author-banner
DF Handayani
DF Handayani
Author

Novels by DF Handayani

The CEO'S Forbidden Bride

The CEO'S Forbidden Bride

Sunrise White, tak pernah membayangkan akan terlibat dalam pernikahan kontrak dengan CEO-nya karena kesalahan satu malam yang ia buat. Pria yang berhasil ia taklukkan semalam ternyata Khairen Crown, CEO CNC tempatnya bekerja. Pria misterius yang terkenal dingin, sempurna, dan tak pernah tersentuh itu muncul untuk pertama kalinya di hadapan publik. Keduanya setuju melakukan perjanjian kontrak demi tujuan masing-masing. Sunrise mempertahankan posisi dan reputasinya, sedangkan Khairen demi mempertahankan kekuasaan dan pewaris tunggal. Namun, di balik ikatan tanpa cinta itu, keduanya menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya. Sunrise bukan sekadar wanita biasa, dia adalah putri dari musuh bebuyutan keluarga Crown, yang selama ini diyakini telah mati. Ia kembali untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya, menghancurkan Khairen dan seluruh keluarganya. Namun takdir berbalik kejam. Saat Khairen diam-diam melindunginya dari bayang-bayang ancaman, batas antara kebencian dan cinta keduanya mulai kabur. Mereka tahu, perasaan itu terlarang. Tapi semakin mencoba menjauh, semakin dalam mereka terjerat. Tiga tahun kontrak yang dipenuhi rahasia, intrik, dan luka lama. Akankah mereka tetap bertahan hingga akhir? Atau justru saling menghancurkan, dan kehilangan satu sama lain selamanya?
Read
Chapter: 108. Tertangkap Basah
Di kediaman ibunya, suasana berubah mencekam sejak kabar itu tiba.Lucas berdiri di ruang tengah dengan rahang mengeras, telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. “Dia kabur,” ucapnya dingin, seperti vonis. “Pergi tanpa izin. Tanpa penjelasan.”Sang ibu duduk kaku di sofa, wajahnya pucat. Di sampingnya, Summer berdiri dengan dada naik turun, jelas menahan amarah yang selama ini ia simpan.“Bukan kabur,” potong Summer tajam. “Sunrise pergi karena dia memilih hidupnya sendiri.”Lucas menoleh cepat. “Kau membelanya?” Nada suaranya meninggi. “Setelah semua yang kita lakukan? Setelah semua rencana itu?”“Justru karena semua itu,” jawab Summer tanpa gentar. “Sudah cukup Sunrise berkorban. Sudah cukup dia menderita demi rencana yang bahkan bukan pilihannya sejak awal.” Ia melangkah mendekat, menatap Lucas lurus dengan air mata yang menggenang. “Kita tidak berhak mengatur hidupnya. Dia butuh hidupnya sendiri, kebahagiaannya sendiri”Lucas tertawa pendek, “Dia memili
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: 107. Melindungimu adalah Tugasku
Cahaya pagi menyusup perlahan, membelah tirai dengan garis keemasan yang lembut. Sunrise terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bergerak, hanya memandangi wajah Khairen yang tertidur di sampingnya.Pria itu terlihat berbeda dalam tidur tidak ada ketegangan di rahang, tidak ada dahi yang berkerut menahan beban dunia. Hanya napas teratur dan garis wajah yang akhirnya beristirahat.Sunrise mengangkat tangan, ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Khairen dengan ujung jarinya, begitu hangat. Rahangnya tegas ditumbuhi jambang yang terawat rapi, membuatnya nampak tampan. Ia menelan ludah, menahan gelombang emosi yang kembali menguat.Namun, ada ketakutan yang masih tersisa, bersembunyi di sudut-sudut hatinya.Khairen bergerak, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Tatapannya langsung menemukan Sunrise. Sekilas, kebingungan melintas. Lalu matanya melembut, dan senyum kecil terukir, senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun.“Kau masih di sini,” ucapnya lirih, seperti menguji keny
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: 106. Rindu dan Gairah
Dunia Khairen seolah berhenti. Ia mendongak. Matanya membesar, lalu menyipit, seolah takut ini hanya bayangan.“Sunrise?” panggilnya lirih.Ia berdiri setengah, terhuyung, lalu duduk kembali. Sunrise mendekat dan berlutut di depannya. Khairen mengangkat tangan, menyentuh wajahnya dengan ragu, seolah memastikan ia nyata.“Kau… kembali,” bisiknya. "Benarkah ini kau? Aku tidak sedang bermimpi?Sunrise memegang tangan itu, menempelkannya ke pipinya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku di sini.”Sekejap kemudian, Khairen memeluknya begitu erat, seperti seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam. Napasnya berantakan.“Jangan pergi lagi,” pintanya parau. “Aku tidak peduli pada siapa pun. Jangan tinggalkan aku.”Sunrise membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Khairen. “Aku tidak akan pergi.”Ciuman mereka terjadi tanpa kata. Awalnya gemetar, penuh rindu dan ketakutan. Lalu berubah semakin dalam, semakin menuntut, seolah keduanya berusah
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: 105. Pilihan Sunrise
Lampu kamar Sunrise redup. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya kota menyusup samar ke lantai marmer. Sunrise duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada sandaran kepala ranjang, ponsel berada di tangannya sejak satu jam lalu, layarnya mati, tak ada notifikasi, tak ada pesan.Tidak ada nama Khairen yang muncul.Dadanya terasa sesak. Ia tahu pria itu tak mungkin diam tanpa alasan. Amarah yang tak bisa dikendalikan dan kekecewaan yang terlalu dalam untuk diucapkan. Serangan di CNC pagi tadi bukan kebetulan. Ia terlibat, meski tidak sepenuhnya seperti yang orang-orang bayangkan. Namun di mata Khairen, keterlibatan tetaplah pengkhianatan.Sunrise memejamkan mata. Bayangan wajah Khairen yang dingin, tajam, dan penuh kendali kembali terlintas. Ia menarik napas panjang, menekan perasaan bersalah yang menggerogoti dadanya.Di sisi lain rumah, di ruang kerja Lucas, suasana jauh dari tenang.Lucas berdiri di dekat jendela, punggungnya tegak, tangan
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: 104. Saling Menyerang
Sunrise menarik napas panjang. “Aku butuh udara,” katanya dingin.Sunrise berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.Koridor AndersonNet sunyi. Lampu-lampu putih menyinari dinding logam yang dingin. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.“Steve.”Langkah di belakangnya ikut berhenti. Steve muncul dari pintu ruangan tadi dan menutupnya kembali. Wajahnya masih dengan ekspresi tenang seperti biasa.Sunrise menoleh perlahan. Tatapannya tajam. “Aku ingin bicara denganmu.”Steve menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. Ia berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.“Silakan.”Sunrise menatap lurus ke matanya. “Apa kau memberi tahu kakakku tentang pernikahanku dengan Khairen?”Pertanyaan itu keluar tanpa ragu.Steve tidak langsung menjawab. Ia malah menyandarkan punggungnya ke dinding koridor dan memasukkan tangan ke saku celana.Sunrise menunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Steve akhirnya berkata pelan.“Ti
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: 103. Serangan Awal untuk Crown
Sunrise tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada sosok yang berdiri di ambang pintu.Lampu ruang kerja AndersonNet yang redup membuat bayangan Steve memanjang di lantai marmer. Wajahnya tenang seperti biasa, sama seperti saat ia membahas kesepakatan dengannya.“Steve?” suaranya rendah.Steve mengangguk pelan dengan seringainya yang khas. “Apa kabar, Nona Eleonora?”Lucas yang berdiri di dekat jendela tersenyum samar. Ia menyesap anggurnya dengan santai seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan yang sudah lama ia tunggu.Sunrise masih tidak bergerak.“Kenapa kau ada di sini?”Steve melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan. Pintu di belakangnya tertutup pelan.“Lucas yang memintaku datang,” jawab Steve tenang.Sunrise menoleh perlahan ke arah kakaknya. Tatapannya tajam.“Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?”Lucas tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas anggurnya perlahan, memperhatikan cairan merah itu berputar seperti pusaran kecil.“Steve bekerja untukku.”Sunrise tertaw
Last Updated: 2026-03-09
Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder

Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder

"Kalau kau ingin aku membantumu membalas dendam, maka kau harus jadi milikku. Sepenuhnya. Bukan hanya untuk semalam. Tapi selamanya. Kau tinggal bersamaku. Tidur di ranjangku. Patuh padaku. Dan tunduk pada semua aturanku. Tak ada rahasia. Tak ada nama lain dalam pikiranmu kecuali aku." ucapnya pada Kyora, posesif dan mendominasi. --- Kyora Rosebelle menyaksikan suaminya menikah lagi. Malam itu juga ia diusir dan seluruh asetnya dirampas. Satu tahun menikah sekalipun ia tak pernah disentuh suaminya. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan siksa dan hinaan. Namun, ia tak pernah membayangkan jika malam kelam itu justru menjadi titik balik yang mengubah takdirnya, menyeretnya ke dalam pelukan Ludovic Armany, pewaris tunggal kerajaan kasino terbesar di Eropa, pria yang memiliki kuasa dan kendali atas dunia bisnis. Bersamanya, Kyora membalas dendam atas pengkhianatan suaminya. Tapi, disisi lain ia justru menemukan dunia yang selama ini tak pernah didapatkannya, kepuasan, kekuasaan, dan perlindungan tanpa batas. Ludovic bukan hanya mengobati lukanya, ia menjadikan Kyora ratu di hidupnya. Akan tetapi, di balik kesempurnaan yang Kyora dapatkan, satu pertanyaan terus menghantui, apakah di hatinya ada cinta untuk Ludovic? atau semua ini hanya permainan balas dendam yang dibungkus gairah?
Read
Chapter: 21. Kyo Itu Kau, Kyoraku!
Mobil melaju perlahan meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tua di kiri kanan jalan berbaris rapi, dedaunan mereka bergoyang pelan tertiup angin pagi. Kyora menatap keluar jendela, pikirannya masih tertinggal di antara nisan marmer dan doa-doa yang tak sempat ia ucapkan selama bertahun-tahun.Ludovic tidak mengganggunya. Ia membiarkan keheningan mengalir. Sesekali ia melirik Kyora, memastikan wajahnya sudah kembali ceria, bahwa kesedihan itu tidak lagi menenggelamkannya terlalu dalam.“Kita tidak harus kembali ke mansion sekarang,” ucap Ludovic akhirnya, suaranya rendah dan hangat. “Ada sebuah tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau tidak keberatan.”Kyora menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Ludovic yang tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana kelembutan yang hangat.“Ke mana?” tanyanya.“Sebuah taman lama,” jawab Ludovic singkat. “Tidak jauh dari sini.”Kyora ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”Mobil berbelok ke jalan kecil yang dipen
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: 20. Masa Lalu yang Hilang
Malam semakin larut ketika Kyora akhirnya terlelap. Namun tidurnya tak begitu tenang. Bayangan taman, air mancur, dan patung marmer dengan bunga liliy terus berkelebat di alam mimpinya.Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari di taman, gaun merah mudanya berkibar tertiup angin. Tawa riang memenuhi udara. Di belakangnya, seorang bocah lelaki tujuh tahun lebih tua di atasnya, dengan rambut hitam pekat mengejar sambil tertawa kecil, membawa bunga lily of the valley yang hampir terlepas dari genggamannya.“Kyo! Tunggu aku!” teriak bocah itu.Gadis kecil itu menoleh, wajahnya berseri. “Kau lambat sekali, Kak Luvi!”Nama itu menggema aneh di telinga Kyora dewasa yang menyaksikan mimpi itu dari kejauhan. Luvi. Dadanya terasa nyeri tanpa sebab.Mimpi itu berubah.Langit kelabu. Gadis kecil itu berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Menatap bocah bernama Luvi yang terisak di samping pusara dengan bertabur Lily of the valley.Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketn
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 19. Kau Bebas Menentukan Pilihan
Makan malam itu berlangsung dalam hening yang nyaris menyiksa. Dentingan garpu dan pisau terdengar begitu jelas di tengah ruangan besar yang seharusnya hangat, namun justru dingin membeku.Kyora berusaha menahan pandangannya tetap tenang, menunduk setiap kali tatapan Ludovic menusuknya tanpa suara. Membuatnya susah untuk menelan dengan benar.Laki-laki itu makan dengan tenang, gerakannya penuh kendali. Namun Kyora tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang menggelegak, entah amarah terpendam karena ucapannya tadi, atau hanya permainan sunyi yang sengaja diciptakan.Kyora menggenggam serbet di pangkuannya, seakan mencari pegangan agar tidak gemetar. Napasnya berusaha ia atur, tapi tetap saja terasa berat. Pria di depannya benar-benar tak bisa ditebak.Begitu santap malam usai, Ludovic meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap bibir dengan serbet putih bersulam benang emas. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jantung Kyora berdebar.“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Ky
Last Updated: 2025-08-22
Chapter: 18. Obrolan Makan Malam
Langkah Calista terdengar bergema di lantai marmer butik perhiasan mewah tempat ia berada. Matanya masih menatap pantulan wajahnya di kaca display berlian, namun pikirannya melayang jauh.Kata-kata ayahnya tadi di telepon cukup mengganggu ketenangannya. Kalimat itu bagai duri yang mengusik."Ck!" Ia berdecak kesal sendiri. "Ayah, kau mengganggu kesenanganku." omelnya sendiri. Ia menggenggam ponsel erat, seolah ingin meremukkannyaSeorang staf butik mendekat dengan senyum ramah, menawarkan koleksi terbaru. Namun Calista hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan acuh.“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku sudah tidak selera!" bentaknya, kemudian berlalu pergi begitu saja.Langkahnya meninggalkan butik itu cepat, hampir tergesa, seakan ia ingin lari dari bayangan ayahnya yang terus mengganggunya.Di sisi lain, Moretti kembali ke ruang rapat. Para komisaris masih berkumpul, sebagian dengan wajah pucat, sebagian lagi saling berbisik. Suasana ruangan kini lebih berat daripada sebelumnya
Last Updated: 2025-08-20
Chapter: 17. Seperti Domino
Gedung pusat Moretti Corporation, siang itu, seakan menjadi ruang tekanan tinggi. Lift-lift bergerak naik-turun dengan tergesa, sekretaris-sekretaris membawa berkas setumpuk, dan para eksekutif senior saling berbisik dengan wajah pucat.Rapat dewan komisaris mendadak diadakan. Tidak ada agenda resmi, hanya satu kalimat pendek di undangan elektronik yang dikirimkan pagi tadi. “Perubahan struktural mendesak. Segera hadir di gedung pusat.”Di ruang rapat, meja panjang dari marmer mengkilap dipenuhi wajah-wajah serius. Di kursi utama, Moretti duduk dengan rahang mengeras, wajahnya gelap, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah.“Baik,” suaranya pecah di tengah hening. “Siapa yang bisa menjelaskan pada saya, kenapa tiba-tiba perusahaan pusat menyetujui akuisisi terhadap tiga anak perusahaan utama kita?”Seorang komisaris senior mencoba bicara, “Tuan Moretti, keputusan itu berasal langsung dari kantor pusat Armany Corporation atas persetujuan penuh Tuan Ludovic Armany.”Ucapan itu
Last Updated: 2025-08-11
Chapter: 16. Permainan Kecil
Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan perbukitan hijau di kejauhan. Namun kedamaian itu hanya milik balkon Ludovic. Di tempat lain, badai yang tak terlihat sudah mulai berhembus.Kantor pusat keluarga Benedict berdiri megah di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi. Dari luar, semua tampak normal. Namun di dalam ruang rapat tertutup, suasana mendidih. Javier duduk di kursi utama, jasnya rapi, tapi kedua tangannya terkepal di atas meja dengan kilat mata menyala.“Bagaimana bisa ini terjadi?” suaranya rendah, namun cukup untuk membuat seluruh staf yang duduk di sekeliling meja menunduk.Seorang direktur keuangan mencoba menjelaskan, “Tuan, ada tiga transaksi lintas negara yang tiba-tiba dibekukan oleh bank mitra. Mereka mengklaim ada pemeriksaan rutin tapi waktunya terlalu kebetulan.”Javier mengerutkan dahi. “Rutin? Tiga akun sekaligus? Di tiga negara berbeda? Itu bukan kebetulan.” Rahangnya mengeras.Tak ada yang berani bicara.Awalnya pagi ini, dengan percaya diri Javier be
Last Updated: 2025-08-11
You may also like
Gadis Penari Sang Presdir
Gadis Penari Sang Presdir
Romansa · juskelapa
999.7K views
Nafsu si perkasa
Nafsu si perkasa
Romansa · Blacksugar
999.6K views
Salah Ranjang
Salah Ranjang
Romansa · Si Mendhut
982.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status