LOGINKei and Shima who were again hiding behind the bushes in the backyard in a state of fear. "Kei .. I want to go home. " - Shima "Shut up stupid. Later they will hear. " - Kei "I -I'm scared. " - Shima "Shh .. I said shut up! " - Kei The sound of breathing was too loud behind Kei and Shima. They both turned their heads slowly with fear. A large black shadow with its sharp teeth stared at them both sharply. "Shimaa! Run!! " - Kei "I want to go homeee !!! " - Shima They both ran as hard as they could without looking back. The big monster had chased Shima and Kei until the sirens sounded from afar. The giant stopped chasing Kei and Shima and went straight back to their house.
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui.
Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore.
Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya.
Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah.
Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap.
Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat.
Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… Iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan.
Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika.
Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Kei and Duendera who were outside the tent just stared at the blazing fire, while they were both silent without saying a word. Kei heard something, his eyes looking directly at Duendera. Apparently Duendera also heard the same sound. Kei looked in the direction of the sound, as if the sound was not like a footstep.Kei quickly extinguished the fire with water, he stood in front of the tent. Try to protect Shima, Freddy and grandma Gu who are in the tent. Duendera, on the other hand, started to become a cat and sat in front of Kei, her fur had started to expand and her body position was also curved, indicating that she was squeezing someone.A few minutes later, the sound was no longer heard. Kei looked left right and back, afraid there was someone around them. He looked back at Duendera who was still sound, Duendera's position still didn't change. The eyes also only see in front of them. Kei looked ahead, but no one was there.When Kei was about to look at Duendera,
They began to sit at the dining table, waiting for the dishes that had been served by Freddy and Duendera. Before eating, their began to pray, Duendera saw Kei, Freddy, Shima and grandma Gu holding hands while closing their eyes. Her eyes looked towards Freddy whose chief recited a prayer before eating.After eight hours they sat at grandma Gu's house and waited for the village chief who would arrive at grandma Gu's house soon. Finally after fifteen minutes of their waiting, the village chief appeared with a pushcart containing several sacks full of food."This is a lot, chief. " Grandma Gu spoke after the village chief stood in front of her. Her eyes saw Kei who was still smiling at Duendera who was holding her stomach."It's okay .. Besides, the hinn forest is very far, I don't think this food is enough for you all to get to the hinn forest." The village chief replied when he saw the half -cat girl next to Freddy.'Maybe that cat was what Gu meant yesterday.' The village chief whisp
Duendera, who was staring sharply at Kei's face, now looked at Freddy. Freddy who saw the sharp cute cat eyes looking at him made him uncomfortable to sit down."Hmm, there's something about you. Mr. Freddy." Duendera, who was already far away, was now in front of Freddy's eyes in the blink of an eye, Freddy backed away a little in surprise at Duendera's arrival. To Kei's surprise, Shima and Gu's grandmother saw Duendera in front of Freddy."What do you mean ?!" Kei next to Freddy started to panic a little.'Is Duendera also an evil creature? Tsk .. We may be in danger. The strength that Duendera possesses I do not know how strong she is. Kei looked at Duendera's sharp face. She ignored Kei's question. She kissed the sides of Freddy and Kei's necks, making her smile cynically."Wow! Apparently you're a witch. That's why I smelled something from you two last night." Duendera smiled cynically. Kei and Freddy start to panic."Huh .. Don't worry .. I'm not from
Kei and the kitten again sat relaxed on the outdoor bench, breathing in the morning air. His car was brought by Freddy to pick up Shima to come here. Grandma Gu was carrying a tray full of water and approached Kei and the kitten. The kitten who saw Gu's grandmother was about to get out of the house and turned into a half -human and approached Gu's grandmother. She took the tray that Gu's grandmother was holding.Kei who sees a half -cat girl who cares about Gu's grandmother, he feels this cat is from a good race. Kei smiled at Gu's grandmother and the half -cat girl who approached her. Kei began to sit cross -legged when the tray brought by the girl was placed on the bench. The girl was next to Kei while Gu's grandmother sat in front of Kei and the girl.They had breakfast with a cheese sandwich made by Gu's grandmother earlier. The girl's face next to her smiled happily when every time a sandwich went into her mouth. Kei and Gu's grandmother also smiled at the cheerful
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.