri dan berbalik. Berjalan pergi dengan langkah tegap, seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan. "Dasar pengecut!" umpatnya dengan nada penuh kebencian, sebelum menghilang di balik pintu. Khairen hanya bisa menontonnya pergi dengan pikirannya yang masih kacau, ia pun tersenyum samar penuh arti. Khairen tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkannya pergi begitu saja. Dia mencoba untuk bangkit perlahan, meringis menahan perih di wajahnya. Darah segar pun menetes dari hidungnya yang mancung. Ia berjalan menuju cermin di kamarnya, mencoba untuk memeriksa wajahnya yang babak belur. "Dia sangat barbar!" umpat Khairen namun dengan senyum tipis. Sementara itu, di luar kamar, wanita tadi berhenti sejenak lalu melihat nomor kamar di pintu. Ia mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan singkat yang dikirimkan adiknya tadi. ("Aku baru saja selesai menghajarnya! Awas saja jika kau kembali berulah, kau yang akan kuhajar!") balasnya di pesan singkat. Seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi ketika dia menyadari bahwa dia telah salah masuk kamar. Di pesan terakhir adiknya tertulis nomer 1011. ("Kak, sekarang dia ada di Crown's Hotel and Suites, kamar 1011!") "1011?!" gumam wanita itu dengan mata birunya yang terbelalak. Dia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar, kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Kembali menatap nomer kamar di depannya, 1101. Ia menelan ludahnya paksa. "Oh no..." bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. Tanpa banyak berpikir, ia langsung berlari menuju lift, wajahnya penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan lelaki yang sudah dibuatnya babak belur, dan tidak ingin menjelaskan apa-apa. Jarinya yang dingin menekan tombol lift berkali-kali dengan panik. Ketika lift tiba, ia langsung masuk dan kembali menekan tak sabaran tombol lantai dasar dengan jari yang bergetar. Dia tidak berani menoleh ke belakang, takut melihat lelaki tadi mengejarnya. Jantungnya benar-benar bertalu cepat, melihat angka di layar lift yang seperti bergerak lamban menuju lantai dasar. Sedangkan Khairen masih tersenyum di depan cermin, melihat kebodohannya sendiri yang justru terpesona pada wanita aneh yang baru saja menghajarnya. Wanita aneh berambut pirang bermata biru yang justru meninggalkan kesan istimewa pada dirinya. Dan dia tidak sabar untuk mengetahui siapa wanita itu sebenarnya. Setelah beberapa saat termenung di depan cermin, Khairen berjalan menuju meja dan mengambil ponselnya. Dia menekan nomor yang tertera di layarnya. "Berikan aku rekaman CCTV sepuluh menit yang lalu dari waktu sekarang, di seluruh sudut hotel tanpa terkecuali!" perintahnya tegas dan dominan pada seseorang di seberang teleponnya. Dia tersenyum lagi, kali ini dengan sedikit kepuasan. "Wanita yang menarik!" katanya pada dirinya sendiri, sebelum membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia yakin bahwa pertemuan itu bukanlah kebetulan belaka. Dan malam yang beku itu telah menyalakan api yang tak akan mudah padam bagi keduanya.Angin malam menyelinap lembut melalui celah jendela kabin. Sunrise memejamkan mata, menghirup aroma laut yang asin dan hangat. Pelukan Khairen dari belakang terasa seperti jangkar kokoh, menenangkan, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tak lagi harus berdiri sendiri menghadapi dunia.Malam itu mereka tak terburu tidur. Ellion tertidur lebih dulu, tubuh kecilnya meringkuk di ranjang dengan boneka di pelukan, senyumnya tersisa seolah mimpi pun ikut merayakan kebahagiaan.Sunrise menarik selimutnya perlahan dan mencium dahi anak itu, lalu berdiri di sisi Khairen. Mereka menatap Ellion lama, menyaksikan napasnya yang teratur.“Dia nampak bahagia,” bisik Sunrise.“Itu yang terpenting.” timpal Khairen.Mereka duduk berdampingan di sofa kecil kabin. Keheningan terasa nyaman. Sunrise memutar cincin di jarinya, mengingat perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini.Luka yang pernah mengurung, ketakutan yang pernah menenggelamkan, hingga keberanian kecil yang tumbuh perlahan dan akhirnya cukup
Kabut Albinen perlahan menjadi kenangan ketika pagi itu mereka meninggalkan desa kecil di pegunungan untuk pergi berlibur.Mobil melaju tenang, Ellion duduk di kursi belakang diapit nenek dan tante, matanya tak berhenti menempel ke jendela, menghitung terowongan, menebak gunung mana yang akan mereka lewati.Sunrise duduk di samping Khairen, tangannya terlipat di pangkuan, hatinya terasa ringan dengan cara yang asing, penuh harapan baru yang selama ini ia kubur rapat.Ini bukan perjalanan biasa. Tapi awal dari segalanya.Bandara menjadi dunia baru bagi Ellion. Ia berlari kecil, kagum pada pesawat-pesawat raksasa yang berjejer seperti burung logam. Untuk pertama kalinya, ia menggenggam paspor kecil dengan namanya tercetak rapi. Khairen berjongkok di hadapannya, menyamakan tinggi badan mereka.“Siap terbang jauh, Kapten Ellion?”Ellion mengangguk penuh semangat. “Daddy, nanti kita lihat laut?”Khairen tersenyum, menatap Sunrise sekilas. “Bukan cuma laut. Kita akan melihat dunia.”Venice
Setelah sarapan yang penuh kecanggungan, mereka bersiap meninggalkan rumah. Udara dingin Albinen menyambut dengan aroma kayu basah dan roti hangat dari kejauhan.Sunrise mengancingkan pakaian Ellion, sementara Khairen berdiri di dekat pintu, menunggu dengan kesabaran yang jarang ia perlihatkan pada dunia.“Daddy bantu Mommy di toko, ya?” Ellion berkata polos sambil meraih tangan Khairen.Khairen mengangguk, menatap Sunrise sekilas. “Tentu.”"Ellion, di rumah dengan nenek dan tante ya." Sunrise berpesan."Ellion akan menunggu Daddy dan Mommy pulang." ucapnya antusias. "Byee..." Ia melambaikan tangan.Toko roti itu masih sunyi ketika mereka tiba. Pintu dibuka, lonceng kecil berdenting, dan kehangatan langsung menyergap, aroma mentega, vanila, dan adonan yang baru matang. Sunrise menggantung mantel, lalu mengikat celemeknya. Khairen mengamati sejenak, lalu ikut meraih celemek cadangan tanpa diminta.Sunrise tersenyum kecil saat melihat Khairen yang biasanya memimpin rapat dewan dengan se
Khairen menutup pintu kamar dengan punggungnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sunrise masih berada dalam gendongannya, tubuhnya ringan namun getarnya terasa jelas, seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan diri dan akhirnya berhenti melawan.Ia menurunkannya perlahan ke ranjang. Sprai putih berkerut di bawah tubuh Sunrise, berkilau dengan rambut pirangnya yang tergerai. Khairen tidak langsung menjauh. Ia tetap di sana, satu tangan menopang tubuhnya, yang lain menyentuh pinggang Sunrise, sebuah sentuhan pelan, seolah bertanya sekali lagi apakah ia benar-benar diizinkan.Sunrise menarik napas panjang. Dadanya naik turun, matanya berkabut.“Jika kau pergi setelah ini…” suaranya nyaris tak terdengar, “aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan lagi.”Khairen menunduk, dahinya menyentuh dahi Sunrise. “Aku tidak datang sejauh ini untuk melukaimu lagi.”Ciuman mereka kali ini berbeda. Lebih dalam. Lebih jujur. Tak ada lagi kemarahan, tak ada sindiran. Hanya dua orang dewasa yang akhir
"Aku kembali ke kamar." Sunrise memilih masuk ke kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup perlahan. Pria itu tetap berdiri di teras, menatap punggung Sunrise yang menghilang, dengan rahang mengeras dan dada penuh pertanyaan.Sunrise tak pernah sedingin ini padanya.Di dalam kamar, Sunrise bersandar
Mobil melaju membelah jalanan luar kota, pepohonan berganti ladang-ladang beku yang masih diselimuti sisa kabut pagi. Sunrise memejamkan mata, namun bayangan yang muncul bukan pemandangan di luar sana melainkan wajah Khairen, sorot matanya yang menahan banyak hal, dan suara napasnya yang tertahan s
Sunrise menuruni mobil dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Rasa perih juga remuk masih terasa di sekujur tubuhnya. Begitu pintu mobil tertutup, pandangannya langsung tertambat pada sosok yang berdiri di depan unitnya.Lucas.Pria itu bersandar santai di dinding koridor, tangan d
Cahaya pucat menyelinap melalui celah tirai, menyentuh sudut ranjang dan lantai marmer dengan warna keemasan. Sunrise terbangun lebih dulu. Napasnya terhenti sesaat ketika ia menyadari posisi tubuhnya, kepalanya masih bersandar di dada Khairen, satu lengan pria itu melingkar di pinggangnya, hangat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews