INICIAR SESIÓNAn innocent girl named Yara is trapped in the dark world of Damian Devatra, a cold man who rules under the shadow of evil. Initially trying to save her mother, Yara accepts Damian's offer to be a servant for a year but never expected to become part of Damian's plan for revenge. Between hatred and manipulation, Yara must endure Damian's cruelty while he struggles with his dark past and growing feelings. Will Damian succeed in avenging himself on Yara when he begins to love her?
Ver másSiang itu Yudistira Putra (29th)-Tira, sedang bersimpuh di hadapan pusara adiknya Melanie Putri (24th)-Putri. Ia tidak terima atas kematian Putri yang bunuh diri karena calon suaminya berselingkuh.
“Istirahatlah dengan tenang! Mas pasti akan membalas semua perbuatan dua manusia laknat itu,” lirih Tira, sambil menitikan air mata.
Ia mengusap nisan adiknya. Kemudian menggenggam tanah kuburan yang masih merah itu dengan rahang yang mengeras. Hingga garis urat lehernya terlihat. Hal yang paling membuatnya miris adalah Putri meninggal dalam keadaan sedang mengandung. Sehingga dendam Tira begitu besar pada kedua orang yang menyakiti adiknya itu.
“Nyonya dan Tuan sudah menunggu di rumah. Mari kita pulang, Tuan Muda!” ucap asisten Tira yang bernama Panji.
Tira tak menjawab ucapan Panji. Namun ia berpamitan pada Putri. Kemudian bangkit dan meninggalkan makam adik semata wayangnya itu dengan berat hati.
“Cari ponsel Putri! Saya ingin tahu wanita yang telah membuat Putri nekat mengakhiri hidupnya,” pinta Tira, saat ia sudah berada di dalam mobil. Tatapannya kosong, tetapi tajam. Ia seolah ingin menghabisi dua orang yang sedang ia incar itu.
“Baik, Tuan Muda,” sahut Panji. Ia menghubungi asisten rumah tangga untuk mengamankan ponsel milik Putri.
Berhubung mereka merupakan keluarga terpandang, penyebab kematian Putri terpaksa disembunyikan demi nama baik keluarga. Sehingga kejadian ini tidak diusut oleh polisi dan tersebar ke publik.
Sebab, jika sampai polisi mengetahui kejadian ini, maka wartawan akan menyerbu mereka dan kemungkinan besar saham beberapa perusahaan yang mereka miliki pun akan turun.
Tiba di rumah, Tira langsung duduk di hadapan kedua orang tuanya yang pulang lebih dulu.
“Papah harap kamu tidak memperpanjang masalah ini!” pinta Rahmana Aji Putra-Ayah Tira.
Tira yang sedang menunduk pun langsungg menatap Ayahnya. Keningnya mengerut seolah tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
“Apa aku tidak salah dengar? Putri anak Papah, tapi kenapa Papah bisa dengan santai bicara seperti itu? Apa perusahaan jauh lebih penting bagi Papah?” tanya Tira sambil menyeringai kaku.
Namun, air matanya tak henti mengalir. Hati Tira begitu pilu setiap kali mengingat betapa manjanya Putri. Kedekatan mereka pun begitu erat. Sehingga Tira sangat terpukul atas kepergian adik kesayangannya tersebut.
“Tolong jaga ucapanmu! Orang tua mana yang tidak terpukul saat anaknya meninggal? Papah pun merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan, Tira!” bentak Aji.
“Tapi, jika kamu terus memperpanjang masalah ini, apakah Putri akan tenang di alam sana? Papah mau Putri beristirahat dengan damai. Jadi, papah minta kamu jangan memperkeruh suasana! Ikhlaskanlah masalah ini. Biarkan bajingan itu menanggung karmanya sendiri!” nasihat Aji.
Napas Tira terlihat menggebu. Ia berusaha menahan emosinya yang hampir meledak.
“Apa yang Papah kamu katakan memang benar, Tira. Kasihan adikmu jika kamu terus mengungkitnya,” timpal Sisca-Ibu Tira.
“Baiklah. Kalau begitu, aku mau pulang,” ujar Tira. Ia ingin kembali ke rumahnya. Sebab semenjak memimpin perusahaan, Tira sudah tidak tinggal di rumah besar itu lagi. Tira pun tidak ingin berdebat lagi. Sehingga ia lebih memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan pulang, Tira mengecek ponsel Putri yang sudah didapat dari Panji. Ia melihat sebuah nama yang diyakini bahwa wanita itu adalah selingkuhan dari calon suami adiknya-Ady.
“Ji, cari staf bernama Laras! Bawa dia ke hadapan saya!” pinta Tira dengan tatapan kosong. Ia sudah dapat membayangkan apa yang akan dia lakukan terhadap Laras. Tira pun menyeringai dengan wajah liciknya.
“Baik, Tuan,” jawab Panji. Ia langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari Laras.
Sebelumnya Tira mengetahui bahwa wanita yang selingkuh dengan Ady adalah salah satu staf di perusahaannya. Sehingga ia hanya membutuhkan nama wanita tersebut.
Sementara itu, para staf di perusahaan Tira heboh atas kematian Putri. Meski penyebab kematiannya ditutupi. Namun mereka mendengar selentingan bahwa Putri meninggal akibat bunuh diri.
“Kurang apa ya dia? Udah tajir, cantik, tapi masih diselingkuhin juga,” ujar salah seorang staf.
“Iya, calon suaminya aja yang gak tau diri. Cewek sebaik Bu Putri aja masih diselingkuhin. Dasar bajingan!” jawab yang lain.
“Hus! Gak baik ah ngomongin orang yang udah meninggal! Udah, jangan dibahas lagi!” timpal Laras Oktaviani (25th)-Ayas. Ia tidak pernah mau menggunjing orang lain. Terlebih orang itu sudah meninggal.
“Ah, lo mah kebiasaan, Yas. Orang lagi seru juga, ngerusak suasana aja!” Mereka kesal karena Ayas selalu menasihati mereka.
Ayas hanya tersenyum. Ia tidak pernah bosan meskipun teman-temannya sering mengeluh ketika dinasihati.
Malam hari, Ayas baru selesai bekerja. Hari ini ia merasa lelah karena seharian pekerjaannya begitu padat.
Ketika Ayas sedang berjalan di basement menuju parkiran mobil, tiba-tiba ia dihadang oleh satu mobil. Kemudian Ayas dipaksa masuk ke mobil tersebut oleh segerombolan orang tak dikenal. Saat itu kondisi basement sedang sepi, sebab sebagian besar karyawan sudah pulang.
“Siapa kalian?” bentak Ayas. Ia sangat terkejut sekaligus takut. Orang-orang itu terlihat begitu menyeramkan.
“Jangan banyak bicara!” sahut orang itu.
“Lepaskan saya! Atau saya akan berteriak dan melaporkan kalian ke polisi!” Ayas masih berani melawan. Namun, kemudian salah seorang dari mereka memberikan obat bius hingga Ayas tak sadarkan diri.
“Dasar berisik!” cibir orang itu. Kemudian ia menghubungi Tira (Melalui Panji). Untuk melaporkan bahwa mereka telah berhasil mengkap Ayas. Mereka bisa menemukan Ayas dengan mudah, sebab di kantor itu hanya ada satu staf bernama Laras.
Telepon terhubung. Panji memberikan ponselnya pada Tira
“Selamat sore, Tuan Muda,” ucap anak buahnya di seberang telepon.
“Sore. Bagaimana, apa kalian berhasil?” tanya Tira.
“Target sudah di tangan kami. Selanjutnya kami siap menunggu arahan Tuan Muda.”
“Kalau begitu, bawa dia ke hotel! Saya akan menunggu di sana,” ucap Tira sambil menyeringai. Ia sudah siap untuk memberi 'pelajaran' pada Ayas.
Anak buah Tira sudah paham hotel mana yang dimaksud oleh tira. “Siap laksanakan!”
Telepon terputus. Mereka pun bergegas ke hotel untuk mengirim Ayas pada Tira.
“Malam ini kita akan bersenang-senang, Cantik. Aku jamin, kamu tidak akan pernah melupakannya seumur hidupmu,” gumam Tira, sambil menyeringai dengan tatapan tajam penuh kebencian.
The sound of the ventilator machine buzzed softly in the ICU room. White lights shone on Damian's pale face. Yara sat beside the bed, holding Damian's cold hand."Damian... I'm here," Yara whispered. Tears fell from her eyes, wetting the hand of the man lying unconscious.The door to the ICU room opened slowly. Hugo entered, carrying a cup of coffee."Miss Yara, you need to rest," Hugo said, placing the coffee on the side table."I can't leave her, Hugo. I'm afraid... afraid that she..." Yara's voice choked.Hugo sat down in the chair next to her."Mr. Damian is a strong man. He will survive," he said, trying to calm her down.Yara looked into Damian's face. "I feel guilty. All of this... is because of me.""Don't blame yourself. Mr. Damian chose to protect you," Hugo said firmly.Yara was silent, her mind drifting back in time."At first, Damian approached me out of spite. But now... I don't know what I feel anymore.""Do you know everything, Miss Yara?" asked Hugo. Yara just nodded
Damian got out of the car with quick and steady steps. The night breeze blew through his sweat-soaked black suit. His eyes swept over the rickety building in front of him - old, rusted, almost like a worn-out warehouse that was no longer in use. But inside, Yara... "Set up positions, do not enter until I give the signal," he told his men. "Yes, Mr. Damian," replied one of the gunmen behind him. Damian clenched his fists. His head was still throbbing from lack of sleep, but that didn't deter his anger. He took a deep breath, then kicked the warehouse door hard. "RICARDO!!!" his voice echoed loudly, full of exploding anger. Inside, Ricardo had just grabbed the chin of Yara who was tied to a metal chair. The man's face instantly changed when he saw Damian standing in the doorway. "Ah, the savior has finally arrived," Ricardo chuckled. "You're late, Damian. He almost had me-" Bugh! Damian delivered a hard punch to Ricardo's jaw, sending him crashing into the wall. Without g
A few days later, liquor bottles littered the floor. The room was a mess, full of documents that Damian had thrown around. Cigarette smoke still billowed in the air, signaling how chaotic his mind was at the moment. Damian sat in a chair with his head bowed, his fingers clutching a glass that was almost empty. His eyes were red, his face crumpled. A few days of no sleep and a lot of alcohol made him look like a man on the verge of losing his mind. The door opened. Hugo entered with a serious expression, but upon seeing Damian's state, he could only let out a long sigh. "Sir, you need to stop like this," Hugo said, taking the bottle from Damian's hand. Damian raised his head slowly, staring at Hugo with a sharp gaze. "You think I can relax, huh? Yara's still out there, probably being tortured, probably..." Damian stopped, his jaw hardening. He couldn't imagine the worst-case scenario. Hugo tried to remain calm. "We're still looking, sir. Ricardo is too cunning. He doesn't use
Damian stood by his mother's bedside, his eyes still fixed on her pale face. However, his reverie was broken when his cell phone vibrated in his coat pocket. With a quick movement, he pulled out the phone and looked at the name on the screen. One of the servants at the mansion. "What is it?" Damian's voice was cold, slightly impatient. "Sir, it's an emergency," the servant's voice sounded panicked. "Miss Yara... she's not at the mansion. We've searched the entire area, but-" Damian immediately gripped his cell phone tightly. "What do you mean no one?" "We believed she was still in her room since morning. But when we checked again, it was empty. It looks like she ran away, sir." Damian's breathing became heavy. His jaw hardened. "Asshole. That little girl is really looking for trouble."Without another word, Damian immediately switched off the call. His hands clenched into fists, his temper peaking. "Hugo," his voice was sharp and deadly. Hugo, who was standing in the






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.